Ilutrasi mengaduk nasi goreng.
Ilutrasi mengaduk nasi goreng. Tito Sigilipoe / Beritagar.id
NASI GORENG

Legenda Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih

Lebih kurang enam dekade Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih berhasil mempertahankan eksistensi dan kualitas citarasa. Tempat makan yang dikelola turun temurun sampai dengan generasi ketiga ini terus ramai pengunjung dan sukses bertahan.

Lalu lintas sekitar Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, pada Jumat malam (18/1/2019) relatif hiruk pikuk. Klakson terdengar bising, saling sahut-sahutan. Padatnya jalanan lepas waktu kerja tak memberi jeda antar-kendaraan, roda empat maupun roda dua.

Mendekati tengah ruas jalan laju kendaraan semakin tersendat. Ternyata, pusat keramaian ada di Jalan Kebon Sirih Barat 1, salah satu tempat makan legendaris di Jakarta.

Tempat makan itu terlihat begitu ramai. Para pelayan sibuk melayani para pengunjung yang sudah duduk menunggu pesanan.

Lalu, tampak pula barisan orang yang mengantre di depan kasir. Ada pula yang menunggu pengunjung lainnya selesai makan untuk bergantian menempati kursi dan meja.

Mereka datang untuk menikmati salah satu sajian kuliner ikonik Ibu Kota. Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih, namanya.

Berkat reputasi dan kepiawaian mempertahankan kualitas, tempat makan nasi goreng kambing ini bertahan laris selama enam dekade.

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta juga doyan jajan ke sini. Bahkan, Ahok sempat ingin memindahkan lokasinya ke halaman Balai Kota sebagai salah satu upaya mengurai kemacetan.

Padahal, jarak dua tempat ini cukup dekat. Menurut Google Maps, Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih ke Balai Kota hanya berjarak 1,1 kilometer.

Selain Ahok, pejabat penting lainnya juga pernah menikmati kelezatan masakannya. Ada Jokowi (Joko Widodo), Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sebelum jadi presiden juga pernah singgah untuk makan.

"Pak Anies Baswedan sempat makan juga di sini. Kemarin, Pak Sandiaga Uno makan juga,” ujar Soeroto, Penanggung Jawab Operasional Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih.

Selain pejabat pemerintahan, menurutnya kalangan selebritas juga sering datang makan di sini. Ada yang beramai-ramai, ada pula yang sendiri saja.

Tampilan nasi goreng kambing Kebon Sirih, Jakarta.
Tampilan nasi goreng kambing Kebon Sirih, Jakarta. | Indra Wiguna Rosalina /Beritagar.id

Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih didirikan oleh seorang putra Betawi asli, Almarhum H. Nein, pada tahun 1958 silam. Keterampilannya dalam meracik bumbu nasi goreng yang kaya rempah sukses membuat banyak orang ketagihan sampai sekarang.

“Dulu sewaktu almarhum mulai jualan, enggak seramai sekarang,” jelas Soeroto kepada awak Beritagar.id.

Dia mengatakan bahwa H. Nein merintis dari nol secara perlahan sampai akhirnya besar seperti sekarang. Jumlah pengunjung yang terus bertambah, menginspirasi H. Nein untuk menambah cabang.

Sejauh ini, cabang resminya sudah tersebar seantero Jabodetabek. Informasi yang tertera pada spanduk menu makanan tertulis Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih tidak membuka cabang di luar kota.

“Sudah banyak cabang sekarang, ada di Jalan Sabang, Bintaro, Cinere, Blok M, dan Pamulang,” imbuhnya.

Soeroto yang bergabung mengurus operasional tempat makan tersebut sejak 1991 mengaku, jumlah pengunjung setiap hari tidak pernah sepi. Malah, semakin ramai saat akhir pekan.

Metode memesan di tempat makan yang sekarang dikelola oleh keturunan generasi ketiga H. Nein ini agak berbeda dari warung kakilima lainnya. Biasanya, Anda makan dulu, baru bayar.

Di sini pengunjung yang datang diharuskan untuk terlebih dulu memesan makanan, membayar, dan mencari tempat duduk sendiri. Selanjutnya, pelayan baru menghidangkan pesanan Anda.

Nasi goreng sosis bakso.
Nasi goreng sosis bakso. | Indra Wiguna Rosalia /Beritagar.id

Kala itu, kami memesan tiga menu, nasi goreng kambing seharga Rp41 ribu, nasi goreng sosis bakso seharga Rp41 ribu, dan sate kambing setengah porsi berisi empat tusuk seharga Rp30 ribu.

Variasi menu nasi goreng sosis bakso, menurut Soeroto, terbilang baru. Tujuannya menjaring lebih banyak konsumen, yakni anak-anak, dan orang lanjut usia dengan kondisi kesehatan tak bisa lagi mengonsumsi daging kambing.

“Banyak orang yang sudah tua masih suka datang, makanya kami dari lima tahun lalu, juga menyediakan nasi goreng ayam dan sosis bakso,” sebutnya.

Pengunjung yang datang ke tempat itu memang sangat variatif. Ada laki-laki dan perempuan dewasa, serta anak-anak.

Lebih kurang 10 menit, pesanan kami pun disuguhkan di atas meja. Satu hal yang menarik, tak nampak garpu dalam sajian itu, hanya sendok.

“Di sini enggak ada garpu,” ujar pelayan yang mengantarkan makanan saat kami bertanya mengenai ketersediaan peralatan makanan.

Kami pun mulai menyantap nasi goreng dengan porsi daging kambing yang cukup berlimpah itu. Dagingnya tak terlalu empuk, dan ada sedikit rasa manis.

Lalu, tak tercium aroma daging kambing yang khas, sehingga membuatnya terasa berbeda dengan nasi goreng kambing pada umumnya.

Daging kambing yang tidak berbau dan terkesan wangi tersebut bisa jadi karena kombinasi bumbu rempah yang sudah tercampur dengan nasi.

Namun, aroma khas daging kambing tercium pada hidangan sate. Rasa daging sate tak semanis daging kambing pada nasi goreng.

Gurih, padat bumbu, dan lunak, langsung terasa saat melahap nasi goreng. Kesan serupa nasi kebuli, makanan khas dari tanah Arab, pun menyeruak.

Sulit menerka apa saja bumbu yang menjadi resep nasi goreng ini. Lagipula, pihak penjual merahasiakannya.

“Resep yang kami gunakan racikan turun temurun. Awalnya, dari pak H. Nein. Sekarang diwariskan ke anaknya Pak Hadi. Racikannya apa itu dirahasiakan,” jelasnya mengenai cita rasa nasi goreng yang terasa berbeda.

Anda yang menyukai pedas, bisa jadi tidak terpuaskan di sini. Pasalnya, nasi goreng telah dimasak langsung banyak dalam kuali atau wajan berukuran besar sehingga rasanya pun merata. Tak ada tingkatan rasa pedas, sedang, pedas, atau terlalu pedas.

Namun, jangan khawatir, Anda bisa mendapatkan rasa pedas melalui acar berisi, kol, timun, dan wortel yang terasa seperti asinan, pedas dan segar karena taburan sambal.

Acar spesial nasi goreng kambing Kebon Sirih, Jakarta
Acar spesial nasi goreng kambing Kebon Sirih, Jakarta | Indra Wiguna Rosalia /Beritagar.id

Acar ini menjadi incaran para pengunjung karena dipercaya membuat rasa nasi goreng menjadi lebih sedap.

Proses masak langsung banyak tersebut menjadi siasat yang tepat. Sebab, pengunjung tidak perlu menunggu terlalu lama untuk segera menikmati pesanan.

Satu kuali bisa menampung 40 porsi nasi goreng. Kami melihat total ada empat kuali terus mengebul dalam dapur kecil yang berada di bagian depan.

Soeroto menjelaskan, pilihan memasak langsung banyak dalam kuali yang besar karena dianggap praktis. Oleh karena pengunjung yang ramai, memasak per piring bisa memakan banyak waktu.

Seorang pengunjung yang sempat kami wawancara mengatakan bahwa Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih memang enak.

Namun, jika dibandingkan beberapa belas tahun lalu, rasa nasi goreng yang sekarang lezatnya tidak sama.

“Rasanya sudah jauh berbeda dibanding waktu tahun 90-an. Dulu, dagingnya lebih empuk,” ujar Mona Sofyan, 27 tahun.

Mona yang mengaku berprofesi sebagai entrepreneur ini menambahkan, dulu potongan daging kambingnya lebih besar dan lunak, tetapi sekarang terasa keras.

“Harganya untuk ukuran makanan pinggiran relatif makin mahal yah. Sekarang juga terasanya suka kurang garam, mungkin karena langsung dimasak banyak. Kadang suka enggak rata asinnya,” imbuhnya.

Dia mengaku sudah jarang berkunjung ke warung nasi goreng tersebut.

Menurut dia, untuk yang ingin coba dan nostalgia soal makanan jadul, sangat tepat untuk bertandang langsung.

“Lebih enak kalau makan langsung di sini, daripada dibawa pulang,” tandasnya.

Tak ketinggalan dia menambahkan, acar istimewa memang menjadikan rasa nasi goreng terasa lebih pedas dan “mengigit”.

Proses memasak yang masih terbilang tradisional dan tempat makan apa adanya tak membuat Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih kurang tanggap dengan kemajuan teknologi antarpesan.

Soeroto mengungkapkan, selain pengunjung yang datang langsung, pesanan dari ojek online-pun lumayan banyak setiap hari.

“Kami ada tempat makan seperti rumah di Jalan Kebon Sirih Barat Dalam buat yang mau makan dari pagi. Biasanya kalau Go Food pasti ordernya ke sana,” terangnya.

Nasi Goreng Kebon Sirih ini biasanya mulai beroperasi sejak pukul 17.00 WIB sampai dengan pukul 02.00 WIB, tapi pada akhir pekan bisa tutup hingga pukul 03.00 pagi.

Artikel Terkait