Patung perajin knalpot di pusat kota Purbalingga, Minggu (4/3/2018)
Patung perajin knalpot di pusat kota Purbalingga, Minggu (4/3/2018) Beritagar.id / Pundra Rengga Andhita
LAPORAN KHAS

Jejak pencipta knalpot cacing dan komodo di Purbalingga

Para perajin tersebar di berbagai desa di Purbalingga. Pembalap nasional hingga perusahaan sistem persenjataan memesan dan mendesain knalpot di sana.

Bicara knalpot di Purbalingga tak bisa lepas dari tempat lahirnya: Desa Pesayangan. Pada 1970 mayoritas penduduk desa ini memang merupakan perajin logam dapur, seperti dandang, panci, kuali dan sejenisnya.

Mereka lihai mengayun palu, menciptakan kreasi dari olahan logam--namun masih dalam skop industri kecil rumahan. Kabar keahlian itu lantas menyebar ke Jakarta. Kemudian, ketika kendaraan bermotor mulai ramai, sekitar 1980, perajin di Pesayangan mulai terima order olahan logam dari Jakarta, berupa knalpot.

Ternyata knalpot buatan Pesayangan disukai. Pesanan pun makin banyak, dari berbagai kota. Beberapa penduduk mulai banting setir dari olahan logam barang dapur ke barang otomotif.

Ketika kami mengunjungi desa itu awal Maret lalu, tampak kebanyakan rumah tinggal disulap jadi bengkel. Halaman depan warga tampak terpajang jejeran knalpot. Mereka terbagi jadi dua: perajin knalpot motor dan mobil.

Semua pria di sana seperti sibuk di siang hari. Ada yang sedang ukur-ukur knalpot, mengecat dan merapikan knalpot belum jadi dengan memukul-mukulnya. Suasananya gaduh. Namun lama-lama kami jadi biasa.

Di Pesayangan ini sebagian besar warganya memang bekerja sebagai pembuat knalpot. Mereka yang punya modal biasanya yang punya bengkel. Sedangkan yang tak punya modal akan berperan sebagai karyawan.

Keuntungan lumayan bisnis ini membuat industri knalpot jadi usaha turun temurun. Saat ini sudah masuk era generasi kedua dan ketiga. Karena makin banyak perajin di sana lahan bengkel pun jadi terbatas.

Kondisi itu mendorong generasi baru keluar dari Pesayangan. Mereka lalu menyebar di berbagai desa Purbalingga. Malah ada juga yang melebarkan sayapnya ke kota lain di Indonesia.

Salah satu generasi Pesayangan yang keluar adalah Muhajirin (65). Seorang pengusaha knalpot yang kini tinggal di Dusun Peniron, Wirasana, Purbalingga Lor. Muhajirin yang juga menjabat Ketua Koperasi Perajin Knalpot Purbalingga ini sempat selama satu dasawarsa tinggal di Pesayangan.

Orang tuanya merupakan perajin logam dapur yang ada desa itu. Ketika usahanya makin maju, Muhajirin memutuskan membuka lahan baru di luar Pesayangan. Muhajirin fokus mendesain knalpot mobil, dengan memakai tenaga kerja lokal.

Proses pembuatan knalpot cacing di Desa Pesayangan, Purbalingga, Kamis (29/3/2018).
Proses pembuatan knalpot cacing di Desa Pesayangan, Purbalingga, Kamis (29/3/2018). | Pundra Rengga Andhita /Beritagar.id

Ketekunan Muhajirin membuahkan hasil. Selain pasar domestik, ia sering dapat pesanan dari berbagai merek otomotif internasional. Dari jenisnya, pesanan Muhajirin bukan hanya untuk kendaraan keluarga, tetapi juga kendaraan tempur.

Salah satu pelanggannya adalah PT. Pindad. Sejak 2008 hingga sekarang, Muhajirin rutin memasok knalpot untuk Panser Anoa dan Komodo dengan jumlah pesanan mencapai 100 knalpot tiap tahun.

Tak hanya panser, garapan teranyar PT. Pindad, eskavator, rencananya juga akan menggunakan knalpot olahan Muhajirin. Pesanan dari perusahaan pelat merah itu mencapai 150 knalpot.

Terbaru, proyek mobil Esemka yang akan mulai di produksi akhir bulan ini, juga akan memakai knalpot asal Purbalingga. "Saya yang pegang produksi knalpotnya. Orderannya capai 10 ribuan," kata dia saat ditemui Minggu (4/3/2018).

Meski orderan knalpotnya telah merambah ke mana-mana, namun Muhajirin mengaku, pesanan untuk knalpot motor dan mobil sedang turun. Pasalnya mulai 2016, kompetisi harga knalpot makin tidak sehat. "Harga knalpot sekarang hancur. Pemerintah kenapa membiarkan saja?," katanya.

Muhajirin memprediksi jika harga terus melorot, industri knalpot Purbalingga bisa terpuruk. Apalagi jika berhadapan dengan pemodal besar yang memiliki mesin pembuat knalpot yang canggih.

Bagi dia, perajin knalpot Purbalingga telah memiliki keahlian mumpuni dibanding daerah lain. Tapi ada dua hal yang belum dimiliki mereka: manajemen profesional dan mesin pendukung produksi beserta tenaga ahlinya.

"Kita ada bantuan dari provinsi, mesin penekuk pipa, bagus dan mahal. Mesinnya modern tapi tenaga ahlinya tak ada, akhirnya banyak nongkrongnya saja itu mesin," tuturnya.

Keresahan sama diungkap Edi Nurmanto (43), perajin knalpot motor merek Abenk Racing Exhaust asal desa Grecol, Purbalingga. Edi yang sudah 20 tahun menggeluti knalpot ini menitikberatkan produksinya pada knalpot racing bahan stainless, besi dan galvanis.

Ia mengatakan jika perajin didukung ketersediaan alat, maka produk Purbalingga bisa makin berkibar.

Sumber masalah lain menurutnya adalah persaingan harga.

Ia menjelaskan, dalam industri knalpot motor itu ada empat tahapan jalur distibusi. Mulai dari produsen, sales, toko hingga ke konsumen. Misal, dari produsen harga satu knalpot Rp100 ribu, kemudian diteruskan oleh sales ke toko menjadi Rp150 ribu, lalu toko menjual ke konsumen menjadi Rp200 ribu.

Keuntungan dari tiap mata rantai tersebut yang selama ini memberikan lahan kerja yang cukup luas bagi masyarakat Purbalingga.

Hanya saja seiring majunya media berbasis internet, mata rantai itu terputus. Barang dari produsen langsung diterima konsumen melalui keberadaan penjual lepas.

"Dengan modal telepon genggam, penjual lepas ini ambil foto knalpot ke produsen yang ia kenal, lalu diunggah di internet dengan harga murah," ujarnya. Penjual lepas tersebut biasanya anak sekolah yang mencari penghasilan tambahan.

Tapi Edi yakin jalur seperti ini tak akan tahan lama. Pasalnya orderan knalpot itu ada dua jenis, knalpot custom dan non custom. Custom adalah istilah yang digunakan perajin knalpot yang hasil olahannya mengedepankan teknik matang dan pemilihan bahan tepat sehingga dapat memaksimalkan kinerja motor. Sedang non custom adalah istilah yang diperuntukkan bagi pemesanan knalpot sesuai bawaan motornya. Knalpot tidak berubah bentuk dan fungsinya.

Aktivitas rutin perajin knalpot di desa Pesayangan, Purbalingga, Jawa Tengah (Kamis, 29 Maret 2018)
Aktivitas rutin perajin knalpot di desa Pesayangan, Purbalingga, Jawa Tengah (Kamis, 29 Maret 2018) | Pundra Rengga Andhita /Beritagar.id

Nah, menurut Edi, persaingan harga bukan terjadi di knalpot custom. Hal itu terjadi karena tak mudah membuat custom. Apalagi konsepnya sesuai keinginan pemesan. Di sini produsen harus mampu menerjemahkan imajinasi pemesan dalam bentuk produk yang bukan saja sesuai dengan fungsi, tapi juga punya nilai artistik. Kerumitan ini yang membuat harga knalpot custom tetap bertahan.

Sepanjang kariernya, Edi telah menerima banyak orderan, sampai skop Asia Tenggara. Ia sudah mematenkan merek Abenk sejak 2011. Tidak hanya itu, Edi juga sudah memiliki tiga paten bentuk untuk kreasi knalpot olahannya.

Kami sempat ditunjukkan oleh Edi salah satu hasil olahannya untuk mesin empat silinder, yang bagian leher knalpotnya menggunakan model las cacing. Ini termasuk teknik pengelasan rumit yang memperhitungkan tiap lekukan untuk memperlancar laju gas buang.

Di dalam rumah Edi juga banyak tumpukan knalpot custom berbagai merek motor. Meski pemasaran masih lewat mulut ke mulut, tetapi permintaan pasar cukup besar untuk knalpot custom buatannya. Ia banyak didatangi pembalap lokal hingga nasional.

Nampaknya hal itu juga yang membuat rumah Edi penuh dengan jejeran piala. Ketika pembalapnya menang, otomatis knalpot Edi pun ikut terangkat. "Paling tidak saya bisa membuktikan kreasi knalpot saya tidak membuat kinerja mesin menurun," tuturnya.

Aktivitas perajin knalpot di Desa Pesayangan, Purbalingga, Jawa Tengah (Kamis, 29 Maret 2018).
Aktivitas perajin knalpot di Desa Pesayangan, Purbalingga, Jawa Tengah (Kamis, 29 Maret 2018). | Pundra Rengga Andhita /Beritagar.id

Sebenarnya yang menjadi kerisauan utama Edi bukan kompetisi antar bengkel atau persaingan harga. Tetapi juga pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 7 tahun 2009 tentang ambang batas kebisingan kendaraan bermotor.

Ada regulasi yang mengatakan, setiap kendaraan roda dua yang memiliki sentimeter kubik (CC) kurang dari 175 CC, standar kebisingannya adalah 80 desibel.

Sedang bagi motor yang ber-CC lebih dari 175 CC standar kebisingannya adalah 83 desibel. Peraturan yang berlaku sejak 1 Juli 2013 ini berpotensi mengurangi pesanan knalpot motor dari sektor pemakai harian.

"Susahnya itu ketika di jalan sering kali knalpot custom di tilang, dengan alasan knalpotnya tidak standar. Padahal aturan sudah jelas itu tadi. Kita sudah memperhitungkan tingkat kebisingannya," kata Edi.

Ia berharap, aturan itu bisa ditinjau ulang atau paling tidak penerapannya di lapangan harus sesuai. Tak semua motor berknalpot custom bisa kena tilang selama tidak melebihi ambang batas kebisingan.

Untuk persoalan mesin pembuat knalpot, Edi ingin pemerintah ikut membantu, misalnya melalui pemberian kredit ringan. Sering ia mendapat pesanan dari pasar internasional tetapi karena mesinnya tidak mendukung pihaknya harus menolak. "Kalau mesin dibantu, kita bisa bukan hanya mengejar kualitas tetapi juga kuantitas," katanya.

Terpisah, Wakil Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi, mengatakan pihaknya terus memperhatikan industri knalpot rumahan ini. Ia akan membantu penguatan sentra industri ini sekaligus menjadi mitra perajin untuk mengembangkan produknya. "Akhir 2017 kita dapat bantuan Kementerian Perindustrian untuk pembangunan LIK (Lembaga Industri Kecil)," katanya.

“Harga knalpot sekarang hancur. Pemerintah kenapa membiarkan saja?”

Muhajirin (perajin knalpot)

Tercatat, sampai saat ini ada 148 industri kecil dan menengah knalpot Purbalingga yang tersebar di sembilan desa. Pratiwi akan mengupayakan kerja sama dengan ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek) sehingga pasar knalpot Purbalingga semakin luas lagi.

Ia mendorong perajin knalpot untuk memantapkan desain produknya melalui hak merek, hak cipta atau hak paten. "Teman-teman perajin knalpot akan kita fasilitasi terkait hak tersebut," kata Pratiwi.

Pihaknya ingin kejayaan knalpot Purbalingga bisa kembali bangkit. Seperti di era 80-an ketika perajin bernama Sultoni merintis usaha knalpotnya di Pesayangan. Sultoni merupakan perajin generasi pertama yang mengangkat derajat para perajin knalpot lainnya.

Untuk mengenang Sultoni, Pemerintah Purbalingga membuatkan tugu patung knalpot yang terletak di pertigaan jalan menuju Bobotsari pada 2004. Patung orang yang sedang memukul-mukul logam itu dibangun oleh Triyono Budi S., seorang Bupati Purbalingga saat itu.

Tetapi, kemasyhuran knalpot Purbalingga tak selamanya harum. Namanya sempat tercoreng karena ada produsen yang membuat knalpot dengan mencatut merek luar negara. Bahkan ada perajin Purbalingga yang jadi buronan dunia karena kasus pemalsuan knalpot ini.

Sebab itu beberapa tahun belakangan marak berdiri kelompok antiknalpot palsu di Purbalingga. Kelompok ini yang terus mendorong perajin knalpot di sana untuk menjaga orisinalitasnya.

Soal pemalsuan yang mendunia ini, para perajin di sana tampak enggan berkomentar. Mereka takut dan terus menutup mulut. "Kami enggak mau bicara hal itu," kata beberapa perajin tersebut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR