Pekerja menyelesaikan pesanan alat peraga kampanye sejumlah calon anggota legislatif (Caleg) dari berbagai partai politik peserta Pemilu 2019 di Kemayoran, Jakarta, Jumat (28/9). Pada masa Pemilu 2019, sejumlah pemilik percetakan hanya mau melayani pesanan sesuai jumlah uang yang diberikan, dikarenakan banyak caleg pada pemilu sebelumnya tidak melunasi pesanannya dengan alasan tidak lolos sebagai legislatif.
Pekerja menyelesaikan pesanan alat peraga kampanye sejumlah calon anggota legislatif (Caleg) dari berbagai partai politik peserta Pemilu 2019 di Kemayoran, Jakarta, Jumat (28/9). Pada masa Pemilu 2019, sejumlah pemilik percetakan hanya mau melayani pesanan sesuai jumlah uang yang diberikan, dikarenakan banyak caleg pada pemilu sebelumnya tidak melunasi pesanannya dengan alasan tidak lolos sebagai legislatif. ANTARA FOTO / Muhammad Adimaja
POLITIK MILENIAL

Jalan terjal caleg milenial

Berbagai cara mereka lakukan untuk menjaring suara. Metodenya berbeda dengan petahana dan politikus senior.

Keinginannya masuk partai politik tak neko-neko. Malah cenderung standar. Ia ingin berkontribusi nyata ke masyarakat.

Febri Wahyuni Sabran tahu cita-citanya tak akan mudah. Ia mengaku bukan berdarah biru alias tidak dari keluarga yang berpolitik.

Ia tak punya banyak uang. Namanya menempati urutan bontot calon legislatif (caleg) DPR RI dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk daerah pemilihan (dapil) Sumatera Barat 2.

"Tapi semangat saya nggak nomor terakhir," katanya ketika dihubungi pada Senin (28/01/2019).

Sudah tiga tahun ia masuk partai tersebut. Tahun lalu, ia memberanikan diri maju sebagai caleg.

Ia memilih partai ini karena ideologinya Pancasila. PSI juga memberikan kesempatan bagi perempuan untuk tampil. "Kami tidak sebagai pelengkap kuota saja," ujarnya.

Febri mengakui akan sulit baginya yang masih muda untuk masuk partai besar. "Saya lebih survive di PSI karena sama-sama masih belajar," kata perempuan berusia 25 tahun itu.

PSI pada pemilihan presiden tahun ini bergabung dengan koalisi partai pendukung Presiden Joko Widodo. Pada pemilihan presiden dan legislatif 2014, dapil yang Febri wakili bukan kantong suara untuk kubu pemerintah.

Ia sadar betul tantangan yang dihadapi. Melawan politikus senior dan petahana bukan perkara gampang. Apalagi PSI merupakan partai baru. Plus, yang lebih menantang lagi, ia adalah perempuan.

"Di dapil saya belum pernah terpilih perempuan," ujarnya.

Tapi ia tak surut langkah. Malah semakin giat berkampanye.

Dapilnya terdiri dari tiga kota dan lima kabupaten, yaitu Padang Pariaman, Agam, Lima Puluh Kota, Pasaman, Pasaman Barat, Kota Bukittinggi, Kota Payakumbuh, dan Kota Pariaman.

Di perkotaan, ia kerap melakukan diskusi dengan pemilih milenial. "Setidaknya seminggu sekali kami mengadakan pertemuan. Di cafe atau restoran," kata Febri.

Di kabupaten, ia merasa lebih sulit. Beberapa medannya tak bisa dilintasi mobil. Febri sering memakai sepeda motor dan jalan kaki untuk mencapai daerah pemilihannya.

Satu kisah yang tak ia lupa ketika blusukan ke sebuah kecamatan yang berada di atas bukit. Dengan motornya, ia mendaki jalan yang kemiringannya hampir 45 derajat.

"Saya gas terus motornya sampai habis, tapi malah mundur dan saya jatuh," ujarnya. Untung ada relawan yang segera menyelamatkannya. Kalau tidak, Febri bisa jatuh ke jurang.

"Beberapa dapil memang menantang nyawa," katanya.

Usia yang masih muda, menurut dia, menjadi keunggulan untuk masuk ke daerah terpencil. "Stamina masih kuat," ujar lajang yang pernah masuk 10 besar Putri Muslimah Indonesia 2017.

Ia juga tak melakukan cara-cara kampanye seperti politikus yang lebih senior atau pun petahana. Tak ada janji kampanye.

Febri lebih memilih bertanya kepada masyarakat di dapilnya apa masalah dan kendala yang mereka hadapi sehari-hari. Dari situ, ia akan berusaha memberi jawaban dan solusi kalau dirinya terpilih sebagai anggota DPR.

Metode ini, menurut dia, lebih efektif menyentuh hati masyarakat. Tak jarang, dengan uang kampanye pas-pasan, Febri malah diberikan makanan oleh warga yang ia kunjungi.

"Orang berpikir cost politik besar untuk mencari suara. Saya malah dikasih (makanan) oleh masyarakat di dapil saya," kata perempuan yang lahir dan besar di Sumatera Barat tersebut.

Nama Febri sempat muncul di media massa ketika kisahnya yang putus dengan pacar karena perbedaan partai politik. Ia tertawa ketika ditanya apakah hal tersebut mendongkrak namanya.

"Orang jadi mencari tahu tentang saya. Alhamdulilah tanggapannya positif," ujarnya.

Apakah sekarang ia sudah memilih kekasih baru? "Enggaklah. Saya lagi fokus kampanye," kata lulusan sarjana ekonomi Universitas Putera Indonesia "YPTK" Padang itu.

Dua siswa Sekolah Menangah Atas memperhatikan gambar partai politik peserta pemilu 2019 di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat, Bandung, Selasa (13/11/2018). Kementerian Dalam Negeri mencatat ada 5.035.887 orang pemilih pemula pada Pemilu 2019 mendatang yang termasuk dalam Daftar Penduduk Pemilih Potensial Pemilu (DP4).
Dua siswa Sekolah Menangah Atas memperhatikan gambar partai politik peserta pemilu 2019 di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat, Bandung, Selasa (13/11/2018). Kementerian Dalam Negeri mencatat ada 5.035.887 orang pemilih pemula pada Pemilu 2019 mendatang yang termasuk dalam Daftar Penduduk Pemilih Potensial Pemilu (DP4). | Raisan Al Farisi /ANTARA FOTO

Lain lagi kisah Muhammad Edwin Halim. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional itu masuk partai karena melihat buruknya citra politik.

Pria lulusan teknik industri Institut Teknologi Bandung dan master di bidang managemen logistik dan supply chain Universitas Lancaster ini sebenarnya punya karier cemerlang di perusahaan swasta.

"Saya percaya dengan ungkapan, kalau merasa menjadi orang baik kenapa takut masuk politik," kata pria berusia 34 tahun itu ketika dihubungi oleh Beritagar.id.

Ayahnya sudah terlebih dulu masuk partai tersebut. Jadi, orang tuanya mendukung keputusan Edwin.

Tapi masuknya dia ke politik bukan tanpa penolakan. Teman-temannya banyak berkomentar agar jangan terlibat dalam permainan kotor partai, apalagi sampai korupsi. Istrinya pun sempat tak setuju.

Ia butuh waktu untuk meyakinkan istrinya. "Saya bilang ke dia, tidak banyak orang punya kesempatan sepert ini," ujar Edwin. "Saya punya mimpi politik di Indonesia tidak lagi bercitra buruk."

Saat ini Edwin mencalonkan diri sebagai anggota DPRD DKI Jakarta 8. Dapilnya meliputi wilayah Jakarta Selatan, dari Tebet sampai Jagakarsa.

Daerah ini tak asing baginya. Sejak balita ia sudah tinggal di daerah tersebut. "Saya buka pintu rumah sudah di dapil," ujarnya.

Ia ingin memperbaiki lingkungan tempat tinggalnya. Kesempatan itu bisa terjadi, menurut dia, kalau terpilih menjadi anggota DPRD DKI Jakarta.

Tapi untuk menuju ke arah itu cukup sulit bagi Edwin. Sejak 2009, tak ada caleg PAN yang terpilih sebagai anggota DPRD di dapilnya. Terakhir adalah Wanda Hamidah.

Padahal pada 1999, partai ini sempat mendapat 12 kursi di DPRD. Lalu, setelahnya terus menurun. Sampai akhirnya hanya tersisa dua kursi di Jakarta Timur saat ini dan PAN tidak punya fraksi.

"Jadi, memang ini tugas berat," kata pria yang berada di nomor dua daftar caleg DPRD DKI Jakarta 8 dari PAN tersebut.

Suka-duka saat kampanye pernah ia alami. Masuk ke wilayah petahana, lalu diusir, ia rasakan. Silang pendapat dengan warga juga sempat ia lalui.

Tapi segala kendala itu tak merintangi jalannya. Ada keunggulan yang ia rasakan sebagai anak muda dan caleg baru.

"Saya merasa para (politikus) senior punya keterbatasan waktu dan tenaga," katanya. "Saya minum kopi dengan dua warga pernah." Metode door-to-door ke rumah warga juga intens ia lakukan.

Tentu saja, bukan anak muda namanya kalau tak memakai sosial media. Edwin memanfaatkan media tersebut untuk membuat konten menarik di akunnya.

Ia melihat ada potensi besar berkampanye dalam bentuk video. Karena itu, Edwin membuat konten sekreatif mungkin.

Contoh videonya seperti menanggapi isu swastanisasi air dan debat capres. Sama seperti Febri, Edwin juga tak mengumbar janji-janji kampanye.

Cara ini lebih efektif menjaring pemilih anak muda di Jakarta Selatan. Menurut dia, mereka sekarang terbagi tiga tipe. Kelompok yang tahu politik. Lalu, idealis dan menginginkan politik bersih. Terakhir, mereka yang apatis.

Yang paling susah diyakinkan, menurut Edwin, adalah tipe apatis. Paling mentok mereka hanya mengikuti pemilihan presiden.

"Yang apatis saya lihat makin dikit," katanya. "Sekarang anak muda paling banyak yang berada di tengah, tahu politik dan ingin perubahan." Edwin ingin menjaring banyak suara dari kelompok ini.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR