Suasana di Rumah Jil Belanda di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada Rabu siang (13/3/2019)
Suasana di Rumah Jil Belanda di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada Rabu siang (13/3/2019) Bismo Agung
BUI WARISAN KOMPENI

Kode berdarah sel komunis

Rumah Jil merupakan tempat populer. Tapi sedikit yang menyadari masa lalunya yang kelam: sebagai tempat eksekusi.

Mereka datang saat lonceng makan siang berbunyi. Bergerombol, dan berkata kepada salah satu sipir dengan penuh harap: "kami bukan komunis, tolong bantu". Tapi sipir itu malah menjauh.

"Ya saya takut dicap mendukung para napi itu," kata Samad, sang sipir tersebut, mengenang.

Besoknya. Pukul tujuh pagi. Lonceng berbunyi. Tanda semua napi berbaris. Samad terkejut, karena tak mendapati napi-napi yang menemuinya kemarin itu.

"Mereka adalah tahanan PKI (Partai Komunis Indonesia). Biasanya, tahu-tahu menghilang aja," tuturnya menceritakan suasana di Rumah Jil Belanda, Tanjungpinang, Kepulauan Riau pascatragedi kemanusiaan 1965.

Samad adalah pensiunan sipir di Rumah Jil itu. Jil adalah pelesetan dari jeal, bahasa Belanda yang berarti penjara. Ia bekerja di penjara itu sejak 1960. Kini, Rumah Jil berstatus rumah tahanan negara kelas satu.

Lebih dari dua jam saya bicara dengan Samad pada Rabu siang itu (13/3/2019). Sekarang, Samad berusia 82, dengan rambut putih dan banyak senyum. Ia menceritakan hampir semua pengalamannya di penjara. Termasuk soal tahanan PKI.

Siang itu, terik matahari sedang galak-galaknya. Aroma bawang langsung terhirup—saat kami melewati pintu masuk penjara yang bersebelahan dengan dapur. Kala itu sipir dan napi memang sedang menyiapkan makan. Tampak seorang pria, memegang pisau panjang, memotong sayuran dengan lihai.

Penjara lagi penuh aktivitas. Yang perempuan bikin donat, yang pria main takraw dan memangkas rambut. Lingkungannya cukup rapi. Tak ada penumpukan sampah. Terlalu bersih bahkan untuk tempat dengan masa lalu yang kelam.

Suasana di Rumah Jil Belanda di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada Rabu siang (13/3/2019).
Suasana di Rumah Jil Belanda di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada Rabu siang (13/3/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id
Pose Kepala Rutan Kelas I Tanjungpinang, Fonika Afandi dan Samad, pensiunan sipir di Rumah Jil Belanda, Tanjungpinang, Kepulauan Riau,  Rabu siang (13/3/2019).
Pose Kepala Rutan Kelas I Tanjungpinang, Fonika Afandi dan Samad, pensiunan sipir di Rumah Jil Belanda, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu siang (13/3/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Penjara berstatus cagar budaya ini adalah situs besar yang menyimpan banyak cerita. Informasi yang tersebar, penjara seluas 2100 meter persegi ini dibangun 1511 oleh Portugis, beberapa bulan setelah mereka menaklukkan Malaka. Kemudian pembangunannya diselesaikan Belanda tahun 1867.

Tapi informasi ini simpang siur. Sejarawan Kepulauan Riau Aswandi Syahri tak percaya Rumah Jil dibangun Portugis. Menurutnya tak ada kepentingan Portugis membangun penjara kala itu.

"Portugis hanya mengejar Sultan Malaka yang kabur ke Bintan," kata Aswandi, yang meyakini Belanda sebagai pembangun Rumah Jil.

Kepala Rutan Kelas I Tanjungpinang, Fonika Afandi malah menduga Rumah Jil itu awalnya gudang, bukan penjara. Fungsinya untuk menampung logistik Portugis selama peperangan. Tapi tak ada juga literatur yang mendukung itu.

Aswandi pun tetap pada kesimpulannya. Bahwa Belanda yang membangunnya. Sementara Kepala Bidang Sejarah Dinas Pariwisata dan Budaya Tanjungpinang, Meitya Yulianti, masih percaya kalau Portugis sebagai pembuat Rumah Jil itu.

Yang terang, datang ke Rumah Jil seperti mundur beberapa ratus tahun. Dari depan, bangunannya menyerupai benteng dengan tiga blok rumah besar di dalamnya. Seperti bentuk huruf E dengan tiang-tiang tinggi. Tiap blok itu dinamai: Bintan, Penyengat dan Melati.

Ada sekitar 21 ruang tahanan dengan ukuran variasi. Sebagian besar berukuran 8 X 5 meter. Per hari itu—saat kami berkunjung ke sana—jumlah tahanannya mencapai 395 orang. "Tahanan di sini gak terlalu banyak," kata Johan (58), seorang sipir.

Pada hari kedua kunjungan, Johan mengajak kami ke bagian belakang penjara. Di sana ada sumur besar dan dua sel kecil berkarat. Di tembok sel-sel itu ada grafiti dan coretan tahanan yang pernah di sana. Di antaranya gambar bunga dan puisi-puisi cinta.

Samad menggambarkan dua sel itu sambil tarik nafas dalam-dalam. Sebab, sel bagian belakang itu dulunya diduga sebagai tempat siksaan. Beberapa tahanan yang pernah dihukum di sel itu jadi gila. Yang lain terdorong untuk bunuh diri.

Tahun kemarin ada tahanan yang bunuh diri ketika diisolasi di sel itu. Tahanan itu adalah residivis yang sering mencoba kabur.

Aktivitas tahanan di dapur Rumah Jil Belanda di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada Rabu siang (13/3/2019).
Aktivitas tahanan di dapur Rumah Jil Belanda di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada Rabu siang (13/3/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id
Menu makan warga binaan Rumah Jil Belanda di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada Rabu siang (13/3/2019).
Menu makan warga binaan Rumah Jil Belanda di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada Rabu siang (13/3/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id
Suasana di Rumah Jil Belanda di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada Rabu siang (13/3/2019).
Suasana di Rumah Jil Belanda di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada Rabu siang (13/3/2019). | Bismo Agung /Beritagar.id

Pada satu waktu, Rumah Jil itu penuh dengan tahanan PKI--pascatragedi kemanusiaan 1965. Samad ingat, para tahanan dibangunkan pagi-pagi. Kemudian diberi sarapan dulu sebelum dipindahkan ke area sumur besar itu oleh tentara.

Para sipir pura-pura tidak tahu. Karena takut. Sebagian mereka diikat tangannya dan ada yang keluar dalam kondisi berdarah. "Kalau kondisinya sudah parah, ditumpuk di sel nomor tujuh, yang memang dikenal angker," kata Samad.

Kala itu, kata kabur memang ada di benak banyak tahanan. Namun upaya itu banyak yang gagal.

Jauh sebelumnya. Pada awal abad 19. Para tahanan juga diperlakukan buruk. Kala itu, kaki dan tangan mereka diikat bola besi. Jika bandel, mereka dimasukkan ke sel, kadang bahkan dieksekusi. Cerita itu turun-temurun dan diketahui antar sipir saja.

Makanya, area sumur besar dan sel nomor tujuh itu dianggap menakutkan. Baik oleh sipir maupun tahanan. Dalam beberapa dekade, peristiwa aneh tak pernah berhenti dilaporkan. Seperti suara-suara aneh dari balik pintu yang menuju sumur itu.

Beberapa kali para penjaga mendengar suara aneh itu. Kedengarannya seolah-olah ada, seperti sesuatu yang berkeliaran, tapi ketika penjaga buka pintu, dia tidak melihat apa-apa.

Begitu penjaga melanjutkan pantauannya dan pintu ditutup, suara-suara itu muncul lagi. “Kita tidak pernah menemukan sumber suara itu. Suaranya sih perempuan. Dikenal sebagai Tante Meri,” ujar Fonika. Tapi tidak ada yang pernah tahu sejarah Meri ini siapa. Tahanan atau bukan, tidak diketahui.

Johan memberi tahu, ada bagian-bagian penjara yang memang terdapat aktivitas paranormalnya. Terutama pada malam hari. “Pada tahun 1987 suasananya lebih seram lagi. Apalagi gelap. Tanpa CCTV dan lampu,” kata Johan. Tahun 1987 adalah tahun pertama ia menjadi sipir di penjara itu.

Angkernya Rumah Jil bisa jadi karena bagian-bagian bangunannya sebagian besar masih asli. Termasuk pintu gerbang penjara. Tapi, ketika terpilih jadi kepala rutan, Fonika menambahkan satu ruangan kecil di bagian depan penjara untuk menggelar rapat.

Tampak, bagian atap bangunan penjara sudah diganti dengan seng. Sebab itu, hawanya cukup panas. "Panas lah, kan di pulau. Meski begitu para warga binaan punya banyak kegiatan kreatif dan senang olahraga," ujar Fonika.

Penjara ini memang seperti dirancang untuk memungkinkan para tahanan berkegiatan. Lapangannya luas dan banyak bengkel-bengkel kreatif. Dua hari di sana, kami melihat tahanan membuat bangku kayu, olahraga dan memasak kue.

Bahkan kue itu menghasilkan sedikit bagi pemasukan mereka. “Kue itu dijual di warung kunjungan,” kata napi korupsi bernama Fadillah Malarangeng.

Siang itu, di area kunjungan penjara, para pengunjung menemui keluarga mereka yang ditahan. Wajah-wajahnya seperti adegan di sinetron. Ada yang menangis dan ada yang berpelukan. “Kalau saya, jarang dikunjungi,” kata Ijak Khung (60), salah seorang napi narkoba yang menempati sel nomor tujuh.

Sel nomor tujuh yang dikenal angker itu kini jadi sel isolasi bagi yang sakit. Secara terbuka Ijak bilang dirinya adalah ODHA alias orang pengidap HIV/AIDS. "Tapi saya bukan PKI ya he-he," ujarnya. Ia bersama rekannya Yohanes Isai sudah satu tahun di kamar itu. “Saya senang di sini. Tapi saya ingin pulang,” ujar Ijak.

Dus. Rumah Jil ini memiliki tingkat keamanan tinggi. Anda akan melihat pintu-pintu yang terkunci gembok besar di mana-mana. Seperti berlapis. “Jika sudah masuk, akan susah untuk kabur keluar,” kata Sumar, salah satu sipir yang juga memandu kami.

Itu benar, dan Anda juga tidak bisa tidak merasakan rambut di bagian belakang leher Anda naik saat berada di sana.

Jumlah tahanan Rumah Jil Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Jumlah tahanan Rumah Jil Tanjungpinang, Kepulauan Riau. | Beritagar.id /Kemenkumham
Artikel Terkait