Nyala suar dalam prosesi Corteo Ultras Palembang jelang pertandingan Sriwijaya kontra PSM Makassar, di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, Minggu (17/9/2017). © Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id

Gerombolan hitam di Tribune Timur

Ultras Palembang, gerombolan romantis yang setia membela Sriwijaya FC.

Gerombolan anak muda mengenakan baju, jaket, atau parka berwarna hitam berkerumun di sisi timur bagian luar Stadion Gelora Sriwijaya, Kompleks Olahraga Jakabaring, Palembang, Sumatra Selatan.

Mayoritas menyamarkan wajah dengan topeng atau balaclava (penutup muka). Sepatu olahraga kasual (sneakers) melengkapi penampilan mereka.

Para lelaki mendominasi kerumunan, meski beberapa kumpulan perempuan juga terlihat.

Seorang pria dengan tinggi sekitar 180 sentimeter menjulang dalam kerumunan. Ia kian mencolok dengan balaclava merah, yang sekilas serupa Spiderman. Pria itu punya nama kedok: Don Q.

Ia menunjukkan diri sebagai pemimpin seiring perintahnya terdengar dari mikrofon jinjing. Suaranya bisa menyulap kerumunan itu jadi barisan yang memblokade jalan selebar enam meter di tepi stadion.

Sejurus kemudian, Don Q mengajak gerombolannya bertepuk tangan dan berseru "Ultra" sekaligus menandai dimulainya kor pemujaan untuk Sriwijaya FC--tim sepak bola asal Palembang.

Mereka lalu bernyanyi penuh spirit, sesekali berlompatan sambil berangkulan bahu. Tiba-tiba, bom asap (smoke bomb) mengepulkan warna-warni di udara. Dari barisan depan, nyala suar (flare) menambah semarak. Kilat suar dan asap warna-warni jadi kontras dalam temaram senja.

Sambil bernyanyi, mereka berjalan menuju pintu stadion. Satu lagu nan akrab di telinga awam adalah Sepanjang Jalan Kenangan, tembang lawas era 1960-an gubahan Is Haryanto, yang telah dimodifikasi.

"Sepanjang jalan hidupku. Kita kan dukung Sriwijaya. Sepanjang jalan hidupku. Ultras tetap di dalam hati."

Itulah secuplik prosesi corteo (jalan menuju stadion) Ultras Palembang 2004, kelompok suporter Sriwijaya FC yang mengklaim beraliran Ultras--pendukung garis keras ala Eropa, terkhusus Italia.

Minggu malam (17/9/2017), hari pertandingan Sriwijaya kontra PSM Makassar, sekitar 1.500 anggota Ultras Palembang datang mendukung tim kebanggaan mereka. Angka itu terasa kecil bila dibandingkan daya tampung Stadion Gelora Sriwijaya--pemegang lisensi A AFC (Asosiasi Sepak Bola Asia)--yang mencapai 45 ribu penonton.

Meski kecil, Ultras Palembang merupakan pencuri perhatian di tengah stadion. Mereka tak pernah diam sepanjang pertandingan. Tribune, bagi mereka, adalah panggung pertunjukkan.

Tanpa jeda, mereka meneriakkan chant (yel-yel) dan bernyanyi, menabuh perkusi, mengibarkan bendera raksasa, serta membuat koreografi bertuliskan "UP" (baca: naik)--singkatan Ultras Palembang, sekaligus penyemangat untuk Sriwijaya yang tengah terpuruk di Liga 1 Indonesia.

Don Q, Capo Ultras Palembang, memimpin pasukannya di Tribune Timur Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang. Foto diambil saat laga Sriwijaya FC kontra PSM Makassar, Minggu (17/9/2017).
Don Q, Capo Ultras Palembang, memimpin pasukannya di Tribune Timur Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang. Foto diambil saat laga Sriwijaya FC kontra PSM Makassar, Minggu (17/9/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Budak Palembang gaya Italia

Ada dua figur sentral di Ultras Palembang, yakni: Don Q (40), bertugas sebagai capo (dirigen); dan AF (29), berstatus Presiden Ultras Palembang.

Antara 16-18 September 2017, Beritagar.id beberapa kali mengobrol dengan keduanya di Palembang--berpindah-pindah lokasi, dari Warung Pempek sampai Stadion Gelora Sriwijaya.

Don Q--tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil di Pemprov Sumsel--punya gaya tutur berapi-api. Sebaliknya, AF--pekerja lembaga penjamin keuangan--tipe pencerita yang gemar bercanda.

Selain dua figur itu, Ultras Palembang punya kelompok inti bernama il diavolo (iblis). Ada 20-an "orang pilihan" bergelar il diavolo, yang bertugas sebagai koordinator lapangan pada hari pertandingan.

Adapun mobilisasi Ultras Palembang bersandar pada kelompok-kelompok kecil berbasis teritori. Kelompok suporter di Indonesia lazim menyebutnya, "Wilayah"--dipimpin Koordinator Wilayah. Sedangkan, Ultras Palembang memakai istilah Italia, Sezione.

"Kami punya 30-an Sezione, mencakup beberapa kabupaten di sekitar Palembang," kata AF.

Penggunaan kosakata Italia semakin menegaskan kiblat mereka. "Kami terinspirasi Curva Sud Milano, Ultras-nya AC Milan, Italia," kata Don Q.

Inspirasi itu juga terdengar dalam chant ala Italia, dan sebuah nyanyian penghormatan untuk sang junjungan.

"Salut pada Curva Sud Milan. Garis keras jiwa militan... Palembang bagai Italia. Sama-sama Ultras sejati."

Meski mengadopsi kultur impor, Ultras Palembang mengaku tak menanggalkan nilai ketimuran.

"Kalau ikut budaya luar, kita minum bir, makan spaghetti," ujar AF, beriring tawa.

Don Q memberi penegasan dengan menyebut dua menu khas Palembang, "Kami tetap makan pempek dan minum es kacang".

Saat ini, Ultras Palembang menghuni satu blok di Tribune Timur Stadion Gelora Sriwijaya.

Lokasi itu di luar kebiasaan kelompok Ultras, yang lazim menempati area lengkungan (kurva) di belakang gawang--biasa disebut Curva Nord (kurva utara) atau Curva Sud (kurva selatan).

Masalahnya, area belakang gawang Stadion Gelora Sriwijaya telah dikuasai kelompok suporter Laskar Wong Kito lainnya: Singa Mania, berwarna hijau di Tribune Utara; Sriwijaya Mania (S-Man), berwarna kuning di Tribune Selatan.

Ultras Palembang pernah berusaha merebut tribune belakang gawang. Satu kisah perebutan tribune terjadi pada 14 Januari 2014, saat laga Sriwijaya kontra Semen Padang. "Waktu itu, sebagai Ultras, kami bertekad merebut curva," kata Don Q.

Konon, mereka nyaris memenangkan pertarungan sebelum memutuskan mundur demi minimalisasi korban. Kala itu, memang ada sejumlah korban di kedua pihak, termasuk seorang gadis yang kena lemparan cuka parah (air keras) di wajah.

"Pertarungan berhenti setelah kami dan pentolan kelompok lawan berdamai," kenang Don Q. "Terlalu mahal 'harganya'. Banyak anggota yang masih remaja menanggung risiko."

Salah seorang anggota Ultras Palembang memamerkan tato bertuliskan "Ultras" di dadannya kepada Beritagar.id, Senin (18/9/2017).
Salah seorang anggota Ultras Palembang memamerkan tato bertuliskan "Ultras" di dadannya kepada Beritagar.id, Senin (18/9/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Anak kandung perpecahan

Kelahiran Ultras Palembang penuh lika-liku. Pasalnya, kelompok dengan 2000-an anggota itu merupakan anak kandung perpecahan suporter Sriwijaya sejak 2004 (lihat kronologi dalam video).

Mula-mula, para pendiri Ultras Palembang tergabung dalam Singa Mania Indonesia (Simanis), yang berdiri pada 2008.

Pada tahun yang sama, muncul inisiatif menyatukan suporter Sriwijaya--S-Man, Singa Mania, dan Simanis--dalam wadah bernama BELADAS (Bela Armada Sriwijaya).

Namun, sehari pascadeklarasi BELADAS, Singa Mania malah angkat kaki. Simanis dan S-Man tetap akur, tetapi hanya bertahan hingga medio 2012. Perpecahan terulang, S-Man memutuskan jalan sendiri.

Adapun Simanis terlahir kembali sebagai Simanis Ultras Palembang, yang dibentuk 30-an anak muda. Akses internet memudahkan mereka bersentuhan dengan kultur suporter luar negeri. "Awalnya, kami hanya senang melihat video viral Ultras luar negeri," ujar AF.

Pada 2014, mereka menanggalkan embel-embel "Simanis", dan resmi bernama "Ultras Palembang 2004"--merujuk tahun kelahiran Sriwijaya.

Perihal perpecahan suporter Sriwijaya, Beritagar.id sempat bertanya kepada manajemen Sriwijaya dan para suporter. Jawabannya, antara lain: "beda aliran (Ultras, Hooligan, dan Mania)"; "egoisme pimpinan"; dan "kepengurusan ganda".

"Suporter Sriwijaya sulit membesar, seperti Bonek (Surabaya), BCS (Sleman), Bobotoh (Bandung), Aremania (Malang), atau The Jakmania (Jakarta). Karena, kita selalu berkonflik," keluh Don Q.

Parahnya, perpecahan berimbas hingga bentrok fisik--para suporter menyebutnya "perang". Alhasil, hari pertandingan bisa jadi ajang perang segitiga. Laga kandang pun berasa tandang.

Sejumlah titik di Jalan H.A. Bastari hingga Jembatan Ampera (sekitar sembilan kilometer) sering jadi medan perang antarsuporter. Jalur itu merupakan rute utama menuju Stadion Gelora Sriwijaya dari pusat Kota Palembang.

Don Q mengibaratkan perjalanan pergi-pulang stadion bak usaha menembus Aleppo, wilayah paling berkecamuk dalam Perang Suriah. "Bisa ketemu pasukan Bashar Al-Assad, pemberontak, atau ISIS. Semuanya saling perang," katanya.

Kondisi kian gawat sebab perang antarsuporter berkelindan dengan konflik kriminal perkotaan, seperti bentrok antarkampung, tawuran antarsekolah, dan kericuhan geng motor. Pihak-pihak yang sudah lama bertikai punya "alasan baru" untuk berkonflik, karena memegang identitas kelompok suporter berbeda.

Anggota Ultras Palembang berpose untuk Beritagar.id selepas pertandingan Sriwijaya FC lawan PSM Makassar, di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, Minggu (17/9/2017).
Anggota Ultras Palembang berpose untuk Beritagar.id selepas pertandingan Sriwijaya FC lawan PSM Makassar, di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang, Minggu (17/9/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

AF pun mengenang tahun-tahun awal Ultras Palembang sebagai momen "penuh darah dan air mata". Waktu itu, kata AF, Ultras Palembang masih kecil dan terjepit di antara dua kelompok besar.

"Setelah pertandingan, kami selalu keliling rumah sakit dan kantor polisi, memastikan tidak ada anggota jadi korban atau terlibat kekerasan," ujar AF. "Korban tidak hanya di pihak kami. Dua kelompok lain juga punya korban."

Peristiwa bentrok antarsuporter Sriwijaya pernah pula terjadi di Jakarta (17-18 Oktober 2015), saat final Piala Presiden antara Sriwijaya versus Persib Bandung. Bentrok berpangkal pada penempatan tiga kelompok suporter Sriwijaya di satu penampungan: Hall Basket Senayan.

Bentrok segitiga pun pecah: Ultras Palembang kontra Singa Mania; Ultras Palembang lawan S-Man; S-Man versus Singa Mania. Mulai dari bentrok kecil hingga besar, baku pukul sampai saling lempar.

"Malam, lawan yang satu. Paginya, lawan yang lain. Siangnya, giliran dua lawan itu perang," kenang Don Q.

Pada 2016, Ultras Palembang pelan-pelan melepaskan diri dari konflik. "Sejak itu--hingga kini--kami bersikap netral," kata AF. "Ada juga kesepakatan para pentolan suporter untuk mengurangi bentrok."

Bagi Ultras Palembang, menurunnya frekuensi bentrok--dua tahun terakhir--membuka kesempatan membesarkan organisasi dan berkreasi di stadion. "Sebelumnya, sulit berkreasi. Kalaupun bisa, seadanya saja, karena lebih fokus perang. Orang yang mau bergabung juga jadi was-was," ujar Don Q.

Meski berangsur damai, sepak bola Palembang belum sepenuhnya lepas dari konflik antarsuporter. Perdamaian terjadi di antara para pentolan. Di level bawah, bahaya konflik bak api dalam sekam. Bahkan sesekali bentrok berkobar.

Pada hari pertandingan Sriwijaya kontra PSM Makassar, Beritagar.id menyaksikan sejumlah gejala konflik.

Sebelum pertandingan, belasan orang--berpakaian hijau dan kuning--saling lempar batu dan petasan roket di luar stadion.

Pun, saat pertandingan tersisa 10 menit, salah satu tribune belakang gawang mendadak sepi. Sriwijaya memang sedang tertinggal 4-3, tetapi hal itu bukan alasan meninggalkan tribune.

Konon, pengosongan tribune merupakan sinyal bentrok. Biasanya, suporter yang mengosongkan tribune bersiap mengatur penyergapan di jalur pulang.

Lepas pertandingan, sejumlah pentolan Ultras Palembang menemani beberapa suporter PSM Makassar yang bertandang ke Palembang. Mereka menongkrong di luar Stadion Gelora Sriwijaya. "Jalur pulang belum aman," kata Don Q, sambil mengajak kami bergabung.

Kami pun ikut mengobrol sebentar. Di sela obrolan, walkie talkie di tangan AF kerap menerima pesan dari anggota Ultras Palembang, yang diminta memastikan keamanan jalur pulang. Dari walkie talkie, terdengar kata-kata macam: "masih perang", "lempar-lemparan", dan "terjebak".

Ketika kami pulang, di beberapa titik terlihat batu-batu berserakan--terutama di gerbang Kompleks Olahraga Jakabaring. "Sisa-sisa perang," ujar seorang il diavolo Ultras Palembang, dari kursi belakang mobil yang kami tumpangi.

Muammar Fikrie
Penulis dan editor Beritagar.id sejak 2015.

BACA JUGA