Suasana pasar ekstrim Tomohon Desember lalu. Pasar ini menjual daging ular, anjing, kucing, kelelawar dan tikus.
Suasana pasar ekstrim Tomohon Desember lalu. Pasar ini menjual daging ular, anjing, kucing, kelelawar dan tikus. Isa Anshar Jusuf / Beritagar.id
KULINER EKSTREM

Kisah pemburu hewan ekstrem di Minahasa

Saat Natal atau hari-hari tertentu, permintaan akan daging hewan ekstrem meningkat. Terutama tikus hutan.

Rabu (5/12/2018) siang itu Jerry Suoth bersama rekan-rekannya masuk hutan untuk berburu makanan kesukaan mereka, tikus hutan dada putih. Bermodalkan satu buah sekop, parang dan 2 ekor anjing pemburu, mereka ingin merayakan hari ulang tahun rekan mereka, Delfi Tumanduk, dengan makan bersama, hewan paling dicari para penggila makanan ekstrem ini.

Dengan menggunakan motor rakitan, Delvi, Hanny, Jekri, Allen dan Jerry, berboncengan menuju hutan yang jaraknya lumayan jauh dari perkampungan mereka. Hutan yang yang ada di Desa Malola, Kabupaten Minahasa Selatan ini sehari-hari juga menjadi tempat para petani mengolah cap tikus, minuman keras tradisional khas asal Minahasa yang terkenal itu.

Sesampai di hutan, dua anjing pemburu; Brani dan Tekeng, mereka lepas. Dua anjing itu bertugas melacak keberadaan tikus. Sambil berlari kecil mengikuti langkah anjing, Jerry dan teman-teman mengharapkan perburuan itu bisa menghasilkan banyak tangkapan untuk dimakan bersama.

Lima menit berlari, tiba-tiba Brani dan Tekeng mengais-ngais tanah di bawah pohon besar yang tumbuh di daerah yang agak miring. Delvi langsung mengambil sekop dan mulai menggali. Benar saja, baru beberapa kali sekop ditancapkan ke tanah, lubang besar di dalam tanah langsung terbuka.

Delvi dan Hanny langsung menangkapi tikus yang berlarian di dalam lubang di tanah tersebut. Empat ekor tikus besar berhasil mereka tangkap dengan tangan kosong. Tak mau kalah dengan majikannya, Tekeng –sang anjing-- berlari mengejar satu tikus yang berusaha melarikan diri. Beruntung Hanny melihatnya. Sebelum digigit Tekeng, Hanny langsung mengambilnya.

Hari itu, dalam perburuan yang berlangsung sekitar setengah jam, mereka berhasil mendapatkan 20 ekor tikus. Setelah dikumpulkan, tikus-tikus itu mereka pukul.

Setelah dipukul, tikus-tikus itu diletakkan di depan lubang terbuka yang sudah disiapkan Devi. Tujuan melepaskan tikus yang sudah dipukul untuk melihat apakah tikus itu benar-benar sudah mati atau belum. “Biasanya ada yang pura-pura mati langsung lari masuk lubang,” kata Jerry menjelaskan teknik tersebut.

Kata Jerry, hari itu mereka benar-benar beruntung karena bisa mendapatkan tangkapan lumayan. “Kalau dijual ini bisa sampai Rp30 ribu per ekor kalau pasar lagi panas,” katanya.

Merasa sudah cukup, perburuan pun diakhiri. Mereka balik ke daseng atau sabuah atau tenda peristirahatan yang memang dibuat sebagai tempat tinggal, saat mereka sementara bekerja di hutan dan harus bermalam hingga beberapa hari.

Sesampainya di sabuah, tikus-tikus ini langsung dibersihkan. Dibakar, dikeluarkan isi perut dan kemudian diolah menjadi beberapa makanan. Tikus bumbu rica-rica pun jadi santapan utama malam itu ditemani dengan minuman Cap Tikus.

Penjualan  daging babi, anjing, dan beberapa daging hewan ekstrim lainnya di Pasar Tomohon (atas). Proses pembakaran hewan ekstrim seperti tikus, kelelawar, anjing dan kucing (bawah).
Penjualan daging babi, anjing, dan beberapa daging hewan ekstrim lainnya di Pasar Tomohon (atas). Proses pembakaran hewan ekstrim seperti tikus, kelelawar, anjing dan kucing (bawah). | Isa Anshar J dan istimewa /Beritagar.id

***

Marlon terlihat lahap menghabiskan sepiring nasi lauk tikus hutan bumbu RW, bumbu yang cita rasanya sangat pedas. Sesekali Marlon menyeka keringatnya karena kepedasan.

"Pokoknya sedap dan dagingnya ada sensasi gurih. Ditambah dengan bumbunya yang pedas, tentu lebih enak," tutur Marlon kepada Beritagar.id, Rabu (19/12/2018).

Marlon bercerita, dari semua kuliner ekstrem yang pernah dirasakannya, daging tikus adalah yang terbaik. Menurutnya, rasa gurih dari daging tikus mengalahkan rasa dari daging hewan lainnya yang pernah dia makan seperti daging ular dan paniki (kelelawar kecil). "Bisa tanyakan satu per satu yang biasa makan. Pasti yang paling dicari itu daging tikus," kata warga asal Kota Manado ini.

Anes Tumengkol mengamini Marlon. Kata dia, tikus hutan merupakan hewan yang paling dicari. "Tapi harus tikus dari kebun atau hutan, karena makanannya itu buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan," kata warga Desa Dumoga Kabupaten Bolaang Mongondow ini.

Demikian juga Rommy Liando. Sebagai orang yang menyukai hewan-hewan ekstrem, daging tikus hutan merupakan santapan yang pertama dicarinya. Menurutnya, daging tikus, wajib untuk disajikan pada pesta-pesta atau untuk menyambut tamu.

Karena digemari, tak heran jika harga daging tikus hutan ini lumayan mahal. Menurut Rommy, pada hari biasa satu ekor tikus dijual Rp20 ribu. Harganya akan meningkat hingga Rp30 ribu per ekor pada hari-hari besar seperti Natal, tahun baru dan juga pengucapan syukur yang dilaksanakan setiap tahun.

“Biasanya dari jauh hari sudah ada yang pesan untuk dicarikan daging tikus. Karena untuk menangkapnya juga lumayan susah, “ ujar Rommy kembali.

Menurut Fendry Rau, pencari hewan-hewan ekstrem asal Tambelang, Kabupaten Minahasa Selatan, karena banyak dicari orang, saat ini tikus hutan mulai susah untuk dicari. Mereka harus masuk jauh ke dalam hutan untuk menemukan tikus-tikus hutan yang bisa dijadikan lauk untuk makan.

Sebenarnya, menurut Fendry, paniki juga menjadi santapan yang enak. Tapi, untuk berburu paniki, ada musimnya sehingga tidak setiap saat. Paniki akan banyak ditemukan saat musim buah-buahan, karena itu adalah makanan utamanya.

“Tapi karena paniki ada banyak saat musim buah-buahan, ya kadangkala para pemburu tidak menjadikan hewan paniki ini sebagai buruan utama,” kata Fendry.

Menurut Fendry, selain permintaan yang banyak, mahalnya daging hewan-hewan itu karena untuk mencarinya memerlukan tenaga ekstra. Belum lagi tingkat bahayanya yakni diserang hewan lain.

Ini pernah dialami Jerry Suoth. Saat ia masuk hutan untuk berburu tikus, tiba-tiba ada ular yang mau menyerangnya. “Tapi, karena sudah biasa, ya sekalian ular itu yang kita jadikan buruan,” ujarnya.

Puluhan ekor kucing di dalam kandang menunggu giliran dibunuh di pasar ekstrim Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Desember lalu.
Puluhan ekor kucing di dalam kandang menunggu giliran dibunuh di pasar ekstrim Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Desember lalu. | Isa Anshar Jusuf /Beritagar.id

***

Denni Pinontoan, pegiat budaya Minahasa mengatakan, kuliner yang berasal dari daging tikus, kelelawar, kodok, anjing, serta babi hutan, merupakan santapan yang sudah ada sejak leluhur mereka. “Di masa-masa perburuan, tikus mungkin sudah dikonsumsi,” kata Dosen di Universitas Kristen Indonesia (UKI) di Tomohon ini.

Sementara untuk babi, kata Denni, dalam banyak laporan disebut hewan itu dulunya dijadikan hewan ritual agama-agama tua di Minahasa. Babi biasanya digunakan untuk persembahan dan kemudian dimakan bersama.

Sebenarnya, kata Pinontoan, dalam budaya Minahasa, ada beberapa hewan yang dianggap bisa memberikan pertanda untuk aktivitas manusia. Seperti ular piton yang dianggap sakral karena dipercaya memberi tanda baik atau buruk.

"Misalnya, kalau lagi melakukan perjalanan tiba-tiba ada ular memotong jalan, dianjurkan untuk berhenti sejenak. Karena bisa saja ular itu memberi tanda akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi di depan," ujar pria yang juga aktif di sekolah keberagaman ini.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR