Klenteng Hong San Kiong, Desa/Kecamatan Gudo, Jombang. Pengaruh arsitektur Jawa sangat kuat di klenteng ini.
Klenteng Hong San Kiong, Desa/Kecamatan Gudo, Jombang. Pengaruh arsitektur Jawa sangat kuat di klenteng ini. Ishomuddin / Beritagar.id

Gudo, rumah bersama Tionghoa-Jawa

Klenteng tidak hanya jadi tempat ibadah tapi juga digunakan untuk memanjatkan permohonan lain.

Bangunan tua yang berdiri di Desa Gudo, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang masih terlihat kokoh. Satu hal yang membedakan dengan bangunan yang ada di sekitarnya adalah warnanya yang sangat mencolok. Warnanya merah tua dan kuning.

Orang yang melintas di depan bangunan itu akan segera tahu jika bangunan itu adalah tempat peribadatan warga Tionghoa. Namun tak seperti klenteng lainnya, arsitektur bangunan ini sangat kental dengan nuansa Jawa. Seperti atap klenteng yang berbentuk seperti bangunan joglo khas Jawa.

Klenteng ini merupakan satu dari dua klenteng yang ada di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tepatnya berada di Desa/Kecamatan Gudo, sekitar 15 kilometer selatan pusat kota Jombang.

Tak ada yang tahu persis sejak kapan klenteng itu berdiri di daerah itu. Buku "Sedjarah Gudo" yang dikarang Liem Sik Hie (cetakan 1954) juga tak menyebut tahun pendirian klenteng itu. Di buku itu hanya merekam jejak laporan keuangan klenteng yang paling tua berangka 1926.

Dalam bukunya Liem menyebut keberadaan klenteng tidak bisa dilepaskan dari kampung Pecinan atau yang dulu dikenal dengan sebutan kampung Petukangan atau Tukangan.

Disebut Tukangan karena awalnya warga Tionghoa yang tinggal di kampung itu kebanyakan bekerja sebagai tukang atau pekerja pabrik gula. Pabrik itu jaraknya sekitar 600 meter dari klenteng.

Nanik Indrawati, pengurus dan penyuluh agama Konghucu di klenteng itu, menjelaskan beberapa tahun lalu ada seorang profesor kepala perpustakaan nasional di Taiwan yang berkunjung ke klenteng Hong San Kiong itu. Menurut sang profesor, dari syair-syair Mandarin yang ada di papan kemungkinan klenteng itu didirikan pada 1830 Masehi.

Tak hanya mengunjungi klenteng, sang profesor juga sempat berziarah di kompleks makam Tionghoa di Gudo. Di makam, ia menemukan angka tahun tertua pada salah satu nisan makam. "Di nisan itu tertulis yang dimakamkan itu salah satu pejabat Dinasti Ming," kata Nanik, Ahad (4/2/2018).

Merujuk sumber sejarah dinasti Tiongkok, Dinasti Ming hidup di tahun 1368 hingga 1644 Masehi. Sehingga antara tahun tersebut dipercaya sudah ada etnis Tionghoa yang datang ke Gudo.

Dulunya, kata Nanik, Gudo menjadi pusat keramaian. "Gudo sudah seperti kota," ujarnya. Gambaran Gudo sebagai kota kecil itu, menurutnya, bisa dilihat di arsip perpustakaan nasional Belanda. Di arsip itu disebutkan, pabrik gula yang ada itu dijalankan dengan 70 pintu air atau orang menyebutnya rolak 70. Selain pabrik, ada juga perkampungan Tionghoa, pasar, dan kuburan.

Senada dengan Nanik, Ketua Yayasan Klenteng Hong San Kiong, Toni Harsono, juga mengatakan Gudo dahulu merupakan daerah perindustrian, pertanian, dan perdagangan yang maju. "Gudo dulu lebih ramai dari sekarang. Dulu ada pabrik gula dan banyak gudang tembakau," katanya.

Jumlah etnis Tionghoa yang mendiami Gudo juga lebih banyak dibanding saat ini. "Saat ini mungkin tersisa sekitar 20 kepala keluarga," ujarnya. Berkurangnya etnis Tionghoa di Gudo karena ada yang pindah ke kota lain mengikuti suami atau istri atau pindah berdagang ke Jombang kota.

Sejumlah penganut Konghucu sedang melakukan peribadatan.
Sejumlah penganut Konghucu sedang melakukan peribadatan. | Ishomuddin /Beritagar.id

Solidaritas Tionghoa-Jawa

Sehari-hari, klenteng itu tampak ramai. Beberapa orang tampak sedang beribadah. Saat saya mengunjungi klenteng itu, seorang gadis berjilbab abu-abu tampak menyiapkan minyak kemasan plastik di ruang utama altar pemujaan klenteng. Minyak itu rencananya bakal dijadikan pemberkatan.

Di ruang makan dan dapur klenteng yang berada di belakang ruang ibadah, beberapa ibu sibuk memasak dan menyiapkan makanan.

Mereka adalah para pembantu atau pegawai klenteng yang rata-rata beragama Islam. "Yang pasti ada sembilan pegawai dan mayoritas Islam. Kalau ada acara besar bisa banyak lagi yang bantu-bantu di sini dan semua warga sekitar," kata Nanik.

Di klenteng ini, pengurus, juru kunci atau pemandu ibadah, dan pegawai membaur. Mereka bercengkerama dan makan bersama. Tak ada sekat ras, etnis, atau suku.

Nanik mengatakan etnis Tionghoa di Gudo sudah membaur dengan penduduk setempat. Bahkan banyak juga di antara mereka yang menikah dengan orang Jawa.

Dalam bertutur kata, kata Nanik, mereka juga menggunakan bahasa Jawa halus. "Kami sebagai pedagang selalu menggunakan bahasa Jawa halus kalau melayani pembeli," katanya.

Bekas Kepala Desa Gudo, Budianto Tjokroatmodjo mengatakan masyarakat Gudo dengan agama dan keyakinan beragam bisa hidup berdampingan dan harmonis sampai sekarang. "Di sini agamanya lengkap, ada Konghucu, Katolik, Kristen, dan Islam, tapi tidak pernah terjadi gesekan," katanya.

Toleransi dan gotong royong antar warga sangat tinggi. Ketika hari raya keagamaan, mereka saling silaturahmi. "Saat mereka merayakan Natal, kami mengucapkan selamat. Sebaliknya ketika Idul Fitri mereka datang," katanya.

Dalam momen tertentu seperti orang meninggal, warga juga saling melayat dan mengantarkan jenazah sampai pemakaman meski beda agama. "Kalau ada yang meninggal, yang Islam juga ikut melekan (begadang)," ujarnya. Sebaliknya, jika yang meninggal muslim, warga non muslim juga diundang. "Mereka juga ikut doa sesuai agamanya," katanya.

Saat klenteng melaksanakan perayaan Hong San Kiong yang diperingati setiap tanggal 29 bulan 7 tahun Imlek, masyarakat sekitar turut hadir. Mereka saling bantu. "Ritual ini mirip ritual nyadran kalau di Jawa," kata Nanik.

Sebelum upacara dimulai, ratusan orang berbondong-bondong menuju klenteng dengan membawa berbagai macam sesajian atau suguhan. Sajian yang terkumpul itu lalu dibagikan lagi ke masyarakat.

Pribumi dan ramalan dewa

Ahad (4/2/2018) siang beberapa orang tampak khusyuk beribadah. Sebelum ritual, mereka membakar hio dan kemudian menyembah patung dewa Kong Co Kong Tik Cun Ong. Setelah itu, juru kunci atau pemandu ibadah klenteng memegang pwapwee atau sepasang alat dari kayu berbentuk seperti bulan sabit. Pwapwee pun dilempar untuk mengetahui jawaban dewa.

Pemandu ibadah beberapa kali tampak mengocok dan mengundi puluhan ciam sie yang bentuknya seperti supit atau stik. Nomor yang tertera pada ciam sie ini akan menentukan ramalan nasib maupun ramalan resep obat. Ramalan-ramalan itu sudah tertulis dalam 100 jenis kartu ramalan yang disediakan dalam kotak-kotak kartu ramalan berhuruf Mandarin dan terjemahan bahasa Indonesia ejaan lama.

Menurut Nanik, pwapwee adalah salah satu alat komunikasi antara manusia dan dewa dalam ramalan kuno Tiongkok. Tujuannya minta persetujuan dewa apakah permohonan yang diajukan diterima, dilanjutkan, atau dihentikan. "Jika salah satu pwapwee terbuka atau tertelungkup artinya disetujui. Jika keduanya tertelungkup artinya tidak disetujui dan jika keduanya terbuka artinya tidak pasti," katanya.

Nanik mengatakan klenteng ini terbuka untuk semua umat, tidak hanya untuk penganut Konghucu. Kadang ada penganut agama lain yang datang untuk meminta lulus ujian, mendapat pekerjaan yang baik, sembuh dari penyakit atau masalah keluarga yang dialami, sampai soal perjodohan. "Semua yang meminta bantuan atau pertolongan melalui Kong Co Kong Tik Cun Ong selalu dilayani asal tujuannya baik," ujarnya.

Nanik bercerita, suatu ketika ada seorang yang datang meminta kesembuhan penyakit kankernya. Karena tak punya biaya, mereka meminta ramalan resep obat. Setelah diberi obat, orang itu mampu bertahan hidup.

Cerita lain adalah ketika pabrik gula itu masih beroperasi. Kata Nanik, sebelum pabrik ini berhenti beroperasi pada 1930, mesin pabrik ini pernah mengalami kerusakan parah. Beberapa kali diperbaiki, mesin tak bisa jalan.

Akhirnya, para pekerja dari etnis Tionghoa menyarankan pada pejabat pabrik gula yang berasal dari Belanda agar mereka diizinkan meminta bantuan leluhur mereka di klenteng. Saran ini disetujui. Para pekerja itu langsung mengarak patung Kong Co Kong Tik Cun Ong ke pabrik gula. Walhasil, mesin penggiling tebu dan penghasil gula bergerak dan berfungsi kembali.

Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) milik Yayasan Klenteng Hong San Kiong yang digratiskan bagi masyarakat setempat.
Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) milik Yayasan Klenteng Hong San Kiong yang digratiskan bagi masyarakat setempat. | Ishomuddin /Beritagar.id

Akulturasi budaya

Sikap saling menghormati antara etnis Tionghoa dan pribumi di Gudo tidak hanya mendatangkan kerukunan. Tak hanya saling bantu, beberapa orang Tionghoa juga ada yang menikah dengan keturunan Jawa. Salah satunya adalah Sri Mukminah. Ia menikah dengan mantan ketua yayasan klenteng setempat namun sudah meninggal dunia. "Saya kenal beliau saat saya menjadi pegawai di tokonya. Setelah istri pertamanya meninggal, lalu menikah dengan saya," ucap Sri yang saat ini menjadi juru masak di klenteng.

Ia mengaku bahagia dengan sikap saling toleran dan solidaritas antara pengurus maupun pegawai di kelnteng meski beda agama atau keyakinan. "Rata-rata pegawai di klenteng ya masyarakat sekitar dan beragama Islam. Ketika waktu salat ya kita salat," katanya.

Hubungan sosial klenteng dengan masyarakat sekitar tidak hanya dalam momen perayaan tapi juga diwujudkan dalam lembaga sosial dan pendidikan.Yayasan klenteng juga pernah memiliki balai pengobatan namun sudah beralih fungsi menjadi tempat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang digratiskan bagi warga sekitar.

Kesenian Tionghoa dan Jawa juga tumbuh berdampingan di Gudo. Klenteng tidak hanya mengajarkan atau melestarikan kesenian khas Tionghoa seperti wayang potehi dan barongsai tapi juga kesenian Jawa seperti jaranan. "Kami menyediakan tempat dan peralatan untuk latihan barongsai dan jaranan," kata Toni Harsono.

Kesenian-kesenian tersebut tak hanya dipentaskan pada momen perayaan tertentu tapi juga digunakan sebagai sarana menjalin hubungan harmonis antar klenteng dengan masyarakat sekitar. "Di sini kalau membangunkan orang sahur di bulan puasa tidak menggunakan kentongan tapi tabuhan barongsai dan jaranan yang keliling kampung," kata Toni.`

Perbedaan tidak membuat mereka tersekat dan jauh. Sebaliknya, perbedaan semakin membuat mereka satu. Seperti kalimat bijak yang ditulis pada papan ucapan selamat ulang tahun untuk leluhur klenteng dari komunitas pecinta Gus Dur atau Gusdurian Jombang: "Semakin kita berbeda, semakin jelas di mana titik persamaan kita."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR