Taman Pangandaran Sunset berada di pintu masuk utama pantai.
Taman Pangandaran Sunset berada di pintu masuk utama pantai. Anang Zakaria / Beritagar.id

Kisah orang-orang laut

Di Pangandaran, perpisahan bukanlah akhir. Bagi mereka, laut adalah penawar yang membebaskan.

Namanya Usman Ujiyanto. Usianya 35 tahun. Badannya kekar, kulitnya hitam pekat. Sepanjang hidup ia tak pernah lepas dari laut. Bapaknya selalu membawa serta mencari ikan kala usianya baru belasan tahun. Mereka bertolak dari teluk Pangandaran, berlayar berkilo-kilo meter dari pantai mengarungi Samudera Indonesia.

Begitulah orang Pangandaran mengenalkan anaknya pada lautan. Mereka mengajarkan kapan musim tangkap layur kapan bawal putih. "Entah besar mau jadi apa tapi saat kecil pasti diajarkan mencari ikan," katanya kepada Beritagar.id, Rabu (13/12/2017).

Menjadi nelayan sejak belia, Usman kini menjadi operator perahu wisata. Ia menawarkan jasa pergi-pulang keliling lautan pada wisatawan.

Paket wisata itu ditawarkan seharga Rp35 ribu per orang. Tapi harus ada setidaknya 10 penumpang. Pilihan lainnya harga borongan, Rp300 ribu sekali jalan. Jika sepi mereka banting harga hingga jadi Rp150 ribu.

Usman sempat menawarkan perjalanan keliling lautan dengan perahu wisatanya. Saya menggeleng.

"Tinggi sekali ombaknya," saya mengelak.

"Ah itu tak seberapa," katanya.

Ombak itu hanya semeter, katanya. Empat meter pun tak perlu ada yang ditakutkan. Ombak boleh bergemuruh di pantai menciutkan nyali. Tapi di tengah lautan, gelombangnya lebih tenang.

"Nelayan itu berhari-hari di lautan. Di sana mereka juga mencuci dan memasak nasi," katanya.

"Dengan perahu kecil itu?" saya meragukan ceritanya.

Ia tersenyum. Raut mukanya menampilkan kebanggaan orang laut.

Pemandangan pantai Pangandaran pada pertengahan Desember 2017.
Pemandangan pantai Pangandaran pada pertengahan Desember 2017. | Anang Zakaria /Beritagar.id

***

Saya tiba di pantai di ujung timur dan paling selatan Jawa Barat itu pada pertengahan Desember 2017. Tepat tengah malam, bus yang saya tumpangi berhenti di depan terminal Pangandaran.

Terminal itu hanya berjarak satu kilometer dari Park Sunset Boulevard, ikon Pangandaran yang terletak persis di tepi pantai. Sepanjang jalan menuju penginapan, suara live musik terdengar menyeruak dari kafe dan tempat karaoke, mengalahkan deburan ombak pantai Selatan.

"Bisa sampai subuh itu karaoke," kata Kasbo, pemilik penginapan menyambut kedatangan saya.

Sepanjang saya menginap di tempatnya, live musik itu memang selalu terdengar hingga larut malam. Tapi pada Kamis malam Jumat, hari terakhir menginap, suara itu berhenti berganti kumandang selawatan dan pembacaan yassin dari pengeras suara di masjid dan musala.

Rupanya, ada semacam kesepakatan, khusus malam Jumat tempat karaoke wajib meliburkan diri. "Ganti pengajian ibu-ibu," katanya.

Pangandaran semula adalah sebuah kecamatan bagian dari Kabupaten Ciamis. Pada 2012, kecamatan ini mengalami pemekaran dan berubah jadi kabupaten tersendiri di Jawa Barat.

Sejak itu, kabupaten ini terus berbenah. Infrastruktur baru dibangun. Dari jalan, pasar, hingga gedung perkantoran. Bahkan Universitas Padjajaran Bandung pun mendirikan cabang di sana.

Sebagai daerah baru, layanan publik dan fungsi pemerintahan di Pangandaran belum berjalan optimal. Sebagian papan nama di gedung-gedung pemerintahan masih tertera Kabupaten Ciamis. "Ada Polres tapi kantornya Polsek," kata Kasbo.

Meski memisahkan diri dari Ciamis sejak 2012, kepala daerah Pangandaran baru terpilih awal 2016. "Bupati dan wakil bupatinya baru ada dua tahun lalu," kata Poniman (41), seorang warga yang sehari-hari bekerja sebagai pemandu di Taman Wisata Alam Pangandaran.

Kepala daerah terpilih, Bupati Jeje Wiradinata dan wakilnya, Adang Hadari, kata Poniman, berniat memaksimalkan potensi wisata untuk menyejahterakan rakyatnya. Program utama yang ditawarkan pembangunan infrastruktur serta pendidikan dan kesehatan gratis.

Dengan cara itu, pemerintahan baru optimis mampu mengurangi angka kemiskinan penduduk hingga 2 persen pada 2017. Setahun sebelumnya, sekitar 30 ribu orang dari 400 ribu penduduk Pangandaran dilaporkan hidup di bawah garis kemiskinan.

Sejak lepas dari Ciamis, angka kemiskinan di daerah ini tak pernah lepas di atas 7 persen. Orang-orang Pangandaran, seperti Usman, Kasbo, dan Poniman, menaruh harapan besar pemerintahan baru ini mampu memperbaiki taraf hidup mereka. "Sekarang orang laut ngurus diri sendiri dan mestinya dia lebih tahu kebutuhan sendiri," kata Usman.

***

Jika kemiskinan adalah kutukan, laut adalah penawar yang membebaskan. Ekstotisme alam Pangandaran merekam kisah anak manusia membebaskan diri dari belenggu kemiskinan pada masa lampau. "Pagi makan malam tidak, itu sudah biasa," kata Poniman mengenang masa kanak-kanaknya.

Poniman lahir 1976. Ia anak pertama dari empat bersaudara. Orang tuanya asal Cilacap dan sudah hidup bertahun-tahun di Pangandaran sebagai nelayan. Pada 1990 selepas ia menamatkan pendidikan SMP, orang tuanya tak mampu membiayai masuk SMA. "Jangankan sekolah, buat makan saja tak ada," katanya.

Ia pun bekerja apa saja. Asal halal dan menghasilkan uang. Dari pergi melaut membantu bapaknya, menarik becak di pasar, hingga menawarkan jasa memandu wisatawan.

Pada suatu hari Dewi Fortuna datang. Ia mendapat tamu empat orang wisatawan mancanegara asal Italia. Mereka minta Poniman memandu perjalanan ke semenanjung Pangandaran.

Semenanjung itu adalah daratan seluas 530 hektar di Desa Pananjung. Sekilas mirip pulau terpisah andai tak ada daratan "sempit" yang menghubungkan dengan Pulau Jawa.

Kontur semenanjung didominasi tanah datar. Tapi ada juga bukit kapur dan berbatu dengan rongga di dalamnya. Di perbukitan itulah terkandung gua alam. Di antaranya gua panggung, gua parat, dan gua miring.

Masing-masing gua menyimpan legenda berbeda. Di gua panggung ada petilasan Mbah Jaga Lautan. Konon, ia adalah anak Nyi Roro Kidul.

Masyarakat Pangandaran meyakini semasa hidupnya Mbah Jaga Lautan punya tujuh istri yang seluruhnya tak pernah akur satu sama lainnya. Untuk merukunkan istri-istrinya, ia bersemedi di gua ini. Petunjuk pun datang.

Mbah Jaga Lautan diminta mencari ikan tempel dan memberikannya pada masing-masing istrinya. Cara itu ampuh untuk merukunkan istri-istrinya.

Ikan tempel (remora) hidup dengan menempel di tubuh ikan yang lebih besar. Keberadaannya menciptakan hubungan saling menguntungkan. Ikan besar terbebas dari parasit di tubuhnya karena dimakan remora. Sementara remora terlindung dari mangsanya.

Poniman membisikkan ada dua jenis ikan tempel. Warna hitam dan putih. "Cari yang putih dan jumlah garisnya ganjil," katanya.

Kenapa? "Itulah yang manjur."

Sementara gua Parat adalah gua sepanjang 50 meter. Di depan mulut gua ada petilasan dua bersaudara; Syekh Ahmad dan Syekh Muhammad. Konon, mereka penyebar agama Islam asal Mesir di Pangandaran.

Gua itu menghubungkan hutan dan pantai. Di dalam gua terdapat stalaktit dan stalakmit dengan beragam bentuk. Dari mirip unta, gajah, hingga kemaluan lelaki dan wanita.

Pada tahun 1990an, gua ini pernah menjadi lokasi syuting Misteri Gunung Merapi dengan tokoh jahatnya: Mak Lampir. Lantaran tersohor sebagai tempat syuting Mak Lampir, masyarakat menjuluki salah satu batu di dalam gua dengan kaca benggala. Batu bentuknya mirip tempayan. Berlobang dan berisi air tetesan dari stalaktit di langit-langit gua.

"Sekeras-kerasnya batu akan kalah melawan air, meski setetes demi tetes," kata Poniman.

Semenanjung Pangandaran menghadap samudera Indonesia. Pada era perang dunia kedua, Jepang menjadikannya sebagai basis pertahanan menghadapi tentara sekutu yang dari arah Australia. Jejak benteng pertahanan itu bisa disaksikan melalui gua-gua Jepang hingga kini.

Di tempat ini juga menyimpan jejak kerajaan Pananjung (kini menjadi nama Desa Pananjung). Sekitar abad 14 Pananjung adalah bagian kerajaan Galuh Pangauban. Pananjung dikenal sebagai kerajaan yang makmur. Kata Pananjung berasal dari bahasa Sunda, Pangnanjung-nanjung, yang berarti paling makmur.

Kerajaan itu diriwayatkan hancur akibat serangan perompak. Tapi sisa kejayaannya tertinggal di Situs Batu Kalde.

Di situs itu kita bisa melihat lingga-yoni dan arca sapi Nandi. Masyarakat sekitar menyebut arca hewan tunggangan dewa Wisnu ini sebagai Sapi Gumarang.

Semenanjung itu kini masuk dalam kawasan cagar alam Pangandaran. Di bawah pengawasan Perum Perhutani, status cagar alam itu tersemat setelah penemuan bunga Raflesia Padma pada tahun 1961.

Cagar alam Pangandaran mencapai luas 1.000 hektar yang meliputi cagar alam hutan, taman wisata, dan cagar alam laut. Sejak tahun 1990, pemerintah memasukkan 500 hektar perairan di sekitar semenanjung dalam peta cagar alam untuk melindungi terumbu karang.

Secara keseluruhan, cagar alam menjadi rumah bagi sejumlah hewan. Di antaranya banteng Jawa, rusa, lutung, monyet macaca, landak, biawak dan burung rangkong.

Sebagian hewan itu bukan asli dari daerah ini. Banteng dan rusa contohnya. Kedua binatang itu adalah hasil kembang biak banteng dan rusa yang didatangkan Residen Priangan Y. Everen seabad silam. Pada tahun 1922, pemerintah kolonial Belanda menjadikan semenanjung itu sebagai taman perburuan.

Narasi Pangandaran semacam ini pula yang dikisahkan Poniman pada keempat tamu asingnya puluhan tahun lalu. Mereka terpesona sekaligus iba. Terpesona oleh kemahiran Poniman kecil memandu perjalanan, iba karena anak sekecil itu tak mampu sekolah.

"Mereka akhirnya memberi saya uang untuk sekolah," katanya, mengenangkan perjalanan hidupnya.

Berbekal uang pemberian itu Poniman mendaftar SMA. Kelak, ijazahnya menjadi bekalnya memburu kerja. "Uang kerja saya sebagian untuk menyekolahkan adik-adik," katanya.

Satu dari tiga adiknya bahkan bersekolah hingga perguruan tinggi kemaritiman. Kini ia bertugas sebagai kapten kapal besar.

Ia tersenyum. Raut mukanya menampilkan kebanggaan orang laut.

Hotel di kawasan pantai Pangandaran. Ratusan hotel berdiri di sepanjang pantai ini, dari kelas bintang hingga melati. Pemerintah berniat memaksimalkan potensi pariwisata untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Hotel di kawasan pantai Pangandaran. Ratusan hotel berdiri di sepanjang pantai ini, dari kelas bintang hingga melati. Pemerintah berniat memaksimalkan potensi pariwisata untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. | Anang Zakaria /Beritagar.id

***

Usman memandang kejauhan laut. Tatapannya membentur bangkai FV Viking, kapal berbendera Nigeria, yang teronggok di tepi pantai cagar alam Pangandaran. "Itu jadi peringatan agar kapal asing tak mencuri ikan kita," katanya.

Lebih dari setahun bangkai kapal itu di sana. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, asal Pangandaran, menenggelamkannya pada Maret 2016.

Telah lama Usman memendam kerinduan melaut. Sejak jaring miliknya rusak terkoyak ombak ia berhenti menjala ikan di lautan. Padahal sejak pemerintah gencar memburu kapal pencuri ikan, hasil tangkapan ikan nelayan bertambah.

Tapi apa daya. Modal membeli jaring baru tak ada. Sementara kebutuhan rumah tangga tak bisa ditunda. Ia pun beralih menjadi operator perahu wisata. Dari pekerjaan itu, ia mengumpulkan duit sedikit demi sedikit untuk mencicil jaring baru.

"Apa tak ada bantuan dari pemerintah?" saya bertanya.

Pernah, kata dia, tapi lebih banyak jatuh ke nelayan tua yang sudah tak rutin melaut. "Mereka mencari ikan di darat," katanya.

"Ikan apa?" saya penasaran.

"Proyek infrastruktur."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR