Anjing-anjing dibawa menggunakan mobil bak siap dipasok ke pasar-pasar Manado dan Minahasa, 12 November 2017.
Anjing-anjing dibawa menggunakan mobil bak siap dipasok ke pasar-pasar Manado dan Minahasa, 12 November 2017. Ronny A. Buol / Beritagar.id

Jalur gelap perdagangan binatang kesayangan

Para tengkulak mencari anjing-anjing hingga lintas provinsi. Mereka kerap menghindari pos pemeriksaan yang ada di pintu masuk.

Sopir mobil angkut bak terbuka itu melesat kencang di jalan lintas trans Sulawesi, Senin (13/11/2017) siang. Di dalam bak ada kalero (kerangkeng) yang ditumpuk. Isinya anjing. Satu kalero berisi puluhan anjing. Mereka berjubel, berdesakan.

Anjing-anjing itu tampak menjulurkan lidah, lainnya pasrah dihimpit sesama. Wajah hewan kesayangan (pet animal) itu terlihat tersiksa.

Dari informasi yang saya dapat, anjing-anjing itu diambil dari Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Anjing-anjing itu dipasok ke pasar yang ada di Manado dan Minahasa untuk dijadikan santapan.

Joshua Kamagi, pria asal Minahasa Utara yang bekerja pada Morens Kasehung, pedagang sekaligus pengepul di Pasar Bersehati bercerita, di tempatnya bekerja, ia bertugas memburu anjing hingga ke Kendari yang jaraknya 1.600 km.

"Di Kendari banyak anjing liar. Warga menangkapnya dengan ganco, tidak dengan racun potas (potassium cyanide)," katanya.

Tak jarang untuk memenuhi pasokan, ia pergi ke Kamboa, Kabupaten Buton Utara (2.000 km dari Manado). Warga Kendari maupun Buton, kata Joshua, sangat senang jika anjingnya dibeli. Sebab, di daerah itu populasinya berlebih.

Karena jaraknya jauh, anjing-anjing itu langsung dijagal di tempat. Agar awet, daging diberi es batu untuk diangkut ke Manado dan Minahasa. Es batu harus diganti beberapa kali agar kualitas daging terjaga. Setiba di pasar, daging dibakar lalu dijual di lapak-lapak.

"Anjing yang berukuran besar (bobot 15-25 kg) dijual seharga Rp250 ribu per ekor, yang sedang (10-15 kg) harganya Rp150 ribu hingga Rp180 ribu," ujar Morens.

Harga lebih mahal bisa dijumpai di Pasar Karombasan, Manado. Di sini untuk ukuran sedang dihargai Rp350 ribu. Untuk yang ukuran besar dihargai Rp500 ribu.

Tak hanya menjual daging utuh, di Pasar Bersehati itu Morens dan pedagang lainnya juga menjual daging eceran. Harganya Rp35 ribu per kilo.

Dalam sehari, para pedagang di pasar itu mengaku bisa menjual 10 ekor anjing. Permintaan biasanya meningkat menjelang hari Raya Natal atau pengucapan (thanksgiving ala Minahasa). Harga pun melonjak.

Di Pasar Bersehati, kebanyakan pedagang menjual daging anjing yang sudah dibekukan. Seorang pedagang di pasar itu mengaku menerima pasokan 100 ekor anjing setiap minggunya.

Di Manado, Minahasa, dan juga Medan, perdagangan anjing untuk dikonsumsi dilakukan terbuka. Berbeda dengan di Yogyakarta, Solo, atau pun Salatiga yang perdangannya dilakukan secara tertutup dan sembunyi-sembunyi.

Di Pasar Lawongan, Minahasa dan Pasar Beriman, Kota Tomohon misalnya. Di pasar-pasar itu, pedagang dan pembeli bisa langsung bertransaksi memilih anjing hidup yang bakal dikonsumi.

Rendy Pongoh, pedagang Pasar Beriman bercerita, dalam sehari ia bisa menjual lebih dari enam ekor anjing hidup. "Kalau Sabtu atau hari raya bisa mencapai 20 ekor," katanya.

Selain Rendy, di pasar itu ada sekitar 10 penjual daging anjing, Selain anjing hidup, pedagang juga menjual anjing yang sudah dijagal. Pembeli bebas memilih, mau yang masih hidup atau sudah disembelih.

Untuk mengecek kesehatan anjing, kata Rendy, sesekali orang Dinas Kesehatan datang. Sayang tak ada surat keterangan yang diberikan apakah anjing atau daging anjing itu terjangkit rabies atau tidak.

***

Lima ekor anjing tergeletak tak berdaya di dapur Sukijo (71), Selasa (5/12/2017) siang. Dua meringkuk di tepi pintu, tiga lainnya tersuruk di balik tungku. Kaki terikat tali, tubuh terbungkus karung. Binatang itu tak lagi mampu menggonggong lirih sekalipun. Seutas tali mengikat erat moncongnya.

Warga Bantul, Yogyakarta ini mengaku mendapat pasokan anjing dari luar Yogyakarta. Kebumen, Purworejo, dan Cilacap, Jawa Tengah, serta Pangandaran dan Ciamis, Jawa Barat. Sesekali, ada pasokan dari Wonosobo, Jawa Tengah. "Yang sekarang ini dari Wonosobo datang subuh tadi," katanya menyebut asal lima ekor anjing yang ada di dapurnya.

Sepekan (12/12/2017) setelah bertemu Sukijo, saya pergi ke Pangandaran, salah satu daerah yang sering memasok anjing ke Yogya hingga sekarang. Berbekal sepotong informasi Sukijo, saya mengawali penelusuran jalur perdagangan anjing antar provinsi.

Dua hari di Pangandaran, saya bertemu seorang pengepul. ME, inisial lelaki berusia 68 tahun itu. Ia tinggal 7 kilometer di sebelah barat pantai Pangandaran.

Rumahnya di tengah perkampungan dan berjarak 300 meter dari jalan raya Cijulang yang menghubungkan pantai Pangandaran dengan Batu Karas dan air terjun Green Canyon.

Saat saya menyambangi kediamannya Kamis (14/12/2017) siang, ME sedang melepas penat. Ia baru saja pulang mencari anjing di sekitar tempatnya tinggal. Dalam sehari biasanya ia bisa mendapat enam ekor. Tapi tidak hari itu.

Hari itu ia hanya mendapat tiga ekor. Dua dari Cimerak, seekor dari Pegergunung. "Biar sampai Cigugur kalau ada yang jual ya saya ambil," katanya.

Tiga anjing itu ia angkut dengan sepeda motor. Kaki terikat tali, tubuh terbungkus karung. Hewan itu ia gantung di kanan dan kiri jok belakang.

Sampai di rumah, tiga anjing buruannya digeletakkan di atas tanah dekat kandang ayam di belakang rumahnya, bergabung dengan tiga ekor lain yang didapat sehari sebelumnya.

Meski sudah tak berkutik, ME merantai leher binatang itu. Rantai ditautkan pada pasak yang terpacak di tanah. Agar tak kabur katanya.

ME menghabiskan separuh hidupnya dengan bekerja sebagai pengepul anjing. Pekerjaan itu sudah dilakoni sejak 1989. Saat itu ia baru menikah. Sawah tak ada, sebuah tawaran mengepul anjing datang. Gayung bersambut.

ME mendapatkan anjing dengan beragam cara. Dari berburu di hutan dan perbukitan hingga membeli milik warga. Awalnya anjing dijual ke Solo seharga Rp2 ribu per ekor. Ia mengaku pantang mencuri. "Kalau mencuri mungkin tak lama saya kerja ini."

Alur perdagangan anjing.
Alur perdagangan anjing. | Sandy Nurdiansyah /Beritagar.id

Berburu anjing, kata dia, cukup mudah. Berbekal seutas tali seling, ia membuat perangkap. Tali seling disimpul laso dipasang di jalan yang biasa dilalui anjing. "Yang susah mencari jalur anjingnya," katanya sembari memperagakan cara menjerat leher anjing.

Ketika harga jual anjing naik Rp5 ribu per ekor, pemesan anjing meluas hingga Yogya. Pernah pada satu masa, ia mengirimkan puluhan anjing ke Solo dan Yogya bergantian tiap hari.

Untuk Yogya, rute pengiriman Pangandaran-Cilacap-Purworejo-Kulonprogo berakhir di Bantul. Adapun Solo, ia memilih tak melintasi wilayah Yogya. Dari Purworejo, mobil bergerak ke utara menuju Magelang. Dari sini, kendaraan melaju menyusuri Ketep di lereng Merapi lalu masuk Boyolali dan berakhir di Solo.

Kendaraan pengangkut anjing sering harus mencari jalur alternatif yang sepi sekadar menghindari cegatan dan pos pemeriksaan hewan di perbatasan provinsi. Karena alasan itu pula waktu pengiriman selalu berlangsung malam.

Alasan lain, anjing adalah hewan yang tak kuasa menanggung cuaca panas. Kendaraaan pengangkut wajib berhenti beberapa kali dalam perjalanan. Pemberhentian itu dimanfaatkan untuk menyirami tubuh anjing. "Kalau pas hujan enak kalau tidak ya cari pengairan di tepi jalan," katanya.

Setelah 15 tahun menjalani pekerjaan ini, ME tak lagi bisa mengirimkan pasokannya ke penjagal Yogya atau Solo. Alasannya, selain bahan bakar mahal juga karena faktor usia.

ME mengingat, saat masih mengirim sendiri, anjing sering dipasok ke Bantul. Namun ia lupa daerah persisnya. Yang tersisa di ingatannya, ada tugu di tengah persimpangan jalan. Sebuah kali kecil mengalir di tepi salah satu jalan. Keduanya menjadi penanda tujuan sudah dekat. "Jalan itu mengarah ke pantai Parangtritis."

Ciri-ciri lokasinya mengingatkan saya pada perempatan Palbapang. Letaknya berada di antara pusat kota Bantul (di utara) dan Desa Sumbermulyo, Bambanglipuro (di selatan). Dusun Kanutan dan Ganjuran hanya berjarak 2 kilometer dari persimpangan Palbapang.

ME mengatakan tak pernah tahu nama lengkap penampung anjing di Bantul. Ia hanya biasa menyapa dengan mas Pur. Ketika ME tak lagi bisa mengirimkan anjing, Pur rutin mengambilnya sepekan sekali.

Ia, lanjut ME, mulanya datang menggunakan truk. Tapi beberapa tahun terakhir ketika jumlah persediaan terus berkurang, Pur datang mobil penumpang warna merah. Jok belakang mobil dilepas sebagai pengangkut anjing.

Mobil itu tak hanya mengambil pasokan dari tempat ME. Dalam perjalanannya, Pur singgah ke pemasok di kota lain. Mula-mula di Tasikmalaya lalu ke Pangandaran. Dari sini mobil menuju Sidaeraja Cilacap dan Kebumen sebelum pulang ke Bantul.

Pur biasa datang ke rumah ME menjelang malam. Seringnya magrib. "Besok (Jumat) datang," kata ME sembari berpesan agar tiba di rumahnya pukul 17.00 jika ingin bertemu Pur.

Saya pun datang kembali ke rumah ME. Tepat seperti waktu yang ia pesankan. ME sedang duduk di teras rumah menikmati sore. "Pur baru saja pergi setengah jam lalu," katanya menyambut kedatangan saya.

Hari itu, Pur tiba lebih awal dari biasanya.

***

Penjagal mencuci anjing-anjing yang telah mati di Sungai Jengki, Manado, yang airnya kotor, sebelum daging-daging anjing tersebut dijual di Pasar Bersehati.
Penjagal mencuci anjing-anjing yang telah mati di Sungai Jengki, Manado, yang airnya kotor, sebelum daging-daging anjing tersebut dijual di Pasar Bersehati. | Ronny A. Buol /Beritagar.id

Sabtu (16/12/2017) menjelang siang, Pajak -demikian orang Medan menyebut pasar--Pancurbatu yang berada di tepi Jalan Djamin Ginting, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara mulai riuh. Sejumlah pedagang hewan menjajakan dagangannya. Ayam, bebek, dan anak anjing.

Sama halnya di Manado dan Minahasa, di Medan, perdagangan anjing untuk konsumsi dilakukan terbuka di pasar-pasar.

Para pedagang menawarkan kepada setiap pengunjung yang datang. Saat saya mendekat, pedagang anjing langsung menawarkan dagangannya. "Ini harganya Rp150 ribu, kalau yang lebih kecil ini Rp100 ribu," katanya.

Saya mencoba menawar Rp100 ribu untuk anjing yang dihargai Rp150 ribu. Namun sang penjual enggan melepas. "Buka dasar ini Rp120 ribu," ujarnya ketus.

Selain menjual anjing hidup, pasar ini juga menjual daging anjing yang sudah dicacah. Harga perkilonya Rp50 ribu.

Tak jauh dari Pajak Pancurbatu, tepatnya di Simpang Delitua, sejumlah orang tampak sedang bertransaksi anjing. Di sini tampaknya anjing-anjing siap dijual untuk dikonsumsi lebih banyak.

Ada yang tubuhnya sudah dimasukkan karung dengan mulut diikat, ada juga yang dimasukkan kerangkeng. Ketika saya mendekat, puluhan anjing yang ada dalam kerangkeng itu menggonggong. Mereka seakan mau berontak. Pedagang yang punya anjing itu mendaratkan pukulan ke kerangkeng.

Menurut para pedagang, pasokan anjing itu didapat dari pengepul atau perorangan dari kawasan Kota Medan. Di Medan, rata-rata pedagang menjual anjing yang usianya berkisar 4 sampai 10 bulan. Harganya dibanderol mulai Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, tergantung bobotnya.

Sedangkan anjing yang sudah sepuh atau berusia di atas satu tahun atau sudah beranak dihargai tidak lebih dari Rp40 ribu.

Saya bertanya tentang harga anjing yang ada di dekat saya. "Ini usianya 2,5 tahun. Bagusnya untuk jaga kebun saja," ujar sang penjual.

Menanti Ajal di Tangan Jagal /Beritagar ID

Berita terkait:
Akhir nasib anjing di atas piring
Rumah aman penuh kasih sayang
Menanti ajal di tangan penjagal

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR