Klenteng Kwan Sing Bio Tuban. Di belakang bangunan ini penguruh membangun patung tertinggi se Asia Tenggara.
Klenteng Kwan Sing Bio Tuban. Di belakang bangunan ini penguruh membangun patung tertinggi se Asia Tenggara. Sujatmiko

Kain putih penutup patung Khong Co di Tuban

Patung Dewa Khong Co menuai protes. Dianggap sebagai Dewa Perang, bukan Dewa Kejujuran. Pengurus diminta mengubah.

Wajah merah patung Dewa Khong Co Kwan Sing Tee Koen setinggi 30 meter itu telah tertutup oleh kain putih panjang. Kain itu menutupi kepala, juga jubah kebesarannya hingga kaki.

Untuk menutup patung Dewa Khong Co dibutuhkan tenaga ekstra. Pihak Pemerintah Tuban menunjuk tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah, yang punya fasilitas crane di atas 30 meter. Butuh 40 rol kain putih (setiap rol panjangnya 35 meter) atau setara dengan 1200 meter untuk menutup patung itu. Untuk menutup patung itu dibutuhkan waktu lebih dari empat jam.

Patung Dewa Khong Co di Tuban, Jawa Timur itu diresmikan bersamaan dengan ulang tahun Kelenteng Kwan Sing Bio ke-295 tahun, 16 Juli lalu oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan. "Ini bagian kebhinekaan," ujar Zulkifli yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) saat peresmian.

Peresmian berlangsung meriah. Ada penyanyi Rossa dan Afgan. Warna merah mendominasi suasana peresmian itu. Bagi orang Tionghoa, merah berarti simbol kebahagiaan, kemeriahan, dan perdamaian. Halaman Kelenteng Kwan Sing Bio di Jalan RE Martadinata Tuban yang langsung berhadapan dengan laut pantai utara itu riuh dan ramai.

Pengunjung datang tidak hanya dari kalangan jemaat Kelenteng tetapi juga dari luar. Tak ketinggalan, warga Muslim Tuban juga datang berbondong-bondong melihat patung setinggi 30 meter yang terletak di halaman belakang Kelenteng. "Saya datang rekreasi saja," ujar Khoirul Huda (38), warga Kota Tuban, yang datang dua hari sebelum patung ditutup kain putih, 5 Agustus 2017 lalu. Ia datang dengan mengajak istri dan dua anaknya.

Patung itu dibuat dengan dengan melibatkan 55 tukang batu dan pemahat khusus dari Surabaya. Warna merah, kuning, dan hijau mendominasi patung itu dari kaki hingga kepala. Itu bukan warna sembarangan melainkan punya makna. Misalnya, wajah merah Dewa Khong Co berarti sumber kebahagiaan dan keberanian. Warna kuning melambangkan keadilan dan kejujuran. Sedangkan warna hijau dalam jubah dan pakaian menjadi lambang keharmonisan.

Patung itu mulai dikerjakan Maret 2016 dan selesai Juni 2017. Artinya butuh waktu setahun lebih. Biaya yang dihabiskan mencapai Rp2 miliar. Biaya itu berasal dari donatur Kelenteng. Pada pondasi Patung Dewa Khong Co terdapat tulisan; Patung sumbangan keluarga Hindarto Lie Suk Chen. Sedangkan di bawahnya tertulis 'design by' (Koh Po ) Hadi Purnomo dan Ir Djuli Kurniawan.

Koordinator HUT Kelenteng Alim Sugiantoro menyebut, patung Dewa Khong Co, dapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia alias MURI yang hadir di acara peresmian pada 16 Juli itu. MURI memberi penghargaan karena patung berdiameter 5,5 meter dan tinggi 30 meter itu merupakan patung tertinggi di Asia Tenggara.

Namun, tiga pekan setelah patung itu diresmikan mendadak muncul protes dari pelbagai kalangan. Di antaranya berasal dari masa gabungan Lembaga Swadaya Masyarakat menggelar unjuk rasa di depan gedung DPRD Jawa Timur Surabaya pada Senin 7 Agustus 2017.

Saat berdemonstrasi massa membawa sejumlah poster yang menyebut patung itu sebagai Panglima Perang Tiongkok. Karena itu, "robohkan." Begitu bunyi poster itu.

Peresmian patung itu juga mengundang ramai diperbincangkan di media sosial yang menyebut pendirian patung itu belum punya izin.

Sempat ada dialog antara Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Tuban dan Forum Komunikasi Umat Beragama setempat. Ahirnya, setelah dialog itu pengurus Kelenteng terpaksa menutupi patung itu dengan kain putih pada 8 Agustus lalu. "Itu inisiatif pihak kelenteng," ujar Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Tuban, Rohman Ubait pada Beritagar.id, Kamis (31/8/2017).

Saat ini, kata Rahman, semua pihak sedang cooling down sambil menunggu pengurus menyiapkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) khusus untuk patung Khong Co. Masalahnya lebih ke teknis, dan tidak ada persoalan lain di luar itu. "Kami di sini sebenarnya adem dan enggak ada masalah," katanya.

Dewa Khong Co Kwan Sing Tee Koen di Tuban sebelum dan setelah menuai protes.
Dewa Khong Co Kwan Sing Tee Koen di Tuban sebelum dan setelah menuai protes. | Sujatmiko /Beritagar.id

Rekomendasi FKUB

Dalam pertemuan antara FKUB Tuban dan pengurus Klenteng, FKUB merekomendasikan sejumlah rekomendasi. Pertama, Patung Khong Co dengan sosok sebagai Panglima Perang Tiongkok harus diubah. Jika yang berdiri saat ini tangan kanannya membawa golok besar dan tangan kirinya memegang gagang pedang, harus diubah.

Menurut Ketua FKUB Tuban, Ahmad Munzir, nantinya kedua tangan patung memegang kitab suci, sebagaimana yang dianut umat di Kelenteng Kwan Sing Bio.

Kenapa harus diubah? Karena, kata Ahmad Munzir, ini merujuk pada umat Tri Dharma, yang menganggap Khong Co adalah Dewa Keadilan dan bukannya panglima perang. Karenanya, sosok patung itu harus menggambarkan sifat seorang yang adil, bijaksana, dan berilmu tinggi.

Ketua Umum Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban, Gunawan Putra Wirawan membenarkan sosok Dewa Khong Co ini. "Dewa Khong Co ini adalah Dewa Keadilan dan bukan seorang Panglima Perang," katanya. Lamban keadilan dan kejujuran itu disimbolkan pada warna kuning yang ada di patung itu.

Karenanya, patung dan gambar Dewa Khong Co itu biasanya dipasang di sejumlah tempat oleh penganut Tri Dharma. Baik di rumah maupun perkantoran keturunan Tionghoa.

Rekomendasi lain, pengurus Klenteng wajib membuat penghijauan di lahan sekitar Patung Dewa Khong Co yang ada di belakang Kelenteng seluas 4 hektare itu.

Menurut Ahmad Munzir, usulan itu sudah disepakati bersama antara Pemerintah Tuban, tokoh masyarakat dan juga dari Pengurus Kelenteng Kwan Sing Bio. Dasarnya adalah keberadaan Kota Tuban yang punya falsafah Daerah dengan semangat kebersamaan alias spirit of harmony.

Konsep tersebut datang dari Sunan Bonang--salah satu dari Wali Songo yang makamnya ada di Tuban. Di mana di Tuba hidup beragam etnis yakni Jawa, Arab dan Cina. Ketiga etnis ini sudah hidup berdampingan dan rukun pada 14-15 abad silam.

Sayang Wirawan, tidak mau menjawab soal rekomendasi atas pertemuannya dengan FKUB dan sejumlah tokoh itu. beberapa waktu lalu. Alasannya, itu masalah sensitif. "Saya harus membatasi berkomentar," ujarnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR