Tiga pemain Cek Toko Sebelah the Series
Tiga pemain Cek Toko Sebelah the Series
SERIAL

Kala sineas menjadikan serial sebagai wahana kreasi baru

Kehadiran penyedia layanan pengaliran video manasuka alias video on demand memberikan angin segar. Sejumlah sineas film kini mulai ramai menggarap serial untuk tayang di layanan tersebut.

Ada fenomena menarik yang muncul setahun belakangan. Beberapa sineas film kenamaan di tanah air punya wahana kreasi lain mencurahkan kreatifitas dalam medium baru bernama serial.

Dikatakan medium baru karena penayangannya bukan lewat pantulan di layar lebar bioskop, melainkan hadir secara berkala di layar berukuran lebih kecil, bahkan mampu digenggam oleh penonton karena bisa diakses melalui perangkat bergerak seperti telepon seluler (ponsel).

Salah satu sineas yang sedang disibukkan menggarap serial adalah Ernest Prakasa (36). Beritagar.id secara eksklusif diundangnya menyambangi lokasi syuting serial Cek Toko Sebelah (CTS) di kawasan Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (22/5/2018) malam.

Kala roda mobil yang kami tumpangi parkir tak jauh dari toko bertuliskan "Jaya Baru", tempat sebagian besar adegan serial itu berlangsung, Ernest sedang rehat di mobilnya setelah seharian syuting.

"Serial ini berjumlah 12 episode, durasi tiap episode sekitar 20-24 menit. Gue sama Arie Kriting dan Bene Dion masing-masing menyutradarai empat episode," ungkapnya.

Perihal alasan menggarap serial di tengah kesibukannya mempersiapkan syuting film Milly & Mamet yang akan tayang Desember 2018, Ernest mengaku ingin mengabulkan permintaan banyak penggemar versi film CTS.

Film yang mengisahkan drama kehidupan antara Koh Afuk (diperankan Chew Kin Wah) dengan dua putranya, Yohan (Dion Wiyoko) dan Erwin (Ernest), termasuk film terlaris di Indonesia kala rilis penghujung 2016. Jumlah penontonnya lebih dari 2,6 juta.

Gelimang penghargaan juga didapatkan, antara lain Film Bioskop Terpuji di Festival Film Bandung 2017, Penulis Skenario Asli Terbaik di Festival Film Indonesia 2017, dan Sutradara Terbaik di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2017.

Apa yang disajikan Ernest sebagai pemain, sutradara, dan penulis skenario tak dinyana kuat melekat dalam benak penonton. Alhasil "teror" para penggemar yang meminta kelanjutan film tersebut terus menghinggapi akun media sosial miliknya.

Oleh karena itu, bersama Starvision, Ernest akhirnya mengabulkan permintaan tersebut. Jalur serial kemudian dipilih.

"Soalnya gue masih percaya kalau film ini gue bikinin sekuel, enggak mungkin sebagus yang pertama. Lantas, untuk apa bikin sesuatu yang kamu sudah tahu enggak akan sebagus aslinya? Bukan soal kualitasnya, tapi soal pengalaman pertama orang saat menonton. Itu enggak akan bisa kita menyamainya," tegasnya.

Lini masa penceritaan CTS the Series bukanlah prekuel atau sekuel, melainkan sidequel. Ernest mengambil periode ketika Erwin cuti sebulan dari kantornya untuk mengurusi toko yang tak banyak dieksplorasi dalam film.

Pendekatan ini berbeda ketika SinemaArt menjadikan Ada Apa dengan Cinta? dan Jomblo tayangan serial televisi pada era 2000an.

Seturut berkembangnya penyedia layanan pengaliran video manasuka alias video on demand (vod) di Indonesia, Hooq dipilih sebagai kanal penayangan CTS the Series.

Dituturkan Ernest, awalnya ada sebuah stasiun televisi yang berminat menayangkan versi serial CTS. Ketika Chand Parwez, produser sekaligus pemilik Starvision, menyampaikan hal tersebut, pria yang kini telah menyutradarai tiga film layar lebar itu menolak dengan halus.

Alasannya karena belum siap mental. "Lo tahu sendiri kan, riwayat serial di stasiun televisi ditentukan oleh rating. Gue enggak mau sudah capek-capek syuting, menulis, dan main, hanya sempat tayang beberapa episode tiba-tiba dihentikan karena ratingnya jelek," akunya.

Starvision kemudian menawarkan serial ini kepada penyedia layanan vod dengan sistem beli putus. Hooq membeli dari Starvision sesuai bujet yang disepakati untuk satu musim penayangan.

"Gue secara pribadi enggak masalah. Karena dengan demikian memungkinkan kami men-develop cerita jadi lebih utuh sepanjang satu musim. Tidak perlu takut berhenti di tengah jalan. Orang juga bisa menikmati kapan mereka sempat," tambah Ernest.

Prisia Nasution (kiri) dan Adipati Dolken dalam serial The Publicist arahan Monty Tiwa yang tayang di Viu
Prisia Nasution (kiri) dan Adipati Dolken dalam serial The Publicist arahan Monty Tiwa yang tayang di Viu | Viu Indonesia

Sebelum lebih jauh, tak ada salahnya merujuk sekilas bagaimana ceritanya hingga serial menjadi pilihan lain para sineas di Indonesia untuk berkreasi.

Awalnya penggunaan istilah serial belum populer di Indonesia. Medio 80-an, sebutan lazim untuk produksi tayangan drama yang ditayangkan oleh stasiun televisi adalah tv play.

Istilah tv play kemudian berganti menjadi movie for television (mtv) mengikuti perpindahan yang terjadi di negara asalnya. Ini untuk membedakannya dengan soap opera alias opera sabun yang ceritanya bersambung, atau telenovela untuk menyebut tayangan drama asal Amerika Selatan. Jika disesuaikan konteks, padanan mtv setara dengan ftv (film televisi) sekarang.

Saat kondisi perfilman mulai limbung pada penghujung 80-an, TVRI sebagai satu-satunya stasiun televisi di Indonesia kala itu mulai menggarap tayangan drama yang terdiri dari beberapa episode.

Langkah tersebut untuk mengimbangi banyaknya serial impor yang juga mereka tayangkan, seperti Little House on the Prairie (yang mengilhami Keluarga Cemara), Manimal, Dreams, the A-Team, atau Oshin.

Lama-kelamaan, stasiun televisi milik pemerintah itu membeli paket drama yang dibuat oleh rumah produksi di luar institusi mereka.

Tak mengherankan jika layar kaca TVRI semarak dengan berbagai tayangan drama berseri. Sebutlah misalnya Losmen, Pondokan, Aku Cinta Indonesia, Jendela Rumah Kita, dan masih banyak lagi. Tiap episode tayang sepekan sekali.

Musim panen tayangan drama Indonesia dimulai awal era 90an. Kehadiran beberapa stasiun televisi swasta secara bertahap juga semakin merangsang tumbuhnya produk tayangan sejenis.

Fenomena tersebut kemudian melahirkan sebuah istilah baru bernama sinema elektronik (sinetron) karena pembuatannya tidak menggunakan pita seluloid laiknya film.

Ada dua narasi besar terkait siapa persona yang memppopulerkan istilah ini.

Mendiang Teguh Karya menunjuk nama Soemardjono, Dekan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta periode 1972-1980.

Sementara cerita lain merujuk pada Arswendo Atmowiloto, pemimpin redaksi Tabloid Monitor yang punya tiras besar dan rutin menulis artikel tentang dunia pertelevisian di Indonesia.

Karena sudah tidak sesuai perkembangan zaman, penggunaan istilah mtv, soap opera, atau sinetron pelan-pelan mulai ditinggalkan.

Pasalnya sekarang era digital. Membuat tayangan drama untuk televisi --bahkan film-- kini menggunakan peralatan yang serba digital. Maka istilahnya pun terpangkas cukup dengan menyebut series atau serial.

Jika menilik sejenak ke belakang, bukan cerita baru mendapati sutradara layar lebar, seperti halnya Ernest, yang kemudian menggarap serial.

Ketika perfilman nasional kolaps memasuki dekade 90an, sejumlah sutradara terang kelimpungan musabab tak ada lagi tempat bagi mereka untuk berkreasi.

Jadilah kemudian deretan sutradara kenamaan Indonesia, sebutlah misalnya Teguh Karya (Arak-Arakan), Ali Shahab (Nyai Dasimah dan Pepesan Kosong), Arifin C. Noer (Tasi, Oh, Tasi dan Keris), Putu Wijaya (Perlu Ada Sandiwara), dan Dedi Setiadi (Siti Nurbaya) turun tangan menggarap serial di televisi.

Kakak beradik sutradara trilogi film The Matrix, Andy Wachowski (kiri) dan Lana Wachowski (kanan), menyutradarai serial fiksi ilmiah Sense8 yang tayang di Netflix
Kakak beradik sutradara trilogi film The Matrix, Andy Wachowski (kiri) dan Lana Wachowski (kanan), menyutradarai serial fiksi ilmiah Sense8 yang tayang di Netflix | Paul Buck/EPA

Nun jauh di Amerika Serikat sana, yang katanya kiblat industri perfilman, pertelevisian, dan kini layanan vod, sejumlah sineas film papan atas terlebih dahulu nyemplung membesut serial.

Martin Scorsese sempat menyutradarai pilot episode serial Boardwalk Empire dan Vinyl. Lalu ada Wachowski Bersaudara yang jadi otak Sense8, Rian Johnson dengan Breaking Bad, atau 20 episode The Knick arahan Steven Soderbergh.

Di Indonesia, beberapa nama sineas yang menggarap serial untuk penyedia layanan vod sebelum Ernest dalam kurun setahun belakangan, antara lain Nia Dinata dan Pritagita Arianegara (Switch tayang di Viu), Monty Tiwa (The Publicist - Viu), serta Ifa Ifansyah (Dosa - Tribe).

Joko Anwar yang sebelumnya menyutradarai film Pengabdi Setan bahkan telah menggarap serial horor bertajuk Halfworlds untuk HBO Asia tiga tahun silam.

Pria asal Medan yang mengawali karier sebagai penulis naskah itu bahkan kembali diminta menyutradarai satu dari enam episode serial Folklore oleh stasiun televisi yang sama.

Serial yang mengisahkan kekayaan mitos di Asia itu telah menyelesaikan proses syuting pada April 2018. Dilansir contentasia.tv (25/4), Folklore dijadwalkan tayang penghabisan tahun ini.

Ketertarikan beberapa layanan vod menayangkan serial karya sineas tanah air sejalan dengan tujuan mereka menghadirkan konten orisinal. Untuk saat ini, menyajikan serial adalah yang paling memungkinkan.

Beda cerita dengan layanan vod semodel Netflix atau Amazon Prime yang bahkan memproduksi film panjang sendiri.

Menurut lontaran pihak Viu, kehadiran serial orisinal asal Indonesia berhasil menambah jumlah pengguna.

"Sampai dengan saat ini, reach sudah sekitar tujuh juta penonton Switch. Performanya 10 kali lipat dibandingkan serial-serial Indonesia yang non original," kata Myra Suraryo, Head of Marketing & Ad Sales Viu Indonesia, dalam jumpa pers di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat (22/11/2017).

Potensi bagus tersebut jadi alasan Viu kembali menggarap serial orisinal seperti The Publicist arahan Monty yang tayang beberapa bulan setelah Switch.

Monty mengaku cukup menikmati wahana berkreasi barunya. Mengerjakan serial memungkinkannya mengeksplorasi cerita dan karakter dengan cara yang tidak terbatas.

Nia Dinata juga punya kesan menyenangkan. Penyebabnya karena menggarap serial tidak bikin stres karena ia bisa lebih bebas berkreasi.

Kebebasan menuangkan ide tanpa dibenani rating juga menjadi alasan para sineas indie di AS bersedia mengerjakan serial.

"Untuk kreator seperti saya, digital itu lebih menarik dan membebaskan," ujar Josh Greenbaum yang mengerjakan docuseries berjudul Behind the Mask bersama Hulu.

Beda dengan stasiun televisi konvensional, sistem prime time tidak berlaku bagi penyedia layanan vod. Mereka lebih terbuka dengan berbagai proyek unik nan inovatif. Model tayangan tersebut biasanya sulit menembus stasiun televisi konvensional.

Dari pengalaman Ernest selama mempersiapkan CTS the Series, membuat serial relatif lebih ringan secara teknis.

"Karena lokasinya hanya di situ-situ saja mengikuti jalan cerita serialnya. Beda waktu gue menyutradarai film, ada tuntutan production value harus tinggi," imbuhnya.

Kebersediaan penyedia layanan vod yang mulai banyak menayangkan serial, bagi Ernest, merupakan hal yang mesti disambut gembira.

"Buat gue ini semacam stepping stone, tempat latihan, dan regenerasi yang bagus untuk penulis dan sutradara, mungkin asisten sutradara atau penata artistik sebelum masuk ke step yang lebih besar seperti film."

Apakah tren semakin maraknya layanan pengaliran video menggarap serial orisinal akan berdampak terhadap sinetron di stasiun televisi konvensional?

"Kayaknya sih penonton sinetron di stasiun televisi dengan serial yang tersedia dalam layanan video on demand enggak head to head. Masing-masing punya pola konsumsi dan segmentasi berbeda," pungkas Ernest.

BACA JUGA