Warga menikmati panorama Masjid Raya Baiturrahman sambil menunggu waktu untuk berbuka puasa (ngabuburit) di Banda Aceh, Aceh, Rabu (8/5/2019).
Warga menikmati panorama Masjid Raya Baiturrahman sambil menunggu waktu untuk berbuka puasa (ngabuburit) di Banda Aceh, Aceh, Rabu (8/5/2019). Irwansyah Putra / ANTARA FOTO
RAMADAN 2019

Ikhtiar ekonomi pemuda masjid

Sekitar 74 persen pemuda berharap masjid punya badan usaha, bisa berbentuk koperasi, mini market, atau warung. Bagi mereka, masjid tak sekadar tempat ibadah. Ia bisa pula jadi titik ekonomi.

Pupus sudah harapan Remaja Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, untuk mengisi kas. Jumat siang, 10 Mei 2019, bazar buku yang mereka gelar dibubarkan Satuan Polisi Pamong Praja Banda Aceh.

Semula bazar bakal berlangsung antara 10-25 Mei 2019. Namun, baru setengah hari berjalan, Satpol PP menyetop pasar temporer itu. Petugas berdalih bazar tak mengantongi izin resmi.

Remaja masjid tak punya pilihan. Buku-buku yang semula terpajang di pelataran Masjid Raya Baiturrahman harus dibersihkan. Pelbagai kitab dan terbitan mesti ditumpuk kembali di ruangan pengurus masjid.

"Satpol PP datang dan menarik buku-buku jualan kami. Mereka bilang, 'Siapa kasih izin, mana izinnya?'," kenang Adli (24 tahun), Ketua Panitia kegiatan tersebut, Selasa (14/5).

Padahal, kata Adli, kegiatan itu sudah mengantongi restu Pengurus Harian Masjid Raya Baiturrahman. Menurut Adli, bazar buku itu merupakan kegiatan berbasis ekonomi pertama yang dilakukan Remaja Masjid Raya Baiturrahman.

"Selama ini, kami kesulitan kalau bikin kegiatan, harus minta sana sini. Sering juga ditolak," ujar mahasiswa Universitas Muhammadiyah Aceh itu.

Putra asli Bireuen itu juga berharap kegiatan ekonomi--seperti bazar--bisa membantu pemuda-pemuda pengurus Masjid Raya Baiturrahman. "Bukan cari uang, tapi bagaimana mau berdakwah dengan baik kalau kami tidak sejahtera?" katanya.

Isu kesejahteraan dan ekonomi tak hanya menimpa Remaja Masjid Raya Baiturrahman. Secara umum, masalah itu membayangi generasi muda Aceh.

Mendiang Hasan Tiro, pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM), mengingatkan perkara itu dalam bukunya Aceh di Mata Dunia. Selain eksploitasi sumber daya alam, Hasan Tiro menyebut Aceh dilingkupi perkara ekonomi dan kesejahteraan.

Perkara ekonomi kian pelik saat Serambi Mekah berstatus Daerah Operasi Militer (DOM), pada 1980-1998 dan 2003-2004.

Anak-anak muda ikut merasakan imbasnya. Fauzan Febriansyah (33 tahun) mengenang susahnya anak muda Aceh pada masa itu.

"Saat itu saya masih remaja, tapi saya tahu bagaimana susahnya. Jam malam berlaku. Mau buka kafe enggak mungkin. Di perdesaan juga mencekam, mau berkebun susah," ujar politisi muda Partai Hanura itu.

Perjanjian damai Helsinki, 15 Agustus 2005, tak banyak mengubah situasi. Kemiskinan masih jadi perkara bagi warga Aceh.

Badan Pusat Statistik (2018) menempatkan Aceh di urutan keenam dalam daftar "10 Provinsi Persentase Penduduk Termiskin di Indonesia". Aceh juga tercatat di peringkat ketujuh dalam lis "10 Provinsi dengan Angka Pengangguran Terbanyak".

Menariknya, pada tahun yang sama, SETARA Institute menempatkan Banda Aceh di peringkat kedua sebagai kota intoleran.

Riset bertajuk Indeks Kota Toleran itu dilakukan di 94 dari 98 kota di Indonesia.

Hasilnya Banda Aceh dapat skor 2,83—hanya kalah dari Tanjung Balai, Sumatra Barat(2,82). Semakin rendah skor maka semakin intoleran atau sebaliknya.

Banyak riset menunjukkan kemiskinan dan pengangguran menjadi satu pemicu bagi ekstremisme serta radikalisme--akar dari intoleransi.

Lontaran senada disampaikan Yudi Zulfahri (36), seorang jebolan pelatihan terorisme Jalin Jantho, yang terkait dengan gembong terorisme Dulmatin.

"Nyata sekali bahwa yang mendorong anak-anak muda ikut gerakan ekstremisme, terutama beberapa teman (alumni pelatihan militer Jalin Jantho), adalah pengangguran," kata Yudi, saat dihubungi Beritagar.id, Senin (20/5).

Yudi menjelaskan bahwa perkara kesenjangan sosial, kemiskinan, hingga pengangguran, sering jadi bahan bakar utama dalam berbagai pengajian dan organisasi radikal.

"Misalnya, pelatihan militer yang saya ikuti (Jalin Jantho). Itu karena hasutan-hasutan pengajian," ujarnya.

Kini, pria yang sudah menjalani hukuman lima tahun penjara itu kerap terlibat agenda deradikalisasi.

Namun, Yudi juga mengingatkan bahwa potensi radikalisme dan ekstremisme memungkinkan tumbuh di Aceh. "Situasi Aceh tidak banyak berubah. Harus ada solusi untuk meminimalisir radikalisasi," katanya.

***

Pemuda-pemudi bersiap mengikuti acara Khatam Fest di pelataran Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, Selasa (14/5/2019).
Pemuda-pemudi bersiap mengikuti acara Khatam Fest di pelataran Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, Selasa (14/5/2019). | Oviyandi

Medio 2017, Arief Rosyid terlibat diskusi dengan para remaja masjid di Jakarta. Mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu punya keinginan mengembalikan masjid sebagai titik ekonomi--satu fungsi masjid yang lama terlupa.

Saat itulah tercetus gagasan mendirikan Islamic Youth Economic Forum (ISYEF). Forum itu jadi sayap Dewan Masjid Indonesia (DMI). Di organisasi yang disebut terakhir, Arief menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal.

"Indonesia sedang menikmati bonus demografi--meningkatnya angka usia produktif. Namun, bila tidak dikelola, bonus bisa berubah jadi bom demografi. Salah satunya adalah terorisme dan radikalisme," ujar Arief, Kamis (16/5).

Arief menyebut ISYEF sebagai ikhtiar para pemuda untuk menghidupkan kegiatan ekonomi di masjid. "Aktivitas ekonomi, secara tidak langsung, akan menghambat penyebaran gagasan-gagasan radikal di masjid," kata pria berusia 34 itu.

Sebagai rintisan, mula-mula berdirilah ISYEF Poin di Masjid Cut Meutia, Jakarta. Di sana, ISYEF Poin berbentuk tempat kongkow dengan aneka sajian kopi dan kue.

Setelah berjalan hampir dua tahun, usaha itu kini punya laba bersih (yang masuk kas pengurus masjid) sekitar Rp7 juta rupiah saban bulan.

Pada Ramadan kali ini, 14-22 Mei 2019, DMI dan ISYEF menggelar acara Khatam Fest, guna memantik geliat ekonomi remaja masjid di tujuh kota: Banda Aceh, Medan, Bandung, Surabaya, Makassar, Banjarmasin, dan Ambon.

Selain berisi dakwah, festival itu menghadirkan acara bincang-bincang bersama para tokoh dan pengusaha muda.

Beberapa nama yang turut hadir: Syafruddin, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi; Sofyan A. Djalil, Menteri Agraria dan Tata Ruang; Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika; Taqy Malik, dai muda.

"DMI, pada 2018, pernah bikin survei persepsi generasi muda terhadap masjid. Salah satu temuannya, 73,9 responden butuh kegiatan usaha di masjid dalam bentuk koperasi, mini market, ataupun warung," ujar Arief, ihwal latar belakang acara termaksud.

Berangkat dari kesimpulan itu Khatam Fest juga jadi momen peresmian ISYEF Poin di tujuh kota. Wabil khusus di Aceh, ISYEF Point hadir dalam bentuk boks kontainer berukuran 4x5 m, yang akan menjual pelbagai suvenir khas Aceh.

"Kami akan fokus di penjualan suvenir-suvenir dari berbagai daerah di Aceh," kata Fauzan Febriansyah, Ketua Panitia Khatam Fest di Banda Aceh.

Meski demikian, Fauzan tak mau muluk-muluk. Dia tahu persis ISYEF Poin tak langsung menyelesaikan perkara ekonomi hingga ekstremisme. Lebih-lebih, skalanya masih kecil.

"Paling tidak, ikhtiar ini menunjukkan bahwa masjid tak sekadar tempat ibadah, tapi punya fungsi ekonomi," ujar Fauzan. "Harapannya, ISYEF Poin ini bisa jadi pemantik bagi remaja masjid lainnya."

Bekas narapidana terorisme, Yudi Zulfahri, juga berharap usaha-usaha macam ini membuka peluang bagi anak-anak muda yang pernah terjerat kasus terorisme.

Konon 10 dari 16 eks-narapidana kasus Jalin Jantho belum punya pekerjaan. "Mereka kesulitan karena label teroris yang telanjur melekat. Kalau kami bisa dilibatkan dalam unit usaha masjid, tentu akan sangat membantu," katanya.

***

Sofyan A. Djalil, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, menyampaikan ceramah dalam Khatam Fest di Masjid Baiturrahman, Selasa (14/5/2019).
Sofyan A. Djalil, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, menyampaikan ceramah dalam Khatam Fest di Masjid Baiturrahman, Selasa (14/5/2019). | Oviyandi

Selasa sore, 14 Mei 2019, sebuah panggung mini berdiri di pelataran Masjid Raya Baiturrahman.

Di atas panggung, tampak Sofyan Djalil dan Taqy Malik. Plus ratusan orang yang meriung sambil lesehan di depan bibir panggung.

Adli tampak di antara kerumunan orang yang bersila di depan panggung. Kali ini, wajahnya berseri-seri. Peristiwa pembubaran bazar buku tak lagi mengusik pikirannya.

"Semoga acara ini menguatkan ikhtiar kami untuk mandiri secara ekonomi. Dan bazar kami tidak dibubarkan lagi," ucapnya beriring gelak.

Tak berapa lama, mikrofon bergulir ke Sofyan Djalil. Putra Asli Aceh Timur itu kasih ceramah penuh motivasi, sekaligus menggugah sisi wirausaha pemuda masjid.

"Mudah-mudahan ini jadi langkah pertama dari langkah-langkah besar. Dalam waktu 30 tahun mendatang kita bisa meninggalkan legacy untuk generasi muda Islam Indonesia," kata Menteri Sofyan, seturut peresmian ISYEF Poin di Banda Aceh.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR