Keterangan Gambar : Perempuan kini sudah lazim melakoni profesi khas lelaki. © Shutterstock / Rawpixel.com

Perubahan terhadap peran perempuan telah datang. Kesetaraan gender mengubah persepsi terhadap apa yang bisa dilakukan perempuan masa kini.

Tahun demi tahun, kehidupan mengalami perubahan. Zaman dulu kaum perempuan memiliki keterbatasan untuk apapun, tetapi kini mereka bisa menjadi apapun. Bahkan bisa melakukan pekerjaan yang dipersepsikan sebagai dominasi kaum laki-laki.

Perubahan itu tidak datang dari langit. Bicara tentang partisipasi perempuan Indonesia, nama Raden Ajeng Kartini akan terlintas. Perjuangan Kartini, diakui sebagai salah satu pergerakan penting di dunia pada awal abad-20. Itu pengakuan Agnes Louise Symmers, penulis buku Letters of A Javanese Princess (1912).

Buku itu tak lain adalah terjemahan surat Kartini, yang aslinya dibukukan J.H. Abendanon, Door Duisternis Tot Licht (1911). Arti harfiahnya "dari kegelapan menuju cahaya", namun lebih populer dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran (1922). Buku terjemahan Empat Saudara itu, menempatkan nama Armijn Pane--sastrawan pelopor Pujangga Baru--sebagai salah seorang penerjemahnya.

Pikiran modern Kartini pada masa penjajahan Belanda itu, sebagaimana dikisahkan Symmers, terpicu oleh sebuah pertanyaan dari seorang gadis Belanda di Europeesche Lagere School, Semarang, bernama Letsy Detmar. Letsy adalah sahabat Kartini di sekolah itu, yang juga putri Sang Kepala Sekolah.

Suatu saat Letsy bertanya kepada Kartini, "...Kau belum pernah bercerita kepada saya, kamu ingin menjadi apa bila dewasa nanti?" Pertanyaan itu menggelisahkan batin Kartini, hingga membuatnya dicap sebagai pemberontak. Namanya kemudian diabadikan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Presiden Sukarno.

Di luar kontroversi tentang buku dan pemikiran Kartini, perubahan terhadap peran perempuan itu telah datang. Kesetaraan gender--meski masalahnya belum tuntas di Indonesia hingga sekarang--telah mengubah persepsi terhadap apa yang bisa dilakukan perempuan masa kini.

Lihatlah profesi Fita Melissa, Marline, dan Monica Olga. Seperti diceritakan kepada Beritagar.id, profesi masing-masing memang dijalani bukan atas dasar emansipasi. Mereka memilih profesinya lantaran tertantang dan memang menyukainya.

Fita, 25 tahun, kini bekerja sebagai konsultan pengawas pembangunan konstruksi. Sedangkan Marline menekuni profesi di bidang teknologi informasi, dan Monica yang biasa disapa Caca menjadi seniman tato.

"Pekerjaannya mengawasi kontraktor di lapangan, mengelola proyek, dan memeriksa apakah semua sudah sesuai standar," kata Fita dalam perbincangan di kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (18/4/2017).

Karena tugasnya, Fita lebih banyak berada di lapangan--construction site. Atau dalam istilah perempuan berambut panjang ini, "lapangan banget."

Fita bersyukur tak pernah mengalami hambatan berarti meski bekerja di bidang konstruksi yang didominasi para laki-laki. Ia juga tak pernah mendapat perlakuan berbeda, terutama dari segi tuntutan pekerjaan.

"Tidak ada hambatan sebagai perempuan, pun tidak pernah mendapatkan perlakuan berbeda. Perempuan dan laki-laki sama saja perlakuannya," ujar Aline, sapaan akrab Marline, dalam obrolan lewat layanan mengirim pesan. Ia sudah empat tahun menjadi Section Head Technical Development di PT Anabatic Technologies.

Fita menceritakan pernah bekerja di perusahaan kontraktor pertambangan dengan lokasi kerja di Kalimantan dan Timika (Papua). Selama sekitar dua tahun di dua lokasi itu, Fita menjadi project engineer.

Lebih lanjut Fita menceritakan perbedaan pengalaman bekerja di sektor konstruksi dan pertambangan. Saat ini, sebagai konsultan pengawas konstruksi, perempuan yang belum lama menikah ini lebih sering berurusan dengan manajer dan membutuhkan keterampilan teknis untuk menyatakan pendapat.

Sedangkan di pertambangan, Fita selalu berurusan dengan para tukang yang kebanyakan adalah pria senior. Jadi, kadangkala ada saja pandangan miring--apalagi ketika itu Fita adalah lulusan baru (fresh graduate) dari Teknik Sipil Institut Teknologi (ITB) Bandung.

Itu sebabnya Fita menegaskan bahwa untuk mengatasi masalah pekerjaan hanya dibutuhkan pendekatan personal dan komunikasi. Lagi pula, Fita senang bekerja dengan para lelaki.

"...enggak banyak drama dan ngerumpi," katanya diikuti tawa.

Fita di lokasi konstruksi.
Fita di lokasi konstruksi.
© Koleksi pribadi

Lain lagi cerita Aline. Menurutnya, perempuan terbiasa melakukan suatu pekerjaan hingga detail. Setidaknya itu pengalamannya bekerja di dunia teknologi informasi.

Diakuinya, kelemahan perempuan adalah sering kali kurang cermat dalam mencari solusi atau musabab permasalahan dalam sebuah pekerjaan. Bagaimanapun, menurut perempuan kelahiran 7 Maret 1990 ini, semua itu tak lebih berat dari tantangan yang sekarang dijalani; jam kerja tak menentu.

"Harus lembur sampai malam atau subuh, bahkan bisa tidak pulang alias lembur sampai besok," tutur Aline yang memang lulusan teknologi informasi.

Aline pun tak menyesalinya. Baginya, itu adalah risiko profesi yang memang disenanginya dan tetap harus dijalani.

"...yang terpenting kita harus menjalaninya sebagai kewajiban, bukan karena paksaan. Dan bekerja harus dibawa enjoy dalam pengertian Anda suka melakukannya," tambahnya.

Itu sebabnya Aline tak pernah punya pikiran untuk ganti profesi. Ia hanya punya impian pindah ke bidang perusahaan berbeda, misalnya industri bank.

Setali tiga uang, Fita juga sempat tergoda untuk pindah bekerja di bank. Namun ia urung melakukannya karena karyawan bank dinilai mudah stres mengejar target.

Fita pun menilai pekerjaan di dunia konstruksi bisa dikerjakan dengan santai selama mampu mengatur waktu dengan baik. Apalagi dunia konstruksi sangat luas. "Aku tertarik mengerjakan konstruksi proyek bandara dan jalanan," imbuhnya.

Monica Olga merajah.
Monica Olga merajah.
© Something Tattoo

Seperti yang diinginkan banyak orang, menjalani profesi atas dasar hobi dilakukan Caca. Berawal dari kegemarannya menggambar, perempuan berusia seperempat abad ini kemudian tertarik menjadi tattoo artist sejak 2013.

Ketertarikannya pada tato berawal kala ia duduk di bangku SMA. Tak mendapat lampu hijau untuk merajah tubuhnya, nasib mempertemukan Caca dengan sang suami yang adalah seorang seniman tato.

Gayung bersambut, keinginannya dulu perlahan mulai terwujud. Perempuan kelahiran Jakarta, 11 Mei 1992 ini belajar seni merajah tubuh di Bali, hingga akhirnya diakui sebagai seniman tato.

Caca menggeluti alur mewujudkan tato dengan saksama. "Proses awal sebelum nato itu tracing gambar dulu dari foto ke kertas karbol, dan itu manual ya, komputer hanya untuk cetak foto," jelasnya antusias.

Kini perempuan berkulit kuning langsat ini mengaku tidak memiliki kesulitan yang berarti dalam membuat tato. Semakin detail, justru semakin menantang.

Meski sama-sama menggeluti profesi yang khas lelaki, Caca berbeda dengan Fita dan Aline. Pertama, Caca tidak bekerja di perusahaan kelas besar melainkan unit usaha milik suaminya yang kebetulan punya studio tato Something Tattoo di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Kedua, Caca berhubungan langsung dengan konsumen. Perbedaan ini sekaligus menjadi tantangan terbesar bagi Caca.

"Kesulitannya terbesar adalah menghadapi konsumen yang ingin cepat, jadi terburu-buru," tukas Caca yang belajar banyak soal kesabaran dalam menjalani profesinya.

Adapun soal hasil tato, Caca mengatakan tidak ada perbedaan antara perempuan dan lelaki. Namun soal perlakuan berbeda dari konsumen (laki-laki) pernah dialaminya.

Pengalaman tak enak itu terjadi di Singapura ketika Caca menjadi guest artist. Seorang konsumen menyindirnya untuk mentato gambar Hello Kitty.

"Itu menghina banget sih, secara tampangnya enggak ada tampang Hello Kity," kata perempuan yang memiliki tujuh buah rajah di tubuhnya.

Dari sana Caca memetik pelajaran; mengelola emosi. Ia harus sabar menghadapi permintaan konsumen yang sebenarnya tak tahu apa maunya.

"Yang menyenangkan dari pekerjaan ini adalah karena aku suka gambar dan kerjaannya enak. Waktunya bisa diatur dan enggak kaku seperti di kantor. Terus lebih fun dan enggak ribet, ya walau pun konsumen berbeda-beda, tapi pekerjaan ini membuat aku lebih nyaman."

Menurut Caca, tato adalah momen. Momen ini bukan hal sambil lalu yang hilang seiring waktu, tapi menempel sepanjang usia. Karenanya seseorang perlu benar-benar memikirkan apa yang mereka inginkan.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.