Keterangan Gambar : Gunung Agung terlihat dari desa Datah di Karangasem, Bali, Indonesia, Minggu (8/10/2017). © EPA-EFE / Made Nagi

Letusan Gunung Agung pada 1963 merupakan sebuah bencana dahsyat. Sejumlah saksi hidup bercerita tentang letusan yang memakan ribuan korban jiwa itu.

Jro Mangku Lingsir Suweca (72) masih ingat peristiwa erupsi Gunung Agung pada 1963. Ia lagi berusia 18, ketika letusan gunung berapi yang memakan ribuan korban jiwa itu terjadi.

"Lari... Lari... Lari... Gunung Agung meledak. Teriakan itu jelas terdengar di telinga saya, semua orang berhamburan menyelamatkan diri," ujarnya.

Beritagar.id bertemu Jro Mangku Lingsir Suweca di Pura Penataran Agung, Kompleks Pura Besakih, Kabupaten Karangasem, Bali, Rabu (4/10/2017). Ia mengenakan baju putih-putih khas seorang "Jro Mangku"--pemangku agama Hindu.

Selama berbincang, ia rajin tersenyum, seolah-olah melenturkan gurat-gurat ketuaan di wajahnya. Matanya agak memicing bila mengingat malam suram di Besakih, sekitar 54 tahun silam.

Ketika Gunung Agung meletus pada 1963, Jro Mangku Lingsir Suweca tengah mendampingi sang ayah, Jro Mangku Tamped, di Pura Penataran Agung, Kompleks Pura Besakih.

Selaku "Jro Mangku", ayahnya punya tugas khusus dalam ritual di lingkungan pura. Seperti hari itu, 17 Maret 1963, sang ayah ikut sibuk dalam Eka Dasa Rudra, sebuah upacara yang dilakukan setiap 100 tahun sekali menurut penghitungan kalender Saka.

Eka Dasa Rudra merupakan upacara besar dalam masyarakat Hindu-Bali, guna memuja kekuasaan Tuhan serta menjaga keharmonisan antara Bhuwana Agung (alam semesta) dan Bhuwana Alit (makhluk hidup).

Upacara itu dihadiri ribuan orang. Tak disangka hadirin mesti berhadapan dengan letusan Gunung Agung.

Orang-orang tengah melakukan berbagai aktivitas berkenaan upacara Eka Dasa Rudra--mulai dari sembahyang hingga sekadar menyaksikan tari-tarian--ketika dentuman keras terdengar dari arah Gunung Agung.

"Gunung meletus pada hari kesembilan dari 21 hari rangkaian upacara Eka Dasa Rudra. Kejadiannya sekitar pukul 11 malam," ujar Jro Mangku Lingsir Suweca.

Ia lantas mengarahkan telunjuknya ke puncak Gunung Agung--yang terlihat jelas dari tempat kami berbincang--sembari bertutur, "Karena malam, dari areal Pura Penataran Agung terlihat jelas semburan pijar keluar dari perut bumi."

Letusan itu bikin situasi di Pura Besakih jadi kaos. Orang-orang berlarian sambil berteriak panik. "Orang-orang mencari posisi aman. Ada yang berlindung menggunakan payung. Ada yang keluar area pura," ujar Jro Mangku Lingsir Suweca.

Ia juga punya cerita ganjil seputar letusan itu. Menurutnya, orang-orang yang berlindung di bawah payung justru terkena batu muntahan Gunung Agung. Sebaliknya, mereka yang tak bersembunyi malah cenderung aman.

"Saya sendiri, saat itu mencoba berlindung di balik payung malah terkena batu, hingga harus dilarikan ke klinik," ujarnya.

Walau sempat kocar-kacir, warga bersikukuh merampungkan rangkaian upacara Eka Dasa Rudra. "Setelah upacara selesai baru warga mengungsi," ujar Jro Mangku Lingsir Suweca.

Gunung Agung terlihat dari desa Datah di Karangasem, Bali, Indonesia, Minggu (8/10/2017) .
Gunung Agung terlihat dari desa Datah di Karangasem, Bali, Indonesia, Minggu (8/10/2017) .
© MADE NAGI /EPA-EFE

Pura Besakih adalah saksi erupsi Gunung Agung pada 1963.

Kompleks pura yang punya luas sekitar 10 hektare itu sempat diselimuti debu akibat erupsi termaksud. Bahkan, lahar yang mengalir dari Gunung Agung hanya berjarak beberapa meter dari Pura Besakih.

Walau bersemuka letusan nan dahsyat, Pura Besakih hanya mengalami kerusakan kecil. Hal itu turut memicu kesan mistis atas kompleks pura terbesar di Bali itu.

Kesan mistis tersebut beroleh pengiyaan dari Jro Mangku Lingsir Suweca. "Pura ini sangat disucikan oleh umat Hindu terlebih karena Gunung Agung," katanya.

Jro Mangku Lingsir Suweca juga menyebut dalam upacara-upacara di Pura Besakih, seorang pemangku akan bertugas mengambil air suci ke Pura Giri Kusuma di sisi barat daya Gunung Agung.

Kesan mistis melekat pula pada Gunung Agung, misal sejumlah pantangan dalam pendakian. Konon, orang yang hendak mendaki Gunung Agung tidak boleh mengenakan perhiasan emas. Wanita yang sedang menstruasi juga dilarang melakukan pendakian.

"Sejak dulu dilarang, hingga kini," kata Jro Mangku Lingsir Suweca. "Bukti juga banyak, bagi mereka yang melanggar pasti kesusahan mendaki."

Jarak Pura Besakih dan puncak Gunung Agung hanya sekitar sembilan kilometer ke arah Timur Laut.

Gunung Agung punya ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut. Ia merupakan gunung api tipe stratovolkano, dengan kawah besar nan dalam, yang kadang bisa melepas asap serta uap air.

Letusannya pada 1963 tercatat sebagai salah satu bencana gunung berapi terdahsyat di Indonesia, yang ditaksir menelan 1.100-1.500 korban jiwa--dalam berbagai versi.

Bencana itu bermula pada 18 Februari 1963, ditandai dengan dentuman keras serta kepulan asap dari puncak Gunung Agung. Hampir sepekan setelahnya, 24 Februari 1963, lahar mulai mengalir dari lereng di sebelah utara gunung, dengan jangkauan hingga tujuh kilometer.

Aktivitas itu terus meningkat dan mencapai puncak pada 17 Maret 1963. Pada puncaknya, Gunung Agung turut memuntahkan berbagai isi bumi--mulai dari pasir, kerikil, hingga batu--sejauh 8-10 kilometer.

Hampir setahun setelahnya, Gunung Agung terus tunjukkan aktivitas mengkhawatirkan.

Letusan itulah yang dikenang Jro Mangku Lingsir Suweca, dan beberapa narasumber lain yang ditemui Beritagar.id. Ingatan mereka kian menjadi beriring meningkatnya aktivitas Gunung Agung selama beberapa pekan terakhir.

Letusan Gunung Agung pada 1963 tercatat sebagai salah satu letusan gunung berapi terdahsyat di Indonesia.

Warga Besakih, Komang Sudra (67), turut memberi kesaksian perihal letusan dahsyat itu.

Ketika peristiwa itu terjadi (17 Maret 1963), Komang Sudra--masih berusia 13--sedang berkumpul bersama keluarganya. Hari masih sore, ketika Komang dan keluarganya merasakan gempa besar.

"Tidak bisa berlari, jangankan lari, berdiri saja susah, saat itu suasana masih cerah sekitar pukul lima sore. Gunung Agung belum meletus. Meletusnya malam sekitar pukul 23.00 (WITA)," kenang ayah tiga anak itu, saat kami berbincang di rumahnya, Jalan Raya Besakih, Rabu (4/10/2017).

Selepas gempa besar, kata Komang, petugas Pemerintah Kabupaten Karangasem sempat mendatangi rumah-rumah warga untuk mengajak mengungsi. "Tapi, karena ada upacara (Eka Dasa Rudra) di Pura Besakih, tidak semua warga mengungsi," ujarnya.

Beritagar.id juga bertemu Made Suzanna (66), warga Dusun Tanggeb, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Tempat tinggal Made berjarak sekitar 100 kilometer dari Gunung Agung.

Ia masih ingat dampak yang diterima wilayahnya saat Gunung Agung meletus. "Saat itu saya berusia 12. Saya sedang bermain dengan teman-teman, ketika gempa dan hujan abu terjadi. Kami susah bernapas, dan bergegas pulang ke rumah masing-masing," kata dia, ketika bertemu Beritagar.id, Kamis (28/9/2017).

Made berkisah, seluruh orang di kampungnya panik ketika langit tiba-tiba menjadi gelap. Para orang tua berlarian mencari anak mereka. Beberapa warga lain bergegas memasukkan ternak ke dalam kandang.

"Panik semua. Waktu itu, langit tiba-tiba gelap, padahal hari masih siang," kata Made.

Mantan kepala Dusun Tanggeb itu menyebut dampak letusan Gunung Agung terasa hampir setahun penuh. "Kira-kira sampai Januari 1964, kadang bisa seharian langit terlihat gelap," ujar Made.

Anggota Brimob berjaga di kawasan Pura Besakih saat aktivitas Gunung Agung masih pada level awas di Karangasem, Bali, Rabu (4/10).
Anggota Brimob berjaga di kawasan Pura Besakih saat aktivitas Gunung Agung masih pada level awas di Karangasem, Bali, Rabu (4/10).
© Nyoman Budhiana /ANTARA FOTO

Sejak 22 September 2017, Gunung Agung menyandang status "Awas". Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun menetapkan masa siaga darurat bencana Gunung Agung. Hingga laporan ini terbit masa itu berlaku sampai 16 Oktober 2017.

Selasa (10/10/2017), BNPB mencatat ada sekitar 141 ribu jiwa yang jadi pengungsi akibat meningkatnya aktivitas Gunung Agung. Ada 315 titik pengungsian yang tersebar di sembilan kabupaten di Provinsi Bali.

Adapun Gunung Agung terletak di sebelah timur Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Wilayahnya meliputi enam desa, yakni Rendang, Menanga, Nongan, Pesaban, Besakih, dan Pempatan.

Dalam skala lebih besar, Gunung Agung dikelilingi delapan kecamatan di Kabupaten Karangasem, yakni Rendang, Abang, Selat, Karangasem, Manggis, Kubu, Sidemen, dan Bebandem.

Tiga kecamatan yang disebut terakhir, menurut data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Biologi, masuk zona merah yang berpotensi dilalui lahar muntahan Gunung Agung.

Alhasil, beberapa area wisata yang masuk zona merah turut ditutup, misalnya: Tulamben, dikenal sebagai destinasi selam (diving) dan selam permukaan (snorkeling); Sibetan, beken dengan wisata kebun salak Bali; Tenganan, kesohor lewat tradisi khas Bali; Taman Ujung, tempat warisan budaya kerajaan Karangasem.

Demikian halnya kompleks Pura Besakih--dan wilayah sekitarnya--yang untuk sementara waktu ditutup.

Meski demikian, ketika Beritagar.id berkunjung ke Pura Besakih dan desa di sekitarnya, masih terlihat beberapa warga yang berjaga di beberapa titik.

"Kita sedang berjaga gantian di sini. Ini adalah bentuk antisipasi kami, agar tidak terjadi hal yang tidak kita inginkan," ucap Made, seorang warga Besakih yang kami temui di lokasi.

Bahkan, ada pula warga yang melakukan aktivitas harian, seperti mencari rumput untuk ternak--yang mesti ditinggal mengungsi. "Pagi hingga sore, balik ke desa untuk mencari pakan ternak. Sorenya saya balik ke pengungsian," ungkap Sugik, pria asal Desa Besakih.

Rencananya, bila Gunung Agung tak lagi menunjukkan gelagat mengkhawatirkan, warga Besakih dan sekitarnya akan menggelar upacara besar sebagai bentuk syukur.

Jro Mangku Lingsir Suweca mengaku belum bisa memastikan bentuk upacara tersebut, karena akan melewati proses musyawarah para pemuka agama Hindu di Bali.

"Astungkara. Jika tidak terjadi letusan kita akan adakan upacara besar," katanya. "Kita akan kumpulkan Sulinggih dari seluruh Bali dan lontar (baca: kitab) yang ada. Nah, dari sana baru kita tahu upacara apa yang akan kita lakukan."

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.