Jalur kereta yang kian menyusut

Rel Kereta Api (KA) di Stasiun Kota, Jakarta, 1996.
Rel Kereta Api (KA) di Stasiun Kota, Jakarta, 1996. | Bodi CH /TEMPO

Kereta api banyak digunakan sebagai pilihan transportasi penduduk Indonesia, terutama di pulau Jawa sejak masa penjajahan Belanda. Saat Indonesia dikuasai Jepang, pengelolaan kereta api diambil alih dan digunakan oleh pemerintah Jepang. Indonesia mengambil alih kekuasaan pengelolaan kereta api dari Jepang pada 28 September 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Kereta Api di Indonesia.

Inisiatif untuk membangun jalur kereta api di Indonesia berawal pada era tanam paksa di tahun 1830. Saat itu, Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch menggagas pembangunan jalur kereta api agar dapat meningkatkan volume angkut produksi hasil panen di wilayah pedalaman. Pada 1840, Kolonel JHR Van der Wijk mengajukan proposal untuk membangun jalur kereta api Jakarta menuju Surabaya.

Pada 10 Agustus 1867, jalur kereta api pertama di Indonesia mulai beroperasi di Jawa Tengah dan terhubung dengan stasiun pertama di wilayah Semarang. Pencangkulan pertama pembangunan jalan kereta di desa Kemijen, 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele.

Pembangunan diprakarsai oleh Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung sepanjang 26 kilometer dengan lebar 1.435 mm. Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada hari Sabtu, 10 Agustus 1867.

Keberhasilan NISM membangun rel antara Kemijen-Tanggung, disusul Semarang-Surakarta sepanjang 110 kilometer, akhirnya mendorong minat investor untuk membangun rel di daerah lainnya. Panjang jalan rel antara 1864 - 1900 tumbuh pesat. Kalau tahun 1867 baru 25 kilometer, tahun 1870 menjadi 110 kilometer, tahun 1880 mencapai 405 kilometer, tahun 1890 menjadi 1.427 kilometer dan pada tahun 1900 menjadi 3.338 kilometer.

Selain di Jawa, pembangunan rel dilakukan di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Sulawasi Selatan. Sedangkan di Kalimantan, meskipun belum sempat dibangun, studi jalan KA Pontianak - Sambas sudah diselesaikan. Demikian juga di pulau Bali dan Lombok, pernah dilakukan studi pembangunan jalan KA.

Pada 1920-an, hampir seluruh kota dan desa strategis di Jawa telah terhubung dengan jalur kereta api. Beberapa kereta beroperasi untuk mengangkut hasil panen gula ke pabrik. Sampai dengan tahun 1939, panjang jalan kereta api di Indonesia mencapai 6.811 kilometer. Tetapi, pada tahun 1950 panjangnya berkurang menjadi 5.910 kilometer, kurang Iebih 901 kilometer raib, yang diperkirakan karena dibongkar semasa pendudukan Jepang dan diangkut ke Burma untuk pembangunan jalan kereta di sana.

Jalan kereta kian menyusut. Menurut data Ditjen Perkeretaapian tahun 2006, jalan rel yang beroperasi hanya 4.360 kilometer dan tidak beroperasi sepanjang 2.122 kilometer. Berdasarkan data PT Kereta Api per September 2015, panjang jaringan aktif tinggal 4.069 kilometer dan non aktif 3.708 kilometer.

Pada 2015, pemerintah berencana meningkatkan infrastruktur perkeretaapian di Indonesia dengan menambah jalur baru, reaktifasi jalur non aktif dan membuat jalur ganda. Rencananya, jaringan kereta api baru itu akan membentang sepanjang 3.258 kilometer yang akan dibangun hingga 2019 di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

BACA JUGA