Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto usai mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019).  Selama masa kampanye, dua paslon sama-sama banyak menyoal perolehan suara dibanding menjual program mereka.
Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto usai mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). Selama masa kampanye, dua paslon sama-sama banyak menyoal perolehan suara dibanding menjual program mereka. Hafidz Mubarak A / Antara Foto
PILPRES 2019

Jual kecap dua kandidat

Selama kampanye, dua capres sama-sama lebih suka menyoal perolehan suara, yang tak ada dalam visi misi mereka. Isu lingkungan malah jarang disebut.

Calon presiden Prabowo Subianto tampak kikuk menjawab soal saat debat calon presiden Minggu (17/2/2019). Moderator Anisha Dasuki saat itu membeberkan, masih ada sekitar 8 juta hektare lubang tambang yang belum direklamasi. Apa langkah konkret kedua calon mengatasi masalah lingkungan dan sosial ekonomi yang timbul karena lubang tambang tersebut?

Keduanya sama-sama menjawab dengan normatif, bakal menegakkan hukum dan mengawasi lubang yang timbul karena tambang. "Saya kira cukup untuk masalah ini. Untuk apa bertele-tele lagi," kata Prabowo. Menurutnya, dia dan calon presiden Joko 'Jokowi' Widodo sama-sama ingin memberantas pencemaran lingkungan.

"Kalau tak ada terlalu banyak perbedaan, untuk apa kita ribut lagi pak," kata Prabowo sambil melihat ke arah Jokowi. Jokowi hanya menimpali dengan singkat. "Iya, saya setuju saja." Sesi pertanyaan debat itu berakhir antiklimaks, redam oleh sorakan pendukung dan tepuk tangan.

Isu lingkungan ternyata isu paling jarang disentuh selama kampanye dan debat dua pasang capres dan cawapres. Sepanjang 24 Maret 2019 hingga 8 April 2019, isu ini hanya sempat disinggung sebanyak 8 kali.

Menurut pemberitaan dari sekitar 800 media daring yang diolah mesin media monitoring Beritagar.id selama rentang 24 Maret 2019 hingga 8 April 2019, diperoleh 1.032 kutipan.

Capres Jokowi paling banyak dikutip media daring dengan 472 kutipan. Lalu disusul Prabowo (424 kutipan) dan Sandiaga (129 kutipan). Ma’ruf Amin paling sedikit dikutip, hanya dengan 7 kutipan.

Kedua pasangan calon (paslon) justru lebih banyak membicarakan isu politik, meminta masyarakat untuk memilih mereka dan menargetkan perolehan suara saat berkunjung ke daerah.

Misalnya saat kampanye di Yogyakarta, Jokowi meminta dukungan masyarakat, "Catatan saya, di 2014 kita hanya dapat 56 persen, tapi kita ingin di 2019 ini kita harus dapat di atas 70 persen, sanggup Bapak, Ibu?"

Di kota yang sama, Prabowo meminta hal yang sama, "Kau menyoblos 02 untuk menyelamatkan masa depan anak-anak dan cucu-cucumu. Dan kau pemuda-pemuda, pemudi-pemudi, kau nyoblos 02 untuk orang tuamu, supaya orang tuamu tidak lagi dalam kesulitan."

Isu politik menjadi dagangan mereka saat kampanye. Isu ini melingkupi perolehan suara saat 2014, hoaks politik, ajakan untuk memilih. Padahal, isu politik terkait target perolehan suara ini tak ada dalam visi misi kedua paslon. Alih-alih menjual program mereka, kedua kandidat malah sama-sama jual kecap, alias memuji diri sendiri.

Selain isu politik, kedua paslon punya kecenderungan pembahasan yang berbeda. Jokowi-Ma’ruf misalnya, mereka kerap mengumbar pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi selama masa jabatan Jokowi. Mereka juga menjanjikan adanya pembangunan infrastruktur di sejumlah daerah.

Sedangkan Prabowo-Sandi fokus di isu pertahanan. Terutama saat debat dan berkunjung ke daerah. Narasi yang paling sering diucapkan yakni terkait bagaimana menjaga pertahanan Indonesia dari serangan asing. Narasi tersebut juga ia gunakan untuk isu ekonomi yang ingin menjaga sumber daya alam Indonesia dari tangan asing.

Isu kecap yang jadi jualan mereka juga bukan nomor dua. Secara umum, isu pertahanan yang melingkupi masalah cyber war, TNI, dan pertahanan Indonesia menjadi isu yang banyak mereka kupas setelah urusan perolehan suara. Isu ekonomi, menempati isu ketiga. Isu ini terkait investasi, keuangan, bisnis, tarif listrik, dan pertumbuhan ekonomi.

Isu yang mengikuti di bawahnya adalah pemerintahan, kesejahteraan, sosial, infrastruktur, hukum, kebhinekaan, ketenagakerjaan, transportasi, pendidikan, dan yang paling bontot isu lingkungan. Padahal kedua paslon sebenarnya memiliki misi dalam soal lingkungan, terutama soal energi bersih. Tapi malah jarang dikupas dalam kampanye maupun debat.

Daftar kata-kata yang kerap diobral dua kandidat selama masa kampanye.
Daftar kata-kata yang kerap diobral dua kandidat selama masa kampanye. | Salni Setyadi /Beritagar.id

Kata yang paling sering diucapkan Jokowi-Ma’ruf adalah negara (84 kali), kemudian putih (81 kali), dan baju (44 kali). Selama berkampanye, Jokowi-Ma’ruf kerap mengajak masyarakat untuk ikut serta memakai baju putih dan meramaikan kampanye akbar dan pamungkas di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019). Jokowi juga kerap mengajak masyarakat untuk ikut menyoblos pada April (34 kali).

Kartu juga menjadi dagangan Jokowi saat kampanye. Program kartu disebutnya selama 30 kali, yakni Kartu PraKerja, Kartu Indonesia Pintar atau KIP Kuliah, dan Kartu Sembako.

Sementara Prabowo-Sandi banyak mengucapkan kata rakyat (138 kali), baik mengajak rakyat untuk ikut memilih atau menjual program untuk kesejahteraan rakyat. Duo ini juga kerap menjanjikan turunnya harga (56 kali) pangan atau listrik.

Isu andalan Prabowo, pertahanan (46 kali), juga kerap disebut baik saat debat maupun ketika kampanye di daerah. Prabowo juga kerap menyindir kartu (36) yang diusung Jokowi-Ma’ruf dan kondisi lapangan kerja (35) saat pemerintahan Jokowi.

Sama dengan rivalnya, pasangan calon nomor 02 juga kerap menjanjikan kesejahteraan rakyat dengan menurunkan harga listrik dan sembako.

Nah, apakah obral janji dua kandidat bisa mempengaruhi anda? Pilihan sepenuhnya ada di tangan anda.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR