Rafida (59) sedang meracik jamu watukan, jamu khusus untuk mengobati batuk di Jamu Ginggang, Pakualaman, Yogyakarta, (11/1/2018).  © Pius Airlangga / Beritagar.id
Gambar: Rafida (59) sedang meracik jamu watukan, jamu khusus untuk mengobati batuk di Jamu Ginggang, Pakualaman, Yogyakarta, (11/1/2018). | © Pius Airlangga /Beritagar.id

Khasiat tersembunyi ramuan Pakualaman

Beragam jamu ada di kedai jamu Ginggang. Perintisnya seorang abdi dalem Puro Pakualaman.

Suatu hari, Kedai Jamu Ginggang kedatangan pelanggan seorang laki-laki. Tiap kali datang, lelaki ini selalu memesan jamu paitan. Tak seperti biasa, setelah menenggak segelas jamu pesanannya, ia bercerita gara-gara rutin mengonsumsi jamu itu 'John kecil' miliknya beringas saat 'bertanding'.

Rudi Supriyadi (50), pengelola kedai, pun heran mendengar pengalaman pelanggan itu. Seumur-umur bergelut dengan ramuan herbal tradisional, jamu paitan dikenal berkhasiat sebagai pencuci darah kotor.

Disebut paitan (pahitan) karena jamu berbahan utama brotowali itu rasanya pahit luar biasa. Sejumlah pedagang jamu lazim menambahkan daun pepaya sebagai ramuan, tapi di kedai itu tidak. Kedai ini justru menambahkan cengkih dan pala pada ramuan buatannya.

"Saya malah tahunya dari pelanggan, jamu paitan ternyata berkhasiat untuk kejantanan," katanya, Sabtu (6/1/2018).

Kedai Jamu Ginggang terletak di Pakualaman, Yogyakarta. Berdiri sejak 1950, kedai ini menjual puluhan jenis jamu tradisional asli Jawa. Dari beras kencur hingga temu lawak, dari sawan tahun hingga uyub-uyub.

Pekerja sedang menghaluskan kencur, bahan dasar pembuat jamu beras kencur di dapur jamu Ginggang, Pakualaman, Yogyakarta (11/1/2018). Toko Jamu Ginggang sudah ada sejak tahun 1950 merupakan produk jamu racikan asli abdi dalem Keraton Pakualaman.
Pekerja sedang menghaluskan kencur, bahan dasar pembuat jamu beras kencur di dapur jamu Ginggang, Pakualaman, Yogyakarta (11/1/2018). Toko Jamu Ginggang sudah ada sejak tahun 1950 merupakan produk jamu racikan asli abdi dalem Keraton Pakualaman.
© Pius Erlangga /Beritagar.id

Perintisnya, seorang abdi dalem Puro Pakualaman bernama Mbah Joyo, tabib tradisional peramu beragam jamu khusus untuk Paku Alam VI. Rudi adalah generasi kelima yang kini meneruskan bisnis jamu keluarga ini.

Kebanyakan jamu berbahan utama tanaman alam dan rempah-rempah. Berbeda dengan obat berbahan zat kimia, khasiat jamu baru bisa dirasakan setelah beberapa hari atau setelah rutin mengonsumsi dalam rentang waktu tertentu. "Jamu juga tak punya efek samping," kata dia.

Bisa jadi tak ada efek "ke samping" pada jamu. Tapi nyatanya jamu menghasilkan efek "ke depan".

Menurut Rudi, setelah bersih dari darah kotor tubuh menjadi bugar. Stamina menjadi lebih fit. "Kalau badan sehat dan bugar mau berhubungan berapa kali pun bisa," katanya.

Tapi, ia melanjutkan, bugar fisik bukan satu-satunya yang utama bagi stamina 'John kecil' di atas ranjang. "Itu urusan psikologis kok dari diri kita sendiri," katanya.

Masyarakat Jawa menempatkan persetubuhan tak sekadar pertemuan raga semata, tapi sekaligus jiwa.

Serat Nitimani misalnya, menyebutkan kebersihan pikiran menjadi salah satu syarat sebelum bersenggama. Persetubuhan pun hanya diperkenankan bagi sepasang lelaki dan perempuan yang terikat pernikahan.

Serat Gatholoco, yang selama ini dianggap sebagai tabu, bahkan menempatkan persetubuhan sebagai cikal bakal lahirnya peradaban dan kemuliaan manusia.

Gatho dimaknai kepala penis, loco berarti kocok. Maka gatholoco bisa dimaknai penis yang dikocok. Tapi, alih-alih mengeksplorasi cerita pornografi yang membangkitkan syahwat pembacanya, serat ini malah sarat dengan ajaran tasawuf.

Serat itu berkisah perdebatan tentang hakikat manusia, yakni antara seorang buruk rupa bernama Gatholoco dan tiga kiai. Meski jaduk ilmu agamanya, toh tak satu pun kiai itu sangggup menandingi Gatholoco.

"Gatholoco aranku, ingsun janma lanang sujati (Gatholoco namaku, aku lelaki sejati)," kata Gatholoco pada mereka.

Tak banyak narasi tentang ramuan khusus penguat stamina di atas ranjang dalam literatur kuno Jawa. Padahal nyaris seluruh raja Jawa, baik dari Kasunanan Surakarta maupun Keraton Yogyakarta, memiliki lebih dari satu istri.

Tak jarang mereka juga memiliki puluhan selir. Raja Keraton Yogyakarta kedua, Sultan Hamengku Buwono II, misalnya, tercatat memiliki empat permaisuri dan 25 selir.

Penghageng Tepas Dwarapura Keraton Yogyakarta Kanjeng Raden Tumenggung Jatiningrat mengatakan dari 29 perempuan itu, permaisuri dan selir, Sultan Hamengku Buwono II beroleh 80 anak. "Biasa, tidak ada," katanya ketika ditanya adakah ramuan khusus penjaga stamina dalam riwayat keraton Yogyakarta, Rabu (3/1/2018).

Meski tak ada ramuan khusus bagi lelaki, ia melanjutkan, putri-putri keraton wajib berpenampilan menarik dan menjaga tubuh.

Di lingkungan keraton, juga sebagian besar tempat tinggal kerabat raja, banyak ditemui pohon kepel. Pokok batangnya berwarna cokelat kehitaman, buahnya bulat berwarna cokelat mirip sawo.

Pohon dan buah kepel di yang di tanam di Keraton Yogyakarta.
Pohon dan buah kepel di yang di tanam di Keraton Yogyakarta.
© Pius Airlangga /Beritagar.id

Pohon ini biasa ditanam di sekitar seketeng, pintu di kanan dan kiri pendopo yang terhubung dengan rumah utama. Kepel berarti kepalan, dimaknai sebagai tanggung jawab sang empu rumah untuk menghormati tamunya.

Menurut Jatiningrat, biasa disapa dengan Romo Tirun, selain sebagai perindang, daun pohon kepel juga bisa dimanfaatkan untuk menghilangkan bau badan. Caranya, daun direbus lalu diminum. "Fungsinya untuk deodoran," katanya.

Pada 1992, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menetapkan tanaman bernama latin Stelechocarpus burahol ini sebagai identitas flora daerah. Tak hanya daunnya saja yang bermanfaat menghilangkan bau badan, konon buahnya bisa berfungsi sebagai alat kontrasepsi alami.

Romo Tirun mengatakan sangat mungkin daun pohon ini digemari putri keraton karena fungsinya sebagai penghilang bau badan. Tapi, perkara buahnya berkhasiat mencegah kehamilan, ia tak yakin. Selain ia belum pernah membaca hasil penelitian ihwal itu, "Raja kan seharusnya punya banyak anak, ini kaitannya sama penerusnya," katanya.

Anang Zakaria
Kontributor Beritagar.id Yogyakarta.

BACA JUGA