Bangunan AOA Resto and Creative Space di tepian Selokan Mataram, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Kamis (9/5/2019) malam WIB.
Bangunan AOA Resto and Creative Space di tepian Selokan Mataram, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Kamis (9/5/2019) malam WIB. Pito Agustin Rudiana / Beritagar.id
ANARKO

Jejaring konsep anarkisme di Indonesia

Anarkisme tak melulu soal demonstrasi dan konfrontasi antara anarko dengan aparat. Cheran dan AOA mampu melakukan anarkisme dalam bentuk lain.

Tidak salah jika masyarakat menyebut gerakan anarkisme bertalian dengan kericuhan, vandalisme, dan konotasi negatif lain. Tak keliru pula jika sebagian lainnya menganggap gerakan tersebut bersifat utopia.

Untuk mewujudkan negara tanpa hierarki dan struktur, rasa-rasanya memang terkesan sulit--jika tak ingin disebut mustahil. Namun, untuk ruang lingkup yang lebih kecil dibanding negara, konsep anarkisme mungkin saja dapat dipraktikkan.

Untuk skala wilayah, San Francisco Cheran negara bagian Michoacan, Meksiko, dapat menjadi contoh. Pascalepas dari bayang-bayang kartel narkotika La Familia Michoacana pada 2011, wilayah tersebut mampu menjalani kesehariannya secara otonom tanpa campur tangan pemerintah.

"Masyarakat kota merekrut penegak hukum dengan mayoritas penduduk asli untuk membentuk pemerintahan sendiri; memasukkan kebiasaan tradisional ke dalam kekuasaan mereka," tulis Los Angeles Times pada 2017 lalu.

Sekadar catatan, penduduk Cheran tidaklah banyak. Hanya puluhan ribu. Untuk skala yang lebih kecil lagi, bisnis, Indonesia juga memiliki permisalan.

Jauh dari hiruk-pikuk pusat ekonomi di Jakarta, atau kota-kota besar lainnya, sebuah cafe tak seberapa besar di pinggiran Selokan Mataram Depok, Sleman, Yogyakarta, mampu menjalankan usahanya dengan basis anarkisme.

AOA Resto and Creative Space, begitu nama warung tersebut. Tak percaya? Silahkan Anda menjajal ke sana. Saat melihat buku menu cafe, Anda akan disuguhi dengan kalimat tak biasa.

"AOA SPACE – A SPACE WITHOUT A BOSS." Begitu bunyi tulisan yang terletak di bagian paling atas. Kalimat itu seolah menyeret pembaca bahwa semua yang terlibat dalam AOA adalah pekerja, termasuk orang-orang yang memberikan modal di awal.

"Pengelola AOA semuanya pekerja. Tidak ada bos di sini," ucap Yab Sarpote (30 tahun), salah satu pemodal awal AOA, kepada Beritagar.id, Kamis, (9/5/2019) malam WIB. Selain Yab, dua pemodal awal lainnya adalah Sugik dan Didin.

Secara penampilan, AOA seperti halnya cafe-cafe modern saat ini. Ornamen kayu mendominasi dekorasi ruang. Mulai dari meja-kursi kayu berkerangka besi, rak-rak kayu tempat buku dan makanan ringan, lampu-lampu gantung dengan kap juga dari kayu.

Menunya pun terhitung biasa saja, dengan harga yang cukup terjangkau bagi mahasiswa perantauan di Yogyakarta tentunya. Untuk minuman, paling murah Rp4.000 hingga termahal fermentasi seharga Rp60.000.

Konsep yang diusung pun terbilang ngepop. Sasarannya orang-orang yang usai pulang kerja atau kuliah bisa melanjutkan agenda kegiatan di AOA. Dari situlah nama AOA muncul, akronim dari After Office Agenda

Jadi, jika Anda melihatnya sekilas, tak ada yang benar-benar menonjol dari cafe tersebut. Kesan berbeda akan Anda dapatkan bila menginjakkan kaki di sana, terlebih jika cukup intens.

Pasalnya, bisa jadi tukang parkir yang Anda temui di satu hari, akan menjadi barista atau koki di kemudian hari. Atau, bukan hal yang mustahil pula Yab, Benk, dan Tiara akan melkoni tugas pramusaji atau bersih-bersih.

Pada titik ini, jargon "sebuah ruang tanpa bos" bisa jadi tak salah. “Kalau aku dan dua pemilik modal awal enggak kerja, ya kita enggak dapat bagian," kata Yab. Lantas, bagaimana mengambil kebijakan strategis jika semua adalah pekerja?

Untuk hal ini, menurut Yab, ada sebuah forum tertinggi yang bernama Dewan Pekerja AOA Space. Dewan ini akan dilangsung tiap akhir bulan yang diikuti oleh 10 pekerja AOA, termasuk tiga pemodalnya.

Dalam forum tersebut, baik pelayan bar hingga tukang parkir melakukan berbagai aktivitas: mulai evaluasi, menuangkan ide, kritik, masukan, hingga membuat kebijakan.

“Biasanya, tukang parkir dicap enggak mampu kasih ide, jadi selalu tak dilibatkan. Padahal setiap orang menjadi mampu kalau dikasih kesempatan," kata Yab.

Pada forum Dewan Pekerja ini pula ditentukan pembagian upah. Jumlahnya, niscaya akan beda untuk tiap bulannya. Musababnya, pembagian upah tergantung pemasukan cafe selama satu bulan.

Upah diberikan setelah penghasilan kotor yang didapat selama sebulan dikurangi biaya belanja lainnya. Seperti untuk biaya operasional semacam belanja bahan, membayar tagihan listrik, atau pengadaan Wifi.

"Nilainya berbeda setiap bulannya. Bergantung pemasukan dan pengeluarannya," ucap Benk. Perbedaan bukan hanya dari faktor itu saja. Namun juga dilihat dari jumlah waktu bekerja.

Bukan tidak mungkin, misalnya, pada Januari Yab mendapat upah Rp1 juta dan Benk Rp500.000, lantas di Februari Yab lebih banyak dibanding Benk. Besar-kecil jumlah upah tergantung dari keaktifan pekerja di cafe.

Inilah salah satu tantangan, jika mau jujur, mengelola cafe ala anarkisme. Relasi antarpekerja bersifat sukarela. Tak ada paksaan dalam bekerja, kecuali komitmen dari diri sendiri dan Dewan Pekerja AOA Space.

"Dari total 10 pekerja, yang tercatat militan hanya 5-6 orang," ucap Yab.

Menebar bibit swakelola

 Salah satu bentuk usaha swakelola lain, yaitu Mimosa yang berjeraing dan bertempat di AOA Resto and Spaace di Jalan Selokan Mataram, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Kamis (9/5/2019) malam WIB.
Salah satu bentuk usaha swakelola lain, yaitu Mimosa yang berjeraing dan bertempat di AOA Resto and Spaace di Jalan Selokan Mataram, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Kamis (9/5/2019) malam WIB. | Pito Agustin Rudiana /Beritagar.id

Jessica hanyalah pengunjung umumnya di AOA Space. Dia tertarik karena banyak agenda yang digelar di sana. Seperti diskusi, workshop, juga kadang ada pentas musik. Pengunjungnya selalu ramai ketika agenda-agenda itu digelar.

Dari situlah Jessica mengenal konsep swakelola AOA Space, yang mendasarkan pada eksperimen mandiri. "Aku lihat, susah enggak ya? Kupikir (AOA Space) enggak tahan lama, ternyata bertahan," kata Jessica.

Bersama empat orang temannya yang semuanya perempuan, mereka bersepakat membuat usaha dengan konsep serupa. Tanpa bos, semua pekerja, dan ada Tim Mimosa--serupa dengan Dewan Pekerja AOA Space.

Tetapi produknya berbeda. Mereka memilih produk kerajinan tangan, seperti membuat stiker, asesoris, kaos, topi, pin, tas, juga pouch. Mereka beri nama Mimosa Makers Market. Mimosa diambil dari nama Latin tanaman rumput liar yang berbunga.

Hingga kini sudah ada 40 brand dititipkan kepada Mimosa untuk dijual. Dari 40 brand itu, tiga di antaranya produk dari pekerja Mimosa sendiri. Meliputi stiker, totebag, dan pouch. Semuanya dijual dari harga Rp5 ribu hingga Rp250 ribu.

“Kami bertugas membuat dan menjualnya,” kata Jessica yang menempati bagian lantai dasar bangunan AOA Space.

Beda lagi dengan Zikra Wahyudi, 22 tahun. Mahasiswa Fakultas Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (UII) memilih waktu-waktu sunyi ketika singgah ke AOA Space.

Seperti malam itu, dia mengambil tempat favoritnya di lantai dua paling pojok. Duduk menghadap jendela yang terbuka. Menikmati lalu lintas yang melewati jalanan tepian selokan di bawahnya.

“Belum pernah ke sini kalau pas lagi ramai diskusi,” kata Zikra yang memesan kopi dengan seduhan Vietnam Drip.

Persinggungannya dengan AOA Space menginspirasi mereka untuk mengaplikasikan konsep usaha tanpa bos, semua dianggap pekerja, dan pembagian upah sesuai pekerjaan.

"Sistem ekonomi selain kapitalis yang bagus diterapkan apa ya? Menurut kami sistem kooperasi," kata Zikra.

Dengan model kooperasi yang berbasis kerjasama, dia bersama teman-temannya tengah mengelola modal bersama dengan menyewa tanah kas desa di Sleman. Lahan tersebut ditanami aneka sayuran organik yang dijual di Pasar Prawirotaman Yogyakarta saban Rabu dan Sabtu.

Ikhtiar Jessica dan Zikra ini disambut Yab. Setidaknya, Yab merasa menemui titik terang dalam menebar bibit usaha swakelola sebagaimana AOA Space. "Harapannya sih makin banyak titik-titik swakelola," kata Yab. "Kapitalis saja bisa hidup karena berjejaring kan?" kata Yab.

Mengenai cara berbisnis yang mirip pola anarkisme ini, Yab tak ambil peduli. Menurutnya, ia dan dua Benk serta Tiara hanya percaya pada satu prinsip, yakni tiap manusia lahir bebas dan tak senang ditindas.

“Kalau sistem ini membuat bahagia, merdeka, kenapa tidak mulai berubah?" kata Yab. "(Saya) Enggak terlalu peduli label. Disebut anarkis monggo, koperasi monggo, komunis ya monggo."

*Baca juga: Anarko, iman anarkisme dalam tubuh provokator.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR