Seorang warga melihat Jembatan Palu IV yang roboh lantaran guncangan gempa dan tsunami di tepi Teluk Palu, Sulawesi Tengah.
Seorang warga melihat Jembatan Palu IV yang roboh lantaran guncangan gempa dan tsunami di tepi Teluk Palu, Sulawesi Tengah. Beritagar.id / Wisnu Agung Prsetyo
MITIGASI BENCANA

Gempa Palu: Antara simulasi dan yang terjadi

Palu punya Rencana Kedaruratan (Rencana Kontinjensi) menghadapi gempa dan tsunami. Skenarionya nyaris sama persis dengan bencana 28 September 2018.

Lepas asar, 19 November 2012, ratusan orang berlari menjauhi pantai dari arah Jalan Raja Maili, di selatan kolong Jembatan IV, yang bersemuka dengan pesisir Teluk Palu, Sulawesi Tengah.

Teriakan anak-anak, remaja, lansia, perempuan dan laki-laki dewasa bercampur raung kendaraan.

Di tengah kepanikan, sebagian warga berlari lurus ke arah Jembatan Palu III di Jalan Kyai Maja. Sebagian lain berbelok ke Jalan Undata dan berkumpul di Kantor Camat Palu Timur.

Drama itu merupakan bagian dari kegiatan simulasi evakuasi mandiri yang dilakukan warga Besusu Barat, satu wilayah di sisi timur Sungai Palu.

Satu jam sebelum drama di muka, pembukaan Gladi Nasional Penanggulangan Bencana berlangsung di Lapangan Vatulemo, depan Kantor Wali Kota Palu.

Kegiatan itu diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dengan pelbagai mata acara: diskusi-diskusi topik kebencanaan, gladi ruang, bakti sosial, pameran, dan pemutaran film.

Harapannya kegiatan termaksud bisa menjadikan topik kebencanaan sebagai wacana publik.

Selain Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dari seluruh wilayah tingkat II Sulteng, kegiatan itu dihadiri perwakilan BPBD dari provinsi-provinsi dan kabupaten-kota di regional Sulawesi.

Pada hari terakhir pelaksanaan, simulasi lapangan menghadapi gempa dan tsunami kembali digelar.

Jumat, 23 November 2012, matahari baru menyembul dari Bulu Masomba, Kawatuna di ujung timur kota. Ratusan warga kumpul untuk simulasi bencana di Pantai Talise, tak jauh dari lokasi tambak garam.

Sirene memecah hening. Beberapa orang berteriak, "Gempppaaa..."; "Tsunaaammiii…"; "Larriiii...". Warga tunggang-langgang ke titik evakuasi yang telah ditentukan.

Simulasi itu bukan tanpa dasar. Sebulan sebelumnya, 25 Oktober 2012, di Yogyakarta terselenggara pertemuan tahunan, Asian Ministerial Conference Disaster Risk Reduction (AMCDRR)--konferensi tingkat menteri untuk pengurangan risiko bencana.

Pertemuan itu menghasilkan Deklarasi Yogyakarta yang memandatkan pelaksanaan gladi nasional penanggulangan bencana.

***

Satu dokumentasi simulasi gempa dan stunami di Pantai Talise, November 2012.
Satu dokumentasi simulasi gempa dan stunami di Pantai Talise, November 2012. | Muhammad Ayyub /Facebook

Mantan Wali Kota Palu, Rusdi "Cudi" Mastura, bicara dengan nada sendu saat saya bertemu dengannya selepas bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi menghantam Sulteng pada 28 September 2018.

"Capaian dokumen perencanaan terkait penanggulangan (pra) dan penanganan (tanggap darurat) bencana tidak berlanjut," keluhnya, Selasa (16/10/2018).

Cudi menjabat wali kota selama dua periode (2005-2015). Medio 2015, ia mundur lantaran ikut Pilkada Sulteng, lantas diganti wakilnya Mulhanan "Toni" Tombolotutu.

Tokoh yang disebut terakhir juga mundur karena ikut Pilkada Kota Palu. Kursi kepemimpinan lalu diisi Pelaksana Tugas, Hidayat Lamakarate, sebelum diserahkan kepada duet Hidayat-Sigit Purnomo Said yang memenangkan Pilkada 2015.

Dinamika ambil oper jabatan itu sedikit banyak mewarnai keberlanjutan program dan dokumen kebencanaan di Palu.

Bila hendak tengok ke belakang, sejumlah program kebencanaan sebenarnya sudah berlangsung di "mutiara khatulistiwa" itu. Simulasi yang disinggung di awal tulisan salah satunya.

Simulasi itu diikuti perwakilan warga dari lima kelurahan di pesisir Teluk Palu: Layana, Talise, Besusu Barat, Lere, dan Silae—kelimanya mewakili lansekap timur dan barat, serta mencerminkan kepadatan penduduk karena posisinya dekat pusat kota.

Peserta simulasi sebagian besar berhimpun dalam komunitas sadar bencana dari program Safer Community Disaster Risk Reduction (SCDRR) atau Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas.

SCDRR merupakan kegiatan besutan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa Bangsa (UNDP). Program itu sudah berjalan di Palu sejak 2009. Saat itu, BPBD Kota Palu bahkan baru akan terbentuk.

Selain bencana alam, UNDP juga punya program Peace Through Development (PTD), yang berfokus pada penanganan bencana sosial di Palu dan Poso--dua wilayah yang rentan konflik horizontal dan vertikal.

Di level nasional, SCDRR dan PTD berada di bawah koordinasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Di daerah, keduanya didinamisir Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

Lewat SCDRR, isu kebencanaan diharapkan jadi wacana publik yang dibicarakan dalam musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang)--mulai dari tingkat kelurahan hingga ke forum kota.

Perda Kota Palu No.6/2011 tentang Bangunan Gedung jadi satu contoh pendekatan mitigasi bencana berbasis SCDRR. Tujuh belas kata gempa yang disebutkan dalam perda itu menunjukkan bahwa penyusunannya menimbang potensi bencana dan mitigasi.

SCDRR juga melahirkan dokumen Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) yang memayungi penyusunan peta-peta untuk mengidentifikasi ancaman bencana alam.

Ada pula "Rencana Kedaruratan" (biasa disebut Rencana Kontinjensi) ketika menghadapi gempa dan tsunami, banjir, serta tanah longsor--jenis bencana alam yang berpotensi terjadi di Palu.

Simulasi menghadapi gempa dan tsunami pada November 2012, berbasis pula pada dokumen Rencana Kontinjensi yang diteken Cudi selaku wali kota.

Sebagai dokumen resmi, Rencana Kontinjensi disusun pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha--segitiga yang menjadi logo penanganan bencana.

Ia juga "dokumen hidup" yang harus diaktivasi dengan simulasi. Pertambahan penduduk, pertumbuhan kawasan baru, dan pembangunan infrastruktur, membuat dokumen itu mesti pula diperbaharui demi menyesuaikan dinamika kota.

Perkara keberlanjutan itulah yang bikin Cudi merasa ikut bertanggung jawab dalam bencana.

Matanya berkaca-kaca saat bilang, "Ada yang tidak terjadi saat suksesi kepemimpinan. Dokumen itu tidak berlanjut."


***

Masjid Baiturrahman pascagempa dan tsunami di daerah Taman Ria, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10).
Masjid Baiturrahman pascagempa dan tsunami di daerah Taman Ria, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10). | Akbar Tado /ANTARA FOTO

Sejak awal September 2018, Tri "Rini" Nirmalaningrum sibuk merampungkan tulisan-tulisan Ekspedisi Palukoro. Namun, pada satu momen, ia terhambat menulis lantaran butuh dokumen Rencana Kontinjensi Kota Palu.

Rini pun angkat telepon ke BPBD Kota Palu guna menanyakan dokumen termaksud pada 25 September 2018--tiga hari sebelum petaka menyergap Sulteng

"BPBD mengaku tidak menyimpan dokumen itu. Mereka menyarankan saya ke BNPB," kata Rini, dalam satu diskusi di Kantor Aliansi Jurnalis Independen Kota Palu, Rabu (10/10/2018).

Rini mengaku kesal lantaran "dokumen penting" itu tak jelas rimbanya.

"Rencana Kontinjensi menyediakan data-data penting di suatu daerah. Ada skenario bencana. Lalu ada penjelasan rinci tentang apa-apa yang harus dilakukan pemerintah setempat saat bencana terjadi hingga tanggap darurat," katanya.

Penyusunannya juga menimbang potensi bencana di Palu yang dilintasi sesar Palukoro, salah satu patahan paling aktif di dunia--yang jadi titik tolak Ekspedisi Palukoro.

Dokumen itulah yang diteken Cudi semasa menjabat wali kota pada November 2012.

Hampir enam tahun setelah dokumen diteken, 28 September 2018, bencana sesungguhnya terjadi.

Kala itu, senja hampir tenggelam di punggung Gawalise, dan Palu bersiap menyambut akhir pekan beriring perayaan ulang tahunnya yang ke-40--jatuh pada Kamis, 27 September.

Acara budaya, yang sudah memasuki tahun ketiga, bertajuk Palu Nomoni akan segera dimulai.

Ratusan orang melakukan gladi untuk pembukaan festival di panggung utama Anjungan Pantai Talise, persis depan Stasiun TVRI. Di sepanjang kawasan itu manusia tumpah ruah dalam sukacita.

Belum selesai azan magrib berkumandang, tepat pukul 18.02 WITA, gempa bumi datang mengguncang.

Kepanikan mengepung kawasan pantai. Orang-orang berlari menuju ke arah yang berlawanan dari pantai atau menaiki pohon atau bangunan.

Tak lama dari jeda guncangan, tsunami menyapu segala yang ada di sana, termasuk mereka yang tertinggal atau terjatuh saat berupaya menyelamatkan diri.

Rini kaget begitu mendengar kabar bencana menimpa Palu, Sigi, dan Donggala. Lebih-lebih, di antara ketiganya, Palu jadi area paling terdampak.

"Saya kaget karena bencana 28 September itu persis dengan skenario dalam Rencana Kontinjensi yang saya dapat dari BNPB," katanya.

Skenario itu memang mengandaikan terjadi gempa bumi berkekuatan 7.4 Skala Richter dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa juga diikuti tsunami.

Efeknya pun serupa: jembatan roboh, jalan-jalan rusak, listrik mati, air bersih terhambat, telekomunikasi putus, logistik terbatas, dan pengungsi membeludak.

Bila saja, Rencana Kontinjensi menghadapi gempa bumi dan tsunami itu telah diperbaharui, disimulasi, dan diketahui publik karena disosialisasi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR