Seniman mural sedang melukis di dinding pagar rumah warga di Dusun Brombong, Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, Sabtu, 6 Juli 2019. Kegiatan mural ini merupakan bagian dari acara Bali Yang Binal 2019.
Seniman mural sedang melukis di dinding pagar rumah warga di Dusun Brombong, Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, Sabtu, 6 Juli 2019. Kegiatan mural ini merupakan bagian dari acara Bali Yang Binal 2019. I Made Argawa
POLUSI UDARA

Ketika Naga Basuki kena polusi dan paus bermasker

Bhatara (dewa) saja terdampak polusi, apalagi manusia. Bali Yang Binal (BYB) 2019 dengan tema energi esok hari.

Dengan gerak perlahan tangan Anak Agung Gede Aris Setyana Putra menggoreskan kuas pada pagar rumah warga di Dusun Brombong, Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali.

Cat warna hitam menjadi pilihan ketika membuat lukisan kepala Naga Basuki. "Judul mural ini Naga Basuki kena polusi," kata mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Sabtu, 6 Juli 2019.

Pemuda yang disapa Gung Aris ini menerangkan, mural Naga Basuki terkena polusi di laut terinspirasi cerita warga di Dusun Brombong tentang pembangkit batu bara membuang limbah ke laut.

Aksi mural Gus Aris bersama tiga orang temannya merupakan bagian acara Bali Yang Binal (BYB) 2019 dengan tema energi esok hari. Naga Basuki merupakan binatang mitologi bagi umat Hindu yang dipercaya sebagai penjaga Pulau Bali.

"Bhatara (dewa) saja terdampak polusi, apalagi manusia," ujar Gung Aris. Mural naga yang terimbas polusi dilukis pada pagar beton sepanjang tujuh meter dengan tinggi sekitar satu setengah meter.

Pengerjaan mural tersebut berlangsung sekitar tujuh jam. Para mahasiswa ISI Denpasar ini tergabung dalam komunitas Iris Tipis sudah getol dengan mural sejak awal kuliah. Acara Bali Yang Binal menjadi tempat mereka dalam menyalurkan hobi sekaligus melakukan kritik sosial.

Seniman mural lainnya, Ngurah Bob juga menampilkan keresahan warga soal dampak dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara di Celukan Bawang. Pria 39 tahun ini membuat gambar ikan paus menggunakan masker.

Tema mural Ngurah berlatar biru hitam, berukuran tiga setengah meter kali tiga meter. "Menggambarkan keresahan nelayan yang ada di sini," ujarnya. "Hilangnya ikan paus penanda ikan lain ikut hilang."

Ngurah Bob tidak memberikan nama khusus pada muralnya. Pesan yang ingin disampaikan dari muralnya adalah habitat ikan paus rusak karena dampak PLTU batubara.

Belasan seniman mural terlibat dalam acara Bali Yang Binal 2019 di Dusun Brombong, Desa Celukan Bawang. Selain itu, Denpasar akan menjadi lokasi selanjutnya dari acara ini hingga 14 Juli 2019.

"Ada 24 seniman mural yang nantinya melukis di sejumlah titik di Kota Denpasar," kata seorang panitia Bali Yang Binal 2019, Wahyu Prasetyo. Aksi mural di rumah warga di kawasan Celukan Bawang digelar selama dua hari, 6 Juli hingga 7 Juli.

Wahyu menyebutkan, secara umum tema Bali Yang Binal 2019 tentang energi ramah lingkungan. Ia menilai sudah saatnya pemerintah, khususnya Bali serius soal energi bersih.

3.  Ngurah Bob, seniman mural sedang melukis mural ikan paus menggunakan masker di dinding rumah warga di Dusun Brombong, Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, Sabtu, 6 Juli 2019. Kegiatan mural ini merupakan bagian dari acara Bali Yang Binal 2019.
3. Ngurah Bob, seniman mural sedang melukis mural ikan paus menggunakan masker di dinding rumah warga di Dusun Brombong, Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, Sabtu, 6 Juli 2019. Kegiatan mural ini merupakan bagian dari acara Bali Yang Binal 2019. | I Made Argawa

Bali merupakan obyek eksploitasi menggiurkan dalam industri pariwisata. Banyak kebutuhan yang kemudian diadakan atas nama menjaga Bali sebagai tujuan pariwisata, termasuk kebutuhan energi.

"Bali memiliki beberapa pilihan sumber energi bersih seperti angin dan matahari, kenapa malah batu bara yang dikembangkan?" ujar Wahyu.

Hasil akhir dari seni mural adalah memberi tahu warga soal tema atau isu yang dimunculkan. Setelah itu diharapkan warga bisa memilih cara sendiri untuk menyalurkan persoalannya.

Wahyu yang tergabung dalam Komunitas Pojok sejak awal berdiri memang konsisten soal isu sosial dan lingkungan.

Bali Yang Binal merupakan festival dua tahunan, mulai digelar sejak 2005. Acara Bali Yang Binal di Celukan Bawang juga diisi pentas musik di pinggir laut memanfaatkan panel surya, perpustakaan jalanan dan diskusi.

Warga Celukan Bawang yang rumahnya dilukis antusias dengan kegiatan tersebut. Mural menjadi curahan hati warga terdampak pembangunan PLTU tahap pertama. "Ini juga menunjukkan kebersamaan kami menolak pembangunan PLTU tahap kedua," kata Eko, warga Dusun Brombong, Desa Celukan Bawang.

Eko adalah sekretaris kelompok Nelayan Bakti Kosgoro. Nelayan di kelompoknya sudah merasakan dampak dari beroperasinya PLTU batu bara tahap pertama, seperti ikan makin sulit dicari karena jarak tangkap makin jauh. "Operasional nelayan meningkat," ujarnya.

Pria 50 tahun yang aktif dalam advokasi warga untuk menolak pembangunan PLTU tahap kedua mengatakan, saat ini gugatan terhadap izin lingkungan PLTU batu bara Celukan Bawang tahap kedua sedang berproses di Mahkamah Agung (MA). "Jika kalah lagi, kami akan ajukan peninjauan kembali atau PK," ujarnya.

Gugatan terhadap pembangunan PLTU tahap kedua di Desa Celukan Bawang telah dilakukan sejak awal 2018. Dua kali gugatan warga kandas, di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Denpasar dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Surabaya.

Warga lainnya, Hamidah, 45 tahun dinding rumahnya ikut dilukis mural mengatakan, hal tersebut merupakan dukungan untuk kampanye menolak pembangunan PLTU tahap kedua.

Keseharian perempuan berkerudung ini sudah merasakan dampak langsung dari PLTU tahap pertama, seperti debu di teras rumahnya. Debu kian terasa ketika musim angin selatan.

Saat ini Hamidah sudah tidak menjemur baju di luar rumah, khususnya baju berwarna putih karena terpapar debu batubara. "Saat disetrika akan terlihat noda hitam," ujarnya. "Ini terjadi sejak adanya PLTU."

Tetangga Hamidah, Fatimah, 65 tahun berharap rumahnya juga menjadi media mural. Ia mendukung kampanye untuk menolak pembanguan PLTU tahap kedua.

Alasan penolakan Fatimah karena sejak setahun terakhir suaminya, Abdurahman, 70 tahun terbaring lemas menderita sesak nafas. Memang belum ada vonis dokter yang menyatakan sesak nafas Abdurahman karena polusi PLTU batubara.

Menagih janji Gubernur Bali

Pada Sabtu, 8 September 2018, Gubernur Bali, I Wayan Koster menyampaikan pidato pertamamya di DPRD Bali. Pidato yang berdurasi sekitar satu jam itu, salah satunya menyebut soal pengembangan PLTU Celukan Bawang.

Koster mengatakan, pihaknya sudah bertemu dengan investor PLTU Celukan Bawang dan meminta menggunakan bahan bakar pembangkit ramah lingkungan. Jika tetap memaksa menggunakan batubara, Koster akan mencabut izin PLTU tahap kedua. "Boleh dilanjutkan lagi, asal diganti dengan gas," ujarnya.

Pidato Koster ini menjadi angin surga bagi warga terdampak PLTU Celukan Bawang. I Ketut Mangku Wijana, salah satu warga yang melakukan gugatan terhadap pengembangan PLTU tahap kedua masih menunggu realisasi janji gubernur.

"Sesuai dengan komitmen Pak Gubernur, energi bersih," kata I Ketut Mangku Wijana.

Selain itu, warga masih menunggu proses gugatan yang saat ini sedang berjalan di MA. I Ketut Mangku Wijana berharap agar penggunaan batubara di proyek PLTU Celukan Bawang tahap kedua direvisi menjadi gas oleh pemerintah daerah.

"Dampak batubara sudah dirasakan oleh nelayan dan petani kelapa, penghasilan berkurang," ujarnya.

Kualitas udara di kawasan Celukan Bawang pasca berdirinya pembangkit listrik berbahan bakar batubara.
Kualitas udara di kawasan Celukan Bawang pasca berdirinya pembangkit listrik berbahan bakar batubara. | Greenpeace

Greenpeace pernah mengeluarkan penelitian terkait dengan kualitas udara di kawasan Celukan Bawang pasca-berdirinya pembangkit listrik berbahan bakar batubara.

Penelitian dilakukan oleh pakar udara Greenpeace, Lauri Myllyvirta mengidentifikasi bahwa partikel halus PM 2,5 dapat menyebabkan asma, infeksi saluran pernapasan akut (terutama pada anak-anak), kanker paru-paru dan memperpendek usia harapan hidup.

Nitrogen dioksida dan sulfur dioksida dapat menyebabkan penyakit pernapasan dan jantung. Selain itu juga dapat menyebabkan hujan asam yang merusak tanaman dan tanah serta membawa logam berat seperti arsenik, nikel, krom, timbal dan merkuri.

Merkuri dapat merusak kualitas tanah sehingga menyebabkan kerusakan lahan pertanian di wilayah terdampak polusi PLTU Celukan Bawang. Akibatnya petani akan merugi.

Wilayah sebaran polusi dari PLTU Celukan Bawang tidak hanya di wilayah sekitarnya. Menurut penilitian ini, polusi akan terbawa angin hingga wilayah Banyuwangi dan Jember.

Rencana pengembangan PLTU Celukan Bawang dari pembangkit kapasitas 3 x 142 Megawatt ditambah menjadi 2 x 330 Megawatt menurut Greenpeace akan menghasilkan polusi udara lebih banyak dan merugikan masyarakat serta ekosistem di sekitarnya.

Emisi dari PLTU Celukan Bawang pertama diperkirakan akan menyebabkan 190 kematian dini dan 70 kelahiran dengan berat badan rendah setiap tahunnya di Bali disebabkan oleh paparan PM2,5 dan nitrogen dioksida.

Kematian dini dapat meningkat menjadi 290 jiwa pada 2030. Jika PLTU ini beroperasi selama 30 tahun, jumlah kematian dini diperkirakan sekitar 7.000 jiwa.

Jika PLTU tahap kedua jadi berdiri, dampak akumulasi kesehatan selama 30 tahun beroperasi menjadi 19.000 kematian dini.

Selain pada manusia, ekosistem di Taman Nasional Bali Barat yang berjarak sekitar 50 kilometer dari lokasi PLTU tahap pertama juga mengancam hewan seperti macan tutul Jawa, trenggiling dan jalak Bali.

Habitat lumba-lumba yang berada di pantai Lovina berjarak sekitar 30 kilometer dari lokasi PLTU akan terpengaruh karena air yang berasal dari darat tercemar oleh endapan merkuri dan logam berat.

"Saat ini proyek tahap dua masih ditunda karena belum adanya kejelasan soal Amdal," kata perwakilan Greenpeace Indonesia, Aam Wijaya.

Aam menilai pernyataan Gubernur Bali, I Wayan Koster tentang energi bersih perlu pembuktian nyata. Aam Wijaya berharap ada perangkat hukum yang diatur oleh pemerintah daerah.

"Buktinya sekarang masih perkara dengan gubernur soal izin lingkungan PLTU tahap dua di MA," ujar Aam.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR