Sejumlah pesepak bola Persik Kediri berada di atas truk saat konvoi di Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (5/1/2019). Mereka merayakan gelar Juara Liga 3.
Sejumlah pesepak bola Persik Kediri berada di atas truk saat konvoi di Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (5/1/2019). Mereka merayakan gelar Juara Liga 3. Prasetia Fauzani / Antara Foto

Jatuh bangun Persik Kediri

Persik Kediri pernah jaya. Kondisi bangkrut bikin prestasinya melempem. Kini klub itu berusaha bangkit kembali. Sejadi-jadinya.

Jalan Persik Kediri terus menggelinding. Seperti bola.

Pernah dua kali juara Liga Indonesia. Lalu berjibaku di Liga 3, kasta terendah kompetisi sepak bola tanah air. Dan kini, klub yang telah eksis sejak 1950 itu berhasil kembali promosi dan menapakkan kaki ke panggung Liga 2.

Lantaran prestasi bak roller coaster tersebut, Persik sempat diboikot para pendukungnya. Itu di luar gonta-ganti pemain dan manajemen, untuk menyebut sejumlah problem.

Beberapa pertandingan dilakoni tanpa kehadiran para suporter di tribune. Hasilnya, kondisi keuangan klub yang sudah kembang kempis tanpa dukungan sponsor pun semakin gembos.

Sedikit sorot balik, kesuksesan Persik menjuarai Divisi Utama Liga Indonesia IX pada 2003, dan Liga XII pada 2006 tak lepas dari kekuatan keuangan yang menopangnya.

Sponsor utama klub itu PT Gudang Garam, salah satu perusahaan rokok terbesar Indonesia. Sudah begitu, Persik masih kena gelontoran dana hingga puluhan miliar rupiah per tahun dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Kediri.

“Saat itu belum ada larangan penggunaan APBD untuk sepak bola,” kata Nur Muhyar, Kamis (24/1/2019).

Muhyar adalah media officer Persik kala klub tersebut menjadi kampiun. Kini dia seorang kepala dinas di lingkungan Pemerintah Kota Kediri. Dia paham betul perjalanan klub berjuluk Macan Putih itu dari waktu ke waktu.

Kala itu tak satu pun dari 78 klub sepak bola di Indonesia yang keuangannya kering. Semua dibeking penuh oleh pemerintah daerah masing-masing melalui APBD.

Kondisi demikian ada sebabnya. Dalam hemat Muhyar, kompetisi sepak bola tanah air yang spesifik membuatnya berbeda dari kompetisi di Amerika Latin.

Di sini, jumlah klub banyak. Jadwal kompetisi panjang. Klub harus mengeluarkan biaya tinggi ketika mesti bertandang ke luar pulau. Kondisi itu membuat sokongan yang didapat dari sponsor dan penjualan tiket pertandingan tak sebanding dengan kebutuhan tim.

Manajemen klub terpaksa mencari sumber dana tambahan. Lalu, APBD pun dilirik.

Dia mengutip banderol tiket pertandingan kandang Persik, Stadion Brawijaya: Rp15 ribu untuk kelas ekonomi, dan Rp20 ribu untuk kursi VIP. Meski seluruh bangku penonton penuh, hasil penjualan tiket tetap tak sanggup menutupi kebutuhan operasional klub.

Belum lagi kalau bicara ihwal gaji pemain, salah satu pos pengeluaran terbesar.

Waktu masih jaya. Persik dijuluki gudang pemain bintang. Bagi manajemen, situasi itu mesti ditebus dengan harga tinggi.

Pemain naturalisasi asal Uruguay, Cristian Gerard Alfaro Gonzales, adalah bagian skuat Persik dengan nilai kontrak semiliar rupiah.

Pemain lokal seperti Budi Sudarsono juga tak bisa dianggap enteng. Nilainya tak terpaut jauh dengan Gonzales.

Spanduk yang dipasang suporter Persik Kediri di depan tribune Stadion Brawijaya, Kediri. Para suporter menuntut manajemen klub menyelesaikan legalitas badan hukum Persik Kediri.
Spanduk yang dipasang suporter Persik Kediri di depan tribune Stadion Brawijaya, Kediri. Para suporter menuntut manajemen klub menyelesaikan legalitas badan hukum Persik Kediri. | Hari Tri Wasono

Komposisi pemain semacam itu, bagi Nur Muhyar, lumrah bagi klub yang prestasinya ingin meroket. Karena itu, Persik mati-matian membeli pemain mahal dari dalam dan luar negeri untuk mempertahankan predikat sebagai tim elite.

“Kita juga mengontrak mereka hingga beberapa musim agar tak dibajak klub lain,” ujarnya.

Selain itu, lini nonpemain tak kalah angker. Jajaran pelatih dan asistennya memiliki reputasi tinggi. Hal ini otomatis berdampak pada tingginya dana APBD yang disedot Persik.

Dalam satu tahun anggaran, tim ini bisa mengakses dana hingga lebih dari Rp20 miliar. Duet Wali Kota Kediri, H.A. Maschut--kala itu Ketua Umum Persik--dan Ketua DPRD, Antonius Rahman--Ketua Harian Persik--membuka keran APBD secara jorjoran.

Petaka terjadi ketika Peraturan Menteri Dalam Negeri No.13/2006 terbit. Peraturan itu melarang penggunaan APBD untuk sepak bola.

Lobi pengurus klub yang ditujukan untuk meminta dispensasi dalam pemakaian kas daerah kepada pemerintah pusat kandas. Persik harus berlaku seperti lembaga lain yang tak bisa mengakses APBD secara langsung. Semua pintu dana olahraga dikucurkan melalui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dalam jumlah terbatas.

“Pengelolaan Persik berubah drastis,” kata Nur Muhyar.

Kemudian, satu per satu pemain bintang dilepas. Manajemen tak lagi mampu mengontrak mereka dengan harga ideal.

Selain pindah klub, beberapa pemain asing ada yang pulang ke negara asalnya. Untuk menghidupi klub, manajemen Persik harus memaksimalkan dukungan sponsor dan penjualan tiket.

Tak ada pilihan lain.

Embargo keuangan daerah ini cukup memukul tim yang bakal berusia 69 tahun pada Mei 2019. Perlahan-lahan prestasi Persik jeblok.

Sekretaris Umum Persik Kediri, Subiyantoro, saat menunjukkan Piala Juara Liga III PSSI di kantor klub.
Sekretaris Umum Persik Kediri, Subiyantoro, saat menunjukkan Piala Juara Liga III PSSI di kantor klub. | Hari Tri Wasono

Puncaknya, juara umum Liga Indonesia dua kali ini harus menerima kenyataan pahit. Persik terdegradasi ke divisi utama pada akhir musim kompetisi Liga Super 2009-2010. PT Liga menyatakan Persik tak lolos verifikasi karena mengalami defisit keuangan.

“Saya masuk ke jajaran pengurus dalam kondisi keuangan Persik yang parah. Sangat parah,” kata Subiyantoro, Sabtu (19/1/2019).

Subiyantoro adalah sosok yang ditunjuk menjadi Sekretaris Umum Persik menggantikan Barnadi.

Dia sudah tahu hal pertama yang akan dibenahi saat mengambil alih kepengurusan Persik: membereskan administrasi.

Sebelumnya, manajemen administrasi Persik kacau balau. Lalu lintas surat keluar dan masuk tak terpantau dengan baik. Termasuk permohonan sponsor yang nyaris bisa dilakukan oleh semua pengurus.

Belum lagi bicara berurusan dengan jumlah stempel yang lebih dari satu dan keberadaannya sulit diawasi.

Beban manajemen tak berhenti di situ. Sisa kompetisi menyisakan tunggakan gaji sejumlah pemain. Salah satunya menimpa Guy Bertrand Mamoun. Bahkan hingga bergulirnya Liga 2, dan masuk ke Liga 3, tunggakan gaji kepada pemain asal Kamerun itu tak kunjung terbayar.

Persik pun harus menerima sanksi pengurangan tiga poin lantaran Mamoun mengadukan tersebut itu kepada FIFA. Mau tak mau, Persik harus melunasi utangnya jika ingin tetap merumput di Liga 3.

Keterpurukan di sektor keuangan, menurut Subiyantoro, menjadi faktor utama kinerja Persik yang semakin melorot. Pergantian pengurus usai dirilisnya Permendagri No.13/2006 pun terus terjadi.

Dengan catatan keuangan buruk, kemampuan klub dalam merekrut pemain bagus tinggal angan belaka. Kepercayaan sponsor pada Persik juga merosot setelah klub tersebut berada di level kompetisi terendah.

“Sulit mencari sponsor dengan posisi Persik di liga tiga,” kata Subiyantoro.

Pintu masuk utama Stadion Brawijaya milik Pemerintah Kota Kediri yang menjadi tempat latihan Persik.
Pintu masuk utama Stadion Brawijaya milik Pemerintah Kota Kediri yang menjadi tempat latihan Persik. | Hari Tri Wasono

Alhasil, Persik harus mengandalkan semua potensi yang ada. Kenaikan harga tiket di Stadion Brawijaya tak bisa dihindarkan. Kemudian ditambah kerja keras pengurus mencari dukungan donatur dari beberapa pengusaha yang tak ingin menyaksikan Persik gulung tikar.

Namun, meski bangkrut, pengurus Persik bersuara bulat untuk sama sekali tidak memanfaatkan APBD. Manajemen diminta bersikap rasional dalam menyusun kebutuhan anggaran, bujet pemain, pelatih, serta kebutuhan tim.

“Standar gizi pemain juga menyesuaikan,” ujarnya berseloroh.

Dalam situasi begitu, manajemen Persik pun mesti ikhlas merekrut pemain lokal berpotensi bagus. Meski melalui penjaringan ketat.

Standar gaji tak terlalu tinggi tetap menjadi pertimbangan utama. Akibatnya, persentase jumlah pemain lokal berbanding dengan pemain asing dalam skuat Persik sungguh timpang. Kira-kira mencapai lebih dari 60 persen.

Selain mengelola tim, Subiyantoro juga mengusulkan adanya pembersihan pengurus dari aparatur sipil negara (ASN).

Sebelumnya, kepengurusan Persik cukup gemuk dengan keterlibatan ASN. Namun, kini klub itu cuma menyertakan tenaga yang benar-benar menguasai bidang pekerjaannya.

“Termasuk memindahkan mes dan sekretariat Persik dari lingkungan balai kota mendekati Stadion Brawijaya,” kata Subiyantoro.

Kini mes dan kantor Persik telah menjadi satu. Memanfaatkan bekas bangunan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil yang tak terpakai. Mereka memulai babak baru Persik yang bersih dari keuangan daerah.

Perjuangan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Gonta-ganti pengurus menyisakan persoalan dengan komunitas suporter. Salah satunya menyangkut legalitas klub. Sebabnya jelas. Persik mencanangkan diri sebagai klub profesional.

Menurut Toro, panggilan Subiyantoro, suporter menuntut untuk terlibat dalam kepemilikan saham Persik.

“Namun teknisnya sulit direalisasi karena harus menunjuk perwakilan mereka di dalam akta PT (perseroan terbatas),” ujarnya.

Akibat persoalan tersebut, Persik sempat diboikot penonton. Sekitar 7-8 kali pertandingannya tak dihadiri satu pun suporter. Beruntung persoalan tersebut mereda setelah ada titik temu dengan pengurus soal legalitas klub.

Toro juga tak menduga kondisi Persik yang serba terbatas justru akhirnya menumbuhkan solidaritas dan rasa kekeluargaan di kalangan pemain. Kepercayaan diri mereka perlahan muncul seiring kembalinya para suporter di tribune.

Hingga saat ini, 130 ribu suporter Persik dari dalam dan luar negeri tercatat telah menyatakan komitmennya dalam mendukung klub itu.

Menimbang potensi suporter yang besar, pengurus jadi terpantik untuk memutar otak menjadikannya sebagai pendukung finansial.

Menurut Toro, Persik akan meniru pendukung PSS Sleman yang memberikan dana segar kepada klub setiap musim kompetisi bergulir.

“Masih godok treatment untuk Persikmania,” ujarnya.

Manajemen pertandingan juga dimaksimalkan. Potensi kebocoran penjualan tiket pertandingan coba ditekan. Termasuk menaikkan harga tiket ekonomi menjadi Rp20 ribu dan Rp40 ribu untuk kelas VIP pada pertandingan final.

Upaya tersebut jitu. Pendapatan kotor penjualan tiket tembus hingga Rp200 juta.

Selama mengikuti Liga 3, pemain tak digencet dengan target besar. Pengurus hanya menuntut tim untuk sanggup tembus ke babak delapan besar.

Setelah itu tercapai, target kemenangan ditambah: masuk final. Bermain tanpa beban justru membuat Persik tampil sebagai juara di Liga 3. Bomber muda mereka, Septian Satria Bagaskara, tercatat sebagai Top Skor.

“Ternyata kami bisa berprestasi selama bekerja keras dan saling mendukung,” kata Toro.

Pelbagai kerja keras mulai terbayar. Pengurus Persik menandatangani kontrak sponsor dengan penyedia apparel dari Bandung, Jawa Barat. Beberapa perusahaan juga mulai membangun komunikasi untuk mendukung Persik di Liga 2. Termasuk PT Gudang Garam.

Dukungan Pemerintah Kota Kediri tak begitu saja dilepas. Sebab, Persik masih membutuhkan sarana dan prasarana. Selain mes pemain dan Stadion Brawijaya, klub itu meminjam bus pemerintah setempat untuk menjalani pertandingan tandang.

Loyalitas dari sang pencetak gol terbanyak juga diamankan. Meski pengurus masih mengalkulasi formasi pemain untuk skuat di Liga 2, Bagaskara dipastikan tetap mengisi pos penyerang.

“Dia sudah mengatakan ingin menjadi legenda di Persik,” ujar Toro.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR