Pengunjung berbelanja kebutuhan Lebaran di Pasar Tanah Abang, Jakarta, MInggu (26/5/19).
Pengunjung berbelanja kebutuhan Lebaran di Pasar Tanah Abang, Jakarta, MInggu (26/5/19). Puspa Perwitasari / Antara Foto
KERUSUHAN DI TANAH ABANG

Jantung ekonomi Jakarta kembali berdetak

Lima hari pascakerusuhan di Tanah Abang, aktivitas ekonomi di jantung ekonomi Jakarta kembali bergeliat. Banyak warga beraktivitas seperti biasa, seolah tak mau terganggu oleh hiruk-pikuk politik yang menyulut bentrok.

Sulit rasanya jika harus berjalan lurus di lorong pasar yang sempit penuh sesak manusia. Sesekali saya harus merunduk agar tidak terbentur kardus atau gumpalan karung yang dipikul oleh para kuli angkut Pusat Grosir Metro Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Senin (27/5/2019), saat situasi dan kondisi Jakarta kembali kondusif, aktivitas Pasar Tanah Abang yang sebelumnya terdampak aksi 22 Mei 2019, kini berangsur normal dan dipenuhi pengunjung yang berbelanja kebutuhan busana untuk Idulfitri.

Pasar yang berada di jantung ibu kota itu kembali menjadi lautan manusia. Menyusuri tiap blok pertokoan menjadi sangat susah, mesti berdesak-desakan dengan pengunjung lain. Di bawah terik sinar matahari menyengat, orang-orang berkeringat seolah berada dalam sauna massal.

Kepadatan sudah terjadi di pintu lama Stasiun Tanah Abang. Banyak pedagang kaki lima (PKL) menjajakan barang dagangannya di sepanjang trotoar samping stasiun dan jalan Jati Baru.

Keramaian juga terjadi di Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) atau skybridge. Bahkan, akses menuju ke pusat perbelanjaan dari jembatan penghubung dipadati masyarakat yang juga akan keluar.

Masyarakat berbondong-bondong dari segala penjuru, ada yang datang menaiki kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek, bus Transjakarta, angkutan perkotaan (angkot), hingga bus antarkota.

Jalan-jalan utama sudah dipadati dengan kendaraan pribadi maupun umum dengan kemacetan yang mengiringi. Lalu lalang gerombolan orang sambil menenteng barang belanjaan pun tak dapat diindahkan.

"Hari ini sudah kondusif, tidak ada kekhawatiran lagi, pedagang dan pembeli sudah mulai datang pukul 5 pagi," kata Manager General Affair (GA) pusat grosir Metro Tanah Abang, Jakarta Pusat, Arif Budi kepada Beritagar.id, Senin (27/5).

Berjarak sekitar 500 meter dari Stasiun Tanah Abang, kepadatan lalu lintas juga terjadi di depan Pasar Tasik, Cideng Timur. Pedagang pakaian berkumpul di lapangan yang disediakan di oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Berbeda dengan Pasar Tanah Abang, lapak dagangan mereka tidak digelar dengan beralas tikar atau tenda, tapi di bagasi-bagasi mobil yang kemudian ditambah beberapa tiang gantungan baju.

Abdul Aris (46), petugas keamanan Pasar Tasik mengatakan bahwa pasar yang hanya buka saban Senin dan Kamis itu mulai beraktivitas kembali pada Senin (27/5).

"Ada 700 pedagang pakaian, semua sudah kami informasikan lewat grup di WhatsApp kalau hari Kamis tutup, buka lagi Senin," ujar Abdul Aris kepada Beritagar.id.

Seharusnya, Senin kemarin menjadi hari terakhir jual beli, tapi pihak pengelola pasar memutuskan untuk menunda penutupan hingga Kamis (30/5) mendatang, sebagai pengganti hari berjualan Kamis (23/5) kemarin.

Pasar Tasik dan Pasar Tanah Abang sempat ditutup imbas bentrokan massa dan aparat keamanan di wilayah Petamburan, Tanah Abang dan merembet hingga jalan Jati Baru Raya.

Kerusuhan ini imbas dari demonstrasi menolak kemenangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin pada Pemilihan Presiden 2019 yang diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Bentrokan yang berlangsung sejak Rabu (22/5) dini hari sampai Kamis (23/5) dini hari itu membuat pusat perbelanjaan tekstil itu lumpuh.

Kerusuhan pekan lalu ternyata menjadi pukulan berat bagi para pengadu nasib di pasar itu. Salah satu pedagang Blok A, Bachtiar (46) memperkirakan kenaikan penjualan pada Ramadan tahun ini tidak akan sebesar tahun-tahun sebelumnya. Salah satunya akibat faktor politik dan kondisi keamanan.

Padahal Ramadan, lanjutnya, selalu dijadikan ajang untuk mengeluarkan pasokan barang yang telah ia timbun selama berbulan-bulan. Karena pada saat ini, omzet para pedagang bisa melonjak hingga tiga kali lipat dibandingkan normal.

"Pedagang dari daerah banyak yang tidak berani datang ke Jakarta, karena kan Pasar Tanah Abang ini grosir dan yang belanja itu banyak pedagang dari daerah. Mereka jadi ragu-ragu," jelas dia.

Pengunjung usai berbelanja kebutuhan Lebaran di Pasar Tanah Abang, Jakarta, MInggu (26/5/19).
Pengunjung usai berbelanja kebutuhan Lebaran di Pasar Tanah Abang, Jakarta, MInggu (26/5/19). | Puspa Perwitasari /Antara Foto

Sebetulnya pada Jumat pekan lalu pun aktivitas di pasar sudah mulai beroperasi, tapi hanya setengah hari. Pengelola pasar, PD Pasar Jaya dan asosiasi pedagang sepakat untuk menghentikan aktivitas jual beli hingga Sabtu (25/5).

Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya aksi ricuh susulan yang mungkin terjadi. Akibatnya, kerugian diperkirakan mencapai Rp200 miliar per hari.

Bukan sesuatu yang berlebihan jika kerugiannya disebut mencapai ratusan miliar rupiah. Tanah Abang memang telah menjadi magnet bagi pedagang dan pembeli jelang Idulfitri. Sejak tiga abad lalu, pasar grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara itu terus eksis hingga kini. Uang terus berputar, apalagi selama Ramadan.

Pusat Grosir Blok A Tanah Abang berada di lokasi yang strategis di pusat kawasan niaga di tengah jantung dibangun di lahan seluas 13.000 meter per segi semakin menambah gairah bisnis tekstil dan garmen di ibu kota.

Menurut data PD Pasar Jaya, untuk Blok A Tanah Abang memiliki rata-rata jumlah pengunjung mencapai 80.000 orang per hari, berasal dari seluruh Indonesia bahkan mancanegara, seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Afrika, Arab Saudi, dan lain sebagainya.

Nilai transaksi bisnis dan perputaran uang pedagang mencapai sekitar Rp500 miliar per hari. Sirkulasi pundi-pundi rupiah ini biasanya akan meningkat saat menjelang momen Idulfitri.

Manfaatkan momentum

Ternyata tidak semua orang larut dalam hiruk pikuk politik. Banyak di antara mereka yang menyerbu pusat-pusat perbelanjaan pada akhir pekan lalu, seolah tak mau terganggu oleh ketegangan di lokasi bentrok aparat-perusuh.

Selain beraktivitas secara normal, sebagian warga berupaya menangkal bahwa kerusuhan itu bukan bagian darinya. Mereka juga menguatkan dan mengirim dukungan kepada aparat yang berupaya mengendalikan keamanan.

Asosiasi Pengusaha Indonesia pun menyatakan, para pelaku usaha berupaya agar kegiatan usaha tidak terpengaruh aksi-aksi pascapenetapan hasil pemungutan suara Pemilu 2019 oleh KPU. Bagi mereka, roda bisnis harus terus berputar.

Pekan terakhir Ramadan hingga Lebaran 2019 selalu menjadi tumpuan penjualan. Para peritel memperkirakan, selain momentum menjelang hari raya, peningkatan penjualan terjadi seiring dengan pencairan tunjangan hari raya dan gaji ke-13 aparatur sipil negara dan TNI/Polri.

Momentum ini dilirik para pebisnis. Sejumlah mal memberikan diskon besar-besaran hingga 70 persen dengan menggelar pesta diskon tengah malam atau midnight sale. Momen Festival Jakarta Great Sale (FJGS) 2019 yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat telah bergulir. Hajatan ini dibuat dalam rangka menyambut hari ulang tahun Jakarta.

Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menyebut sebanyak 82 pusat perbelanjaan besar ibu kota menghadirkan beragam promo hingga tengah malam, mulai Jumat hingga Sabtu pekan lalu. Akhir pekan pertama program pesta diskon ini memang telah berlalu. Namun, masih ada beberapa mal yang baru menggelar event belanja pada akhir pekan depan.

Ketua Pelaksana FJGS 2019, Ellen Hidayat, menuturkan terdapat perubahan jadwal akibat ada pusat perbelanjaan yang memundurkan jadwalnya yang seharusnya pada minggu pertama ini Jumat (24/5) dan Sabtu (25/5) menjadi minggu kedua yakni Jumat (30/5) dan Sabtu (1/6). Hal ini diakibatkan masih terdapat beberapa penutupan ruas jalan oleh aparat keamanan pasca-kerusuhan 22 Mei.

Ellen berharap agar dengan adanya FJGS ini daya beli masyarakat terdongkrak. Di tengah momentum puasa dan Lebaran, dia memproyeksikan kenaikan jumlah pengunjung pusat perbelanjaan mencapai 40 persen.

"Momen FJGS dan puasa serta lebaran ini akan meningkatkan kunjungan 40 persen. Di beberapa pusat perbelanjaan bisa capai 80 persen," ucap Ellen.

Dia menargetkan penjualan tahun ini sebesar Rp9,5 triliun. Target tinggi itu karena banyak masyarakat yang ingin memenuhi kebutuhan Lebaran, libur sekolah, dan tahun ajaran baru sekolah.

Jakarta harus kondusif

Jakarta adalah penggerak ekonomi nasional. Mulai dari perusahaan nasional, perusahaan asing, pusat perbankan, penggerak sektor jasa dan perdagangan, hingga penggiat usaha kecil dan menengah. Jakarta layaknya kota yang tidak pernah tidur dan terus beraktivitas.

Dalam pandangan pengamat ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Latif Adam, Jakarta sebagai ibukota Indonesia memiliki kontribusi yang besar bagi perekonomian nasional. Perekonomian Jakarta yang besar banyak didominasi sektor pelayanan jasa. Kuat dan besarnya perekonomian Jakarta, tidak terlepas dari sektor infrastruktur Jakarta yang cukup mumpuni.

Tidak heran jika Jakarta menjadi pilihan kantor cabang perusahaan multinasional. Selain itu Jakarta memiliki pelabuhan laut sebagai jalur perdagangan internasional dan pusat bisnis berada di sini.

"Terutama sektor jasa tidak ada yang bisa mengalahkan Jakarta dengan fasilitas, kedekatan administrasi, dan keterhubungan terhadap pusat perekonomian dunia," kata Latif kepada Beritagar.id.

Menurut Latif, geliat ekonomi Jakarta pasca-bentrok menunjukkan kemapanan masyarakat ibu kota terhadap persoalan yang kerap menimpa kota metropolitan.

Namun keamanan dan stabilitas politik juga dibutuhkan untuk menggaet wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, lebih banyak. Kerusuhan dan pertikaian hanya akan menimbulkan kerugian bagi semua. Sebaliknya, persatuan akan memudahkan upaya bersama menggapai kesejahteraan warga.

"Ibu Kota yang tidak kondusif sangat berdampak pada aktivitas bisnis dan perdagangan di DKI Jakarta," ujarnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR