Puing-puing bekas ruangan Lapas Kelas IIA Banceuy, Jalan Soekarno Hatta No. 187 A, Bandung, yang terbakar pada Sabtu (23/4/2016).
Puing-puing bekas ruangan Lapas Kelas IIA Banceuy, Jalan Soekarno Hatta No. 187 A, Bandung, yang terbakar pada Sabtu (23/4/2016). Huyogo Simbolon / untuk Beritagar.id
LAPORAN KHAS

Lautan amarah membakar Lapas Banceuy Bandung

Keluarga Undang Kosim, korban tewas di Lapas Banceuy, sangsi ia mati bunuh diri. Di sekujur tubuhnya ditemukan banyak luka, pun ada lebam di bawah mata kiri.

Lima hari pasca kepergian Undang Kosim (54), raut wajah Leni (32) masih terlihat murung. Suasana duka juga masih menyelimuti keluarga yang tinggal di sebuah rumah di kawasan Rajawali Timur, Gang Kebon Jukut, Kelurahan Ciroyom, Kecamatan Andir, Kota Bandung, Kamis (28/4/2016).

Rumah bertembok putih itu berhimpitan dengan rumah lainnya. Untuk menuju rumah Undang, terdapat banyak sekali gang-gang kecil yang lebarnya hanya satu meter. Adapun kondisi rumah begitu sepi saat kontributor Beritagar.id, Huyogo Simbolon, bersambang.

Sesekali Leni termenung saat menuturkan sosok sang ayah. Namun, saat ditanyai soal kematian sang ayah, perempuan yang mengenakan kerudung berwarna ungu ini tampak geram. Maklum, sulung dari empat bersaudara ini masih tak percaya jika Undang akan pergi begitu cepat. Adapun Undang meninggalkan empat anak dan tiga cucu.

Leni mengatakan, sang ayah akan bebas dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banceuy sekitar dua bulan lagi. Namun, kenyataan berkata lain. Undang yang merupakan narapidana Lapas Banceuy, meninggal dunia pada Sabtu (23/4/2016) dini hari.

Kerusuhan melanda Lapas Narkotika Kelas IIA Banceuy, di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu pagi itu. Rusuh yang berujung pembakaran gedung dan mobil itu diduga karena tewasnya Undang.

Undang disebut tewas karena gantung diri. Namun para narapidana menduga pria yang akrab disapa Abah itu tewas karena dianiaya sipir lapas. Dasarnya, kesaksian Agung Kriswanto (26), teman satu sel Undang yang mengaku turut disiksa.

"Saya disiksa di dalam sel pengasingan. Ini buktinya, lihat tubuh saya. Saya disiksa karena disuruh mengaku menggunakan narkoba (di lapas) setelah dites urine," ujar Agung yang diamini rekan-rekannya, seperti dilansir Tribunnews. Agung juga mengaku digiring ke sel isolasi bersama Undang, lantaran tudingan itu.

Sehari sebelum Sabtu nahas itu, Undang dianggap melakukan tindakan indisipliner hingga membuatnya disekap di sel isolasi. Mulanya, Undang yang sedang membersihkan halaman lapas bagian timur menerima bungkusan berwarna hitam dari seseorang. Bungkusan itulah yang diduga berisi narkotika.

Hal itu diketahui sipir yang mengawasi lapas. Karena mengundang kecurigaan, Undang dimintai keterangan oleh petugas. Namun, hingga artikel ini dibuat, baik pihak kepolisian maupun lapas belum menemukan barang bukti dimaksud.

Kabar kematian Undang di sel isolasi cepat menyebar di lingkungan lapas. Tak terima rekannya tewas, sekitar 300 hingga 400 napi terbakar amarahnya pada Sabtu pagi. Selain mengamuk, mereka membakar gedung perkantoran lapas, menjebol tembok, dan membakar mobil.

Dua unit ambulans dan satu kendaraan roda dua ikut dibakar massa yang mengamuk. Untuk memadamkan api, sebanyak 13 mobil pemadam kebakaran Dinas Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran (DPPK) Kota Bandung dikerahkan. Sedangkan ruang tahanan yang menampung lebih dari seribu napi itu tak ada yang dibakar.

Lautan api yang melalap lapas 34 tahun itu baru bisa dipadamkan empat jam kemudian. Petugas pemadam kebakaran bahkan sempat mendapat perlawanan dari warga binaan yang melempar batu dan kayu.

Gedung perkantoran Lapas Banceuy yang rusak parah pasca-kerusuhan pada Sabtu (23/4/2016) lalu.
Gedung perkantoran Lapas Banceuy yang rusak parah pasca-kerusuhan pada Sabtu (23/4/2016) lalu. | Huyogo Simbolon /untuk Beritagar.id

Keluarga mengetahui kabar meninggalnya Undang dari petugas lapas pada Sabtu pagi. "Ada dua orang datang ke rumah bilang bapak meninggal karena bunuh diri," ujar Leni. Ia dan keluarga pun terkejut mendengar kabar tersebut.

Pasalnya, sekitar pertengahan Februari lalu saat datang menjenguk ke lapas, ayahnya masih dalam keadaan sehat. Menurut Leni, selama berada di dalam lapas ayahnya memiliki banyak teman. Abah juga gemar bercocok tanam. Dia pun mendapat tugas mengurusi tanaman di sekitar lapas.

"Bapak dipercaya orang lapas untuk merawat tanaman. Dia memang ahlinya," ungkapnya.

Di mata keluarga, Undang merupakan sosok ayah yang baik dan mudah bergaul. Sebelum menjadi narapidana, pria yang juga bungsu dari enam bersaudara itu bekerja sebagai sopir angkutan kota jurusan Dago-Caringin, Bandung. Menurut ibu dua anak itu, Undang juga terlibat sebagai pengurus di trayek angkot (angkutan kota).

Karena itu, Leni tak yakin jika Abah meninggal karena bunuh diri. Keluarga semakin sangsi setelah menerima jenazah Abah. "Di sekujur tubuh Abah ditemukan banyak luka," lanjut Leni dengan nada bicara agak naik.

Salah satu yang paling ia ingat adalah luka lebam di bagian bawah mata kiri. Selain itu, lanjut Leni, terdapat luka tusukan di paha kanan, dan jari Abah terlihat seperti patah.

"Keluarga sudah ikhlas dengan kepergian almarhum. Tapi tidak menerima perlakuan pada bapak karena dianiaya di lapas," tegasnya.

Leni mengatakan, keluarga belum menerima keterangan resmi terkait meninggalnya Abah baik dari pihak lapas maupun kepolisian. "Hasil visum belum ada," kata dia.

Meski merasa ada kejanggalan di balik wafatnya Abah, Leni mengaku pasrah dengan pihak yang akan menyelidiki kasus ini. Ia beralasan keluarga tak cukup paham soal hukum, dan menyerahkan sepenuhnya pada yang berwajib. Dia juga berkisah, sempat didatangi sejumlah orang yang menawarkan diri untuk memberikan bantuan hukum kepada keluarga.

Undang merupakan warga binaan narkoba yang divonis lima tahun penjara pada 2013 karena telah menyimpan ganja seberat 10 gram. Pria yang juga kerap disapa Uwa itu, sedang memasuki tahapan asimilasi tahun ini. Ia sudah menjalani masa hukuman di Lapas Banceuy selama tiga tahun, sedangkan proses asimilasi baru berjalan empat bulan.

Kepolisian Resor Kota Besar Bandung menetapkan empat orang tersangka dengan dugaan penganiayaan terhadap Undang. Keempat tersangka itu merupakan petugas lapas. Tiga petugas masing-masing berinisial G, R, dan L serta seorang Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) berinisial K.

"Berdasar pada pemeriksaan terhadap tujuh orang, tiga petugas dan satu warga binaan sudah dikembalikan. Empat petugas kami proses dan statusnya jadi tersangka," terang Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Angesta Romano Yoyol.

Lapas berangsur kondusif

Situasi Lapas Banceuy berangsur kondusif pasca-kericuhan Sabtu pekan lalu. Berdasarkan pantauan Beritagar.id di lokasi, lima hari setelah kejadian personel dari Kepolisian Daerah Jawa Barat sudah mulai berkurang.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat, Agus Toyib melihat situasi sudah berangsur membaik dan tenang. "Tentu, aparat keamanan yang menjaga berkurang. Dari Brimob 15 orang dan Polrestabes Bandung ada 10 orang," terang Agus.

Dalam kunjungannya pada Kamis (28/4) itu, Agus meninjau langsung persiapan Lapas Banceuy dalam membuat tempat kunjungan darurat. Hal itu dilakukan mengingat salah satu dari dua gedung perkantoran lapas habis dilalap api.

"Saya hari ini mau cek apakah kita mau siapkan tempat kunjungan darurat di dalam. Biar keluarga yang mau mengunjungi bisa segera bertemu," kata dia di Lapas Banceuy.

Adapun warga binaan yang ada di Lapas Banceuy, sebagian sudah dipindahkan ke beberapa lapas dan rutan di Jawa Barat. Ada yang dipindah ke Lapas Kelas I Cirebon, Lapas Kelas IIB Garut, dan Rutan Kebonwaru, Bandung.

"Sudah 250 yang dipindahkan sejak dua hari lalu. (Yang dipindahkan) acak dari semua blok. Sebagian besar yang berada di sini dipindah ke blok baru. Beberapa napi yang dipekerjakan di dapur dan jaga kebersihan ditempatkan di blok B, selebihnya di blok baru," terang Agus.

Ia menambahkan, tak akan ada lagi pemindahan napi dari Lapas Banceuy. Total, napi yang berada di lapas ini berjumlah 536 orang.

Soal gedung yang terbakar, pihak lapas masih membereskan puing-puing sisa kebakaran. Agus mengatakan, untuk perbaikan gedung yang dibakar diperkirakan membutuhkan waktu tiga bulan.

Selain itu, pihaknya juga tengah menyiapkan petugas baru di lapas. "Sementara memang belum ada yang baru. Tapi nanti kita ambil dari lapas lain," katanya.

Sementara itu, terkait insiden kericuhan yang terjadi di Lapas Banceuy pihaknya akan melakukan evaluasi. Apalagi kericuhan dipicu oleh matinya seorang napi karena diduga mengalami penganiayaan oleh petugas lapas.

"Yang sudah jelas ada kesalahan dan tindak kekerasan. Itu yang akan kita jadikan bahan evaluasi untuk meningkatkan lagi tugas-tugas pembinaan. Harus ditingkatkan supaya jajaran pemasyarakatan tidak boleh lagi terjadi seperti itu," tegasnya.

Agus membenarkan adanya strapsel atau sel isolasi di lapas. Hukuman yang dikenakan, lanjut Agus, disesuaikan dengan pelanggaran yang dilakukan. "Kalau ada kesalahan dari warga binaan, ia dipanggil, diperiksa, kemudian kalau dinyatakan bersalah akan dikirim ke strapsel untuk jangka enam hari. Kalau masih dirasa belum memenuhi bisa ditambah lagi. Itu ada tahapannya," jelasnya.

Berkaca pada empat orang petugas yang menjadi tersangka kasus penganiayaan, Agus menyatakan hal itu dipicu karena kecurigaan adanya napi yang membawa narkoba. Kekerasan pun muncul. "Dan (kekerasan) itu yang seharusnya tidak boleh terjadi lagi," harapnya.

Petugas Lapas Banceuy mengumumkan narapidana yang dipindah ke sejumlah lapas di Jawa Barat (28/4/2016).
Petugas Lapas Banceuy mengumumkan narapidana yang dipindah ke sejumlah lapas di Jawa Barat (28/4/2016). | Huyogo Simbolon /untuk Beritagar.id

Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Siti Noor Laila, mengatkan pihaknya akan menyelidiki kematian Undang Kosim yang diduga bunuh diri. Menurut Siti, adanya kekerasan yang dialami Undang menjadi sorotan Komnas HAM.

"Kami akan ketemu beberapa pihak terkait. (Apakah nanti jadi materi yang diselidiki?) Iya," ungkap dia.

Ia pun meminta para pihak untuk terbuka kepada publik atas hasil penyelidikan dan penyidikan atas kematian Undang. Siti menerangkan, Komnas HAM melihat bahwa penuhnya ruang lapas menjadi hal yang memprihatinkan. Kuota yang melebihi batas di tiap ruangnya diyakini karena sebagian besar diisi oleh pengedar narkoba.

"Komnas HAM melihat beberapa lembaga kemasyarakatan mempunya persoalan kelebihan kapasitas. Kita ingin mendorong pengguna narkoba direhabilitasi, bukan ditahan. Karena di dalam tahanan itu belajar dari pengguna menjadi pengedar," paparnya.

Komnas HAM, lanjut Siti, telah menandatangani Nota Kesepahaman terkait anti penyiksaan terhadap penghuni lapas. Nota tersebut ditandatangani bersama Kementerian Hukum dan HAM RI, Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komper), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Ombudsman Republik Indonesia (ORI), serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Nota Kesepahaman tersebut dimaksudkan sebagai pedoman bagi para pihak di lapas. Tujuannya meningkatkan komunikasi, koordinasi, dan kerja sama pengawasan di lapas. Jangan sampai ada penyiksaan atau penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat, terhadap setiap orang yang berada di tempat-tempat terjadinya pencabutan kebebasan di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM.

Lapas Banceuy yang menyimpan sejarah

Sejumlah literasi mencatat, kata Banceuy diambil dari nama bangunan Lembaga Pemasyarakatan yang asli. Meski sudah dipindahkan, nama Banceuy tetap digunakan pada lapas ini.

Di tengah-tengah kota Bandung, pernah berdiri Lembaga Pemasyarakatan Banceuy yang terletak di Jalan Banceuy No. 8 Kota Bandung. Di jalan itu dibangun Penjara Banceuy oleh pemerintah Belanda pada 1877.

Lokasi Penjara Banceuy tak jauh dari Alun-alun Kota Bandung. Alun-alun sebagaimana selalu muncul dalam arsitektur tata kota, khususnya di Jawa, merupakan ruang terbuka yang terletak di tengah kota dan dikelilingi oleh Kantor Pemerintahan dan masjid raya.

Berdasarkan filsafat tata ruang Jawa, alun-alun dibangun dengan konsep Catur Sagotra yang bisa diartikan empat elemen dalam satu unit area. Di lokasi itu harus ada kraton (pusat pemerintahan), masjid, penjara, dan pasar. Alun-alun Bandung pun ditata dengan filosofi tersebut. Tata letak ini juga dikenal dengan nama Omwallingarsitektur atau dikenal Arsitektur Tembok Keliling.

Kata "Banceuy" yang berasal dari bahasa Sunda, berarti kandang kuda atau istal. Dulunya, jalan utama (kini Jalan Asia Afrika) di dekat kawasan Banceuy merupakan jalur perintis yang merupakan jalan bagi armada pos. Di salah satu belokan jalan, terdapat sebuah kantor pos besar yang armadanya menggunakan kuda sebagai alat transportasi. Di dekat kantor tersebut didirikan kandang kuda yang disebut Bantjeujweg.

Penjara Banceuy yang terletak di Jalan Banceuy No 8 dulunya pernah dihuni oleh Presiden pertama RI, Soekarno.
Penjara Banceuy yang terletak di Jalan Banceuy No 8 dulunya pernah dihuni oleh Presiden pertama RI, Soekarno. | Huyogo Simbolon /untuk Beritagar.id

Mendengar nama Banceuy juga mengingatkan pada Ir. Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia. Soekarno termasuk yang pernah mendekam di penjara lama ini, tepatnya di blok F No 5.

Penjara Banceuy awalnya digunakan untuk tahanan politik tingkat rendah dan kriminal. "Banceuy adalah penjara tingkat rendah. Didirikan abad-19, keadaannya kotor, bobrok dan tua. Di sana ada dua macam sel. Yang satu untuk tahanan politik, satu lagi untuk tahanan pepetek," kata Soekarno kepada Cindy Adams dalam buku Untold Story, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Dua macam sel itu, khusus untuk tahanan politik terletak di lantai atas. Sedangkan sel di lantai bawah untuk tahanan rakyat jelata. Ukuran sel selebar 1,5x2,5 meter. Karena terletak di pusat kota, lokasi lapas terkena perluasan pusat perdagangan "Banceuy Permai".

Pada 1982, pembangunan Lapas Banceuy yang baru mulai dilaksanakan. Tiga tahun kemudian, seluruh penghuni Lapas Banceuy Bandung (Jalan Banceuy No. 8 Bandung) dipindahkan ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kebonwaru di Jalan Jakarta No. 29 Bandung.

Setelah memenuhi standar lapas, narapidana pindahan dari Rutan Kebonwaru dipindah ke Lapas Banceuy di Jalan Soekarno Hatta No. 187 A pada 1990. Baru pada 30 september 1999, pembentukan Lapas Khusus Napi Narkoba diresmikan dengan Surat Menteri Kehakiman RI No. W8.UM.01.06.245A.

Sejak saat itulah Lapas Kelas IIA Banceuy difungsikan sebagai tempat pembinaan narapidana kasus narkotika, untuk menampung narapidana dari Kantor Wilayah Departemen Kehakiman DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Sementara, bangunan Lapas Banceuy lama yang tersisa adalah satu kamar bekas sel Soekarno, dan satu bangunan menara penjagaan. Hal ini merupakan penghargaan terhadap simbol perjuangan kepahlawanan Soekarno. Sedangkan di sekitar lokasi situs sejarah Penjara Banceuy, sekarang berdiri toko-toko dan perkantoran.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR