Jatuh bangun bulu tangkis Indonesia
Jatuh bangun bulu tangkis Indonesia PB Djarum

Jatuh bangun bulu tangkis Indonesia dalam bingkai Indonesia Open

Dalam 35 tahun perjalanan Indonesia Open, setidaknya Indonesia pernah empat kali menyapu bersih seluruh nomor yang dipertandingkan di dalamnya.

SPONSOR: Indonesia Open 2017

Indonesia Open dulu dan kini

Tidak berlebihan rasanya jika menyebut bulu tangkis sebagai salah satu olah raga rakyat. Selain sepak bola, bulu tangkis boleh jadi menjadi olahraga yang banyak dimainkan oleh masyarakat di Tanah Air, tanpa memandang usia dan jenis kelamin.

Tak hanya menjadi primadona di kalangan masyarakat, cabang olahraga bulu tangkis juga kerap membawa nama Indonesia berjaya di berbagai kejuaraan, baik skala nasional maupun internasional. Jika dibandingkan cabang olahraga lain di ajang Olimpiade misalnya, bulu tangkis menjadi cabang olahraga yang paling banyak menyumbangkan medali. Dengan perolehan sebanyak 19 medali sepanjang tahun 1992 hingga 2008.

Bicara perihal ajang bulu tangkis berskala internasional, sudah tentu Indonesia Open tidak bisa begitu saja dilepaskan. Indonesia Open yang digagas oleh Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI) mulai meramaikan ajang turnamen bulu tangkis sejak 1982.

Indonesia boleh bangga karena berhasil mengemas turnamen Indonesia Open sedemikian menarik hingga akhirnya pada 2007 ajang Indonesia Open masuk kategori superseries versi BWF (Badminton World Federation). Masuknya Indonesia Open dalam kategori superseries BWF membuat prestise ajang ini naik. Musababnya, ajang superseries hanya diadakan oleh 12 negara di seluruh dunia.

Kepiawaian Indonesia dalam mengemas ajang Indonesia Open sebagai salah satu turnamen bulu tangkis berstandar internasional terbaik mendapat pujian langsung dari pihak BWF dan atlet-atlet serta staf negara lain yang ikut serta dalam turnamen ini.

"Wah, jangan tanya fasilitas yang diberikan Indonesia Open untuk para pemain dan kru yang ikut. Boleh dibilang, Indonesia Open adalah satu-satunya turnamen bulu tangkis internasional yang memanjakan semua atlet dan juga kru yang terlibat," ujar Christian Hadinata, mantan atlet bulu tangkis yang saat ini berprofesi sebagai pelatih di Klub PB Djarum, kepada Beritagar.id saat ditemui di GOR PB Djarum Jakarta.

Selang tiga tahun sejak dinobatkan sebagai ajang super series BWF, Indonesia Open kembali "naik kelas" dan berstatus sebagai turnamen BWF Superseries Premier. Atlet bulu tangkis yang masuk dalam 10 besar peringkat dunia wajib ikut serta dalam turnamen ini.

Bukan hanya pelayanan Indonesia Open yang menjadi sorotan, tapi hadiah yang ditawarkan pun sangat menggiurkan. Untuk tahun ini misalnya, Indonesia Open menawarkan hadiah sebesar USD1 juta. Hingga saat ini, belum ada hadiah ajang superseries lain yang menyamai hadiah yang diberikan Indonesia Open.

Langkah Indonesia di Indonesia Open

Kualitas dan kemasan Indonesia Open yang banyak menuai pujian dari banyak kalangan justru bertolak belakang dengan prestasi tim bulu tangkis Indonesia. Hal ini sangat disesalkan oleh Christian. Prestasi penyelenggaraan Indonesia Open yang semakin baik dari tahun ke tahun tidak diikuti oleh pencapaian prestasi tim bulu tangkis Indonesia.

Tak dapat dinafikan, dalam kurun 4 tahun tim bulu tangkis Indonesia seolah haus akan gelar juara. Tahun 2013 menjadi tahun terakhir Indonesia merebut gelar juara di ajang Indonesia Open lewat pasangan ganda putra Mohammad Ahsan/ Hendra Setiawan. Pasangan Ahsan dan Hendra berhasil menundukkan pasangan dari Korea Selatan, Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae 21-14 dan 21-18. Setelah itu, belum ada lagi gelar juara yang berhasil dibawa pulang oleh tim bulu tangkis Indonesia.

Christian mengakui, banyak hal yang membuat pemain sulit mengeluarkan permainan terbaik mereka. Ia juga mengatakan, memang tidak mudah untuk berlaga di negeri sendiri karena justru pemain akan mendapat lebih banyak tekanan jika dibandingkan saat pemain harus bertanding di negeri orang.

"Tentu ada positif dan negatifnya saat bertanding di negeri sendiri. Sebagai tuan rumah, kita 'kan maunya jadi juara. Inilah yang kemudian justru membuat atlet tampil kurang fokus, grogi, dan tidak maksimal. Belum lagi jika atlet sedang bermain jelek, tekanan dari penonton juga terkadang bisa menjadi bumerang. Sudah mendapat tekanan dari lawan, atlet juga mendapat tekanan dari penonton. Biasanya memang atlet akan lebih tenang ketika bertanding di luar negeri," papar pria yang kerap disapa Koh Chris ini.

Selain dari faktor lingkungan tempat bertanding, banyaknya jadwal pertandingan saat ini menurut Chris juga menjadi penyebab atlet-atlet muda bulu tangkis Indonesia tampil tidak konsisten dalam berbagai turnamen akhir-akhir ini.

Menurut Chris, dulu para atlet bisa tampil konsisten karena tidak banyak ajang-ajang bulu tangkis yang diikuti. Sedangkan sekarang, hampir setiap bulan atlet bulu tangkis mengikuti kejuaraan yang menuntut atlet harus menang dalam setiap pertandingan.

Hal ini, menurut Chris, perlu disiasati agar para atlet bisa kembali fokus dan tampil maksimal dalam setiap laga mereka. "Di sini, pelatih memegang peranan yang sangat penting. Pelatih harus pandai-pandai menyusun program latihan supaya para atlet bisa tampil bugar," Chris menekankan.

Pencapaian prestasi tim bulu tangkis Indonesia boleh dikatakan mengalami degradasi setidaknya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, baik di ajang Indonesia Open maupun ajang bulu tangkis internasional lain. "Dari segi pencapaian prestasi harus diakui tim bulu tangkis Indonesia memang turun ya. Dulu kan kita lewat Taufik Hidayat, Ardi B. W., sampai Susi Susanti, mereka bisa mendapat sampai 6 kali juara di Indonesia Open," terang Christian.

Menilik perjalanan Indonesia Open ke belakang, pada era 90-an Indonesia sempat mendominasi turnamen ini. Fakta sejarah ini membuktikan bahwa tim bulu tangkis Indonesia pernah berada pada era kejayaan. Pada 1983, 1996, 1997, dan 2001 misalnya, tim bulu tangkis Indonesia mampu menyapu bersih seluruh nomor yang dipertandingkan dalam Indonesia Open.

Sejak tahun 1990-1999, Indonesia selalu memboyong juara di turnamen Indonesia Open, baik dari kelas tunggal putra/ putri, ganda putra/ putri, maupun campuran. Setidaknya 81 kemenangan berhasil dikantongi tim bulu tangkis Indonesia dalam kurun waktu 1982 hingga 2016 pelaksanaan Indonesia Open. Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kemenangan terbanyak di ajang Indonesia Open. Peringkat selanjutnya diikuti oleh Tiongkok dengan jumlah 43 kemenangan dan Korea Selatan dengan 14 kemenangan.

Namun demikian, meski tim bulu tangkis belum menunjukkan pencapaian prestasi yang signifikan, Christian optimis kalau bulu tangkis Indonesia masih bisa bangkit dan mengulang kembali kejayaannya.

Menurut Chris, yang harus diperhatikan untuk kembali mengangkat bulu tangkis Indonesia dengan melakukan regenerasi secepatnya. "Sejujurnya saat ini kita sudah ketinggalan mulai dibandingkan dengan negara lain, seperti Korea, Tiongkok, dan Thailand. Saat Piala Sudirman kemarin misalnya, mereka sudah berani menurunkan pemain muda, sedangkan pemain-pemain lapis kedua kita sepertinya masih kalah bersaing dengan mereka," Chris berpendapat.

Selain itu, penting bagi setiap pelatih untuk bisa bisa memotivasi atlet mereka agar tampil lebih konsisten, lebih ngotot. Kondisi mental atlet yang cepat puas dengan apa yang sudah dicapai menjadi faktor yang membuat para atlet muda tampil tidak konsisten dan terkesan minim prestasi.

Namun demikian, di tengah kondisi tim bulu tangkis Indonesia yang minim gelar, Christian masih memendam kepercayaan bahwa Indonesia masih bisa menunjukkan taringnya lagi di dunia bulu tangkis kelak.

Harapan besar ia sandarkan kepada pasangan ganda putra Kevin dan Marcus yang berhasil unjuk gigi dan hattrick gelar di laga superseries, All England, India Open, serta Malaysia Open. Keberhasilan pasangan ini menyabet tiga gelar juara sekaligus di ajang superseries membawa mereka ke posisi peringkat pertama dunia. "Melihat semangat dan ambisi mereka dalam bermain, saya percaya Kevin dan Marcus bisa menjadi harapan untuk tim bulu tangkis Indonesia," harap Christian.

Entah kapan Indonesia bisa kembali lagi merajai dunia lewat cabang bulu tangkis seperti era 90-an dulu. Klasik memang, namun rasanya hanya jawaban 'biarkan waktu yang menjawab' yang tepat untuk menimpali pertanyaan tersebut. Namun setidaknya, selama asa masih ada, peluang untuk kembali menjadi juara pasti akan selalu terbuka.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR