Salah seorang petani di daerah Banjir Kanal Timur, Jakarta Timur, yang tengah berpose kepada Beritagar.id pada Kamis (14/3/2019).
Salah seorang petani di daerah Banjir Kanal Timur, Jakarta Timur, yang tengah berpose kepada Beritagar.id pada Kamis (14/3/2019). Wisnu Agung Prasetyo / Beritagar.id
INDUSTRI PERTANIAN

Jakarta yang tak ramah bagi petani kota

Bertani di Jakarta dianggap lebih menguntungkan. Perubahan peruntukkan dan diambilnya lahan menjadi masalah yang merundung.

Ini bukan kisah yang biasa terjadi. Mereka adalah orang-orang dengan pilihan jalan hidup berbeda dari kebanyakan para perantau yang hijrah ke Jakarta dan sekitarnya untuk mencari pekerjaan.

Dahulu, Babe Sabeni--karakter Benyamin Sueb dalam film seri Si Doel Anak Sekolahan--kerap mengatakan, "Lu mesti kerja di kantoran, Doel. Berdasi." Dan, cerita berikut jauh dari ucapan Babe.

Jangankan berdasi, mereka justru karib dengan teriknya mentari dan memakai baju ala kadarnya, sesekali lindap tercium aroma asam yang menempel di pakaian. Mereka adalah para petani di Kota Metropilitan Jakarta dan sekitarnya.

Siang itu, Rabu (13/3/2019), Dudung (30) tengah mengaso di sebuah gubuk yang bertepian dengan petak sawah miliknya di daerah Banjir Kanal Timur (BKT), Jakarta Timur. Ditemani rokok sebatang dan segelas kopi, ia berbincang ringan dengan istrinya.

Jarum jam hendak meninggalkan pukul 14.00 WIB, saat itu. Dudung bergegas dari posisi istirahatnya. "Mau nyiram lagi," ucap Dudung melanjutkan aktivitasnya kepada Beritagar.id.

Dudung adalah seorang petani asal Indramayu, Jawa Barat. Ia merantau ke Jakarta awal 2010-an, selepas menyelesaikan pendidikan SMK. Tujuannya satu, laiknya banyak orang yang pindah ke Ibu Kota: mencari pekerjaan.

Sesampainya di Jakarta, ia melamar ke banyak tempat. Ia pernah bekerja di pabrik, lantas sebagai sales promotion boy, hingga pelayan restoran. Semua pekerjaan itu tak membuatnya nyaman.

Hingga pada 2012, ia memutuskan untuk mengubah haluan dan tak menggunakan lagi ijazahnya dalam mencari pekerjaan. Ia banting setir menjadi petani.

Salah seorang petani di daerah Banjir Kanal Timur, Jakarta Timur, tengah beraktivitas pada Kamis (14/3/2019) siang WIB.
Salah seorang petani di daerah Banjir Kanal Timur, Jakarta Timur, tengah beraktivitas pada Kamis (14/3/2019) siang WIB. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

"Gajinya kecil. Waktunya juga nggak bebas, ngikutin bos terus," ucapnya memberi alasan mengapa berhenti dari pekerjaan sebelumnya, dengan aksen ngapak.

Keputusan ini, diakui Dudung, tak ada dalam benaknya saat itu, pun kala duduk di bangku sekolah. Begitu lulus, cita-cita Dudung sederhana: ke Jakarta, mencari pekerjaan, dan menjadi orang sukses.

Untuk hal terakhir, sukses dalam bayangannya ialah mampu menghidupi keluarga tanpa menyusahkan orang lain. "Nggak ada cita-cita (menjadi petani). Hanya karena kebutuhan saja jadi seperti sekarang," katanya.

Dudung pun menanam beragam sayuran, seperti bayam, kangkung, sawi, dan lain-lain. Ia berhasil meraup sekitar Rp2 juta per bulan. Angka itu ia kantongi secara bersih.

Artinya, jumlah tersebut sudah dipotong dengan biaya sewa lahan, bibit, pupuk, dan kebutuhan bertani lainnya. "Uangnya ditabung, buat biaya kehidupan sehari-hari dan sekolah anak di kampung," ujarnya.

Lantas, kenapa ia tidak bertani di kampungnya, mengingat Indramayu merupakan daerah lumbung padi nasional?

Untuk hal ini, dia memiliki dua jawaban. Pertama, di Indramayu, kebanyakan para petani memproduksi padi. Dan ia kurang cocok untuk hal ini. Kedua, harga jual produk sayur-sayuran di Indramayu tak sebagus di Jakarta.

"Di Jakarta dan Bekasi, harganya lumayan tinggi. Kalo di kampung, murah. Susah jualnya," katanya.

Di daerah tempat Dudung menggarap lahannya, ada sekitar 16 kepala keluarga lain yang melakukan pekerjaan sama. Masing-masing keluarga memiliki jumlah petak sawah berbeda-beda.

Dudung mengatakan, ia memiliki 3 petak sawah yang ia sewa dengan harga Rp920.000 per bulannya. "Milik saya, termasuk yang paling besar di sini," ucapnya.

Selain Dudung, petani lainnya yang mengelola lahan pertanian di daerah BKT adalah Narsim (30). Dia sudah sejak 2007 mencari nafkah menjadi petani di Ibu Kota. Sama seperti Dudung, alasan Narsim menjadi petani di Jakarta adalah karena ekonomi.

"Di kampung, nyari seribu dua ribu susah, lama banget. Kalo di sini kan sebulan bisa dapat," ucap pria asal Indramayu tersebut. Seribu yang dimaksud Narsim adalah Rp1 juta.

Meski Jakarta menjadi daerah yang cukup menjanjikan dalam bidang pertanian, tapi ada satu masalah yang harus dihadapi oleh mereka. Yakni, semakin sempitnya luas areal pertanian. Jakarta pun menjadi tak ramah bagi para petani.

Sejak awal 2010-an, luas lahan pertanian di Jakarta menyusut cukup signifikan. Bila pada 2012 luas lahan pertanian (termasuk sawah, kebun, dan huma) mencapai lebih dari 2.000 hektare, per 2017 susut menjadi 1.500 hektare.

Dudung serta Narsim bisa jadi merupakan korban dari penyusutan itu. Sebelum di BKT, keduanya lebih dahulu bertani di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Dudung misalnya, selama di Kelapa Gading sudah enam kali ia berpindah-pindah lahan pertanian, seperti di Jalur Elok atau Bundaran Kelapa Gading. Narsim setali tiga uang dengan Dudung. Ia pindah ke BKT pada 2015.

"Udah nggak ada sih sekarang (lahan di Kelapa Gading). Jadi bangunan. Ada yang jadi tempat olahraga," kata Dudung. "Ya nasib. Saya kan sewa. Jadi kalau lahannya diambil, nyari tempat baru."

Sekitar 50 kilometer ke arah barat dari BKT, tepatnya di di daerah Teluk Naga, Tangerang, Banten, Bagas Suratman beroleh nasib yang lebih beruntung ketimbang Dudung dan Narsim.

Bagas, bisa dibilang, sebagai petani yang sukses kala mengadu nasib di Jakarta. Produksi lahannya, mampu menembus jaringan toko ritel besar di Indonesia, seperti Carrefour, Superindo, atau Alfamidi.

Bahkan, kini salah satu produknya, butternut (jenis labu) berhasil menembus pasar Belanda.

Meski kini sudah bisa dibilang berhasil, tapi cerita Bagas tak ubahnya dengan Dudung dan Narsim. Dia memulai petualangannya di Jakarta dengan berharap bekerja di tempat-tempat yang nyaman, entah kantor atau pabrik.

Ia pertama kali datang ke Jakarta pada tahun 2000, setelah menyelesaikan pendidikannya di salah satu Sekolah Teknik Mesin di daerah Klaten, Jawa Tengah.

Bermodal ijazah itu, ia mencoba menjajakkan kemampuannya ke sejumlah perusahaan di daerah Tangerang hingga Jakarta Barat. Dengan berjalan kaki dari daerah Pasar Kamis sampai Kali Deres, ia mencoba menawarkan jasa tenaganya.

"Nggak ada yang mau nerima. Alhamdulillah," katanya sambil bercanda, Senin (11/3/2019).

Hingga pada 2004, ia melihat sebuah lahan kosong di daerah Teluk Naga. Ia pun memutuskan untuk menjadi petani, dengan bekal kemampuan seadanya yang diperoleh dari orang tua.

Ia menyewa sebidang tanah dengan luas 3.000 meter.

Spekulasi? Jelas. Ia mengakui terjunnya ke dunia pertanian adalah hal baru baginya. "Siapa sih yang bercita-cita jadi petani zaman sekarang? Saat itu, saya cuma berpikir bisa kerja apa biar kebutuhan keluarga tercukupi," ucapnya.

Nyatanya, dengan modal tersebut, ia menjadi petani sukses. Kini lahannya tak kurang dari 36 hektare di sekitar Teluk Naga. Semuanya ia miliki dengan sistem sewa. Namun, di sini masalah mulai timbul.

Bagas harus menghadapi kenaikan sewa lahan dari tahun ke tahun. Bahkan, karena dianggap sudah sukses, ada beberapa pemilik yang tak lagi menyewakan lahannya kepada Bagas.

Bagas Suratman tengah berpose untuk Beritagar.id di rumahnya di daerah Teluk Naga, Tangerang, Banten, pada Senin  (11/3/2019) siang WIB.
Bagas Suratman tengah berpose untuk Beritagar.id di rumahnya di daerah Teluk Naga, Tangerang, Banten, pada Senin (11/3/2019) siang WIB. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

"Mereka menganggap saya sudah sukses. Sudah kaya. (Padahal) saya gini-gini aja," katanya. "Ini juga karena media yang blow up pemberitaan tentang saya. Saya malah kehilangan lahan."

Kini, Bagas mencoba menularkan kemampuan bertaninya kepada anak-anak muda di sekitar areal lahannya. Salah satunya Joko Purnomo, pemuda berusia 20 tahun asal Tegal, Jawa Tengah.

Kepada Beritagar.id, Joko mengaku sudah tiga tahun terakhir bergelut di bidang pertanian. Sebelumnya, ia pernah bekerja menjadi buruh bongkar bangunan dan kenek tukang las.

Sebagai petani, menurut Joko, penghasilannya terhitung lumayan, meski tak besar-besar amat. Sehari, ia bisa mengantongi upah Rp55.000. Jumlah tersebut, lebih banyak ketimbang ia bertani di kampung halamannya.

"Di kampung, sekitar Rp40.000-an sehari. Nggak beda jauh sih. Tapi, saya mau cari pengalaman dulu di Jakarta," kata Joko, yang berencana balik ke Tegal untuk menjadi petani suatu saat nanti. "Mungkin nanti (balik ke kampungnya), nggak tahu kapan."

Lahan milik Bagas Suratman di daerah Teluk Naga, Tangerang, Banten, pada Senin (11/3/2019) siang WIB.
Lahan milik Bagas Suratman di daerah Teluk Naga, Tangerang, Banten, pada Senin (11/3/2019) siang WIB. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR