Suporter kesebelasan sepak bola Arema atau Aremania asal Jakarta, Ronny Baron, menunjukkan tatonya di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Kamis (05/10/2017). © Wisnu Agung Prasetyo  / Beritagar.id

Hanya satu, Aremania

Kisah kumpulan suporter yang tak hanya mempersatukan penggemar Arema, tapi juga masyarakat Malang.

Pesona sepak bola ibarat candu. Orang yang menontonnya bisa merasakan euforia hingga ketagihan. Ada juga yang bilang inilah agama. Membela tim bisa menjadi pertarungan hidup dan mati.

Malang, kota kedua terbesar di Jawa Timur, punya pesona itu, yaitu Arema. Pendukung fanatiknya mencapai ribuan orang. Mereka tersebar di seluruh Indonesia.

Aremania, begitu sebutan untuk para pendukung ini. Tak ada yang tahu tanggal pasti kemunculan mereka. Yang jelas, mereka mulai ada setelah Arema Fans Club (AFC) gagal mengambil hati penggemarnya.

AFC bubar pada 1994, lalu muncullah Aremania. Bahkan pembuat nama ini pun tak ada yang tahu. "Aremania tak akan mati karena tak pernah lahir," kata Yuli Sumpil di rumahnya, Jalan Sumpil, Blimbing, Malang, Jawa Timur, pada Senin (25/09/2017).

Dialah Sang Dirigen Aremania. Posisi yang sudah ia tempati hampir 20 tahun terakhir. Di bawah komandonya, Aremania bisa bergerak bersama untuk menari, menyanyi, dan meneriakkan yel-yel.

Pria berusia 41 tahun ini mengatakan, apa yang ia lakukan merupakan panggilan jiwa. "Saya melakukan ini dengan keikhlasan," ujarnya.

Ia tak pernah absen menonton Arema bertanding, baik di kandang maupun bertandang. Demi hal itu, ia pun memilih profesi sebagai kolektor burung kicau. Waktu kerjanya bisa ia tentukan sendiri. Kalau sewaktu-waktu harus pergi membela Arema, Yuli bisa melakukannya.

Baginya Arema tak sekedar kebanggaan. "Ini harga diri," kata pria yang akrab dipanggil Yulis atau Jules itu.

Aremania berdiri di pagar tribune saat menonton pertandingan Arema melawan Persija (Jakarta) di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Minggu (24/09/2017).
Aremania berdiri di pagar tribune saat menonton pertandingan Arema melawan Persija (Jakarta) di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Minggu (24/09/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Di dalam tribune

Masuk ke alam pikiran Aremania rasanya tak lengkap kalau tidak langsung melihat aksi mereka di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. Kami berkesempatan melakukan itu pada Minggu (24/09/2017) lalu saat Arema melawan Persija.

Pertandingan berlangsung selepas petang. Ribuan Aremania sudah bergerak dari pusat kota menuju stadion sejak pukul tiga sore. Gerimis tak menyurutkan langkah mereka menuju arah selatan sejauh 22 kilometer dari pusat kota.

Sampai di Kanjuruhan, suasananya ibarat pasar kaget. Para suporter menyemut. Lapak pedagang kaki lima berserak di pinggir jalan. Ada yang menjual makanan, minuman, kaos, topi, dan syal berlogo Arema.

Seperti pasar, pemandangan ibu yang menggedong bayinya pun menjadi lazim di sana. Mayoritas yang datang memang kaum Adam. Tapi eksistensi kaum Hawa pun tak bisa dibilang sedikit. Tua-muda kompak membela tim yang terbentuk sejak 1987 itu.

Mereka memakai atribut Arema berwarna biru tua. Tak lupa meneriakkan yel-yel dan chant (nyanyian) khas mereka.

Ayo, ayo Arema
Sore ini kita harus menang

Lagu itu menjadi yang paling sering terdengar di sekitar stadion. Versi awalnya adalah Vamos LeonesI atau Ayo Singa-Singa dari Chili. Juan Rubio, mantan pemain Arema akhir 1990an yang mengajarkan dan mengubah lirik lagu tersebut untuk Aremania.

Pukul enam sore, stadion yang berkapasitas 40 ribu orang sudah terisi penuh. Warna biru mendominasi kursi tribune dengan segaris jingga di antaranya. The Jakmania menempati tribune 14.

Yel-yel suporter kubu lawan, The Jakmania, bergemuruh. Suaranya ibarat dengungan ribuan lebah yang berkerumum. Bendera berkibar-kibar. Gulungan tisu terlempar menuju arah lapangan, membentuk garis lengkung seperti kibaran pita putih. Tabuhan drum bass menggema di stadion.

Lalu, 15 menit sebelum pertandingan mulai, giliran Aremania unjuk gigi. Mereka menyanyi, menari, menunjukkan syal bertuliskan nama tim mereka. Tabuhan perkusi mengiringi setiap gerak mereka.

Hujan bertambah deras, tapi semangat kedua suporter tak surut. Sejak awal pemain Arema bergerak membobol pertahanan Persija. Yulis yang menjadi dirigen di tengah tribune timur mengarahkan para Aremania tetap bernyanyi.

Saat itu rasanya tinggal hitungan menit saja bagi mereka untuk mencetak gol. Tapi prediksi itu meleset. Bambang Pamungkas terlebih dulu menjebol gawang Arema pada menit ke-33.

Para Aremania saat menonton pertandingan Arema melawan Persija (Jakarta) di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Minggu (24/09/2017).
Para Aremania saat menonton pertandingan Arema melawan Persija (Jakarta) di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Minggu (24/09/2017).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Suasana jadi panas. "Cuk!" Begitu umpatan Aremania setiap tim Singo Edan gagal merangsek gawang Andritany Ardhiyasa. Bocah-bocah tanggung ikut meneriakkan hal yang sama.

Sementara itu beberapa kaum Hawa terlihat sibuk mengurus anaknya yang masih balita. Dagangan penjual makanan yang berkeliling di bangku tribune laris-manis dibeli oleh para ibu.

Hujan mulai surut. Makian Aremania menjadi lebih beragam di babak kedua. Wasit ikut menjadi sasaran umpatan.

Chant dari tribune timur melemah. Tapi di sisi selatan masih berkumandang. Beberapa ada yang tak berhenti menari selama pertandingan, hanyut dalam irama tabuhan drum.

Akhirnya gol balasan terjadi pada menit ke-81. Gelandang Ezteban Vizcarra menjadi pahlawan bagi Singo Edan pada malam itu.

Para suporter Arema langsung berdiri, mengepalkan tangan. Ada juga yang meloncat-loncat kegirangan. Gemuruh suara suporter mengalahkan tabuhan drum. Confetti putih muncul di arah tribune timur, menyemarakkan pesta mereka.

Pertandingan pun berakhir imbang. Kedua tim bertahan di lini tengah Gojek Traveloka Liga 1 musim ini.

Yuli Sumpil (kiri) dan Ronny Baron (kanan), keduanya merupakan pendukung fanatik klub sepak bola asal Malang, Arema.
Yuli Sumpil (kiri) dan Ronny Baron (kanan), keduanya merupakan pendukung fanatik klub sepak bola asal Malang, Arema.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Senjang tapi tetap Aremania

Arema bagi masyarakat Malang tak sekedar tim sepak bola. Inilah yang mempersatukan mereka. Sebelum ada tim itu perkelahian antar geng dan kampung marak terjadi. Kondisinya mirip seperti tawuran antar pelajar di Jakarta.

Mereka yang berada di akar rumput ini bertarung demi identitas, bukan berbuat kejahatan. Kalau masyarakat menengah dan berpendidikan bisa menemukan katarsis dengan hiburan seperti bermusik, berkesenian, atau menonton film di bioskop. Kaum menengah bawah bergerak melalui insting solidaritas kelompok.

Pada 1987 kondisi berangsur berubah ketika Acub Zainal, Gubernur Irian Jaya (sekarang Papua) ke-3, mendirikan Arema. Masyarakat mulai menemukan jati dirinya sebagai arek Malang yang termanifestasi melalui Arema. Moto mereka, "salam satu jiwa".

Gesekan antar penonton masih terjadi pada saat awal tim ini berdiri. Menonton bola bisa menjadi ladang pembantaian. Sebuah teriakan bisa menjadi adu argumentasi dan saling bacok. Yulis masih ingat toko-toko di sekitar Stadion Gajayana (markas Arema sebelum Kanjuruhan) tutup setiap pertandingan. "Bisa terjadi penjarahan," katanya.

Sebagai generasi yang lebih muda, Jhonny The Dog melihat perubahan di Aremania setelah masuk abad ke-21. Ketika itu mereka sudah kompak bernyanyi dan menari bersama. "Kami sampai di titik jenuh membantai sesama saudara," kata Jhonny, 25 tahun.

Kondisi ini membuat perempuan dan anak-anak bisa masuk ke stadion. "Provokator masih ada, tapi kami sudah tidak mau tawuran lagi," ujar pria bernama asli Mahardika Nanang Susilo itu.

Semangat persaudaraan dalam satu jiwa terlihat dari cara mereka menggalang kekuatan. Sejak awal Aremania tak memiliki struktur organisasi, apalagi pemimpin. Mereka tergabung dari berbagai komunitas masyarakat.

Jhony membuat komunitas sendiri yang bergaya Ultras dari Italia. Nama kelompok ini adalah Curva Sud 10. Merekalah suporter yang pada pertandingan melawan JakMania pada akhir bulan lalu tak henti bernyanyi dari awal hingga akhir pertandingan.

Posisi mereka selalu di tribune 10 , sisi selatan Stadion Kanjuruhan. Jhony awalnya membentuk sendiri komunitas ini pada 2015 dengan jumlah tiga orang saja. Sekarang anggota mereka tak terhitung jumlahnya. "Kalau yang tetap ada 30 orang," ujarnya.

Tapi ia mengakui, Curva Sud 10 ini hanya elemen kecil dari Aremania. Pedoman mereka tetap pada sosok di tribune timur, yaitu Yulis. "Dia itu raja," katanya.

Di negara aslinya, para suporter penganut Ultras biasa menutup wajah mereka, memakai pakaian hitam, dan menyanyikan chant tanpa henti selama pertandingan. Mereka juga kerap memberontak hingga melakukan boikot jika tak sependapat dengan manajemen klub.

"Curva sud memang lebih Italia. Sementara Mas Julis dan anggotanya bergaya Hooligan (Inggris) yang lebih casual. Tapi kami semua tetap Aremania," kata pekerja perusahaan konfeksi itu.

Jhony berusaha melebur gaya Ultras dan Aremania. Ia ingin mempertahankan kebanggaan lama, seperti tetap memakai baju dan atribut warna biru ketika berada di stadion.

Sikap pemberontakan Ultras ia masukkan seperti soal harga tiket. Ia sempat protes saat harganya naik untuk musim ini. Manajemen kemudian sepakat hanya lima pertandingan big match yang harganya Rp40 ribu. Sisanya Rp35 ribu.

"Kalau ada satu keputusan manajemen yang merugikan kebanggaan kami, kami akan menentang," ujarnya.

Sementara itu, Yulis mengaku konsisten bergaya Hooligan. Salah satu alasannya karena paham ini menanamkan rasa persaudaraan yang erat. "Tidak mau berantem dengan teman. Tapi kalau dengan musuh, cepat," katanya.

Lain lagi dengan, Ronny Baron. Sebagai Aremania, ia mengaku tak mengikuti paham apa pun. Patokannya adalah sosok Yulis ketika berada di stadion.

Dia punya cara sendiri untuk menunjukkan kecintaannya pada Arema, yaitu tato. Tinta hitam tertoreh di jidatnya bertuliskan "Ongis Nade". Dua buah kata dari bahasa walikan yang artinya singo edan.

Sebanyak enam tato yang berhubungan dengan Arema tersebar di tubuhnya. Yang paling besar tulisan "salam satu jiwa" di dadanya.

Pria berusia 30 tahun yang lahir dan besar di Jakarta ini sejak 2010 tak pernah absen menonton Arema. Kalau datang ke Malang, para Aremania lain dengan mudah mengenalinya.

Mereka menerima Baron seperti menyambut kerabatnya. "Persaudaraan antar Aremania memang sangat erat," katanya.

Kecintaannya terasa ganjil ketika mengetahui latar belakang keluarga Baron. "Orang tua saya asli Surabaya, ada keturunan Madura juga," ujar Baron. Malang dan Surabaya rasa-rasanya tidak pernah seiya-sekata untuk banyak hal, termasuk soal sepak bola.

Pria bernama asli Muhammad Sahrani ini mantap dengan pilihannya meskipun keluarga dan kerabatnya keberatan. "Ini panggilan jiwa saya," kata Baron yang sehari-hari berjualan buah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

BACA JUGA