Suasana daerah masjid Jogokariyan saat menjelang berbuka puasa di bulan Ramadan, Selasa (21/5/2019),
Suasana daerah masjid Jogokariyan saat menjelang berbuka puasa di bulan Ramadan, Selasa (21/5/2019), Arnold Simanjuntak / Beritagar.id
RAMADAN 2019

Geliat dakwah Masjid Jogokariyan di kampung komunis

Jogokariyan dahulu dikenal sebagai daerah merah. Keberadaan masjid mengubah itu semua hingga tak berbekas. Cara demikian salah satu pola yang digunakan Orba.

Riuh rendah suasana di Masjid Jogokariyan di Mantrijeron, Kota Yogyakarta sudah terasa usai salat asar berjemaah, Selasa (21/5/2019) sore. Sejumlah petugas masjid berjibaku melapangkan halaman; menutupinya dengan tikar panjang.

Meja panjang di sisi timur siap dipenuhi berpiring-piring nasi, lengkap dengan lauk-pauk untuk sajian berbuka puasa nanti. Selama Ramadan, setidaknya 3.000 piring santapan berbuka disediakan Takmir Masjid Jogokariyan untuk jamaah dan masyarakat yang singgah.

Sementara itu, di sepanjang Jalan Jogokariyan, lapak-lapak berisi aneka makanan dan minuman yang dijual warga digelar untuk meramaikan Kampung Ramadan Jogokariyan.

Kondisi demikian lumrah Anda temui di daerah Jogokariyan saban Ramadan, setidaknya dalam beberapa tahun terakhir. Nuansa islami nan berbagi sangat kental di daerah tersebut.

Namun, bila Anda menanyakan pada sesepuh setempat yang sudah tinggal hingga puluhan tahun di sana, suasana hari ini begitu kontras. Alih-alih dekat dengan Islam, tempat tersebut justru begitu jauh.

Setidaknya, itu disampaikan oleh Setiyadi, pria berusia 74 tahun yang sudah tinggal di daerah Jogokariyan berpuluh-puluh tahun silam. Sikap yang begitu berubah terjadi kala Indonesia memasuki fase kelamnya, pada 30 September 1965.

"Warga muslim di sini mulai ke masjid setelah geger peristiwa G30S PKI (Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia)," ucap Setiyadi kepada Beritagar.id.

Bangunan Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Senin (20/5/2019)
Bangunan Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Senin (20/5/2019) | Pito Agustin Rudiana /Beritagar.id

Ia menceritakan, banyak warga di sana ditangkap aparat karena dituding terlibat dalam aktivitas PKI, baik di dalam partainya maupun organisasi underbow-nya, seperti Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Sejumlah warga Jogokariyan lain aktif dalam organisasi politik Partai Nasional Indonesia (PNI) atau Masyumi. Untuk Setiyadi, ia aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) meskipun masih duduk di bangku SMA.

"Di sini banyak komunisnya, diciduk. Lima belas orang ada. Baik laki-laki maupun perempuan," kata Setiyadi. Dia ingat, orang-orang tersebut sering mementaskan gelaran seni di kampung itu.

Beberapa di antaranya tarian genjer-genjer, pementasan ketoprak, hingga memamerkan kesaktian kebal senjata tajam: berguling di atas pelataran yang dipenuhi kawat berduri maupun menjilati besi panas.

Mereka pentas di rumah-rumah penduduk, juga bikin panggung di lapangan kampung. Setiyadi pernah menontonnya. "Tapi saya enggak masuk rombongan (kesenian)," kata Setiyadi.

Saat penangkapan tersebut, Setiyadi termasuk orang yang disuruh aparat menunjukkan rumah sosok-sosok yang diduga terlibat dalam aktivitas PKI. Setiyadi masih ingat betul, orang-orang yang terlibat itu digiring ke luar rumah dengan mata tertutup.

Selanjutnya, Setiyadi tak tahu mereka dibawa ke mana. "Bapak saya hampir saja dibawa. Saya bilang, jangan ambil bapak saya," kata Setiyadi. Menurut Setiyadi, hal itu disebabkan karena dia aktif di GMNI.

Menurut Bendahara III Takmir Masjid Jogokariyan, Amirrudin Hamzah (62), masuknya paham komunis di kampung Jogokariyan, tak lepas dari kesenjangan sosial di daerah tersebut.

Jogokariyan bukanlah daerah yang sangat sejahtera, bila dibanding kampung sebelah timurnya: Karangkajen. Sejak dahulu Karangkajen sudah dikenal sebagai tempat tinggal para pengusaha batik dan tenun.

Untuk memproduksi barang usaha itu, banyak dari warga Karangkajen mendirikan "barak" di kampung Jogokariyan untuk tempat tinggal pekerjanya. Dan, tidak sedikit warga asli Jogokariyan yang bekerja sebagai pengrajin batik dan tenun.

Relasi antara majikan dan buruh inilah yang menjadi propaganda bagi PKI saat masuk ke kampung Jogokariyan. Mereka menyebarkan paham komunisme melalui kegiatan seni budaya.

Salah satunya pementasan ketoprak di lapangan kampung yang pernah mengangkat lakon "Matine Gusti Allah". "Karena tidak percaya sama Allah, jadi mengangkat lakon itu," ucap Amir menyimpulkan.

Untuk menarik minat warga menonton, undangan dibuat lewat spanduk-spanduk besar bergambar palu arit. Ada juga jatilan atau reog. Penontonnya pun menjadi berjubel. "Biar banyak yang datang, warga diiming-imingi sembako," kata Amir.

Kondisi tersebut semakin diperparah karena tak banyak aktivitas lain yang mampu menandingi acara propaganda PKI. Musala setempat, yang menjadi basis penyebaran agama, justru sepi.

Penyebabnya, kata Amir, warga takut dengan kabar yang tersiar soal pembunuhan terhadap ulama dan santri di beberapa daerah ketika tragedi 1965 itu meletus. "Orang kan hanya bisa mendengar ya. Jadi ada rasa takut," kata Amir.

Merangkul dengan aktivitas masjid

Pengurus Masjid Jogokariyan tengah menyiapkan makanan untuk berbuka puasa pada Selasa (21/5/2019) sore.
Pengurus Masjid Jogokariyan tengah menyiapkan makanan untuk berbuka puasa pada Selasa (21/5/2019) sore. | Arnold Simanjuntak /Beritagar.id

Untuk meredakan ketakutan itu, para pengusaha batik dan tenun tadi berinisiatif mendirikan masjid di Jogokariyan. Ada dua alasan utama, selain karena di daerah tersebut belum ada masjid, hanya musala.

Pertama, keberadaan masjid demi menyediakan tempat ibadah kepada para pekerja dan warga di sana. Lalu, menjadikan tempat ibadah tersebut sebagai sarana berdakwah.

Idenya dicetuskan pengusaha batik Haji Jazuri yang kemudian dibahas bersama tokoh agama dan masyarakat berlatar belakang Muhammadiyah dan Masyumi, seperti Zarkoni, Abdul Manan, Haji Amin Said, Hadist Hadi Sutarno, Kanjeng Raden Tumenggung Widyodiningrat, dan Margono.

Mereka patungan dana dan diwakafkan kepada Muhammadiyah. "Kemudian Muhammadiyah membeli lahan dan diwakafkan untuk mendirikan masjid di Jogokariyan," kata Sudi Wahyono, Bagian Biro Rumah Tangga Takmir Masjid Jogokariyan.

Dua tahun kemudian, Masjid Jogokariyan diresmikan oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Yogyakarta. Masjid yang didirikan masih terbilang kecil dan sederhana. Aliran listrik pun belum masuk ke kampung.

Baik Sudi dan Amir menegaskan, pemilihan nama itu mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW. Seperti pemberian nama Masjid Kuba yang didirikan di Kampung Kuba di Madina. "Biar jelas wilayah dakwahnya," kata Sudi.

Keberadaan dan aktivitas masjid tak serta-merta langsung diterima masyarakat setempat. Ada penolakan, khususnya islam Abangan, yang sudah secara turun-temurun dipraktikkan warga setempat.

Meski demikian proses berdakwah jalan terus. Melalui Pengajian Anak-anak Djogokariyan (PAD), takmir membina anak-anak dari keluarga yang orang tuanya ditangkap karena dituding terlibat PKI.

Takmir menghadirkan sejumlah mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (sekarang UIN Sunan Kalijaga) untuk membantu mendaras Al Quran dan salat terhadap anak-anak setempat.

Setelah orang tuanya dibebaskan dan pulang, anak-anak yang telah menjadi aktivis masjid kemudian mengajari orang tuanya mengaji. "Anak-anak yang mendakwahi orang tuanya. Banyak orang tua yang masuk ke masjid," kata Sudi.

Setiyadi pun mengaku mulai rajin ke masjid selepas tragedi 1965. Saat itu, dia duduk di bangku kelas II SMA. "Itu karena kesadaran saya sendiri," kata Setiyadi yang sampai usia senja rutin berjamaah salat lima waktu di masjid dan mengikuti pengajian sebulan sekali.

Seiring berjalannya waktu, pengelola masjid mulai mengubah pola manajemen. Pada tahun 2000, mereka pun mulai memperbaiki manajemen masjid. Salah satu targetnya adalah memakmurkan masjid.

Cara yang dipakai adalah mengajak warga muslim untuk berbondong-bondong meramaikan masjid. "Salah satunya mengajak salat subuh berjamaah. Prinsip kami, kalau subuh ramai, insyaallah salat wajib lainnya juga ramai," kata Amir.

Untuk memulainya, bukan perkara mudah. Takmir masjid mengundang warga setempat dengan "bungkusa paket" yang menarik: udangannya dibuat bagus laiknya undangan pernikahan dan diberi nama yang bersangkutan lengkap beserta gelar di belakangnya.

"Warga yang terima undangan kan enggak enak kalau tidak datang. Lama-lama terbiasa," kata Amir.

Tak sekadar salat subuh, para jamaah juga mendengarkan kuliah tujuh menit usai salat alias khultum. Usai itu dijamu dengan makanan ringan seperti bubur, telur dan susu, terutama ketika Ahad pagi.

Hingga kini, salat subuh berjamaah menjadi kekhasan jamaah Masjid Jogokariyan. Bahkan, jumlah jamaahnya pun setara dengan jumlah salat Jumat.

Untuk membuat jamaah merasa nyaman ketika salat, takmir memberikan jaminan keamanan terhadap alas kaki hingga sepeda motor yang dibawa. Apabila ada alas kaki atau pun kendaraan jamaah hilang, takmir akan menggantinya dengan merek yang sama dan dalam kondisi baru.

CCTV yang dipasang di berbagai sisi dan menyala 24 jam sekaligus memudahkan takmir untuk mengawasi. "Kalau masjid lainnya minta jamaah hati-hati dengan alas kakinya, kalau kami siap menggantinya," kata Amir.

Cara lainnya adalah memberikan bantuan sembako terhadap jamaah dan warga yang tidak mampu. Untuk mengidentifikasi tingkat perekonomian warga, takmir melakukan pendataan dan verifikasi.

"Salah satu kebijakan Orba adalah menggunakan agama sebagai sarana mengontrol masyarakat"

Baskara T. Wardaya

Warga tak mampu itu diberikan kartu ATM Beras yang mesinnya disediakan di halaman masjid. Mereka bisa mengambil beras sepekan 1-3 kali, bergantung tingkat perekonomiannya. Sekali ambil sebanyak dua kilogram beras.

Setiyadi merupakan salah satu warga yang mendapat jatah ATM Beras.

Untuk dapat melakukan itu semua, mengganti kehilangan barang jamaahnya hingga memberi beras atau sembako, pihak masjid hanya mengandalkan infak dari para jamaah. Termasuk juga kebutuhan operasional masjid.

Maka tak perlu heran jika melihat saldo kas Masjid Jogokariyan selalu nol. Namun, tak perlu risau dengan transparasi penggunaan uang infak tersebut.

Nantinya, pertanggung jawaban penggunaan infak akan diumumkan ketika salat Subuh dan Jumat. Besaran infak yang diterima dan digunakan untuk apa dilaporkan kepada jamaah setahun sekali melalui penerbitan Buletin Idul Fitri.

Nama pemberi infak yang ingin disebutkan namanya pun bakal tertera di sana beserta nilai nominal. "Transparansi untuk menumbuhkan kepercayaan jamaah," kata Amir.

Berkat manajemen yang baik ini, membuat Masjid Jogokariyan menerima Penghargaan masjid Besar Percontohan Idarah I Tingkat Nasional 2016 dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Kini, "jejak merah" sudah tidak ada terlihat lagi di Kampung Jogokariyan. Bisa dibilang, kini daerah tersebut menjadi hijau--represntasi dari warna agama Islam.

Menurut Sejarawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Baskara T. Wardaya, cara menghilangkan pengaruh PKI dari lingkungan masyarakat melalui agama memang digunakan oleh pemerintahan Presiden Soeharto di era Orde Baru (Orba).

"Setahu saya, salah satu kebijakan Orba adalah menggunakan agama sebagai sarana mengontrol masyarakat," kata Baskara.

Tindak lanjutnya, pemerintah Orba kemudian menetapkan agama-agama resmi versi pemerintah. Setiap warga negara mesti memeluk salah satu dari agama resmi tersebut. "Tujuannya mungkin agar tidak ada lagi orang yang ikut PKI," kata Baskara.

Selain itu, kontrol terhadap masyarakat juga lebih mudah apabila melalui peran pemuka agama. Namun, saat ditanya apakah Kampung Jogokariyan sempat menjadi basis PKI, dia belum mengetahuinya.

Seorang pria tengah mendaraskan Al Quran di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, pada bulan Ramadan, Selasa (21/5/2019).
Seorang pria tengah mendaraskan Al Quran di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, pada bulan Ramadan, Selasa (21/5/2019). | Arnold Simanjuntak /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR