Sebagian penggawa Visinema Group saat acara temu media dan buka puasa bareng di Hotel GranDhika Iskandarsyah, Jakarta Selatan (24/5/2019)
Sebagian penggawa Visinema Group saat acara temu media dan buka puasa bareng di Hotel GranDhika Iskandarsyah, Jakarta Selatan (24/5/2019) Andi Baso Djaya/Beritagar.id
FILM INDONESIA

Langkah besar Visinema

Visinema Group menjadikan sumber daya manusia dan keragaman cerita sebagai investasi terbesar.

Semua langkah besar dimulai dari langkah kecil. Walt Disney bersama Ub Iwerks menempati studio pertama mereka dalam sebuah gudang tua. Sementara Steve Jobs dan Steve Wozniak menjadikan garasi sebagai kantor pertama Apple Computer.

Berbekal inovasi dan kerja keras mewujudkan mimpi, Disney dan Apple kini berhasil menjadi pengisi daftar “The World's Most Valuable Brands”.

Nyaris tak ada golongan kelas menengah penyuka hiburan dan teknologi yang tidak mengetahui kedigdayaan dua perusahaan tersebut.

Langkah kecil serupa juga dilakukan Angga Dwimas Sasongko, saat mendirikan Visinema Pictures pada 2008.

Sebuah garasi di Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan (Jaksel), milik seorang kawannya ia sewa dan jadikan kantor.

Dengan bantuan seorang pegawai, inventaris kala itu hanya dua buah meja dari kayu jati, beberapa kursi, dan seperangkat komputer. Tak lebih.

“Meja kayu ini pemberian bokap (ayah, red). Setelah pindah kantor, papannya gue jadikan bagian pintu supaya orang-orang yang masuk kantor ini tahu bahwa di sinilah Visinema bermula,” terang Angga kepada saya saat menemuinya di kantor pusat Visinema Group di mintakat Cilandak Timur, Jaksel (25/6/2019).

Usai menjelaskan sejarah singkat berdirinya Visinema, kami mengelilingi kantor yang berdiri di atas lahan seluas 2000 meter persegi itu. Total pegawainya sekarang telah mencapai sekitar 120 orang.

Berbeda dengan kantor perusahaan film lain yang biasa saya datangi, dinding di kantor Visinema lebih banyak memajang lukisan alih-alih poster film yang telah mereka produksi. Serasa berada di dalam galeri lukisan.

Menurut Angga, hal itu dimaksudkan untuk menciptakan atmosfer bahwa mereka semua bekerja di perusahaan kreatif.

Salah satu lukisan favoritnya sengaja diletakkan di dinding sebelah kanan setelah pintu masuk ruang kerja Visinema.

Lukisan tersebut karya Dedy Supriadi asal Yogyakarta. Pelukis ini kerap memaknai ruang tak lain adalah garis dalam wujud teks.

“Lukisan ini menggambarkan gue sebagai seniman,” katanya. Dalam kanvas yang berisi sapuan warna putih gading itu ada kutipan terkenal dari Rebekah Joy Plett.

Angga membacakannya dengan mengganti kata “artist” dan “object” dengan “filmmaker” dan “entertainment”. Lalu dengan pelan ia membacakannya:

When you buy something from an filmmaker, you are buying more than an entertainment. You're buying hundreds of hours of errors and experimentation. You're buying years of frustation and moment of pure joy. You're not buying just one thing. You're buying a piece of a heart, a piece of a soul, a small piece of someone else's life

Rebekah Joy Plett

“Kalimat itu menjadi moto dalam perusahaan kami. Namanya membangun perusahaan atau organisasi, lo pasti akan selalu bereksperimen dan mengalami eror. Pertanyaannya sekarang, apakah kita mau menggunakannya untuk bertumbuh atau mau main aman?,” ujarnya.

Daftar film yang akan dirilis Visinema Pictures hingga 2020
Daftar film yang akan dirilis Visinema Pictures hingga 2020 | Visinema Pictures

Menjadi rumah tumbuh kembang bersama

Visinema adalah tempat bagi bakat-bakat muda yang ingin sama-sama tumbuh mencari celah baru, pangsa pasar baru, dan kemungkinan-kemungkinan dalam penceritaan yang baru.

“Kadang ada yang berhasil, ada juga yang enggak. Oleh karena itu, gue memberikan ruang untuk kesalahan dan eksperimentasi. Asal selalu ada progres,” katanya.

Ia mencontohkan progres yang terjadi dalam pembuatan film Filosofi Kopi (2015) dan sekuelnya yang meluncur dua tahun berselang.

Pola racikan dua film tersebut sangat berbeda. Dalam Filkop, untuk pertama kalinya mereka mengenalkan yang namanya “user generated movie”.

Khalayak diperkenankan menyumbang ide visual dan elemen-elemen artistik film. Tujuannya agar gambar dalam versi film bisa mewakili imajinasi pembaca cerpennya.

Saat hendak memproduksi sekuelnya, Filosofi Kopi: Ben & Jody, giliran khalayak diperkenankan menentukan cerita dan menciptakan karakter pendamping baru lewat kompetisi #NgeracikCerita. Hingga kemudian hadirlah tokoh Tarra (diperankan Luna Maya) dan Brie (Nadine Alexandra).

Pengalaman dari dua kali melibatkan partisipasi khalayak tadi semakin membuka mata Angga. Sesungguhnya ada banyak talenta baru nan berbakat di luar sana yang menantikan datangnya kesempatan.

Untuk ia berkomitmen menjadikan Visinema sebagai rumah bagi para bakat baru untuk tumbuh dan berkembang bersama dalam berkarya.

“Jadi bukan cuma tempat untuk gue doang. Jadi lo gak bakal menemukan credit title bertuliskan ‘An Angga Sasongko production’ dalam film-filmnya Visinema,” sambung Angga.

Sudah ada beberapa nama yang berkesempatan menjalani debut di industri film melalui Visinema. Sebutlah misalnya Chicco Jerikho yang mengawali petualangannya sebagai aktor film lewat Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014) garapan Angga.

Lalu dari kursi sutradara, Visinema tak segan mempercayakan kendali penyutradaraan film dengan jenama sepopuler Keluarga Cemara kepada Yandy Laurens, sosok yang sebelumnya lebih sering membuat film pendek.

Sabrina Rochelle Kalangie, sutradara miniseri Filosofi Kopi The Series: Ben & Jody , mendapatkan tongkat komando dalam film Terlalu Tampan.

Dalam beberapa proyek film yang sudah diumumkan Visinema hingga 2020, beberapa sutradara debutan masih akan hadir, yaitu Ruben Adrian dan Irfan Ramly.

Ruben yang sebelumnya menyutradarai beberapa iklan dan web series, termasuk sebagian episode Filosofi Kopi the Series yang saat ini tayang di Go-Play, akan menyutradarai film Kostan Mas Jay.

Sementara Irfan, selama ini lebih banyak menulis skenario, akan mengepalai produksi film Melankolia, yang sebelumnya sempat akan diberi judul Sephia (seperti dalam gambar di atas).

“Itu film drama romantis,” jawab Ipang, sapaan Irfan, kepada saya saat menghubunginya.

Posisi sebagai produser juga diamanatkan kepada nama-nama yang sebelumnya tak banyak orang tahu. Ada Nurita Anandia, Cristian Imanuell, dan Kori Adyaning.

“Buat gue yang paling menarik hari ini adalah melihat bakat-bakat baru itu naik ke atas panggung mempresentasikan filmnya dan gue ada di belakang,” kata Angga.

Suatu ketika, sineas Andibachtiar Yusuf (45) pernah mengutarakan kepada saya seperti apa rasanya bekerja sama dengan Visinema.

Ucup, panggilan akrabnya, telah menyutradarai film Love for Sale (2018) dan Bridezilla yang tayang mulai 1 Agustus 2019 di bawah panji Visinema.

Kini ia sedang melakukan proses syuting Love for Sale 2 yang dijadwalkan meluncur akhir 2019.

“Setiap kali kami berdebat, tidak pernah ada teori yang patah karena alasan laku dan enggak laku. Bukan itu pertimbangan yang dipakai di sini. Buat gue itu sebuah kemewahan yang terkadang enggak gue dapatkan di tempat lain,” ungkap Ucup.

Transformasi perusahaan

Raihan jumlah penonton dan prestasi yang didapatkan film-film produksi Visinema Pictures
Raihan jumlah penonton dan prestasi yang didapatkan film-film produksi Visinema Pictures | Teks dan olah data: Rabiatul Adawiyah/Desain: Danil Aufa /filmindonesia.or.id

Prestasi Cahaya dari Timur: Beta Maluku sebagai Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2014, lalu menyusul keberhasilan melebarkan potensi bisnis Filosofi Kopi tidak hanya sebatas film, membuat Angga berani memancang target.

Ia ingin menjadikan Visinema Pictures lebih besar lagi. Sebagai payung besar yang menaungi banyak lini bisnis, tidak terbatas hanya soal film bioskop semata.

“Selain itu, dalam membuat film kami tidak melulu melihat skala bisnisnya hanya dari jumlah penonton. Lebih holistik,” jelasnya.

Pria yang mengawali karier filmmaker-nya sebagai asisten sutradara tiga dalam film Catatan Akhir Sekolah (2004) itu melanjutkan, tidak ada organisasi kreatif seperti Visinema yang bisa mengembangkan sebuah cerita pendek menjadi jenama yang punya kedai dan lini bisnis dengan skala seperti Filkop sekarang.

Sumber pendanaan untuk mewujudkan bayangan tentang Visinema yang lebih besar berasal dari dua momen pemodalan.

Pertama seturut masuknya dukungan dari Ancora Capital melalui Gita Wirjawan sebagai angel investor saat memproduksi Cahaya dari Timur.

Momen kedua terjadi tahun lalu seturut masuknya Global Digital Prima (GDP) Venture.

Dijelaskan Angga bahwa posisi Ancora dan GDP di Visinema sebagai equity partner alias mitra yang punya kepemilikan perusahaan.*

Pun demikian para pendiri Visinema tetap memegang proporsi saham mayoritas.

Kini Visinema Pictures telah bertransformasi menjadi Visinema Group. Di dalamnya selain ada Visinema Pictures dan ritel Filkop, juga menaungi Visinema Content, Visinema Campus, Visinema Music, Visinema Think, Visinema Animation, Sinedu, dan Skriptura.

Berbekal sumber daya manusia mumpuni dan keragaman cerita yang menjadi investasi terbesar dalam menjalankan lini bisnis, Visinema Group mulai tahun ini giat meningkatkan kapasitas produksi.

Khusus dari sektor film, Jika sebelumnya mereka paling banter memproduksi dua film dalam setahun, maka angka itu melonjak hingga tiga kali lipat.

Filkop juga telah membuka satu kedai baru di Semarang. Menyusul kehadirannya di Jakarta dan Yogyakarta. Tahun ini mereka berencana membuka cabang baru lagi di Makassar.

Dari ranah musik, persembahan terbaru label Visinema Music adalah album mini berisi lima lagu dari kelompok Arah.

Nama kelompok yang beranggotakan Roy Sungkono (vokalis), Tanta Ginting (gitaris), Gilbert Pohan (bassis), dan Azizah Hanum (drummer) juga menjadi judul sebuah serial web berisi lima episode yang jadi ranah penggarapannya Visinema Content.

Sementara satu lini bisnis lain yang akan segera mereka kembangkan potensinya adalah Visinema Animation.

"Produksi pertamanya nanti kami bekerja sama dengan studio animasi The Little Giantz mengadaptasi serial Nussa," pungkas Angga yang ternyata penggemar berat film animasi.

Catatan redaksi:

Telah terjadi ralat (15/7/2019), pukul. 22.15 WIB, pada kalimat yang bertanda *. Sebelumnya tertulis, "Dijelaskan Angga bahwa posisi Ancora di Visinema sebagai private equity, sedangkan GDP menjadi family office.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR