Cuplikan adegan film Doremi & You yang dibintangi Naura, Fatih Unru, Toran Waibro, dan Nashwa Zahira
Cuplikan adegan film Doremi & You yang dibintangi Naura, Fatih Unru, Toran Waibro, dan Nashwa Zahira Goodwork Indonesia
FILM INDONESIA

Ikhtiar menggenjot produksi film untuk anak-anak

Dalam rentang sepekan tiga film untuk anak-anak akan hadir meramaikan layar jaringan bioskop Tanah Air. Masing-masing berjudul Doremi & You, Rumah Merah Putih, dan Koki-Koki Cilik 2.

Adegan bernyanyi dan menari langsung menghiasi layar saat film Doremi & You arahan BW Purbanegara mulai bermain.

Saya tak bisa menahan diri untuk memberikan aplaus setelah rangkaian adegan pembukaan tersebut.

Usai penayangannya untuk kalangan wartawan di CGV Cinemas, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat malam (14/6/2019), saya langsung mendatangi kursi tempat BW duduk, menjabat tangannya sembari memberikan tahniah.

Dari deretan kursi yang diisi para pemain, tampak Naura dan Nashwa saling berpelukan. Ini kali pertama mereka menyaksikan film tersebut. Rasa senang dan haru bercampur jadi satu. Kerja keras mereka tereksekusi dengan baik. “Sampai sekarang masih gemeteran,” kata Nashwa.

Kehadiran film Doremi & You yang tayang di bioskop mulai 20 Juni 2019 sudah sepantasnya disambut gembira.

Pasalnya film produksi Goodwork Indonesia itu menjadi penuntas dahaga di tengah jarangnya sineas yang melirik genre anak-anak, terutama yang menghadirkan unsur musikal.

Sejak kehadiran Naura & Geng Juara the Movie (tayang 16/11/2017), praktis tidak ada lagi film untuk anak Indonesia yang kental mengandung unsur menyanyi dan menari di dalamnya.

Alasan itu pula yang membuat Alexander Mere tertarik ikut memproduseri film Doremi & You bersama Ridla An-Nuur Setiawan.

“Kami ingin menambah katalog film anak-anak yang masih jarang di kancah perfilman Indonesia. Kebanyakan justru datang dari film Hollywood,” ujar Lexy, sapaan akrab Alexander, dalam jumpa pers usai sesi pemutaran film.

Lexy mengaku langsung jatuh hati kala disodorkan naskah film ini. “Cerita tentang persahabatan empat anak dari suku berbeda. Sangat mencerminkan Indonesia yang multikultur,” tambahnya.

Keempat sahabat yang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama itu terdiri Putri (diperankan Adyla Rafa Naura Ayu), Imung (Fatih Unru), Anisa (Nashwa Zahira), dan Markus (Toran Waibro).

Hadir pula Devano Danendra yang memerankan tokoh Reno, kakak kelas sekaligus asisten pelatih paduan suara yang suka bicara blak-blakan.

Suatu ketika saat melakukan swafoto di tepi kali, amplop berisi uang pembayaran jaket milik teman-teman sekelas yang dititipkan kepada mereka hanyut terbawa arus. Pada titik tersebut keempatnya saling menyalahkan sebagai biang keladi.

Mengikuti kompetisi menyanyi “Doremi & You” yang berhadiah jutaan rupiah lantas mereka jadikan opsi. Kebetulan Putri, Anisa, dan Markus adalah anggota paduan suara di sekolah.

Di tengah jalan mereka mengetahui bahwa Reno ternyata juga ikut berkompetisi dalam ajang serupa. Maka semakin berat saja usaha kuartet ini menuju tangga juara.

Sepanjang 100 menit durasi film, BW Purbanegara selaku sutradara mempresentasikan ikhtiar keempat tokoh ini. Tak ketinggalan berbagai masalah yang harus mereka hadapi sebagai kesatuan, juga konflik internal yang menimpa beberapa tokohnya. Tentu saja dengan sisipan nyanyian dan tarian.

Pun demikian, BW yang sebelumnya sudah meracik film anak lewat Cheng Cheng Po (2007) dan Say Hello to Yellow (2011) tak sekalipun menampilkan watak tokoh yang hitam putih dalam film ini.

“Saya sangat menghindari karakterisasi tokoh baik dan jahat, protagonis dan antagonis secara hitam putih. Itu menjadi tantangan tersendiri dari segi drama,” ungkap BW yang turut menulis naskah bersama Jujur Prananto.

Memang dalam film ini segala tindakan dan perilaku yang diambil oleh tokoh-tokohnya tidak sekonyong-konyong hadir. Ada alasan kuat yang memicunya.

Tokoh yang diperankan Teuku Rifnu Wikana, misalnya. Sebagai paman, ia melarang Anisa ikut latihan mengikuti kompetisi "Doremi & You" dan memintanya fokus belajar.

Alasannya karena Anisa menjadi sering pulang malam hari lantaran sibuk latihan. Sementara pada saat yang bersamaan Ujian Akhir Semester akan berlangsung tak lama lagi.

Sang paman tak ingin beasiswa sekolah keponakannya itu tercerabut lantaran nilai ujiannya nanti jeblok. Penonton kemudian menjadi paham alasan mengapa paman Anisa sangat keras.

RUMAH MERAH PUTIH OFFICIAL TRAILER ( DI BIOSKOP 20 JUNI 2019 ) /alenia pictures

Ragam pesan positif

Bersamaan dengan perilisan Doremi & You, hadir pula film Rumah Merah Putih persembahan pasangan suami istri Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen.

Film yang mengambil latar tempat di Belu, Nusa Tenggara Timur, menampilkan Petrick Rumlaklak (sebagai Farel Amaral) dan Amori de Purivicacao (Oscar Lopez).

Tambahan pemain pendukung, antara lain Pevita Pearce, Yama Carlos, Shafira Umm, dan Dicky Tatipikalawan.

Seperti judulnya, film ini menghadirkan pesan nasionalisme yang kuat lewat bingkai persahabatan yang menyatukan Farel dkk.

Dalam jumpa pers peluncuran poster yang berlangsung di Alenia Papua Coffee & Kitchen, Kemang, Jakarta Selatan (20/5), Ale --sapaan akrab Ari-- yang menjadi sutradara mengaku bahwa ide membuat film tentang anak-anak di perbatasan sudah muncul sejak lima tahun silam.

Niatan tersebut semakin kuat setelah melihat kondisi masyarakat Indonesia yang semakin terpolarisasi usai pemilihan presiden.

Melalui film ini Ale ingin memberi tahu bahwa sekalipun berbeda kita semua bersatu di bawah atap bernama Indonesia. “Rumah kita ya Indonesia," tambahnya.

Berselang sepekan dari perilisan Doremi & You dan Rumah Merah Putih, tepatnya 27 Juni, giliran rumah produksi MNC Pictures menghadirkan Koki-Koki Cilik 2, kelanjutan film pertama yang tahun lalu meraih 600.973 penonton.

Kali ini tidak ada lagi nama Ifa Isfansyah di kursi sutradara. Posisinya digantikan Viva Westi, sineas yang terakhir kali hadir lewat film Jenderal Soedirman (2015).

Sementara jajaran pemain utamanya tidak mengalami perubahan komposisi. Masih ada Farras Fatik (sebagai Bima), Ali Fikry (Alfa), Marcello Mahesa (Kevin), Clarice Cutie (Niki), Alifa Lubis (Melly), dan Romaria Simbolon (Key). Tambahannya masuk nama Muhammad Adhiyat (Adit) yang telah mencuri perhatian dalam film Pengabdi Setan.

Pun demikian, Viva mengatakan bahwa tipe cerita film Koki-Koki Cilik 2 sangat berbeda dengan pendahulunya.

“Kali ini mereka tidak lagi berada di dalam perkemahan, tapi lebih berpetualang,” jelas sineas berusia 46 itu saat saya temui dalam acara syukuran film Toko Barang Mantan yang juga disutradarainya di MNC Center, Kebon Sirih, Jakarta Pusat (12/6).

Bagi Viva, menyutradarai film bergenre anak merupakan pengalaman pertama. “Menyenangkan sekaligus bikin pusing banget karena mereka punya bahasa yang berbeda dengan kita yang dewasa. Ha-ha-ha.”

Viva melanjutkan bahwa syuting Koki-Koki Cilik 2 berlangsung selama 23 hari sepanjang Desember 2018 dan Januari 2019.

Banyak halangan nonteknis, semisal hujan, yang harus mereka hadapi lantaran syuting banyak mengambil suasana di luar ruangan.

Berbeda dengan Viva yang kebagian mengarahkan pemain-pemain yang masih duduk di bangku sekolah dasar, BW --juga Ale-- berhadapan dengan aktor dengan rentang usia sekolah menengah pertama.

Alhasil metode yang digunakan di lokasi syuting juga berbeda. “Mengarahkan akting mereka tidak lagi secara mekanis harus melakukan begini dan begitu. Tugas saya membantu mereka menafsirkan naskah sehingga bisa menggali sendiri emosi sendiri,” ungkap BW.

Ketiga film anak yang akan hadir ini mengandung banyak pesan positif. Mulai dari menghargai keberagaman, saling tolong menolong, kecintaan terhadap tanah air, hingga dunia bermain-bermain yang menyenangkan.

Saya sangat berharap ada film anak-anak yang berhasil agar semakin banyak produser yang berani. Sebab butuh keberanian untuk bikin film anak-anak yang berskala besar,

Mira Lesmana, produser Miles Films

Masih kekurangan film anak

Kehadiran Doremi & You yang musikal, Rumah Merah Putih dengan pesan nasionalismenya dari wilayah perbatasan, hingga dunia petualangan dalam Koki-Koki Cilik 2 merupakan bentuk ikhtiar dalam menghadirkan suguhan tontonan bioskop untuk anak.

Harus diakui segmen ini masih jarang. Hingga memasuki pertengahan tarikh Masehi 2019, total jenderal sudah ada 50 film Indonesia sudah tayang di jaringan bioskop Tanah Air (hingga 4/6).

Pun demikian, tidak ada satu pun dari puluhan judul tersebut yang peruntukannya secara spesifik untuk kalangan anak-anak.

Artinya film tersebut untuk kalangan semua umur sehingga anak di bawah usia 13 bisa turut menonton. Susunan pemeran utamanya juga terdiri dari anak-anak.

Tak lupa jalinan ceritanya menghadirkan problematika yang biasa dihadapi oleh anak-anak. Bukannya menempatkan anak-anak dalam konflik cerita yang sebenarnya dari sudut pandang orang dewasa.

Berdasarkan olah data yang dilakukan Lokadata Beritagar.id dari situs filmindonesia.or.id, perilisan film dengan predikat "anak-anak" kurun 1951 hingga 2017 total hanya ada 84 film. Berarti rerata hanya ada 1-2 film anak yang rilis setiap tahun.

Kecenderungan tersebut mulai meningkat dalam delapan tahun terakhir. Sepanjang 2010-2018 sudah ada 31 film anak yang tayang di bioskop yang berarti tiga judul per tahun.

Tentu ada penyebab mengapa film-film untuk anak jarang mendapat lirikan produser atau rumah produksi.

Faktor utama tentu saja terkait perolehan jumlah penontonnya. Semakin banyak film anak-anak yang berhasil membukukan angka jutaan penonton, maka otomatis akan mengundang produser atau investor untuk memproduksi tontonan serupa, bahkan dengan skala produksi lebih besar.

Hal ini disampaikan produser Mira Lesmana ketika tahun lalu meluncurkan Kulari ke Pantai yang disutradarai Riri Riza.

"Saya sangat berharap ada film anak-anak yang berhasil agar semakin banyak produser yang berani. Sebab butuh keberanian untuk bikin film anak-anak yang berskala besar," ungkap Mira.

Alenia Pictures mungkin satu-satunya rumah produksi di Indonesia yang konsisten memproduksi film anak. Sungguhpun dalam setiap perilisannya tidak ada yang membukukan angka jutaan penonton.

Oleh karena itu, Ale dan Nia harus kerja keras mencari investor baru yang bersedia mendanai produksi film mereka. Akibatnya mereka tak setiap tahun bisa menelurkan film.

"Kami sebenarnya selalu ingin anak-anak Indonesia mendapatkan film yang tepat. Sebab melalui kejujuran dan kepolosan mereka, orang dewasa bisa memetik pelajaran," pungkas Ale.

Jika sesuai rencana, setelah ini Alenia Pictures akan kembali bergerilya menghadirkan film anak dari wilayah perbatasan Kalimantan dan Papua.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR