Seorang anak bermain kuda renggong dalam festival di pacuan kuda Pamulang, Tangerang Selatan, Banten 6 September 2003.
Seorang anak bermain kuda renggong dalam festival di pacuan kuda Pamulang, Tangerang Selatan, Banten 6 September 2003. Ardiles Rante / Epa
KESENIAN TRADISIONAL

Ketika kuda renggong unjuk gigi

Kuda renggong Sumedang telah menyumbangkan kekayaan seni tradisional Jawa Barat. Berdasarkan Statistik Kebudayaan 2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jawa Barat termasuk provinsi kaya dengan warisan budaya tak benda, di bawah Jawa Timur.

Ratusan kuda renggong itu satu per satu unjuk gigi. Ada yang mengangguk-anggukan kepalanya seirama dengan suara kendang pencak komplit dengan gongnya. Ada yang tampak garang, mengangkat kedua kaki depannya, memperagakan adegan pencak melawan sang pawang.

Aksi kuda itu terlihat ketika Pemerintah Kabupaten Sumedang menggelar Festival Atraksi Pesona Kuda Renggong di Alun-Alun Tanjungkerta, Maret 2019 lalu. Atraksinya diikuti 111 ekor kuda dari berbagai daerah di Sumedang.

Renggong disebut berasal dari kata ronggeng alias terampil. Jadi, kuda renggong merupakan kuda yang terampil menari mengikuti irama musik.

Renggong merupakan pertunjukkan rakyat berupa helaran, seperti pawai dan karnaval. Kuda renggong bisa terlihat dalam berbagai acara seperti perayaan Agustusan sampai sunatan.

Pertunjukan kuda renggong, misalnya, dilaksanakan setelah anak sunat selesai diupacarai dan diberi doa. Sang anak dengan berpakaian tokoh wayang Gatotkaca naik di atas kuda renggong lalu diarak meninggalkan rumahnya berkeliling desa.

Kesenian tradisional Sumedang masih populer dan menjadi hiburan rakyat yang digemari banyak orang. Populernya kuda renggong ini, bukan hanya di Sumedang dan Jawa Barat, tetapi juga hingga ke level nasional.

Hal itu setidaknya disampaikan Wawan Gunawan, Staf Kementerian Pariwisata RI ketika hadir pada acara Festival Pesona Kuda Renggong, di Sumedang, Jawa Barat.

"Kuda renggong, adalah seni tradisi yang sangat populer. Bukan hanya di Sumedang, tetapi juga di level nasional," kata Wawan.

Kuda renggong Sumedang telah menyumbangkan kekayaan seni tradisional Jawa Barat. Berdasarkan Statistik Kebudayaan 2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jawa Barat termasuk provinsi kaya dengan warisan budaya tak benda, di bawah Jawa Timur.

Kategori warisan budaya tak benda di Indonesia, sesuai dengan Konvensi UNESCO 2003. Ada empat kategori, yaitu seni pertunjukan; adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan; pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta; dan kemahiran kerajinan tradisional.

Praktisi seni tradisional dari ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) Bandung, Ade Abdul Kholik mengatakan seni kuda renggong cukup populer dan membawa harum nama Sumedang, di Jawa Barat, Indonesia, bahkan mancanegara.

"Berkat kuda renggong, Sumedang jadi terkenal. Bila menyebut Sumedang, kini, orang bukan hanya ingat tahu (makanan terbuat dari kacang kedelai) saja, tetapi juga ingat kuda renggong," ujar Ade.

Ade mengatakan, ada banyak pihak yang berjasa dan menyebabkan kuda renggong ada dan berkembang. Salah satunya, Pangeran Aria Soeria Atmadja atau Pangeran Mekah, Bupati Sumedang yang memerintah dari 1882 hingga 1919. "Ya, karena beliaulah kuda renggong muncul," kata Ade.

Pangeran Mekah memiliki perhatian besar terhadap olahraga balapan kuda. Pangeran Mekah juga disebut-sebut banyak membeli kuda dari Sumbawa untuk dikembang-biakan.

Pangeran Mekah memiliki beberapa juru pelihara kuda di antaranya asal Cikurubuk Kecamatan Buahdua, Sumedang. Sang juru pelihara kuda ini memiliki anak bernama Sipan.

"Saya khawatir, karena gerakannya monoton, kuda renggong suatu waktu kurang menarik lagi untuk ditonton."

Ade Abdul Kholik

Dari Sipan itulah cerita bermula. Suatu ketika, Sipan melihat bahwa kuda sebenarnya bisa disuruh menari jika dilatih dengan tekun. Kuda, di mata Sipan, punya sifat khas penurut.

Yakin bahwa kuda bisa dilatih, Sipan yang mendapat kepercayaan dari sang ayah untuk memelihara kuda Pangeran Mekah sejak 1936.

Sipan mulai melatih kuda yang diurus ayahnya tersebut, hingga benar-benar bisa menari. Kuda menari itu, kemudian terkenal dengan sebutan kuda renggong.

Dalam perkembangannya, kuda renggong menyebar dan berkembang di daerah lain seperti Majalengka, Cirebon, Bandung, Subang, dan Bogor. Membanggakan.

Tak hanya dalam lingkup Sumedang, grup kuda renggong pun bermunculan di daerah lain. Banyak permintaan warga untuk nanggap atau menggelar pertunjukkannya.

Ade Abdul Kholik mengatakan perkembangan kuda renggong sangat membanggakan. Tetapi, kuda renggong dari dulu hingga kini tidak ada perubahan. Gerakan tari yang ditampilkannya itu-itu saja.

"Saya lihat, gerakan tari kuda renggong itu monoton, belum ada kreasi dan inovasi baru. Dari dulu, gerakannya, seperti itu terus," ujar guru yang sering diminta jadi juri lomba seni tersebut ketika ditemui di rumahnya di Pamulihan.

Menurut Ade, gerakan kuda Renggong yang sekarang muncul, merupakan gerakan tari kuda warisan Sipan, juru pelihara kuda asal Cikurubuk, Buahdua. Artinya, sudah lebih dari 80 tahun gerakannya tak berubah.

Adapun gerakan tari kuda tersebut, adalah adean, torolong, jagrag, dan congklang.

Adean merupakan gerakan kuda yang seolah-olah melintang jalan atau seolah-olah sedang berahi. Torolong, gerakan lari kuda dengan cepat tapi pendek-pendek. Jagrag, gerakan kuda biasa tetapi cepat. Dan congklang, merupakan lari kuda dengan gerakan cepat dan kaki sama-sama ke depan.

Ade berharap seniman sudah mulai berinovasi dan menciptakan kreasi tari kuda baru. "Saya khawatir, karena gerakannya monoton, kuda renggong suatu waktu kurang menarik lagi untuk ditonton," kata Ade yang pernah aktif berkesenian di Yogyakarta dan Sukabumi tersebut.

Ade mengaku cukup paham mengapa seniman yang terlibat dalam seni kuda renggong enggan mengeksplorasi dan mengotak-atik tari kuda renggong. Mereka mengganggap, gerakan kuda warisan Sipan itu merupakan gerakan yang harus dilestarikan, jangan diubah.

Satu hal lagi, ungkapnya, karena beberapa seniman atau pemilik kelompok seni kuda renggong, malas melakukan inovasi atau yang lainnya. "Mereka sepertinya cukup puas hanya dengan memiliki grup," kata Ade.

Inovasi akan membuat kesenian dan permainan tradisional terus bertahan di tengah gempuran teknologi. Ada banyak kategori permainan tradisional yang masih terpelihara di Indonesia.

Suba (51), pawang kuda renggong warga Rancamulya, Sumedang Selatan, tidak menampik jika gerakan kuda renggong dari dulu hingga kini tidak banyak berubah. Hanya ada satu dua pelatih kuda renggong yang berhasil membuat gerakan baru.

Ia juga setuju bahwa juru latih kuda renggong sekarang harus lebih kreatif, agar kuda renggong tidak membosankan.

"Namun kendati gerak kuda renggong tidak berubah, saya yakin, kuda renggong tetap akan digemari. Sebab hebatnya sebuah pertunjukkan kuda renggong itu bukan pada gerak atau atraksi kudanya saja. Ada hal lain yang juga penting," ujar Suba.

Ia menyebut, hal yang juga bisa jadi penyebab kuda renggong hebat dan menarik itu adalah juru sinden dan musik pengiringnya. Jika juru sinden atau penyanyi serta musik pengiringnya asal-asalan, sebagus apapun atraksi kudanya, pertunjukkannya tetap tidak akan menarik.

Hanya memang, akan lebih baik lagi, jika atraksi kuda renggongnya lebih variatif, tidak monoton, atau memiliki kreasi-kreasi baru.

Suba sering memanfaatkan kuda renggongnya untuk jadi kuda tunggang di pasar dadakan seperti Pasar Dadakan Unpad Jatinangor tiap hari Minggu.

Mengenai gerak kuda renggong, Suba menyebutkan, sepengetahuannya, belakangan sebenarnya ada pelatih kuda yang berhasil membuat inovasi gerak. Maksudnya, gerakan ngibing kudanya, tidak hanya gerakan yang diajarkan Sipan dan keturunnya di Cikurubuk.

"Pelatih tertentu, terutama pelatih keturunan Bah Sipan yang tersebar di beberapa tempat di Sumedang dan Kabupaten Bandung, ada yang berhasil membuat kreasi gerak kuda baru," kata Suba.

Gerakan tersebut yang paling baru dan disukai adalah gerakan kuda menunduk dan tidur hingga beberapa lama, dan kuda tidur kemudian diberi beban (manusia) di atasnya.

Hanya memang, yang bisa melakukannya hanya pelatih tertentu saja. Selain itu, gerakannya pun masih belum banyak, dan hanya bersifat pengembangan dari gerakan yang diajarkan Bah Sipan saja.

"Tapi mudah-mudahan saja, ke depan pelatih kuda bisa melatih kuda renggongnya dengan gerakan-gerakan yang lebih baru, walau saya rasa susah," kata Suba.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR