Inong Balee, pasukan perempuan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), berpose bersama Panglima GAM Abdullah Syafei'i (1999).
Inong Balee, pasukan perempuan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), berpose bersama Panglima GAM Abdullah Syafei'i (1999). Kementerian Pertahanan/Public Domain / Wikimedia

Inong Balee, laskar perempuan di Tanah Rencong

Banyak perempuan Aceh ikut andil dalam perjuangan GAM. Mereka mengangkat senjata, kurir logistik dan juru kampanye di luar negeri.

Satu malam pada pengujung Mei 2001, belasan mobil beriringan menyusuri perbukitan di kaki Seulawah Agam. Penumpangnya adalah puluhan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bersenjata lengkap.

Mereka baru pulang dari rapat komando Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Aceh Rayeuk--istilah teritori GAM, meliputi Aceh Besar dan Banda Aceh--di kawasan Lampanah, Seulimuem, Aceh Besar. Tak disangka, iringan itu bersemuka aral.

Pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah menyiapkan pengadangan dan melepas tembakan dari atas perbukitan. Pasukan GAM berhamburan. Laporan media menyebut ada enam anggota GAM yang meninggal dunia, termasuk Ayah Muni, Panglima Operasi GAM Wilayah Aceh Rayeuk.

Kejadian itu masih diingat Erli Yanti, ketika bercerita kepada Beritagar.id di rumahnya, kawasan Cot Keueng, Aceh Besar, Senin (15/5/2017). Yanti merupakan tentara GAM yang turut dalam rombongan itu. Ia menumpang salah satu Daihatsu Taft, sambil memangku senapan AK-47.

Ia selamat dalam adu mesiu, lantas berjalan melintasi pegunungan demi mencapai markas GAM di Cot Keueng--sekitar 25 kilometer dari barat Banda Aceh--pada keesokan paginya.

Itu bukan satu-satunya penyergapan yang sempat dihadapi Yanti. Satu yang membekas, ketika dirinya dan sejumlah anggota GAM disergap tentara Indonesia di Bale Kureng, kawasan Limpok--belakang kampus Universitas Syiah Kuala. Wak Yan, salah seorang temannya, meninggal dalam penyergapan tersebut.

"Saya pikir sudah tidak ada lagi saya (tewas), ternyata masih berumur panjang," katanya, ihwal situasi penyergapan macam itu.

Ia juga pernah balik menyergap. Misalnya, satu hari, ia bersama tiga anggota GAM menyerbu iringan truk tentara dari puncak Masjid Lam Roh, di Cot Keueng.

Pada Desember 2002, ia ditangkap tentara dari Batalion Infanteri 112/Darma Jaya di rumahnya. Konon, seorang pembocor menceritakan keberadaan Yanti di rumahnya. Sebelum Aceh berstatus Darurat Militer pada era Megawati Soekarnoputri (2003-2004), ia memang masih sering balik ke rumah.

Kala ditangkap, Yanti sempat diserahkan ke Polisi Militer Kodam Iskandar Muda di Peuniti, Banda Aceh. Ia mengaku mendapat siksaan di sana. "Tangan dan kaki saya susah bergerak saat itu karena dipukul," katanya.

Ia baru bebas setelah dijemput para tetua kampung dan orang tuanya, yang bersaksi bahwa dirinya bukan anggota GAM. Total, Yanti ditahan selama 22 hari.

Yanti menjadi pasukan GAM sejak 1999, saat usianya baru 17. Ia diajak Tengku Abang, pentolan GAM di Cot Keueng. "Saya baru kelas satu SMA, tapi tidak sekolah lagi. Saya mengaji di dayah (pesantren)."

Kala itu, angin reformasi tengah berembus. Di Aceh, reformasi dilihat sebagai harapan menuju pembebasan. GAM merekrut pemuda-pemudi Aceh dari pelbagai gampong (desa) untuk ikut dalam perjuangan kemerdekaan Aceh.

Gaung GAM jadi terdengar di seantero Aceh. Semula gerakan politik bersenjata itu tersentral di Pidie, Aceh Utara, dan Aceh Timur.

Yanti mengaku berjuang lantaran ketidakadilan pemerintah pusat. "Kita ini daerah modal, tapi masih miskin," katanya. Hatinya pun perih tatkala melihat keberingasan pasukan Indonesia di Aceh pada masa Daerah Operasi Militer (DOM) di bawah Orde Baru.

Ia mengikuti pendidikan militer di Siron, Kecamatan Cot Glie, Aceh Besar. Ada 350 orang yang ikut pendidikan khusus perempuan, dengan durasi sekitar enam bulan.

Erli Yanti (46), bekas pasukan Inong Balee. Usai pelatihan pada medio 1999, ia juga pernah ditempatkan sebagai kepala penjara GAM di Cot Keueng.
Erli Yanti (46), bekas pasukan Inong Balee. Usai pelatihan pada medio 1999, ia juga pernah ditempatkan sebagai kepala penjara GAM di Cot Keueng. | Muhajir Abdul Azis /Beritagar.id

Yanti dan kawan-kawannya dilatih pasukan Inong Bale yang sudah mendapatkan pendidikan militer sebelumnya. Para mentor itu termasuk Azizah alias Adek.

Beritagar.id menjumpai Adek di rumahnya, Gampong Lamteh, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, Selasa (16/5/2017). Kala itu, ia baru saja menunaikan Asar, mukenanya masih terpasang.

Ia mendapat nama Adek dari pendidikan militer di Jiem Jiem pada awal 1999. Saat itu umurnya menjelang 15. "Saya paling kecil, makanya dipanggil Adek," katanya.

Pelatihan di Jiem Jiem istimewa sebab mendapat arahan langsung dari Abdullah Syafi'i, Panglima Militer GAM. Ada sekitar 700 laki-laki dan perempuan dari seluruh Aceh yang ikut. Dari Aceh Rayeuk, kata Adek, ada 13 perempuan turut berlatih.

Mula-mula, waktu kecil, Adek menganggap GAM sebagai pemberontak, sebagaimana label Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) yang disematkan Orde Baru. Pandangan itu berubah usai mendengar cerita Cik Pe, tetua di kampungnya, Blang Bintang, Aceh Besar.

Cik Pe, yang bekas anggota Darul Islam Daud Bereueh, banyak berkisah soal perjuangan rakyat Aceh kepada anak-anak di Blang Bintang. Cerita itu membekas bagi Adek.

Ia pun berniat jadi anggota GAM. Harapan itu terjawab ketika dirinya berjumpa Ayah Muni, yang mengajaknya masuk GAM. Ibunya sempat menentang, karena usianya masih belia. Namun tidak demikian dengan ayahnya. "Ayah saya justru bangga," katanya.

Saat pertama kali datang ke Jiem Jiem, para pimpinan GAM tertawa melihat Adek yang masih muda dan ingin ikut latihan militer. Bahkan, ia sempat disuruh pulang. "Saya masih pakai celana pendek dan tidak berjilbab."

Namun, di hadapan Abdullah Syafi'i, ia berkeras untuk berlatih hingga beroleh izin. Hari-harinya di Jiem Jiem pun dilalui dengan perpaduan pelatihan fisik dan pendidikan politik.

Sejak itu pula Adek sering berkomunikasi dengan Abdullah Syafi'i. Bahkan, kala sakit magnya kambuh, tokoh militer GAM itu membawanya ke rumah agar dirawat sang istri. Konon, Abdullah Syafi'i telah menganggap Adek laiknya anak.

Mata Adek pun berkaca-kaca kala mengenang Teungku Lah, sapaan Abdullah Syafi'i. "Tidak ada yang bisa menggantikannya," kata Adek. "Sama seperti Wali Hasan Tiro. Rakyat Aceh kehilangan ketika beliau meninggal."

Abdullah Syafi'i, kata Adek, selalu berpesan bahwa tujuan berjuang bukan untuk melawan tentara Indonesia, melainkan menuntut hak Aceh. Baginya, tentara Indonesia adalah saudara, bukan musuh.

Ia pun masih ingat perkataan Abdullah Syafi'i yang tak ingin menikmati kemewahan bila Aceh merdeka. "Lon lake bak Allah, teukeudi Aceh nyoe karap to merdeka, lon beu syahid (Saya minta kepada Allah, jika Aceh ini sudah dekat merdeka, saya syahid)," ucapnya, meniru sang panglima.

Sepulang dari Jiem Jiem, hari-hari Adek disibukkan dengan pendidikan politik Aceh Merdeka kepada masyarakat. Dia keluar masuk kampung untuk memberi pendidikan politik, hingga melatih Yanti dan kawan-kawan sebagai pasukan Inong Bale Aceh Rayeuk.

"Tujuan berjuang bukan untuk melawan tentara Indonesia, melainkan menuntut hak Aceh."

Abdullah Syafi'i

Yanti dan Adek adalah anggota Inong Balee, pasukan GAM yang beranggotakan para perempuan.

Kira-kira, Inong Balee bila diterjemahkan secara bebas berarti "armada janda". Nama tersebut diambil dari kisah heroik perjuangan Laksamana Malahayati.

Tokoh legendaris itu merupakan pemimpin pasukan Inong Balee pada masa pemerintahan Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV (1589-1604). Pasukan itu memang berisi pada janda yang suaminya tewas berperang melawan Portugis dan Belanda.

Bersama pasukan Inong Bale, Malahayati tercatat sebagai penakluk serdadu pimpinan Cornelis de Houtman, seorang utusan para pedagang Belanda, pada 1599.

Keberanian perempuan Aceh memang melegenda. Selain Malahayati, ada nama Tjut Nyak Dhien yang meneruskan perjuangan suaminya, Teuku Umar. Ada pula Tjut Meutia yang bergerilya bersama suaminya melawan Belanda. Kisah-kisah keberanian itulah yang dipinjam GAM.

Setelah perdamaian antara Pemerintah Indonesia dengan GAM tercapai di Helsinki, Finlandia (15 Agustus 2005), tentara GAM dibubarkan. Mereka lantas berhimpun dalam Komite Peralihan Aceh (KPA). Begitu juga dengan para Inong Bale.

Wakil Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA), Kamaruddin Abubakar alias Abu Razak mengatakan ada sekitar 3.000 anggota Inong Bale di seluruh Aceh.

Abu Razak menjelaskan, Inong Bale adalah perempuan yang pernah mengikuti pendidikan militer dan terlibat dalam kerja-kerja militer. Namun, jauh sebelum pendidikan resmi (1999 dan 2000), sudah banyak perempuan Aceh bergabung dengan militer GAM.

Generasi awal itu umumnya gabung militer karena ikut suami. "Saat itu belum ada pendidikan resmi," ujar Abu Razak.

Inong Balee, pasukan perempuan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), berpose bersama Panglima Militer GAM Abdullah Syafei'i (1999).
Inong Balee, pasukan perempuan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), berpose bersama Panglima Militer GAM Abdullah Syafei'i (1999). | Kementerian Pertahanan/Public Domain /Wikimedia

Beritagar.id berjumpa seorang Inong Balee generasi awal di Bate Pila, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara, Rabu (17/5/2017). Sebelum perdamaian, Nisam Antara merupakan salah satu basis GAM, dan mendapat label "merah" dari TNI.

Namanya Mariani. Ia tinggal bersama suaminya yang ketiga. Dua suaminya terdahulu adalah anggota GAM dan meninggal di ujung peluru tentara Indonesia.

Suami pertamanya adalah Yusuf Ali, seorang Panglima GAM Wilayah Pase--teritori yang meliputi Aceh Utara dan Lhokseumawe. Yusuf Ali merupakan anggota GAM generasi awal, yang bersama Hasan Tiro mendeklarasikan Aceh di Gunung Halimun, Pidie (4 Desember 1976).

Mariani dipersunting Yusuf Ali pada 16 Juni 1987. Setelah menikah, hidupnya berubah, karena Yusuf Ali menjadi buron. Mereka hidup berpindah-pindah, dari kampung nan sepi hingga pelosok hutan.

Hari-hari Mariani dihabiskan untuk GAM dan suaminya. Mariani mengaku ikut memanggul senjata tetapi tak pernah menembak. Kadang, bila berada di kampung-kampung, ia memberi pendidikan politik tentang perjuangan GAM kepada para perempuan.

Mariani, yang pernah menimba ilmu di pesantren, kerap menyelipkan pesan-pesan Aceh Merdeka lewat pengajian. "Saya juga membaiat beberapa anak muda yang ingin bergabung," katanya.

Kelompok Yusuf Ali acap kali terlibat kontak tembak dengan Kopassus. Yusuf Ali akhirnya tewas dalam satu penyergapan pada 31 Januari 1991 di Alue Meuh, Sawang, Aceh Utara. Adapun Mariani berhasil lolos dari momen nahas itu.

Dalam keadaan duka dan berstatus buron, Mariani pergi menuju Matang Gelumpang Dua, Bireuen. Ia sembunyi beberapa hari di sana. Setelahnya, salah seorang anak buah Yusuf Ali membawanya ke Jeuram, Aceh Barat. Di sana, ia menyamarkan identitas, menjadi buruh sawit, dan mengajar anak-anak mengaji.

Persembunyiannya tercium setelah nyaris dua bulan dalam pelarian. Ia dijemput tentara dan dibawa ke Kamp Rancong, Lhokseumawe, penampungan para terduga GAM semasa Operasi Jaring Merah--operasi militer di Aceh (1990-1998).

Ia juga sempat berpindah tahanan: Penjara Jalan Gandi (Medan, Sumatera Utara), Kamp Gaperta milik Kodam Bukit Barisan, dan Kamp Rancong (Lhokseumawe). "Total, 25 bulan saya di penjara."

Di Rancong, ia bertemu Amiruddin, anggota GAM asal Simpang Ulim, Aceh Timur, yang jadi suami keduanya. Pada 1994, mereka menikah dan tinggal di Simpang Ulim. Namun, Desember 1997, Amiruddin dijemput tentara dan pulang tanpa nyawa.

Pada 2000, Mariani menikah lagi dengan seorang anggota GAM di Bate Pila, Nisam Antara. "Yang di sini, tentara biasa, cuma pasukan biasa dalam GAM," katanya.

Shadia Marhaban, dalam sebuah wawancara dengan IndoProgress.
Shadia Marhaban, dalam sebuah wawancara dengan IndoProgress. | IndoProgress TV /YouTube.com

Selain Inong Balee, banyak perempuan lain yang terjun dalam perjuangan politik GAM. Mereka berhimpun dalam gerakan mahasiswa serta organisasi non-pemerintah. Mereka bekerja sebagai propagandis, kurir, aktivis kemanusiaan, dan juru runding.

Beritagar.id bertemu Matan, salah seorang aktivis mahasiswa yang pernah bekerja sebagai kurir GAM, Rabu (3/5). Pada awal reformasi, Matan terlibat dalam gerakan perkotaan yang menuntut referendum bagi Aceh. Kala itu, ia masih tercatat sebagai mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry.

Awal 2000-an, ia mulai terlibat membantu pengungsi di seluruh Aceh. Lewat aktivitas itu, ia kerap bertemu orang GAM. Ia bersentuhan dengan ideologi Aceh Merdeka tatkala bertemu seorang anggota GAM di kamp pengungsian Julok, Aceh Timur. "Namanya Ustaz Wandi. Dari dia saya mendapatkan ideologi itu," katanya.

Sejak itu, Matan kerap diajak dalam ceramah GAM. Sesekali, ia dipanggil para petinggi GAM--termasuk Juru Bicara GAM, Sofyan Dawoed. Pertemuan biasa dilakukan di Alue Dua, Nisam Antara, Aceh Utara.

"Kami sering menyebut tempat itu 'langit ketujuh'. Berdaulat, semua bendera Aceh merdeka. TNI tidak bisa naik ke sana," katanya.

Kerja Matan macam-macam. Kadang ia membawa logistik dari Banda Aceh ke beberapa wilayah. Kadang mencari data pelanggaran HAM yang dilakukan tentara Indonesia, dan mengirimnya ke jaringan ke luar Aceh atau luar negeri.

Salah seorang yang kerap menerima laporan Matan ialah Shadia Marhaban, aktivis GAM yang punya peran penting dalam kampanye internasional. Ia aktif mengampanyekan kasus pelanggaran HAM di Aceh ke media di Jakarta dan luar negeri.

Shadia bergabung dengan GAM setelah reformasi 1998. Saat itu, ia di Jakarta dan aktif di Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA).

Ia juga ikut menggerakkan Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum (SU-MPR) di Banda Aceh, pada 1999. Bersama jurnalis Amerika Serikat, William Nessen, Shadia membuat film The Black Road, tentang perjuangan GAM di garis depan.

Ketika Darurat Militer pada era Megawati Soekarnoputri (2003-2004), langkah Shadia terhalang di Aceh. Ia dan beberapa anggota sipil GAM bergerak ke Bangkok. "Justru ketika sudah di luar, kita makin semangat berkampanye," ujarnya, kepada Beritagar.id, Rabu (17/5/2017).

Pergerakan Shadia dan kawan-kawan mendapat perhatian dari para petinggi GAM di Swedia. Bahkan, mereka sempat diundang dalam rapat pimpinan GAM di Eropa.

Shadia juga menjadi satu-satunya perempuan yang mewakili GAM dalam perundingan damai di Helsinki pada awal 2005--hingga perjanjian damai selesai.

Satu momen kampanye Partai Aceh di lapangan Leupe, Samatiga, Nagan Raya pada Rabu (4/4/2012). Massa membludak termasuk kaum perempuan.
Satu momen kampanye Partai Aceh di lapangan Leupe, Samatiga, Nagan Raya pada Rabu (4/4/2012). Massa membludak termasuk kaum perempuan. | Istimewa /Partai Aceh.com

Setelah angin damai berembus

Nota damai Helsinki (15 Agustus 2005), antara lain menyepakati pendirian partai politik lokal sebagai saluran aspirasi bagi warga Aceh. GAM pun membentuk Partai Aceh sebagai kanal politik. Sebagai bagian dari GAM, para Inong Balee pun ikut Partai Aceh.

Mariani, misalnya, sempat maju sebagai calon anggota legislatif dari Partai Aceh di Kabupaten Aceh Utara pada Pemilu 2014. Sebagai janda seorang panglima GAM, ia mengaku mendapat kesempatan pencalonan itu dari Tengku Ni, Ketua KPA Pase. Namun usahanya belum berhasil.

Setelah gagal jadi anggota dewan, ia menduduki jabatan Ketua Pasukan Inong Bale Wilayah Pase. Kadang, ia ke Banda Aceh atau Lhokseumawe untuk mengurus bantuan dari Badan Reintegrasi Aceh (BRA) untuk para Inong Bale dan korban konflik. Selebihnya, ia hidup bertani bersama suami.

Yanti terlibat pula dalam Partai Aceh di Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Ia mengaku sering mengkritik setiap keputusan partai. Namun, karena perempuan, seringkali kritiknya tersisih. "Saya tidak peduli, saya hajar terus. Bahkan pimpinan KPA pun saya tentang," katanya.

Dalam Pilkada 2017, ia menjadi tim sukses Calon Gubernur dan Calon Bupati yang diusung Partai Aceh. Sayang calonnya kandas. "Sedih juga, seakan perjuangan GAM tidak ada yang ingat," keluhnya.

Yanti menyebut, banyak politisi Aceh telah menjauh dari cita-cita perjuangan. Perjuangan GAM, kata Yanti, telah dibajak oleh mereka yang dulu tak ikut berjuang. "Dulu kita yang susah, sekarang mereka menikmati."

Adek juga berlabuh di Partai Aceh, sebagai Bendahara di Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Kota Banda Aceh. Selain di Partai Aceh, ia didapuk sebagai Ketua Pasukan Inong Bale seluruh Aceh.

Sebagai pimpinan Inong Balee, Adek kerap dilibatkan dalam pengambilan keputusan Partai Aceh. Meski begitu, ia mengaku lebih banyak menerima perintah. "Sebagai pasukan, sami'na wa atha'na (dengar dan taat) terhadap Mualem (Muzakir Manaf)," kata Adek.

Haluan berbeda diambil Shadia Marhaban. Sejak Partai Aceh pecah kongsi pada 2012, ia memilih jalan bersama Irwandi Yusuf, Gubernur Aceh periode 2006-2011 yang diusung GAM.

Sebagai pengingat, pada Pilkada 2012. Partai Aceh tak lagi mengusung Irwandi sebagai calon gubernur. Mereka mengusung Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf--berhasil menang. Peristiwa inilah yang menandai pecahnya Partai Aceh.

Kala itu, Shadia ikut dalam barisan Irwandi yang maju sebagai calon Gubernur dari jalur independen. Pada Pilkada 2017, Irwandi maju lagi dan berpasangan dengan Nova Iriansyah dari Partai Demokrat. Irwandi menang, mengalahkan Muzakir Manaf yang diusung Partai Aceh.

Shadia mengaku sejak dulu mengikuti Irwandi, yang mendirikan Partai Nasional Aceh (PNA) pada 2013.

Pun, setelah damai, Shadia dan beberapa aktivis perempuan lain mendirikan Liga Inong Aceh (LINA). Matan juga ikut terlibat. LINA fokus pada pemberian pendidikan politik dan advokasi anggota Inong Bale serta perempuan korban konflik.

Shadia juga terlibat dalam kerja-kerja memfasilitasi perdamaian di daerah-daerah lain di dunia yang masih dibekap konflik--misal Filipina.

Ketika dihubungi Beritagar.id, Shadia berada di Amerika Serikat. Dia mengajar resolusi konflik di Washington and Jefferson College di Pittsburg, Amerika Serikat. Perdamaian Aceh, kata Shadia, laik menjadi contoh bagi daerah lain di dunia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR