Sabyan berpose menjelang konser di Ecopark Ancol Jakarta (24102018). Konser yang bertajuk Konser Indonesia Sejuk di Allianz Ecopark, Ancol (3/11/2018)
Sabyan berpose menjelang konser di Ecopark Ancol Jakarta (24102018). Konser yang bertajuk Konser Indonesia Sejuk di Allianz Ecopark, Ancol (3/11/2018) Muhammad Adimaja/Antara Foto
MUSIK INDONESIA

Lagu religi saat Ramadan, Sabyan juaranya

Berbekal lagu-lagu religi, kelompok musik Sabyan mampu menerobos tangga lagu Top 200 di Spotify.

Suasana petang di area kolam renang yang terletak di samping ruang Gunawarman 1, lantai 6, Hotel GranDhika, Jl. Iskandarsyah, Jakarta Selatan (24/5/2019), belum ramai tetamu. Masih sekitar 90 menit lagi menuju buka puasa.

Hanya ada beberapa pelayan hotel lalu-lalang membawa makanan dan menyajikannya di atas meja panjang. Hari itu Visinema Group mengadakan buka puasa bersama para jurnalis sekaligus mengumumkan beberapa proyek film terbaru mereka yang akan rilis.

Sembari memerhatikan menu buka puasa apa saja yang mereka hidangkan, saya mendengarkan lagu-lagu bertema religi yang muncul dari pengeras suara di area tersebut.

Mungkin karena sedang mengikuti tren, pengelola hotel atau orang yang diserahi tanggung jawab menyusun daftar putar sore itu, memutarkan beberapa lagu Sabyan.

Lamat-lamat terdengar suara sapuan kibor. Tak sampai satu bar, muncul suara Nissa melantunkan lirik berbahasa Arab dengan repetitif.

Oh ya jamalu ya jamalu…

Oh ya jamalu ya jamalu…

Oh ya jamalu ya jamalu…

Sidnan nabi ya jamalu…

Aslinya lirik di atas merupakan bentuk selawat kepada Rasulullah Muhammad SAW. Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, ya jamalu yang juga menjadi judul lagu berarti “wahai keindahan”.

Lagu “Ya Jamalu” masuk dalam mini album Sabyan yang rilis pada 2018. Merujuk akun Official Sabyan Gambus di YouTube, videoklip lagu tersebut sejak diunggah pada 11 Mei 2018 hingga artikel ini ditulis (25/5) telah mendapat lebih dari 97 juta views.

Sejak terbentuk pada 2015, kelompok yang dimotori Ahmad Fairuz (kibor), Nissa (penyanyi utama), Anisa Rahman (penyanyi latar), Sofwan Yusuf (perkusi), Kamal (darbuka), dan Tubagus Syaifulloh (biola atau gambus) melejit di antara pengusung musik religi lainnya di tanah air.

Fase kepopuleran Sabyan datang sejak setahun terakhir. Berturut-turut lagu daur ulang yang mereka bawakan, kebanyakan bertema selawat, selalu mencatat angka penonton puluhan juta, bahkan ratusan juta, di kanal YouTube.

Menjadi cerita yang tidak mengherankan jika sering kali lagu-lagu mereka menjadi topik tren di platform berbagi video tersebut.

Bagi Adib Hidayat, pengamat musik sekaligus Editor in Chief Billboard Indonesia, melesatnya popularitas Sabyan bukan hal baru dalam era internet seperti sekarang.

Khusus di ranah musik, sudah banyak nama yang populer berkat kecermatan memanfaatkan kehadiran berbagai kanal media sosial dan YouTube. Rich Chigga dan Young Lex adalah dua bukti.

“Sabyan bisa populer karena mereka punya lagu yang pas dan muncul pada momentum yang tepat,” ujar Adib saat ditemui Beritagar.id dalam acara buka puasa bersama Megapro Communication di Kelapa Dua, Kebon Jeruk, Jakarta Barat (20/5).

Bahkan saking populernya, rumah produksi Falcon Pictures bersiap mengadaptasi perjalanan karier grup musik ini dalam film layar lebar bertajuk Sabyan Menjemput Mimpi. Rencananya perilisan film tersebut pada 27 Juni 2019.

Perbandingan jumlah pemutaran lagu-lagu religi dan nonrerligi di Spotify sejak kurun Ramadan 2018 dan 2019
Perbandingan jumlah pemutaran lagu-lagu religi dan nonrerligi di Spotify sejak kurun Ramadan 2018 dan 2019 | Teks & Olah data: Aghnia Adzkia, Rabiatul Adawiyah, dan Nur Cholis/Desain: Danil Aufa

Rentang empat atau tiga tahun terakhir, berjejalan nama baru di industri musik yang mencuat karena mengusung musik indie rock, electronic dance, hiphop, maupun folk.

Sabyan hadir mengisi tempat yang selama ini seolah dibiarkan kosong padahal sangat potensial menggaet banyak penggemar.

Nama yang pernah sangat mencuat dalam subgenre ini adalah ketika Haddad Alwi menggandeng Sulis lewat seri album Cinta Rasul. Itu pun sudah berlalu hampir dua dekade silam.

Mundur lebih ke belakang, pada medio 1990-an sempat ada beberapa kelompok nasyid mewarnai khazanah musik religi di Indonesia. Dua nama yang paling menonjol dari rombongan itu adalah Snada dan Izzatul Islam.

Penantian panjang para remaja yang rindu dengan sajian lagu-lagu islami akhirnya terbayarkan seturut kehadiran Sabyan.

Walaupun untaian liriknya berbahasa Arab, musik yang diusung sekstet ini tetaplah berbungkus aransemen pop modern.

Tambah lagi dengan momentum ketika tren hijrah juga melingkupi kaum muda. Soal penampilan, Sabyan punya Nissa (20) yang dengan busana syar’i nan modis turut menjadi panutan. Paket lengkap.

Ketika Ramadan tiba, lagu-lagu Sabyan sontak menjadi terdepan di antara lagu-lagu bernuansa religi lainnya. Sungguh pun sekarang perilisan single atau album religi menjelang bulan puasa tak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Hasil olah data Beritagar.id berdasarkan jumlah pemutaran lagu-lagu di Spotify sepanjang Ramadan tiga tahun terakhir, hanya lagu-lagu Sabyan berhasil menembus daftar tangga lagu Top 200 untuk kawasan Indonesia di tengah serbuan lagu-lagu yang lebih “sekuler”.

Tambahan catatan, dari kurun waktu tiga Ramadan terakhir, data pemutaran lagu religi yang masuk Top 200 Indonesia di Spotify hanya ditemukan pada 2018 dan 2019 (hingga 16/5).

Total pemutaran lagu religi hanya 4,4 juta kali (sekitar 0,89 persen) dari total 497,6 juta kali pemutaran lagu nonreligi. Tentu sangat mungkin jumlah pemutaran tersebut bertambah hasil sumbangan lagu-lagu religi lainnya. Hanya saja jumlahnya tidak signifikan sehingga Spotify absen mencantumkan datanya.

Parameter sebuah lagu masuk tangga lagu alias chart adalah seberapa banyak jumlah pemutarannya dalam satu periode. Sejumlah stasiun radio menggunakan jumlah request dari pendengar sebagai penentu posisi..

Seperti terlihat pada infografik di atas, pemutaran lagu-lagu religi paling tinggi terjadi pada minggu ketiga Ramadan 2018 yang mencapai 930.288 pemutaran. Kemudian saat Lebaran 2018 yang tercatat lebih dari satu juta kali pemutaran.

Dari beberapa lagu religi yang berhasil menyodok masuk ke Top 200 milik Spotify kurun Ramadan 2018, angka pemutaran terbanyak semua ditembanglaraskan oleh Sabyan.

Pemutaran lagu Sabyan selama bulan puasa tahun lalu mencapai lebih dari 3,5 juta kali untuk lima lagu. Sementara pada 2019, hingga pekan kedua Ramadan tercatat sudah 932.934 pemutaran.

Lagu terpopuler mereka sepanjang Ramadan 2018 berjudul “Ya Jamalu” (1,3 juta kali putar). Setahun berselang, lagu “Ya Maulana” menjadi yang paling tinggi dengan frekuensi 383.698 kali putar.

Seminggu sebelum Ramadan 2018, “Ya Jamalu” hanya menduduki peringkat 145. Posisi tersebut melesat jadi penghuni peringkat 10 saat Lebaran.

Memasuki pekan kedua Ramadan 2019, tercatat belum ada lagi lagu religi yang berhasil menembus 10 besar tangga lagu populer Spotify.

Drive saat tampil dalam acara Kurma 2019 yang diadakan Megapro Communication di Kelapa Dua, Kebon Jeruk (20/5/2019)
Drive saat tampil dalam acara Kurma 2019 yang diadakan Megapro Communication di Kelapa Dua, Kebon Jeruk (20/5/2019) | Andi Baso Djaya

Sebagai negara dengan jumlah penduduk beragama Islam terbesar di dunia, bukan hal aneh jika momentum Ramadan dan Lebaran kerap dimanfaatkan untuk merilis konten-konten bernuansa islami.

Terkhusus dalam industri musik populer, kelompok Gigi menempati garda terdepan yang memantik tren ini.

Armand Maulana, Dewa Budjana, Thomas Ramdhan, dan Gusti Hendy memulai lewat album Raihlah Kemenangan (2004).

Catatan arsip Majalah Gatra (edisi 22 September 2010) menulis, album yang diedarkan Sony Music Indonesia itu ludes sebanyak 450 ribu keping dan berhak merail plakat multiple platinum.

Petinggi label sontak terkaget dengan pencapaian tersebut mengingat usia sebuah lagu, terlebih album religi, yang rilis memanfaatkan momentum bulan puasa relatif pendek. Pasalnya setelah Ramadan lewat orang-orang akan kembali mendengarkan lagu-lagu nonreligi.

Mengikuti kesuksesan Gigi adalah kelompok Ungu yang lagu-lagunya kerap menghiasi sinentron Para Pencari Tuhan, tontonan khusus saban bulan suci.

Grup musik yang berpersonelkan Pasha (vokalis), Makki (bassis), Enda (gitaris), Arlonsi (gitaris), dan Rowman (drummer) merilis album religi perdana berjudul SurgaMu pada 2006 di bawah label Trinity Optima Production. Penjualannya mencapai 900 ribu keping.

Alhasil semakin banyak musisi yang ikutan merilis album dan single religi setiap Ramadan. Mulai dari J-Rocks, Wali, Radja, D’Masiv, Geisha, Drive, dan masih banyak lagi.

“Sampai saat ini album Surga-Mu masih yang tertinggi penjualannya dari seluruh katalog album maupun single religi rilisan kami, baik format digital maupun album fisik,” jelas Yonathan Nugroho, Managing Director Trinity Optima Production, dilansir Billboard Indonesia (18/5).

Fakta yang diungkapkan Yonathan di atas sebenarnya cukup miris mengingat Ungu merilis empat album religi lain setelahnya. Sekaligus jadi penanda bahwa Ramadan tak bisa lagi diandalkan sebagai momen meraih banyak pemasukan.

Peredaran lagu-lagu religi baru menyambut Ramadan sejak dua tahun terakhir memang tak lagi seramai dulu.

Hanya ada segelintir nama besar yang tetap konsisten. Mengulangi kebiasaannya setiap Ramadan sejak 2013, Sandhy Sondoro kembali merilis “Sang Maha Pengasih”.

Solis berusia 45 ini sengaja membalut tembang islami terbarunya dengan lirik dan aransemen musik lebih simpel. “Namun maknanya dalam karena ini lagu kepada Maha Pencipta,” ungkap Sandhy.

Ungu juga kembali menelurkan lagu religi paling gres berjudul “Penghuni Surga Sejatimu” menjadi soundtrack sinetron Para Pencari Tuhan jilid 12. Terakhir mereka hadir lewat single “Bila Tiba” yang terdapat dalam album Ruang Hati (2013).

Sementara Sabyan memanfaatkan Ramadan tahun ini untuk merilis album penuh pertama mereka berjudul Bismillah.

Pun demikian, belum ada satu pun lagu-lagu dari yang namanya tersebutkan di atas yang mampu menorobos tangga lagu Top 200 di Spotify untuk kawasan Indonesia.

Sejumlah hits seperti “Cinta Luar Biasa” (dari Andmesh), “Adu Rayu” (Yovie Widianto), atau “Waktu yang Salah” (Fiersa Besari) yang notabene rilis jauh sebelum bulan puasa lebih menjadi favorit.

Hemat Adib Hidayat, itu terjadi lantaran pergerakan lagu yang menjadi hit di Indonesia cenderung butuh waktu lama. Makanya sejumlah single religi baru yang dirilis hanya beberapa pekan sebelum Ramadan 2019 belum kunjung menyodok dalam jejeran Top 200 milik Spotify.

“Untuk menjadi hit sebuah lagu butuh waktu minimal sekitar tiga atau empat bulan. Jadi kalau Ramadan itu bulan Mei, single religi idealnya mulai dirilis sekitar Januari. Nanti dari situ ketahuan lagu tersebut bisa jadi hit atau tidak,” pungkas Adib.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR