Anak Kampung Kwau di kaki Pegunungan Arfak, (12/1/2018)
Anak Kampung Kwau di kaki Pegunungan Arfak, (12/1/2018) Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo

Kabut Pegunungan Arfak dan bayang-bayang suanggi

Pegunungan Arfak menyimpan kekayaan satwa dan tanaman endemik, serta kearifan lokal tak ternilai. Selain itu, masyarakatnya masih memegang kebijaksanaan lama.

Lebih dari satu setengah abad silam, Alfred Russel Wallace menginjakkan kaki di tanah Papua yang lengas via Teluk Doreri, perairan sebuah kawasan yang kini bernama Manokwari.

Dan dia getol mengeluarkan pisuhan.

"Tak satu pun tempat yang kudatangi sebelumnya memberikanku kemalangan dan rintangan (seperti di Doreri)," ujarnya. "Bukannya lebih baik dari Kepulauan Aru, segalanya lebih buruk (di sini)".

Wallace naturalis Inggris, berkawan dengan pengarang "The Origin of Species", Charles Darwin. Dia menjelajah pulau-pulau di Nusantara selama delapan tahun hingga 1862 demi menjaring rupa-rupa spesimen hewan dari alam liar.

Ekspedisinya berujung rumusan teori evolusi berdasar seleksi alam yang terpisah dari penelitian Darwin.

Kunjungan ke Manokwari tak diniatkan berlaku singkat. Pasalnya, dia ngotot mau mengejar burung surga atau cenderawasih. Maka, sebuah pondok kayu berlantai bambu seluas kira-kira 30 meter persegi pun didirikan.

"(Saya memasang) jendela besar mengarah ke laut, dan saya letakkan sebuah meja di situ. Di dekatnya membujur tempat tidur," demikian Wallace dalam bukunya yang jadi masyhur, The Malay Archipelago: The Land of the Orang-Utan and the Bird of Paradise menggambarkan rumah sementara dimaksud yang dari laut jaraknya sekitar 200 meter.

Langit Manokwari pada Maret-Juli 1858 itu menjadi saksi bagaimana rombongan Wallace didera sejumlah penyakit dan siraman hujan. "Demam, pilek, dan disentri tak henti menyerang kami," tulis Wallace. Bahkan, seorang kru bernama Jumaat mesti mati karena disentri. Ujung kesialan itu: hingga hari terakhir di Manokwari, Wallace tak kunjung mengimpas hasrat menampak cenderawasih.

"Saya tak melihat (cenderawasih) satu pun. Saya juga tak mendapatkan (spesimen) burung dan serangga jempolan," tulisnya.

Wallace tiada sempat menyigi barat daya Doreri, yakni ke jurusan Pegunungan Arfak, ke hamparan lanskap alam tempat beberapa spesies cenderawasih--dan sejumlah burung endemik Nugini (New Guinea)--beranak-pinak; sebuah tempat yang orang-orangnya secara sinis dia lukiskan berparas "lebih jelek dari orang Doreri...rata-rata berkulit hitam...dengan rambut pendek seperti karpet"; daerah yang bisa dicapai tak sampai seminggu dari Manokwari dengan berjalan kaki.

Seandainya langkah ke Arfak diambil, mungkin dia bakal menampak burung surga dan "mengucap selamat tinggal kepada Doreri" dengan rasa kehilangan besar. "Petualangan ke Nugini ini, yang lama kupikirkan dan kuinginkan, tiada memenuhi harapan," begitu Wallace mendengus sebaliknya.

160 tahun setelah eksplorasi kecil yang gagal itu, Manokwari berubah. Hotel-hotel berbintang tiga atau empat tegak mengawasi Pulau Mansinam; pesawat terbang percaya diri melandas di Bandar Udara Rendani; para pereguk avontur alam liar dari berbagai negeri bersemangat menyiapkan bekal.

Kota itu seperti tak ingin air muka lesu Wallace tercetak pada wajah tiap petualang yang singgah.

Perempuan setempat berjualan hasil bumi di Pasar Wosi, Manokwari, Rabu (10/1/2017)
Perempuan setempat berjualan hasil bumi di Pasar Wosi, Manokwari, Rabu (10/1/2017) | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Pada 10 Januari, dari jendela pesawat yang menampilkan daratan Manokwari saya mencoba menerka titik berlabuh Wallace, tapi kandas. Meski demikian, kulit Airbus Batik Air yang saya dan fotografer, Wisnu Agung, tumpangi mungkin lamat-lamat masih sanggup menyerap gema sumpah-serapah sang naturalis di udara.

Cahaya matahari pukul 6 pagi tampak memerikan garis-garis pantai di bagian belakang Kepala Burung. Hari mungkin akan cerah.

Di pintu keluar bandara, saya menelepon Firman, pria 32 tahun asal Gorontalo. Dia sopir yang akan membawa kami ke daerah Arfak dengan Toyota Hilux putih. Firman rekanan Hans Mandacan, pengelola penginapan Papua Lorikeet di Arfak sekaligus pemandu kami.

"Kami perlu belanja bahan makanan," kata saya saat Firman muncul. "Baik, kalau begitu kita ke Pasar Wosi," dia membalas.

Hans sudah kasih dua opsi untuk bama (ini akronim yang dia ajukan untuk 'bahan makanan'): dia yang berbelanja, atau tamu cari sendiri. Kami ambil pilihan disebut terakhir karena ingin menengok Pasar Wosi.

Ketika menuju ke pasar, saya tanya Firman mengenai kemungkinan berada di Arfak tanpa bama. Dia bilang itu nyaris muskil buat tamu karena di sana tidak ada kios dan warga hanya sedia tukang masak. "Sebenarnya ada pasar di kabupaten (Pegunungan Arfak), tapi di sini lebih lengkap," kata Firman.

Namun, sejujurnya, bukan bama kekhawatiran terbesar, tapi malaria. Beberapa artikel yang saya baca di media massa setempat menyebut Manokwari adalah kabupaten dengan prevalensi tertinggi malaria di Papua Barat.

Hanya Pegunungan Arfak terbebas dari penyakit ditularkan nyamuk itu. "Pegunungan Arfak adalah daerah yang dingin. Nyamuk tidak bisa hidup pada suhu dingin," kata kepala dinas kesehatan setempat.

Hans mengamini cetusan birokrat itu. Lewat SMS, dia berkata, "di tempat saya ada nyamuk, tapi masyarakat tidak pernah sakit malaria".

Firman, 32 tahun, sopir angkutan umum Manokwari-Pegunungan Arfak asal Gorontalo. Di rute itu, mobil lazim untuk angkutan umum adalah Toyota Hilux, Mitsubishi Strada Triton, dan Ford Ranger berkabin ganda.
Firman, 32 tahun, sopir angkutan umum Manokwari-Pegunungan Arfak asal Gorontalo. Di rute itu, mobil lazim untuk angkutan umum adalah Toyota Hilux, Mitsubishi Strada Triton, dan Ford Ranger berkabin ganda. | Bonardo Maulana Wahono /Beritagar.id

Dengan menjinjing kantuk, saya dan Wisnu keluar-masuk los Pasar Wosi. Kini pukul 7 waktu setempat, setara dengan pukul 5 subuh di Jakarta. Tapi, untungnya, pasar belum ramai betul.

Rata-rata penjual datang dari Pulau Jawa dan Sulawesi. Mereka memajang dagangan di lapak semi permanen. Perempuan-perempuan setempat justru banyak menggelar barang jualan di lantai beralas karung.

Di beberapa bagian pasar babi besar mencari makanan di tumpukan sampah, dibuntuti babi-babi kecil. Udara amis Teluk Doreri digulung aroma bumbu giling. Suara dari beberapa bahasa beradu ke langit-langit pasar.

Seorang nona cilik berlari kecil di antara lapak-lapak sayur-mayur, dan membuat leontin salib keperakan di dadanya berayun. Simbol kekristenan itu mencerminkan jerih payah Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler menyebarkan ajaran Protestan di Papua Barat lebih dari 160 tahun silam setelah mereka tiba di Pulau Mansinam.

Ottow dan Geissler menerjemahkan injil ke dalam bahasa Melayu dan menyadur doa ke dalam bahasa setempat. Mereka menularkan keterampilan tangan dan pertukangan. Selain itu, keduanya menjadi mula penghubung masyarakat lokal ke dunia luar.

Lebih dari setengah jam kami di pasar, dan bama untuk empat hari--beras, telur, sayur-mayur, mi instan, demi menyebut beberapa--sudah di tangan. Di tempat Firman memarkirkan si Hilux putih, kentara berbanjar kendaraan 4WD berkabin ganda lain. Mobil-mobil itu menanti penumpang ke arah Arfak.

"Kalau mobil biasa tidak akan kuat menanjak," kata Firman. "Tapi orang Arfak juga tidak akan naik kalau tidak kenal sopirnya". Dalam hematnya, jalan yang mesti ditundukkan memiliki tingkat kesulitan tinggi. "Biar pakai mobil seperti ini (4WD), bisa juga ke jurang kalau tidak biasa," ujarnya.

Dulu kendaraan offroad seliweran rute Manokwari-Arfak adalah Toyota Hardtop. Tapi, itu jenis kendaraan sangat haus bahan bakar. Mobil-mobil 4WD kiwari seperti Hilux, Mitsubishi Strada Triton, dan Ford Ranger lebih ramah bensin.

Omongan Firman bukan bualan. Sekitar dua per tiga rute yang panjangnya kurang dari 50 km melewati bahu dan punggung gunung serta lembah belum beraspal. Ada banyak jalur menyempit: karena termakan longsoran, atau memang berkondisi begitu. Ceruk panjang karena guyuran hujan muncul di badan jalan sebagai jalan air. Jika hujan menguasai hari, ceruk-ceruk itu berubah menjadi drainase yang arusnya cukup untuk menghanyutkan kano.

"Banyak penumpang saya sejak dari kota sudah minum Antimo," kata Firman menyinggung para pemabuk darat. Jalan memiliki daya mengoleng mobil seperti gelombang laut melemparkan kapal nelayan, membanting siapa pun di kabin yang tak siap. Bagi pelanggan mabuk gerak, keadaan sedemikian sungguh kabar buruk.

Jalur ke Pegunungan Arfak, Rabu (10/1/2018). Sebelum ada akses jalan raya, kawasan yang sejak awal 1990-an menjadi cagar alam itu hanya bisa ditempuh dengan pesawat perintis lewat Minyambouw atau Anggi. Bahkan, warga biasa berjalan kaki 3-5 hari untuk ke pusat kota Manokwari.
Jalur ke Pegunungan Arfak, Rabu (10/1/2018). Sebelum ada akses jalan raya, kawasan yang sejak awal 1990-an menjadi cagar alam itu hanya bisa ditempuh dengan pesawat perintis lewat Minyambouw atau Anggi. Bahkan, warga biasa berjalan kaki 3-5 hari untuk ke pusat kota Manokwari. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Firman tak alpa menyimak percakapan di radio panggil yang menempel pada dasbor. Keberadaan radio panggil sepenting kesehatan mobil. Di ruas-ruas tertentu dengan tingkat risiko kecelakaan tinggi, suara berdesakan keluar dari pelantang. Celaka di lokasi jauh dari fasilitas kesehatan jelas bukan pilihan. "Kalau sudah masuk situ, habislah," kata Firman sembari mengarahkan dagunya ke jurang.

Satu unit naik-naik kilo 9 tanjakan panjang...Beringin, beringin, tiga unit menuju...Sabar, Raider, sabar, standar empat dulu, ada R6 di belakang saya...Kilo lima, kilo lima turun-turun satu unit...Yang di tanjakan panjang silakan turun, saya standar empat...Hati-hati R2, bambu-bambu.

Telepon seluler Firman beberapa kali meneriakkan nada dering Jangan Ada Dusta di Antara Kita yang dipopulerkan oleh Dewi Yull dan Broery Marantika. Tapi, kedua tangannya bergeming dari kemudi, hal yang barangkali takkan terjadi di kota-kota besar. Di Jakarta, misalnya, pengemudi berbalas pesan atau menelepon saat menyetir jadi pemandangan biasa. "Saya tidak bisa ambil risiko," katanya.

Di kejauhan, pucuk gunung-gunung Arfak timbul dan tenggelam seolah saling bertukar tempat dengan halimun. Hijau gelap bertahta, beradu kontras dengan lazuardi Januari. Tidak ada yang sanggup menebak sampai berapa lama hijau khas itu bertahan sebelum raung modal menyusup ke tebing tercuram dan lembah terdalamnya.

"Sebentar kita sampai, setelah ini paling sedikit lagi," ujar Firman di sebuah tanjakan bercabang dua.

Igya ser hanjop dan burung pintar

"Cepat sekali kalian sampai!" pekik Hans Mandacan ketika menyambut kami di lereng singkat tempat Papua Lorikeet Guest House--penginapan kelolaannya--bertengger.

Hans ditemani ibu dan adiknya, Lamboh. Mereka semua bertelanjang kaki. Warna loreng tentara pada singletnya sudah muram. Tapi, senyum lebar Hans menundukkan kemuraman itu.

Kompleks penginapan terletak di tengah hutan. Dari jalan raya ia tak terlihat karena dibentengi pohon-pohon. Jalan masuk ke penginapan dikawal pepohonan nan membentuk koridor, dan barisan rhododendron yang serupa langkan. Di ujung lorong sejuk itu jelas nirwana.

Tampak depan Papua Lorikeet Guest House di Pegunungan Arfak.
Tampak depan Papua Lorikeet Guest House di Pegunungan Arfak. | Bonardo Maulana Wahono /Beritagar.id

"Jalan ke surga tidak pernah mudah, Hans," kata saya. Hans tergelak. "Nanti setelah makan siang langsung ke hutan untuk lihat sarang burung pintar," balas pria 35 tahun itu.

Hans anggota Suku Hatam, satu dari empat suku besar di Arfak. Dia warga Kampung Kwau, yang dari penginapan jauhnya sekitar 5 km. Kwau berada di ketinggian sekitar 1100 meter di atas permukaan laut (DPL). Penginapan kami berada di ketinggian kira-kira 1600 meter DPL dan lebih dekat dengan Kampung Syoubri.

Hampir seluruh tamu Hans datang untuk mengamati burung, trekking (lintas alam), atau berkemah di hutan. "Baru bapak yang ke sini mau tahu tentang tanaman obat," ujarnya kepada saya. Tentu saja para peneliti jadi kekecualian.

Orang-orang Kwau dikenal cakap menggali potensi tumbuh-tumbuhan bersifat menyembuhkan. Lokasi fasilitas kesehatan yang jauh memantik siasat pengobatan ketika jatuh sakit. Hutan berharga bagi kehidupan mereka--pula bagi orang Arfak secara luas. Mereka mendapatkan sumber pangan, pangan, dan obat-obatan dari hutan.

"Kami punya prinsip igya ser hanjop, atau berdiri menjaga batas," kata Hans menjelaskan cara warga merespons alam sekitar. Gerak masyarakat mengacu pada konsep itu, yang mewujud pada klasifikasi hutan: susti, nimahamti, dan bahamti. "Rumah, tempat ibadah, tempat berkebun, ada di daerah susti," katanya.

Nimahamti merupakan hutan penyangga. Di area itu tumbuh pohon-pohon besar dan masih bisa dimanfaatkan warga untuk berburu juga meramu atas izin kepala adat. Tapi. membuka hutan untuk kebun atau ladang diharamkan.

Zona teratas adalah Bahamti, seperti arupadhatu pada Borobudur. Ia hutan primer. Pepohonan tumbuh teramat rapat serta terbungkus lumut. Akar-akar pohon saling berkelindan, menampung daun-daun jatuh selama bertahun-tahun, dan menjelma setapak nyaman. Berjalan di atasnya seperti bergerak di atas kasur pegas.

Pada 2016, igya ser hanjop ditetapkan sebagai warisan takbenda Indonesia.

Lamboh saat membersihkan rintangan dari setapak hutan dengan parang, Rabu (10/1/2018).
Lamboh saat membersihkan rintangan dari setapak hutan dengan parang, Rabu (10/1/2018). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Parang selalu melekat pada tangan Hans dan Lamboh saat masuk hutan. Soalnya, rimba penuh dengan aral. "Ada tamu pernah mengira saya pakai buat bunuh orang," kata Hans.

Tiga hari keluar-masuk hutan, saya melihat bagaimana parang itu dimanfaatkan secara efektif. Apalagi saat itu hutan baru saja terkena dampak Siklon Dahlia di ujung November. Pohon-pohon tumbang dan cecabang besar terenggut dari pokoknya. Reruntuhan organik itu berdesak-desakan di permukaan setapak dan menghambat mobilitas. "Aduh, ini bikin tertutup saya punya jalan," ujar Hans.

Namun, di kawasan nimahamti, tempat kami diajak menengok sarang burung namdur atau burung pintar (Amblyornis inornatus)--orang lokal menyebutnya urunyai atau brecew--tak banyak puing-puing pepohonan. Prospek bilik pengamatan rusak juga berhasil dijauhkan dari pikiran. "Saya akan tinggal bapak di situ. Kalau sudah dapat gambar, silakan turun sendiri," katanya menunjuk bilik dimaksud.

Jenis bilik pengamatan burung yang lazim ditemukan di kawasan Arfak. Di satu dinding menghadap sarang terdapat beberapa lubang untuk lensa kamera. Gel antinyamuk jadi senjata andalan di ruang penuh nyamuk ini.
Jenis bilik pengamatan burung yang lazim ditemukan di kawasan Arfak. Di satu dinding menghadap sarang terdapat beberapa lubang untuk lensa kamera. Gel antinyamuk jadi senjata andalan di ruang penuh nyamuk ini. | Bonardo Maulana Wahono /Beritagar.id

Selain cenderawasih belah rotan dan parotia arfak, namdur jadi sasaran utama tontonan terutama oleh para turis yang bukan pengamat tulen.

Padahal, secara fisik burung endemik itu sama sekali tak elok. Keunggulannya justru terletak pada sarang yang mengandalkan kecakapan ala arsitek berpadu obsesi seorang OCD. Jika Anda melongok sarang itu, Anda takkan percaya bahwa bangunan ruwet itu dibangun oleh seekor burung: tepatnya, paruh seekor burung.

Sudah begitu, lokus yang disusun selama berbulan-bulan itu hanya dimaksudkan untuk sebuah tujuan semata: menarik seekor betina untuk kawin. Selepas meluruhkan berahi, namdur jantan akan membiarkan sang betina bersarang di ketinggian pohon untuk bertelur.

Burung namdur sedang merapikan tutup botol minuman sebagai ornamen penghias sarang. Burung ini memiliki kepekaan tinggi dalam komposisi ruang dan warna. Foto ini menampakkan dua kerucut sarang. Hans mengaku baru sekali melihat sarang ganda seperti itu.
Burung namdur sedang merapikan tutup botol minuman sebagai ornamen penghias sarang. Burung ini memiliki kepekaan tinggi dalam komposisi ruang dan warna. Foto ini menampakkan dua kerucut sarang. Hans mengaku baru sekali melihat sarang ganda seperti itu. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Suanggi si ninja

Kami menyambangi Kampung Kwau pada Jumat sore (12/1) yang basah. Hujan jatuh seharian, dan kabut dengan degil menyelubung lereng-lereng gunung. Sebelum berangkat dari penginapan, Hans mengingatkan hari sudah terlalu larut untuk ke Kwau. Tapi, saya berkeras.

Lamboh turut. Dia menenteng parang. Seorang warga Kwau yang sedang main ke penginapan juga masuk ke rombongan. Dia pun membawa parang. Total kami berlima, dua bersenjata.

Beberapa ratus meter menjauh dari penginapan, awan lagi-lagi menggugurkan hujan. Di depan kami sudah nampak Kampung Syoubri, tempat bermukim Zeth Wonggor, pemandu lokal yang jadi masyhur setelah menemani David Attenborough mencari cenderawasih.

Kampung Syoubri bertopeng kabut, Jumat (12/1/2018).
Kampung Syoubri bertopeng kabut, Jumat (12/1/2018). | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Dari Syoubri ke Kwau masih sekitar sejam berjalan kaki, minus permukaan jalan rata, plus tirai kabut tebal. Saya tak tahu apakah kampung itu sudah ada ketika naturalis Italia, Luigi Maria D'Albertis dan Odoardo Beccari, sukses menjadi penjelajah pertama yang menapak jauh dari pantai Manokwari ke pedalaman Arfak pada 1872 untuk mengumpulkan spesimen burung dan serangga.

Setelah melewati gereja dekat Syoubri, jalanan hanya diapit pohon-pohon, ilalang, dan tebing, dan jurang. "Ular!" kata Hans mengarahkan pandang ke satu titik jalan. Kami mengeja langkah, dan memperhatikan. Reptil kecokelatan itu sudah mampus. "Ular yang berbahaya itu yang putih," kata Hans.

Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI) di dekat Kampung Syoubri.
Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI) di dekat Kampung Syoubri. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Keramaian menyibakkan kabut di depan rumah Samuel Mandacan, paman Hans. Orang-orang membicarakan suanggi. "Semalam ada masuk sini," ujar Hans mengenai subyek dimaksud. Rumah tempat orang-orang berhimpun itu tidak terpaut jauh dari gerbang masuk kampung. "Terakhir saya lupa bulan apa masuk sini, tahun lalu," kata Hans.

Suanggi pembunuh bayaran, dan berlaku bak agen intelijen. Sebelum beraksi, seorang suanggi akan mengamati calon korbannya serta segala hal-ihwal mengenainya seperti situasi kampung, rumah, aktivitas rutin. "Dia akan masuk hutan berhari-hari untuk latihan," kata Hans, "supaya tidak gampang tertangkap atau kena panah. Seperti ninja".

Tidak seperti di daerah lain, kata Hans, suanggi di Arfak tak sembarang membunuh orang. Latar belakang pengerahannya bisa macam-macam: dendam keluarga turun-temurun, kesumat pribadi, perebutan kekuasaan, pencurian, atau perzinahan. Alat pembayarannya bisa kain Timor atau kain Toba, selain tentunya uang. "Bisa Rp50 juta ditaruh di atas meja untuk sewa suanggi," ujar Hans.

Walau sudah dikontrak, tak tertutup peluang suanggi membelot. Kalau dia merasa punya kedekatan tertentu dengan calon korban, ia justru dapat berbalik mengeksekusi tuannya.

Hans pernah menjadi korban suanggi ketika kanak. Racun suanggi, yang kemungkinan besar masuk dari makanan, membuat dia sakit parah. Menurut ceritanya, ada satu tumbuhan semak untuk racun dikenai perlakuan istimewa. Di sekitar pohon, tanah digangsir dan diisi air agar daun rontok tak terbawa angin. "Bahaya kalau dia terbang dan masuk ke belanga," kata Hans.

Suasana Kampung Kwau pada sore (12/1) yang dihiasi kabut dan hujan.
Suasana Kampung Kwau pada sore (12/1) yang dihiasi kabut dan hujan. | Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Dulu mudah mengenali suanggi. Jika seseorang merokok di Arfak, maka dia suanggi, kata Hans. "Soalnya, dia akan mengenali sasarannya lewat asap rokok itu. Asapnya akan jalan ke arah lawannya," ujarnya. "Tapi, sekarang, lihat saja," dia berujar ke arah kami, "kalian pun merokok".

Sewaktu tengah di Hutan Kungoi, lokasi pengamatan burung, Hans sempat menunjukkan tanaman penawar racun suanggi. Daun tanaman itu mirip daun salak, tanpa duri di batang. "Bagian yang muda diambil, lalu diambil isinya buat obat racun," katanya.

Setelah terbentur kabar suanggi di Kampung Kwau, perjalanan ke penginapan terasa mencekam. Magrib sudah datang. Serangga penanda senja menyiarkan bahwa terang telah habis.

Kabut kini menjadi dinding tinggi yang senantiasa berada tiga langkah di depan kami. Di balik dinding itu, sebuah bayangan nampak berkelebat tanpa putus: bayangan akan dendam bersulur.

Di belakang saya, Hans dan Lamboh sesekali berbisik dengan bahasa mereka. Di depan saya, kegelapan berdengung. Saya lalu teringat kata-kata Hans di penginapan: suanggi itu bagi kami nyata, bukan bayang-bayang.

BACA JUGA