Salah seorang  peserta lokakarya foto desain produk sedang praktik di Jakarta Creative Hub, Tanah Abang, Jakarta Pusat (25/5/2019)
Salah seorang peserta lokakarya foto desain produk sedang praktik di Jakarta Creative Hub, Tanah Abang, Jakarta Pusat (25/5/2019) Andi Baso Djaya/Beritagar.id
INDUSTRI KREATIF

Gelora wirausahawan di Creative Hub

Upaya menjadikan industri kreatif sebagai pilar ekonomi baru membuat kehadiran pusat kreatif alias creative hub semakin relevan dalam melahirkan sosok-sosok wirausahawan baru.

Sehari usai aksi demonstrasi menggugat hasil Pemilihan Umum 2019 (23/5), saya mengunjungi Jakarta Creative Hub (JCH) yang berlokasi di Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Pusat kreatif alias creative hub yang berada di lantai dua Gedung Graha Niaga Thamrin ini hadir di jantung ibu kota sejak 1 Maret 2017.

Saat diresmikan, Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI kala itu, menyebutnya sebagai tempat kursus atau les para wirausahawan baru.

Inspirasi membangun JCH datang setelah Ahok, sapaan akrab sang mantan gubernur, melihat Creative Hub Rotterdam, Belanda, kala melakukan kunjungan kerja di sana.

Berdasarkan pengalamannya saat merintis karier sebagai wirausahawan, problem pertama yang dihadapinya adalah perkara tempat atau kantor dan peralatan kerja. Dus, kehadiran JCH diharapkan mengatasi problem tersebut.

Dwi Apriza Ramadhanayanti, Koordinator Operasional Jakarta Creative Hub, kepada Beritagar.id menyebut semua ruangan dan peralatan di ruangan ini bisa diakses gratis oleh warga Jakarta.

“Karena pada dasarnya keberadaan JCH ini untuk mengakomodir keinginan masyarakat yang ingin menjadi wirausahawan di bidang industri kreatif,” lanjutnya.

JCH yang menempati lantai dengan luas sekitar 1.500 meter persegi menyediakan delapan ruangan dengan ukuran berbeda-beda.

Terdapat tiga ruang kelas yang bisa digunakan untuk kegiatan lokakarya, talkshow, seminar, atau diskusi.

Ada pula ruang untuk rapat yang letaknya berada di antara ruang kelas dan makerspace yang dilengkapi alat-alat penunjang karya. Ruang kerja ini terbagi lagi menjadi tiga, ada yang berisi alat-alat percetakan digital, menjahit, dan pemotong kayu.

Bagian lain di tempat ini adalah co-office yang berfungsi sebagai co-working space alias kantor bagi perusahaan-perusahaan rintisan yang bergerak dalam industri kreatif. Tersedia 12 tempat kerja di ruangan ini. Terakhir adalah ruangan perpustakaan.

Dari total 16 subsektor industri kreatif, JCH yang berada di bawah naungan Dinas Koperasi dan UKM Pemprov DKI sejak awal diniatkan untuk menunjang usaha-usaha di bidang arsitektur, fesyen, desain komunikasi visual, produk, dan kriya.

Mengapa cuma lima bidang tersebut? “Ini paling sesuai dengan potensi wilayah dan antusiasme masyarakat Jakarta,” jawab Dwi.

Hingga sekarang JCH telah berkembang pesat. Hal itu terlihat dari indeks jumlah kegiatan yang terus meningkat.

Peningkatan lain terlihat dari jumlah komunitas yang bekerja sama dengan JCH. Semakin banyak dan variatif. Pun daftar keanggotaan yang hingga Maret 2019 tercatat sudah mencapai 3.080 orang.

“Ketimbang saya enggak ngapa-ngapain di rumah, mendingan saya ikut kursus di sini. Gratis dan menyenangkan. Saya yang awalnya enggak bisa jahit, sekarang jadi bisa,” ujar Teta (36), seorang ibu rumah tangga asal Cawang, Jakarta Timur.

Berkat ikut kursus menjahit di JCH, Teta --juga ibu-ibu lainnya-- kini sudah bisa menghasilkan beberapa produk sendiri, semisal dompet, tas, baju, dan berbagai aksesoris lainnya.

Persebaran pusat-pusat kreatif alias creative hub di Indonesia kurun 2000-2017
Persebaran pusat-pusat kreatif alias creative hub di Indonesia kurun 2000-2017 | Teks & olah data: Aghnia Adzkia dan Nur Cholis / Desain: Danil Aufa

Embrio pusat kreatif di Indonesia

Jakarta Creative Hub hanya satu dari sekian banyak tempat sejenis yang tumbuh di Indonesia.

Berdasarkan olah data Beritagar.id merujuk hasil penelitian Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) dari British Council Indonesia, hingga Mei 2017 jumlah pusat kreatif di Indonesia sudah mencapai 132 tempat.

Jakarta masih menjadi kota terbanyak yang memiliki pusat kreatif (68 tempat), menyusul kemudian Bandung (22), Bali (20), dan Yogyakarta (12). Saat ini jumlah tersebut tentu saja sudah bertambah banyak dan semakin menyebar.

Jenis-jenis pusat kreatif alias creative hub antara lain, creative space (ruang kreatif untuk memproduksi atau memamerkan karya seni), co-working space (ruang untuk bekerja dan berkolaborasi bersama), dan makerspace (ruang bekerja yang dilengkapi alat produksi tertentu untuk menghasilkan barang jadi).

Kegiatan-kegiatan yang banyak berlangsung dalam pusat kreatif ini, antara lain lokakarya (workshop), berkumpul/berjejaring, presentasi, ekshibisi, dan diskusi.

“Berhubung semua aset ini milik Pemprov DKI, maka rekan kerja yang ingin mengadakan acara atau mempergunakan ruangan di tempat ini harus memiliki Kartu Tanda Penduduk Jakarta,” ungkap Dwi yang bergabung di JCH sejak Februari 2018.

Termaktub dalam laporan CIPG, pusat kreatif ini pada awal tumbuh kembangnya hadir dalam bentuk ruang-ruang seni yang diinisiasi oleh kolektif atau komunitas independen.

Kehadirannya sebagai wadah alternatif kolektif untuk menampung berbagai ide dan hasil karya para seniman kontemporer yang kala itu masih sering dianggap nyeleneh.

Sebut misal Rumah Seni Cemeti di Yogyakarta. Tempat yang diprakarsai pasangan seniman Nindityo Adipurnomo dan Mella Jaarsma ini hadir sejak 1988.

Berbilang tahun, tempat sejenis mulai hadir satu per satu, antara lain Kedai Kebun Forum di Yogyakarta (pada 1997), Ruangrupa di Jakarta (2000), dan Common Room di Bandung (2001).

Tempat yang dituliskan terakhir menurut British Council paling memenuhi pengertian sebagai pusat kreatif seperti yang kita kenal sekarang, yaitu sebuah tempat --fisik atau virtual-- yang menyatukan orang-orang dengan segala ide kreatifnya.

Sebagai tempat, Common Room bukan hanya menyediakan ruang dan menjadi pusat pertemuan, tapi juga dukungan untuk berjejaring, mengembangkan bisnis, serta aktif melibatkan masyarakat setempat dalam sektor kreatif, budaya, dan teknologi.

Kini di kota kembang tersebut sudah punya Bandung Creative Hub (BCH) yang diresmikan sejak 28 Desember 2018.

Berbeda dengan yang di Jakarta, BCH menempati gedung sendiri yang terdiri dari enam lantai dengan berbagai ruangan dan fasilitas.

Ridwan Kamil yang kala itu masih menjadi walikota mengklaimnya sebagai pusat kreatif paling lengkap dan tercanggih di Indonesia.

“Warga Bandung tinggal bawa gagasan saja, mencoretkan imajinasinya dan mewujudkannya di tempat ini. Nanti kalau berhasil kita bantu pasarkan agar punya nilai ekonomi,” kata Kang Emil, sapaan akrab pria yang kini telah menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat itu.

Peserta lokakarya foto produk yang berlangsung di Jakarta Creative Hub, Tanah Abang, Jakarta Pusat (25/5/2019)
Peserta lokakarya foto produk yang berlangsung di Jakarta Creative Hub, Tanah Abang, Jakarta Pusat (25/5/2019) | Andi Baso Djaya/Beritagar.id

Semakin tumbuh dan berkembang

Jika pada awalnya diinisiasi oleh kolektif atau komunitas independen tanpa dukungan kapital besar, kini sudah banyak pusat kreatif, terutama di Jakarta, yang dihadirkan oleh pihak swasta dengan dukungan modal besar.

Perwujudannya berupa kehadiran sejumlah penyewaan co-working space yang menempati gedung-gedung perkantoran. Beberapa di antaranya adalah Cohive, Conclave, Wework, hingga Concrete.

Pemerintah saat ini juga tak kalah giat mengggagas berdirinya pusat-pusat kreatif. Ada yang melalui pemerintah provinsi, seperti di Jakarta dan Bandung. Atau kongsi sesama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang melahirkan Rumah Kreatif.

Total jenderal saat ini BUMN sudah mendirikan 210 Rumah Kreatif yang tersebar di berbagai wilayah kota/kabupaten Indonesia.

Contoh paling anyar, kongsi beberapa perusahaan milik negara ini melahirkan Gedung Sinergi 8, hasil revitalisasi Gedung 48 milik Kementerian BUMN yang puluhan tahun mangkrak di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Gedung yang terdiri dari empat lantai tersebut menyediakan fasilitas berupa ruang kerja bersama, tempat kuliner, dan arena olahraga.

Menghidupkan kembali aset gedung yang lama terbengkalai juga diikuti Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri). Kali ini mereka menggandeng pihak swasta, dalam hal ini PT Ruang Riang Milenial sebagai perusahaan jasa kreatif.

Kesepakatan dua pihak tersebut melahirkan satu tempat pusat kreatif baru yang dinamakan M-Bloc.

Lokasinya menempati bekas kompleks perumahan pegawai dan gudang percetakan Peruri di kawasan Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Akses menuju tempat ini tergolong mudah karena berdekatan dengan terminal bus dan stasiun Moda Raya Terpadu Blok M.

Dalam jumpa pers penandatanganan nota kesepahaman antara Peruri dengan PT Ruang Riang Milenial (17/5), Dwina Septiani Wijaya selaku Direktur Utama Perum Peruri mengatakan, M-Bloc hadir bukan hanya langkah dalam mengoptimalisasi aset Peruri dari segi bisnis, tapi juga bertujuan memberikan kontribusi bagi lingkungan dan masyarakat.

Saat ditemui Beritagar.id usai konferensi pers, Wendi Putranto sebagai Direktur Program M-Bloc mengaku sudah menyiapkan berbagai program menarik, terutama menyangkut musik.

Salah satu fasilitas utama M-Bloc yang menurut rencana akan diresmikan pada Oktober 2019 adalah Music Hall berkapasitas 350 penonton.

“Akan ada tiga musisi atau band lokal yang manggung setiap malam di tempat tersebut. Pada siang harinya, tempat ini bisa disewakan untuk acara-acara seperti konferensi pers, talk show, coaching clinic, atau corporate event,” papar Wendi.

Selain itu, M-Bloc juga menyediakan co-working space dan area khusus bagi para penyewa yang ingin membuka usaha di bidang kreatif seperti kuliner, musik, seni rupa, atau fesyen.

“Harapan kami dengan adanya pusat kreatif seperti ini bisa menciptakan banyak kolaborasi antara sesama yang terlibat. Ada aktivitas-aktivitas lintas sektoral,” sambung Wendi.

Dwi Apriza Ramadhanayanti dalam kesempatan berbeda mengatakan, kehadiran pusat kreatif dalam menunjang industri kreatif akan sangat dibutuhkan pada tahun-tahun mendatang.

"Sekarang ada banyak orang yang ingin membuka usaha sendiri. Jadi wirausahawan. Nah, tempat seperti ini bisa mereka manfaatkan untuk belajar, dari yang tadinya awam atau tidak bisa, menjadi ahli alias bisa," pungkas Dwi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR