Warga Tionghoa melaksanakan sembahyang Imlek di Pura Dalem Desa Catur, Bali (5/2/2019).
Warga Tionghoa melaksanakan sembahyang Imlek di Pura Dalem Desa Catur, Bali (5/2/2019). Beritagar.id / Anton Muhajir
IMLEK

Imlek dalam balutan tradisi Bali

Sembahyang di Pura Dalem menjadi bentuk akulturasi antara budaya Tiongkok dengan tradisi Bali. Warga Banjar Lampu sudah melakukannya selama ratusan tahun.

Cwa Swie Liem, 77 tahun, benar-benar mempraktikkan apa yang dia yakini bahwa agama hanya sebagai baju. Bisa berganti selang-seling seiring waktu.

Liem, seperti layaknya warga Tionghoa di seluruh dunia, sedang merayakan Imlek pada Selasa (5/2/2019) pagi itu. Bedanya, Liem memadukannya dengan tata cara tradisi Hindu Bali saat bersembahyang.

"Bagi kami, agama sama dengan baju. Ada merah ada putih. Berbeda-beda tetapi sama fungsinya," kata Liem.

Liem merayakan imlek sekaligus sembahyang di Pura Dalem Desa Catur, Kintamani, Bali. Di pura inilah tergambar dengan jelas akulturasi antara budaya Tiongkok dengan tradisi Bali.

Liem melakukan ritual dua agama sekaligus: Hindu dan Buddha. Tradisi Tiongkok telah menyatukan keduanya. Warga Banjar Lampu, termasuk Liem, sudah melakukannya selama ratusan tahun.

Di Pura Dalem, Liem berkhidmat. Pada bagian pertama, Liem melakukan lima kali sembah dengan mengatupkan kedua telapak tangan di dahi layaknya umat Hindu.

Sembah puyung dengan tangan kosong sebagai pembuka dan penutup serta sembah dengan bunga tiga kali di antaranya.

Ketika bersembahyang menurut Hindu Bali, dia duduk bersila di tanah menghadap meru tumpang solas, menara ala Bali bertingkat sebelas sebagai penanda meru utama. Begitu pula dengan puluhan warga Banjar Lampu lainnya.

Pada bagian kedua, usai menyimpan bunga (muspa) ala Hindu, dia berdiri tegak. Kali ini Liem memegang tiga hio dengan asap mengepul dan aroma menyebar. Dari semula menghadap ke arah meru, kini dia menghadap ke barat.

Dengan menangkup tiga hio merah mengepulkan asap tipis, dia menyembah Dewa Langit. Setelah itu menghadap ke selatan menyembah dewa-dewa yang bersemayam di kongco, tempat sembahyang umat Buddha yang berada di samping meru tumpang solas.

Terakhir menghadap timur di mana kongco berada untuk menyembah Dewa Bumi. Ritual terakhir itu merupakan kewajibannya sebagai seorang Buddha yang merayakan tahun baru Tiongkok.

Usai menyembah dewa-dewi menurut Buddha, Liem menancapkan hio di samping kongco. Wangi hio menguar ke udara. Lampion mengayun-ayun di depan kongco.

Warna merah lampion senada dengan dominan baju merah yang dikenakan sebagian besar umat yang bersembahyang di Pura Dalem, Banjar Lampu, Desa Catur pagi.

Banjar Lampu, semacam dusun, berada di Desa Catur, wilayah perbatasan Bangli dan Badung. Desa ini berjarak sekitar 60 kilometer di utara Denpasar.

Hawanya sejuk. Di wilayah pegunungan berlokasi di tengah Bali itulah tinggal komunitas keturunan Tionghoa yang sudah menetap sejak ratusan tahun lalu.

Warga meyakini mereka merupakan keturunan dari pasukan Tiongkok yang sekitar 300 tahun lalu menjaga Kerajaan Bangli dari serbuan musuh.

Karena itu, komunitas Tionghoa-Bali ini bisa ditemui di beberapa tempat yang memutar Kabupaten Bangli, termasuk Lampu, Pinggan (dari kata Ping An), dan Songan (dari kata Song An).

Banjar Lampu, menurut keyakinan warga, berasal dari kata lampion. Konon, pada saat itu, pasukan penjaga keturunan Tionghoa itu memasang lampu untuk menakut-nakuti musuh. Dan, mereka berhasil. Musuh tidak jadi menyerbu Kerajaan Bangli.

Saat ini sebagian besar warga Banjar Lampu bekerja sebagai petani. Bukan lagi prajurit penjaga. Desa Catur termasuk pusat produksi kopi arabika dan jeruk kintamani di Bali.

Secara kultural, jejak budaya Tiongkok di Kintamani juga terekam di Pura Balingkang, Batur. Pura di sisi barat Gunung Batur ini merupakan pura Tionghoa tertua di Bali.

Pada saat Imlek, pura yang juga menjadi tempat sembahyang umat Hindu Bali sehari-hari ini pun ramai oleh warga Tionghoa yang merayakan.

Hingga saat ini, sudah ada enam generasi keturunan Tionghoa tinggal di Banjar Lampu. Cwa Ling Po, 37 tahun, merupakan generasi kelima dari perintis warga Tionghoa di banjar ini.

Sebagai keturunan Tionghoa yang tinggal di Bali, Po yang memiliki nama Bali Made Wirawan pun mempraktikkan akulturasi seperti pamannya, Liem.

"KTP kami memang Buddha, tetapi kami juga sehari-hari bersembahyang seperti umat Hindu Bali pada umumnya," kata Popo, panggilan akrabnya.

Pemangku umat Hindu memercikkan tirta pada warga Tionghoa yang melaksanakan sembahyang Imlek di Desa Catur, Bali, Selasa (5/2/2019)
Pemangku umat Hindu memercikkan tirta pada warga Tionghoa yang melaksanakan sembahyang Imlek di Desa Catur, Bali, Selasa (5/2/2019) | Anton Muhajir /Beritagar.id

***

Perayaan Imlek di Pura Dalem hanya salah satu bentuk pembauran budaya Tiongkok dengan tradisi Bali di Banjar Lampu.

Menurut I Nyoman Ayusta Wijaya, Ketua Perkumpulan Tionghoa Darma Semadi Banjar Lampu, pembauran juga terlihat dari pakaian yang dikenakan warga Tionghoa saat sembahyang di Pura Dalem.

Ketika sembahyang di rumah masing-masing, mereka mengenakan pakaian biasa. Namun, saat di pura mereka mengenakan adat madya ala Bali.

Wijaya, Liem, dan Popo memakai kamen (sarung), selendang, dan udeng (ikat kepala). Adapun perempuan mengenakan kebaya.

Akulturasi itu juga terlihat dari sesaji yang mereka haturkan saat sembahyang. Selain menghaturkan kue-kue dan buah-buahan khas Imlek, warga Tionghoa Bali juga menyertakan banten atau sajen ala Hindu Bali di atasnya.

"Sehari-hari kami memang demikian. Kalau secara Hindu penuh secara Hindu. Secara Tionghoa ya secara Tionghoa. Kalau di pura ya secara Hindu," kata Wijaya.

Menurut Wijaya, Buddha dan Hindu memang memiliki kemiripan dalam ritual sehingga bagi mereka tak terlalu jadi masalah jika harus melaksanakan keduanya.

Wijaya yang juga keturunan campuran Tionghoa dan Bali mengaku sehari-hari juga menghaturkan banten tiga kali seperti umat Hindu di Bali umumnya meskipun dia beragama Buddha.

Pembauran ini tetap harus dijaga. Jangan karena zaman, kita termakan untuk bermusuhan.

I Nyoman Ayusta Wijaya

Di rumahnya, dia juga memiliki sanggah, pura kecil di rumah. Dia melakukan itu selain karena sudah mengikuti budaya Bali juga karena secara tak kasat mata (niskala) dia merasa ada yang kurang jika tidak melaksanakannya.

"Saya pernah tidak punya sanggah di rumah, ternyata sakit kepala terus. Begitu kami membangun sanggah di rumah, sakit kepalanya langsung hilang," ujar Wijaya. "Istilahnya kita dua kepercayaan. Memang melakukan itu benar-benar dari hati. Bukan terpaksa."

Dalam keseharian di Banjar Lampu, warga Tionghoa juga terlibat dalam upacara-upacara umat Hindu.

Saat odalan, perayaan di pura, mereka ikut serta dalam upacara tersebut. Bahkan ada pula sekaa gamelan dan tari baris khas Tiongkok sebagai bagian dari upacara.

Wijaya sendiri bahkan menjadi kepala pecalang, satuan pengamanan adat Bali, saat ada upacara di desanya.

Bagi Liem, Popo, dan Wijaya, budaya-budaya Tiongkok sudah menjadi bagian melebur dalam budaya Hindu Bali. Tidak hanya saat Imlek, tetapi juga dalam beragam upacara dan upakara di Bali.

Popo menyebut contoh penggunaan uang kepeng bertuliskan aksara Tiongkok. Uang ini menjadi bagian dari perlengkapan upacara umat Hindu Bali hingga saat ini, termasuk saat ada kematian.

Ada pula tari baris dan barong yang sering dipentaskan pada saat umat Hindu Bali melakukan upacara.

"Sekarang juga makin banyak pura di Bali memiliki kongco di dalamnya. Itu menjadi bukti bahwa budaya Tiongkok memang sudah menjadi bagian dari agama Hindu Bali," kata Popo.

Ratusan tahun berselang setelah para prajurit dari Tiongkok menjaga Bangli, termasuk di Banjar Lampu, kini budaya mereka sudah membaur dalam budaya Bali dan tradisi Hindu sehari-hari. Nyaris tidak ada perbedaan di antara keduanya.

"Pembauran ini tetap harus dijaga. Jangan karena zaman, kita termakan untuk bermusuhan. Tetaplah bergaul. Karena hidup damai itu indah. Perbedaan itu kita pakai sebagai kekuatan," kata Wijaya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR