Keterangan Gambar : Warga sedang menikmati kopi di warung kopi Cut Zen atau Kupi Beurawe, Kota Banda Aceh. © Beritagar.id / Oviyandi

Aceh adalah negeri sejuta warung kopi. Keberagaman hadir di atas meja, di antara cangkir yang berisi pekatnya kopi.

Sekelompok muda mudi mengelilingi meja sepanjang dua meter di bawah pohon mangga, di pekarangan warung kopi, Senin siang (21/8). Mereka bersandar di kursi masing-masing. Beberapa orang mengobrol dan yang lain menekuri ponsel. Di atas meja tampak cangkir-cangkir kopi setengah tandas, bungkus-bungkus rokok, dan piring kecil berisi kue.

Itu pemandangan khas di warung kopi Aceh: sekelompok orang ngopi--mengopi atau ngupi, dalam lafaz Aceh-- sambil berbincang.

Tempat anak-anak muda itu berkumpul adalah Solong Premium, satu warung kopi di kawasan Beurawe, Kota Banda Aceh. Di dalam warung, meja-meja kayu bercat hitam tersusun rapi. Beberapa terisi, sedang yang lain kosong.

Pengunjung Solong Premium beragam, dari muda hingga tua. Hari itu, Bupati Aceh Barat Daya terpilih, Akmal Ibrahim, tampak di sana. Dia bersama beberapa orang mengelilingi satu meja bundar. Meja di sampingnya diisi anak-anak muda yang mengobrol seru, tak acuh sekitar.

Di sana, Beritagar.id berjumpa Fauzan (30), kader salah satu partai nasional di Aceh. Dia mengaku sering ke warung kopi demi berjumpa koleganya.

"Sehari bisa empat sampai enam kali," katanya. Sekali ngupi, dia habiskan waktu satu-dua jam tergantung topik percakapan.

Kebiasaan itu, kata Fauzan, sudah dilakoni sejak 2005 ketika kuliah di Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. "Waktu mahasiswa, konsolidasi untuk demonstrasi juga di sini," katanya.

Fauzan menyebut meja kopi sebagai ruang yang bisa melunturkan sekat politik. Dia mengaku bisa "bicara lepas" kala di meja kopi. "Kita bisa bicara lepas dengan lawan politik ketika di warung kopi. Kita bisa tertawa bersama."

Suasana pagi di warung kopi Cut Zen atau Kupi Beurawe di kawasan Beurawe, Kota Banda Aceh.
Suasana pagi di warung kopi Cut Zen atau Kupi Beurawe di kawasan Beurawe, Kota Banda Aceh.
© Oviyandi /Beritagar.id

Solong Premium merupakan satu dari sekian banyak warung kopi di Kawasan Ulee Kareng dan sekitarnya (Lambhuk dan Beurawe)--pusat warung kopi di Banda Aceh.

Warung kopi besar di kawasan itu antara lain Cut Nun, Cut Zen, Cek Yuke, dan Romen. Saking banyaknya, di kawasan Lambhuk, warung-warung kopi berdekatan jaraknya. Rerata warung buka dari pagi sampai tengah malam.

Solong Premium merupakan cabang dari warung kopi Jasa Ayah - Solong di kawasan simpang tujuh Ulee Kareng--berjarak sekitar tiga kilometer dari Beurawe. Warung kopi Jasa Ayah - Solong, sejak damai bersemi pada 2005, jadi salah satu titik kumpul politisi dan aktivis di Banda Aceh.

Pemiliknya, Haji Nawawi (58), menyebut usaha itu dirintis sejak 1974 oleh orang tuanya, Haji Muhammad. Adapun kata "Solong" diambil dari nama orang Tionghoa yang sempat mempekerjakan ayahnya.

"Solong nama Tionghoa itu. Ayah saya mengambil nama itu jadi nama warung kopi ini," kata Nawawi.

Pada 1965, kata Nawawi, Solong pergi ke Medan dan tak kembali lagi. Walau begitu, menurut Nawawi, dirinya masih berhubungan dagang dengan keturunan Solong di Medan.

Rasa-rasanya, warung kopi di Aceh tak lepas dari pengaruh warga keturunan Tionghoa.

Sekejap saja duduk, pemerhati kuliner bisa menyadari persamaan teknik menyaring di warung kopi Aceh dengan warung kopi etnis Tionghoa, Kopitiam--tersebar di sepanjang Selat Malaka, seperti di Singapura, Penang, Malaka, Batam, Pekanbaru, dan Medan.

Keduanya sama-sama menggunakan tapis berbentuk kerucut untuk menyaring kopi. Besar kemungkinan, teknik itu dikenalkan warga keturunan Tionghoa kepada orang Aceh.

Joni sedang membuat kopi menggunakan tapis untuk pelanggannya di warung Ie Leube, Kota Sigli.
Joni sedang membuat kopi menggunakan tapis untuk pelanggannya di warung Ie Leube, Kota Sigli.
© Oviyandi /Beritagar.id

Sabtu pagi (12/8), Beritagar.id menyambangi warung kopi milik seorang keturunan Tionghoa di Kota Sigli, Kabupaten Pidie--sekitar dua jam perjalanan dari Banda Aceh.

Warung kopi itu bernama Ie Leube, menempati satu toko di tengah pasar Kota Sigli. Lokasinya masuk kawasan Desa Blok Bengkel. Pada masa kolonial dan awal kemerdekaan Indonesia, Blok Bengkel terkenal sebagai area bengkel kereta api terbesar di Aceh.

Pengelola Ie Leube bernama Joni (62) alias Tjuk Pin. Nama Tionghoa ditanggalkannya pada medio 1970--semasa Orde Baru lepas huru hara 1965. Dia mengelola Ie Leube bersama istrinya, Sania. Mereka juga dibantu dua pemuda Sigli sebagai karyawan.

Ketika Beritagar.id berkunjung, warung kopi berukuran empat kali delapan itu tampak ramai. Delapan meja di dalamnya hampir penuh oleh pengunjung yang tengah merasai kopi dan sarapan kue. Ada pula warga yang datang pesan kopi untuk dibawa pulang.

Joni tampak sibuk menyeduh kopi. Dua tangannya bergerak beraturan, tangan kanan mengangkat tapis dan tangan kiri berjaga memegang wadah untuk menampung kopi yang keluar di ujung tapis.

Sesekali, dengan Bahasa Aceh berdialek Pidie, Joni memaki pengunjung. "Makian itu bercanda, karena mereka sudah dekat dengan saya. Saya tidak melakukannya, kalau tidak kenal," kata Joni.

Salah seorang pengunjung, Syarifuddin (72) mengaku jadi pelanggan Ie Leubeu sedari muda. Dia bilang, nyaris tak pernah absen ngupi saban pagi.

Seperti pagi itu, dia duduk di meja paling depan, dekat teras. Banyak orang keluar masuk warung menyapanya dengan panggilan "Pak Din".

"Selesai salat Subuh ke sini, biasa sampai jam 9. Bisa lebih cepat, kalau antar cucu ke sekolah," kata pensiunan Kantor Pos Kabupaten Pidie itu. "Sejak tahun 60-an di sini."

Dulu, kata Syarifuddin, warung Ie Leubeu dikelola Sun Nyen, ayah Joni. Katanya, Sun Nyen berasal dari Kembang Tanjung, salah satu kecamatan di Kabupaten Pidie.

Nama Ie Leubeu diambil dari nama kampung tempat tinggal Sun Nyen di Kembang Tanjung. Pada masa kolonial, daerah itu merupakan kawasan pelabuhan yang terhubung dengan Selat Malaka.

Syarifuddin bercerita, pada awal kemerdekaan banyak warga Tionghoa di Kota Sigli. "Ada ribuan, namun karena PP (nomor) 10, semua pindah. Tidak boleh tinggal lagi di sini," kata Syarifuddin.

PP termaksud adalah Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1959 yang mengatur larangan bagi orang asing berdagang eceran di tingkat kabupaten atau kota--rilis pada masa Kabinet Djuanda.

Eksodus warga Tionghoa dari Kota Sigli, kata Syarifuddin, kembali terjadi usai tragedi 1965. "Sekarang, paling ada 60 keluarga Tionghoa yang tinggal di Sigli," katanya.

Dia mengaku sejak muda kerap bergaul dengan warga Tionghoa. Bahkan, Syarifuddin muda pernah menjadi penjaga bioskop di Kota Sigli bersama anak-anak Tionghoa.

"Kadang justru ribut dengan anak-anak Padang di sini. Kalau sama orang ini (Tionghoa) tidak pernah. Sama-sama kami," katanya. "Mereka pintar bergaul, apalagi si Joni ini."

Lantaran sibuk, pagi itu, Joni tak banyak mengobrol dengan Beritagar.id. Dia baru bisa luangkan waktu pada malam hari (12/8), di Stadion Haji Dimurthala, Banda Aceh, sebelum pertandingan sepak bola Liga 2, antara Persiraja Banda Aceh kontra PSPS Pekanbaru.

Menurut Joni, Ie Leubeu dibangun ayahnya sejak 1962. Ia baru mengelola sendiri warung itu pada 1986--setelah menikah. "Namun, sebelum 1986 saya juga bantu-bantu. Tapi belum dilepas penuh," katanya.

Selain mengelola warung kopi, sepak bola tak bisa lepas dari hidup Joni. Ketika muda, Joni dan warga keturunan Tionghoa lain berbaur dengan anak-anak Pidie di lapangan bola.

Bahkan, dekade 1980-an, dia menjadi salah satu pemain PSAP Sigli, kesebelasan kebanggaan warga Kabupaten Pidie. "Posisi saya gelandang serang," katanya. Hingga kini, bila senggang, Joni masih main bola atau paling tidak nonton.

Mungkin lantaran pergaulan yang luas, Joni relatif tak punya masalah ketika konflik Aceh memanas pada 1998 hingga 2005. Bisnisnya aman, tak diganggu tentara Indonesia maupun kombatan GAM (Gerakan Aceh Merdeka). "Yang penting kita bergaul," katanya.

Kebiasaan bergaul itu dipeliharanya sampai saat ini. Usai tutup warung jam lima sore, sesekali dia jalan-jalan untuk bertemu teman-temannya di kampung sekitar Sigli.

Warga sedang merasai kopi dan membaca koran pagi di warung kopi Cut Zen atau Kupi Beurawe, di Kawasan Beurawe, Kota Banda Aceh.  Kebiasaan macam ini jamak terlihat di Aceh.
Warga sedang merasai kopi dan membaca koran pagi di warung kopi Cut Zen atau Kupi Beurawe, di Kawasan Beurawe, Kota Banda Aceh. Kebiasaan macam ini jamak terlihat di Aceh.
© Oviyandi /Beritagar.id

Meskipun kopi membudaya di Aceh, tanaman itu bukan asli tanah rencong. Antropolog, John R Bowen, dalam buku Sumatran Politics and Poetics, Gayo History 1900-1989, menyebut tanaman kopi dibawa Belanda ke Aceh pada awal abad ke-19.

Pada 1924, tulis Bowen, Belanda mulai mendatangkan investor Eropa guna membuka lahan kopi di kawasan dataran tinggi Gayo. Saat ini, Gayo (Kabupaten Aceh Tengah dan Benar Meriah) memiliki puluhan ribu hektare perkebunan kopi.

Perihal kebiasaan ngupi di Aceh, banyak orang merujuk pada kutipan dari prasasti yang terpahat di pintu masuk makam Teuku Umar, Meulaboh, Aceh Barat. Kutipan itu sering dianggap sebagai penanda zaman tentang kebiasaan ngupi di Aceh.

Kutipan termaksud ialah, "Beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keude Meulaboh atawa ulon akan syahid". Konon, Teuku Umar menyampaikan kalimat itu sebagai penyemangat untuk pasukannya--sehari sebelum dirinya mangkat di ujung bedil Belanda.

Perlu diingat, kutipan itu merupakan bagian dari cerita rakyat turun-temurun, yang dipercaya sebagian besar warga Meulaboh. Adapun prasasti di makam Teuku Umar dibuat jauh setelah Belanda angkat kaki dari Aceh dan Indonesia.

"Besok pagi kita akan minum kopi di Kota Meulaboh atau aku akan syahid".

Terjemahan kutipan Teuku Umar, yang terpahat di makamnya.

Pada perjalanannya, warung kopi telah jadi ruang publik bagi orang Aceh. Bahkan turut menghiasi politik lokal Aceh. Pandangan itu disampaikan Reza Idria (35), antropolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry Banda Aceh.

Kepada Beritagar.id, kandidat doktor dari Harvard University (Amerika Serikat) itu menyebut posisi warung kopi sebagai ruang publik kian terasa ketika terjadi eskalasi konflik antara GAM dengan TNI pada awal reformasi.

"Jika warung kopi sebelum konflik hanya menjadi tempat singgah--setelah belanja atau usai salat di masjid. Maka ketika konflik, ia memainkan peran sebagai tempat suaka," kata Reza, lewat aplikasi pesan, Selasa (22/8).

Saat itu, kata Reza, karena perlawanan GAM yang kian aktif, militer Indonesia mulai menyasar laki-laki Aceh. Agar selamat dari tindakan militer Indonesia, lelaki Aceh menunjukkan identitas diri mereka di tempat-tempat umum seperti pasar dan rumah ibadah, yang notabene banyak warung kopi.

Menurutnya, pada masa konflik, warung kopi juga menjadi tempat bertukar informasi karena berita yang disampaikan lewat media cenderung dikontrol militer Indonesia.

"Karena sudah menjadi ruang publik, banyak orang yang secara diam-diam mendukung atau sudah bergabung dengan pemberontak melihat kedai kopi sebagai tempat yang aman," katanya.

Belakangan, kata Reza, sebagai ruang publik pelan-pelan warung kopi membentuk kelas sosial di Aceh. Hal itu terlihat dalam fase pasca-damai, yang membuat warung kopi beranjak menjadi gaya hidup (lifestyle).

Ada kesan ketika seseorang menjadi anggota komunitas warung kopi, maka orang itu sedang menunjukkan eksistensinya. "Saat ini, baik para politisi, pengusaha atau generasi Z, punya cara pandang sendiri memaknai warung kopi," katanya.

Catatan redaksi: artikel ini telah diperbarui, dengan memperbaiki keterangan informasi soal warung kopi Jasa Ayah - Solong (Minggu, 10/9/2017, pukul 19.00 WIB).
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.