Umat kristiani mengikuti ibadah misa malam Natal di Gereja Immanuel, Jakarta, Senin (24/12/2018). Foto sekadar ilustrasi.
Umat kristiani mengikuti ibadah misa malam Natal di Gereja Immanuel, Jakarta, Senin (24/12/2018). Foto sekadar ilustrasi. Dhemas Reviyanto / Antara Foto
TSUNAMI SELAT SUNDA

Kasih Natal dalam tsunami Selat Sunda

Tiga hari sebelum Natal, tsunami menghantam pesisir barat Banten. Di Carita, perayaan Natal berlangsung penuh haru.

"Biasanya kami adakan Doa Malam Natal, tapi sekarang kebanyakan jemaat mengungsi," kata Markus Taekz (59), pendeta Gereja Pantekosta Rahmat Carita.

Senin malam (24/12/2018), Gereja Pantekosta Rahmat Carita tampak sepi. Tiada misa Natal yang biasa digelar pada malam kelahiran Sang Juru Selamat.

Malam itu senyap belaka. Sepi hanya pecah kala gemuruh menggeram. Guruh memang kerap kirim dahanam dari langit. Kadang kilatnya bertubrukan di sekitar Anak Krakatau. Gelombang laut juga sesekali membawa deru.

Gereja Pantekosta Rahmat Carita hanya berjarak sekitar 500 meter dari bibir Pantai Carita, dan lebih kurang 50 kilometer dengan Anak Krakatau yang menjulang di tengah Selat Sunda.

Bila dilihat dari luar, gereja itu tampak seperti rumah biasa. Halamannya yang jembar beralas paving block dengan rumah tipe 100 berada di tengahnya.

Rumah itu tersambung dengan satu aula yang berfungsi sebagai gereja. Markus, sebagai pengampu gereja, menempati rumah tersebut.

Rumah ibadah itu terletak di Desa Penjamben Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, salah satu area terdampak tsunami Selat Sunda.

Sabtu malam (22/12/2018), air bah dari laut menghantam pesisir barat Banten dan pantai timur Lampung.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Selasa (25/12/2018), menginformasikan korban tewas dalam petaka itu telah menyentuh angka 429. Sedangkan korban hilang berjumlah 154 jiwa dan luka-luka mencapai 1.459 orang.

Di Carita, setelah tsunami, warga mudah panik. Kabar mengenai "air pasang naik" bisa memantik warga bergegas menuju tempat-tempat pengungsian yang lebih tinggi--rumah warga, kantor pemerintah, sekolah, hingga penginapan-penginapan.

Kasak-kusuk macam itulah yang kembali terjadi pada malam Natal. Warga pilih mengungsi. Demikian halnya jemaat gereja, termasuk Nikson Sihombing (45).

Merasa khawatir, Nikson mengungsi ke Kantor Kecamatan Jiput, sekitar 40 menit dari rumahnya. Gedung pemerintah itu terletak di dataran yang lebih tinggi.

"Rumah saya sekitar 25 meter dari kejadian (tsunami) itu," tutur lelaki yang tinggal bersama istrinya di BTN Sentul Teluk Labuan, Pandeglang itu. Lokasi rumahnya memang dekat dari Kampung Nelayan di Teluk Labuan yang habis diamuk tsunami.

Jemaat boleh pergi, tidak demikian dengan Markus. Ia memilih berjaga di gereja.

"Siapa yang jaga umat dan gereja kalau pendetanya lari?" ujarnya setengah berkelakar.

Gereja Pantekosta Rahmat Carita merupakan satu-satunya gereja di Pandeglang. Rumah ibadah itu didirikan pada 1968.

Dulu gereja berada dekat Pantai Carita. Pada 1989, barulah gereja bergeser ke tempatnya yang sekarang.

Sebagai satu-satunya gereja di Pandeglang, kata Markus, bangunan itu menjadi tempat peribadatan seluruh umat Kristen.

"Yang biasa (ikut berdoa) di sini itu Protestan atau Katolik," kata lelaki asal Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur itu.

Saya lalu memperlihatkan potongan berita kepada Markus. Isinya ucapan Natal dari Paus Fransiskus, berikut ungkapan solidaritas dan doa kepada korban tsunami Selat Sunda. Markus tersenyum.

Sebuah sepeda anak tertinggal di lokasi bencana tsunami di kawasan Carita, Banten, Senin (24/12/2018).
Sebuah sepeda anak tertinggal di lokasi bencana tsunami di kawasan Carita, Banten, Senin (24/12/2018). | Akbar Nugroho Gumay /Antara Foto

Solidaritas yang sama juga jadi landasan bagi Benny Halim.

Pendeta yang mengampu Gereja Kristen Indonesia (GKI) Serang itu langsung mengoordinasikan jemaatnya begitu mendengar kabar pilu tsunami Selat Sunda.

Benny dan beberapa jemaatnya bergabung dalam relawan Gerakan Kemanusiaan Indonesia, yang juga kepanjangan tangan dari GKI.

Lembaga yang disebut terakhir merupakan persekutuan gereja-gereja Kristen Protestan di seluruh Indonesia, yang berkantor pusat di Kelapa Gading, Jakarta.

Sejak Senin (24/12/2018), Gerakan Kemanusiaan Indonesia membuka pos layanan kesehatan di Pesanggrahan Perum Perhutani, Desa Sukarame, Carita, Pandeglang.

"Kami mengisi slot yang belum sempat diisi pemerintah, misalnya di sini (Perhutani), kami memilih tempat ini karena mendapat informasi warga butuh pelayanan kesehatan dan makanan," ujar Benny, di lokasi bakti sosialnya, Senin (24/12/2018).

Gerakan Kemanusiaan Indonesia menurunkan empat dokter, satu apoteker, satu psikolog, dan tiga pendamping.

Di antara para pendamping itu ada pula Sutikno Marto Utomo (69). Sutikno harus melupakan agenda Natal bersama keluarga. Pensiunan BUMN itu pilih jadi relawan demi membantu korban tsunami Selat Sunda.

Menurut Sutikno, kegiatan sosial GKI akan berlangsung hingga 14 hari--sepanjang fase tanggap darurat tsunami Selat Sunda.

Sejauh ini, relawan GKI telah melayani 185 orang dari total 485 pengungsi yang berdiam sementara di Perum Perhutani, Carita.

Sutikno bilang semua kerja dilakukan timnya dengan sukarela. "Kami di sini tidak diberi anggaran. Terkecuali untuk makanan dan transportasi," kata dia.

Relawan GKI juga berencana menuju Kecamatan Sumur, wilayah terparah dalam tsunami Selat Sunda. Persis pada momen Natal mereka bergerak dari Carita.

Namun, Selasa sore (25/12/2018), rombongan mereka mesti tertahan di Puskesmas Panimbang, Panimbang Jaya, Kecamatan Panimbang.

Mereka singgah lantaran melihat warga yang masih butuh bantuan kesehatan. "Mungkin besok baru sampai ke Sumur," kata Sutikno.

***

Pendeta VK Siwi Margaretha (tengah) memimpin Kebaktian Natal di Gereja Pantekosta Rahmat, di Carita, Pandeglang, Banten, Selasa (25/12/2018).
Pendeta VK Siwi Margaretha (tengah) memimpin Kebaktian Natal di Gereja Pantekosta Rahmat, di Carita, Pandeglang, Banten, Selasa (25/12/2018). | Asep Fathulrahman /Antara Foto

Lantaran tak ada misa di malam Natal, Markus mengundang saya untuk hadir dalam perayaan Natal yang akan dilakukan keesokan harinya.

Selasa (25/12/2018), Gereja Pantekosta Rahmat Carita menggelar kebaktian bertema "Rencana Tuhan Tidak Ada yang Gagal", dipimpin oleh Pendeta Siwi Margaretha.

Kali ini gereja memang lebih ramai dibandingkan pada malam Natal. Meski suasana muram tak terhindarkan. Kerlip pohon terang di samping mimbar tak mampu membuang sedih.

Barisan kursi terlihat lengang. Padahal, kala perayaan Natal terdahulu, panitia pelaksana selalu menyediakan tenda untuk mengantisipasi jemaat yang tak kebagian kursi di dalam gereja.

"Biasanya jemaat yang ikut itu sekitar 200-an, tapi karena mengungsi yang hadir di sini sekitar 100-an," ujar Markus.

Sesi pembacaan doa pada sore itu dipimpin Pendeta Rusman Anita Sitorus.

"Berikan kekuatan pada seluruh masyarakat Pandeglang yang anggota keluarganya menjadi korban tsunami ya, Tuhan," demikian satu petikan doa perempuan pendeta itu.

Haru menggantung saat doa diucapkan. Beberapa jemaat meneteskan air mata.

Markus ikut dalam barisan jemaat dengan balutan jas dan kemeja hitam. Begitu pula dengan Nikson Sihombing yang mengenakan kemeja biru dan celana kain.

Sekitar pukul 18.00 WIB, acara selesai. Pihak gereja memang mengatur agar perayaan Natal lekas selesai. Lebih-lebih, pada hari itu, kabar air laut yang naik menciptakan ketakutan akan bayang-bayang tsunami.

"Biasanya, kami selesai jam 7 atau 8. Tapi karena banyak yang jadi pengungsi dan kabar air laut naik jadi dipercepat," tutur Markus.

Setelah acara selesai, jemaat tak langsung beranjak. Kehangatan kasih Natal tergurat dalam keakraban para jemaat.

Mereka meriung dalam kerumunan-kerumunan kecil. Beberapa orang dewasa, termasuk Markus dan Nikson, bertukar cerita tentang peristiwa tsunami yang menimpa mereka. Sesekali tawa mereka tergurat lewat senyum.

Sepintas tak ada raut susah di paras mereka, betapa pun perasaan was-was masih menghantui.

Di sudut lain, anak-anak kecil tampak berlari dan bermain. Ada pula beberapa remaja yang menjajal gitar listrik dan bass yang tersedia di sisi utara gereja.

Markus bilang bencana bukan halangan untuk merayakan Natal. "Ajal ada di tangan Tuhan. Apa kuasa Manusia?" ujarnya seraya tersenyum.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR