Salah satu foto karya Juan Herbert Girsang bertajuk
Salah satu foto karya Juan Herbert Girsang bertajuk "Mangongkal Holi: The Last Tribute" yang dipamerkan di JIPFets 2019. Juan Herbert Girsang

JIPFest 2019: Kala mata melihat identitas

Identitas kerap tersirat dan tersurat dalam pelbagai tema foto. Ia seolah tak bosan dijadikan latar cerita oleh fotografer. JIPFest 2019 menjadikannya tema festival.

Foto hitam putih berukuran 2,5 kali 3,5 meter mencuri mata khalayak yang menyinggahi Sarinah, pusat perbelanjaan di bilangan Thamrin, Jakarta. Foto itu menampilkan tiga pasang mata bocah di bawah salib. Binar mata mereka menyiratkan rasa ingin tahu.

Itu adalah bagian dari seri foto "Mangongkal Holi: The Last Tribute" karya Juan Herbet Girsang. Mangongkal Holi merupakan ritual masyarakat Batak Simalungun -- upacara mengangkat tulang belulang tetua dan menempatkannya di makam istimewa.

Juan mengaku telah jauh dari kultur Batak. Pengerjaan seri foto itu membuatnya menyelami kembali identitas kulturalnya.

Kala memotret Mangongkal Holi, Juan hadir di tengah keluarga besar Girsang tanpa tahu makna detail ritual. Setelahnya, pria berstatus pegawai negeri itu bikin pertunjukan slide di hadapan keluarganya. Lepas pertunjukan, keluarganya memberi latar cerita atas ritual yang direkamnya.

Karya Juan jadi salah satu foto utama Jakarta International Photo Festival (JIPFest) 2019, yang digelar pada 25 Juni sampai 9 Juli 2019.

Festival itu memamerkan karya milik 36 fotografer dari 17 negara. Perhelatan kian megah lewat kehadiran acara macam Curators Lab, Workshop, dan Portofolio Review.

Pelbagai mata acara itu tersebar di 16 lokasi: Dari pusat kebudayaan macam Taman Ismail Marzuki; Hingga ruang publik seperti Taman Menteng.

Identitas jadi tema besar JIPFest 2019. Dalam jagat fotografi, identitas kerap tersirat dan tersurat dalam pelbagai foto cerita. Ia direpresentasikan oleh berbagai subjek, seolah tak bosan dijadikan latar cerita oleh fotografer di seluruh dunia.

"Isu identitas ini juga terasa kontekstual jika melihat perkembangan sosial di berbagai belahan bumi, termasuk di negeri ini," ujar Cristian Rahadiansyah, Direktur Festival JIPFest 2019.

Fotografer Bangladesh, Shahidul Alam,  menyampaikan tausiah fotografi dalam ajang JIPFest 2019 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki.
Fotografer Bangladesh, Shahidul Alam, menyampaikan tausiah fotografi dalam ajang JIPFest 2019 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. | Bismo Agung /Beritagar.id

Satu nama besar dalam JIPFest 2019 adalah Shahidul Alam. Dia seorang jurnalis foto, guru, dan aktivis sosial asal Bangladesh.

Selama puluhan tahun, karyanya mengisi etalase media-media terkemuka di dunia. Atas kiprahnya di dunia aktivisme dan fotografi, Shahidul beroleh pelbagai penghargaan, termasuk TIME Person of the Year 2018.

Kehadiran Shahidul di JIPFest 2019 kian menarik, mengingat dirinya baru bebas dari penjara pada November 2018 karena bersuara keras pada rezim di negerinya.

Statusnya sebagai aktivis juga memicu drama kecil dengan pihak imigrasi yang meminta keterangan saat dirinya menginjakkan kaki di Bandara Soekarno-Hatta. Drama kecil itu berakhir setelah panitia JIPFest 2019 memberi jaminan.

"Syukurnya urusan itu selesai, karena Shahidul adalah pembicara utama. Sebagaimana tiap festival pasti punya magnet. Di festival ini, Shahidul jadi magnetnya," kata Cristian.

Nama besar Shahidul terbukti pada Jumat malam (5/7/2019), saat lebih dari 250 pasang mata menghadiri tausiah fotografinya di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki.

Mengenakan Kurta -- pakaian tradisional Bangladesh -- dan bersandal kulit, Shahidul berbagi pengalaman sebagai jurnalis foto.

Di hadapan layar yang menampilkan pelbagai karyanya, pria 63 tahun itu berkisah tentang ikhtiarnya memperkenalkan foto jurnalistik kepada rakyat Bangladesh.

Bak pendeta, dia berceramah. Dia bilang karya foto tak sekadar produk cahaya. Bagi Shahidul, foto jurnalistik merupakan medium penyampaian sikap dan alat untuk bersuara.

Warga beraktivitas di dekat karya foto "Rebel Riders" (Muhammad Fadli) yang ditampilkan dalam acara JIPFest 2019, di Taman Menteng, Jakarta, Minggu (7/7/2019).
Warga beraktivitas di dekat karya foto "Rebel Riders" (Muhammad Fadli) yang ditampilkan dalam acara JIPFest 2019, di Taman Menteng, Jakarta, Minggu (7/7/2019). | Aprillio Akbar /ANTARA FOTO

Sebagai perayaan fotografi, JIPFest 2019 juga jadi ruang unjuk diri bagi banyak fotografer muda. Kehadiran karya-karya mereka setidaknya menawarkan kesegaran ide di jagat fotografi.

Andri Ginting, fotografer asal Medan, jadi salah satu nama baru yang mencuri perhatian.

Karyanya, "Perempuan Karo nan Tangguh", terpajang di Taman Menteng. Foto stori itu jadi representasi identitas perempuan Karo yang memilih bertahan hidup di kaki Gunung Sinabung.

Nama lain adalah Muhammad Fadli. Fotografer asal Padang itu menampilkan foto para penggila vespa gembel yang diberi tajuk "Rebel Riders". Karya itu sudah melanglang buana lewat pameran dan buku dengan tajuk yang sama.

JIPFest 2019 juga jadi panggung bagi para fotografer perbawa, misal Tara Sosrowardoyo dan Rizal Marlon.

Rizal, yang dikenal sebagai fotografer alam liar, memajang karyanya di trotoar Jalan M.H. Thamrin. Karya itu tampak kontras, sebab hewan-hewan liar seolah sedang mengintervensi wilayah urban.

Tara, yang malang melintang di dunia fotografi pada era 1970-1990, mendapat penghormatan untuk menggelar pameran tunggal di JIPFest 2019.

Dalam pameran "Seeing Things-A Work in Progress" di Kedai Tjikini, Tara memamerkan lebih dari 50 foto. Karya potret paling mendominasi. Dan yang paling menyedot perhatian adalah foto Pramoedya Ananta Toer yang baru pulang dari Buru.

Meski diciptakan pada masa lalu, karya Tara tak lekang dimakan waktu. Foto-fotonya ibarat jendela bagi siapa pun yang ingin melihat kehidupan sejumlah tokoh di masa silam.

"Karya Tara melebihi gaya foto yang ada di zamannya," kata fotografer, Tjandra Amin, yang dipercaya mengatur tata letak pameran Tara.

Foto karya Kevin Frayer, "Desperate Journey: The Rohingya Exodus", yang dipamerkan dalam JIPFest 2019 di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki.
Foto karya Kevin Frayer, "Desperate Journey: The Rohingya Exodus", yang dipamerkan dalam JIPFest 2019 di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki. | Bismo Agung /Beritagar.id

Seperti tak mau terjebak dalam penyajian visual nan nyaman, JIPFest 2019 juga menyediakan ruang bagi subjek foto yang terpinggirkan.

"Kemiskinan dan keterasingan menjadi potensi konflik baru yang dibungkus dalam identitas oleh keinginan politik maupun kenyataan sosial," demikian nukilan catatan kuratorial yang ditulis oleh Firman Ichsan, James Smets, dan Ahmad "Deny" Salman.

Subjek marginal, antara lain terwakili oleh karya Kevin Frayer yang fotonya dianugerahi penghargaan World Press Photo 2018. Karya Kevin, "Desperate Journey: The Rohingya Exodus", benar-benar menikam rasa kemanusiaan.

Karya itu menampilkan adegan-adegan saat warga etnik Rohingya pergi mengungsi dan terusir dari Rakhine, Myanmar. Drama kemanusiaan itu terasa lekat lewat mata anak pengungsi yang terjebak hidup di kamp pengungsian, Cox Bazar, Bangladesh.

Karya Kevin bersanding dengan seri-seri foto lain yang sarat konteks sosial-politik di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki.

Di galeri itu terpajang pula seri foto "Fragmen Papua" milik Albertus Vembrianto. Karyanya merekam kehidupan orang Papua melawan diskriminasi dan kekerasan.

Ada pula "Terlantar di Negeri Sendiri" bikinan Edi Susanto dan Dwianto Wibowo. Duet fotografer Jakarta itu mengabadikan para pengikut Ahmadiyah di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Rangkaian foto itu, antara lain menampilkan gambar Alquran yang dibakar massa dalam peristiwa penyerangan terhadap warga Ahmadiyah. Foto itu jadi pembuka cerita yang kuat.

Satu gambar lain terasa sensitif menampilkan sejumlah Kartu Tanda Penduduk dengan Nomor Induk Kependudukan milik pengikut Ahmadiyah. Beberapa pengunjung bertanya soal etika memajang informasi pribadi itu.

Para kurator mengaku telah berdiskusi sebelum memajang foto tersebut.

"Ruang pamer adalah media terbatas yang berbeda dengan media massa. Pemilik KTP itu juga sadar dan menyetujui bahwa kartu identitas dipajang dalam pameran," kata Deny Salman, menjelaskan hasil diskusi tim kurator.

***

JIPFest 2019 jadi hajatan akbar bagi masyarakat fotografi Indonesia. Meski begitu, festival ini bukanlah hajatan fotografi internasional pertama di Indonesia.

Setidaknya hal itu yang disampaikan oleh Oscar Motuloh, kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara. "JIPFest 2019 bukan perhelatan skala internasional pertama. Tapi hajatan ini yang terbesar," kata dia.

Oscar menyebut bahwa Indonesia sudah punya beberapa perhelatan fotografi level internasional, misal: Salon Foto Indonesia (1956), Festival FOTO.ID (2005), The Jakarta International Photo Summit (JIPS, 2014), dan Vision International Image Festival (2013).

Lepas dari itu, JIPFest 2019 telah menyediakan saluran bagi orang-orang yang punya semangat sinau -- mengumpulkan ilmu. Pun, perhelatan itu bisa dilihat sebagai upaya mendekatkan fotografi kepada masyarakat luas.

Meminjam perkataan Oscar, JIPFest 2019 laik dirayakan. "Rayakanlah 180 tahun kehadiran fotografi di dunia dengan gembira, sambil menikmati banyak karya hebat, dan mencari esensi," ujarnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR