Produser dan para pemain Jangkrik Boss Part.1 menerima piagam dari Museum Rekor Indonesia (MURI) di Jakarta, 17 September 2016.
Produser dan para pemain Jangkrik Boss Part.1 menerima piagam dari Museum Rekor Indonesia (MURI) di Jakarta, 17 September 2016. MURI
FILM INDONESIA

Lika-liku upaya melahirkan kembali Warkop DKI

Di balik kesuksesan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part. 1 menjadi film Indonesia terlaris sepanjang masa, ada banyak liku yang harus dilalui.

Fenomenal. Kata yang sangat tepat untuk Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part. 1 yang berhasil menjadi film terlaris sepanjang masa di negeri ini. Prestasi tersebut ibarat kado manis bagi kelompok Warkop DKI yang merayakan 43 tahun eksistensinya pada 23 September 2016.

Aktor Vino G. Bastian dalam akun Instagram resminya, @vinogbastian__(23/9/2016), tak lupa melontarkan tahniah kepada grup lawak legendaris tersebut.

Vino (34) adalah pemeran Kasino dalam film itu. Abimana Aryasatya (33) menjadi Dono, sementara Tora Sudiro (43) berperan sebagai Indro. Mereka mencoba untuk menghidupkan kembali nama grup lawak legendaris tersebut walau cuma dalam film.

Hanya Indrodjojo Kusumonegoro (Indro) yang tersisa dari Warkop DKI setelah Kasino Hadiwibowo wafat pada 1997, disusul Wahyu Sardono empat tahun setelahnya.

Falcon Pictures pun tak tanggung-tanggung dalam upaya menghidupkan kembali nama Warkop DKI lewat film. Rumah produksi itu merogoh kocek hingga Rp25 miliar (biaya promosi Rp15 miliar, sisanya ongkos produksi film) untuk mendukung proyek Warkop DKI Reborn yang dibagi menjadi dua film.

Hasilnya, berbagai rekor berhasil mereka pecahkan. Saat berita ini dibuat (30/9), bagian pertama Jangkrik Boss itu sudah menyentuh angka enam juta penonton, jumlah penonton terbanyak sepanjang sejarah perfilman nasional.

Tetapi, tentunya butuh usaha besar (dan dana) untuk menghidupkan kembali nama sebesar Warkop DKI.

Dalam tulisan ini kami mencoba menceritakan kembali perjuangan mereka yang terlibat, termasuk tanggapan pengamat mengenai meledaknya kembali film Warkop DKI.

Hanna Sukmaningsih, putri Kasino yang kini jadi ketua Lembaga Warkop DKI
Hanna Sukmaningsih, putri Kasino yang kini jadi ketua Lembaga Warkop DKI | Bismo Agung /Beritagar.id

Di balik fenomenalnya pencapaian Jangkrik Boss! Part. 1, sesungguhnya jalan yang harus ditempuh Falcon Pictures lumayan berliku. Indro menuturkan bahwa ide melahirkan kembali Warkop DKI datang dari H.B. Naveen, pemilik Falcon, saat syuting film Comic 8 (2014) yang juga dibintangi Indro.

"Saya ingat, Falcon memiliki HAKI untuk empat film Warkop yang dulu diproduksi PT Nugraha Mas, yaitu Manusia 6.000.000 Dollar, CHIPS, IQ Jongkok, dan Setan Kredit. Ide itu saya sampaikan kepada anak-anak Mas Dono dan Mas Kasino," terang Indro dinukil Tabloid Bintang (edisi 1317/XXVI).

"Falcon Pictures menyelesaikan urusan HAKI dan lisensi dengan Lembaga Warkop DKI. Lalu, ide itu dieksekusi menjadi Warkop DKI Reborn yang kini mencetak sejarah baru."

Untuk mendapatkan lampu hijau dari Lembaga Warkop DKI yang berisi keluarga masing-masing personel, Falcon nyaris menunggu setahun.

Lamanya proses tersebut, seperti diutarakan Hanna Sukmaningsih kepada Beritagar.id (27/9), bukan karena tarik ulur perihal besaran uang yang ditawarkan Falcon, tapi soal nama besar Warkop DKI yang dikhawatirkan bakal ikut terpengaruh jika proyek film Warkop DKI Reborn tidak lucu.

"Karena itu kita awalnya pesimistis. Walaupun bisa dibilang, 'Yang enggak lucu kan Warkop DKI Reborn, bukan Warkop DKI-nya.' Tapi tetap saja ini menyandang nama Warkop DKI. Itu bikin kita ragu memberi keputusan. Kami semua waktu itu masih bersikukuh tidak ada yang bisa menggantikan Warkop DKI," tambah Hanna, putri semata wayang Kasino, saat kami sambangi di kediamannya di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.

Hanna (40) yang dipercaya sebagai ketua dalam Lembaga Warkop DKI menyatakan bahwa Indro pada akhirnya berhasil menepis keraguan mereka.

"Beliau meyakinkan kami tentang bagaimana dedikasi orang-orang yang mengerjakan proyek ini," kata Hanna. "Ibarat kata, beliau saja yang anggota Warkop DKI yakin, kami yang anak-anaknya kok enggak yakin."

Dalam perjanjian tersebut, Falcon akan memberikan bonus dari setiap kelipatan penonton yang dihasilkan Jangkrik Boss! Part.1. Kelipatan pertama jika filmnya mencapai satu juta penonton. Kemudian berlaku bonus lagi setiap kelipatan 500 ribu penonton.

Inisiatif mendirikan manajemen datang setelah terbentuknya Lembaga Warkop DKI pada 2002. Pembentukan lembaga tersebut sekaligus meneruskan amanat Dono yang tidak ingin keluarga besar Warkop DKI terpecah jika mereka semua telah meninggal. "Om Dono ingin kami semua guyub," kata Hanna.

Melalui manajemen yang dikelola Satya Paramita Hada Dwininta, anak kedua Indro yang jebolan fakultas hukum, segala langkah bisnis dan kontrak berkaitan dengan komersialisasi atas nama Warkop DKI diputuskan. Tentu saja dengan tetap melibatkan Lembaga Warkop DKI sebelum mengambil keputusan.

Pengalaman pada masa lalu jadi motivasi untuk mendirikan manajemen. Mereka tidak ingin kecolongan lagi. Saat ini film-film Warkop DKI terus diputar oleh stasiun televisi, tapi tak sepeserpun royalti mengalir ke saku ahli waris Dono dan Kasino, juga Indro sebagai personel tersisa.

Ketiadaan royalti dari film-film lama merupakan akibat dari kurangnya kesadaran para personel Warkop kala itu. Saat meneken kontrak dengan perusahaan film, berlaku kontrak dengan sistem flat play alias hanya bayar di depan.

"Pemberian royalti tidak ada karena perjanjian kontrak awal dengan produser memang seperti itu. Bukan karena produsernya culas atau apa," terang Hanna.

Sejak manajemen terbentuk, beberapa keuntungan selain penjualan pernak-pernik resmi juga telah mereka dapatkan. Salah satunya ketika sebuah produk kopi menggunakan lagu "Obrolan Warung Kopi" dalam iklannya. Ahli waris musikus Gatot Sudarto, sebagai pencipta lagu, memercayakan manajemen Warkop DKI mengurusi penandatanganan kontrak tersebut.

Para pemain Warkop DKI: Jangkrik Boss Part.1 mempraktikkan Chicken Dance dalam acara temu penggemar di Surabaya (15/9/2016)
Para pemain Warkop DKI: Jangkrik Boss Part.1 mempraktikkan Chicken Dance dalam acara temu penggemar di Surabaya (15/9/2016) | Moch Asim/Antara Foto

Sosok Dono, Kasino, dan Indro dalam film terbaru ini masing-masing diperankan oleh Abimana Aryasatya (33), Vino G. Bastian (34), dan Tora Sudiro (43).

Dari ketiganya, hanya Tora yang lumayan akrab dengan dunia lawak. Penyebabnya karena suami Mieke Amalia itu tercatat membintangi tayangan sketsa komedi Extravaganza periode 2004-2009. Abi dan Vino lebih banyak membintangi film drama.

Secara wajah dan perawakan, ketiganya juga tidak mirip dengan tiga personel asli Warkop. Namun, dari awal Indro, yang merangkap sebagai pemain dan konsultan karakter, menegaskan kebutuhannya.

"Kebutuhan saya adalah mencari aktor yang mampu menghidupkan karakter. Mencari pemain yang mau tampil jelek itu susah," ujar Indro dalam wawancara kepada tabloid Bintang Indonesia (edisi minggu ketiga September 2016, halaman 42).

Bagi Indro (58), tiga aktor muda itu bisa dibilang merupakan bahan siap pakai. Ia hanya tinggal mengajari makna filosofi Warkop, gaya, serta kebiasaan Dono dan Kasino di lokasi syuting.

Kekhawatiran tentu tetap ada. Vino mengakui bahwa memerankan tokoh Kasino yang ikonis lewat aneka celetukannya memberikan ketakutan tersendiri.

Abi dan Tora segendang sepenarian. Mereka khawatir tidak bisa menghadirkan ketiga sosok Warkop DKI yang telah begitu melekat di benak banyak penggemar.

Untungnya ada Indro yang menjadi mentor. Kehadiran personel termuda dalam trio Warkop itu dianggap Vino sangat membantu dalam mengenal dan mengembangkan karakterisasi dari tokoh Kasino yang diperankannya.

"Beliau kan paling tahu mengenai teman-temannya," ujar suami Marsha Timothy ini menanggapi peran Indro.

"Yang saya takutkan justru komedinya. Misalnya saat gue dulu nonton Extravaganza, itu masih bisa tertawa. Sekarang sudah enggak," ujar Tora.

Bantuan lain datang dari Arie Kriting, komika tunggal (stand-up comedian) yang juga bermain di Warkop DKI Reborn. Arie dipercaya meramu unsur komedi ciri khas Warkop DKI dengan hal-hal baru yang berkembang sekarang.

Beda lagi dengan Abi. Sebagai pemain yang paling kontras dengan Dono secara penampilan, ia harus rela tubuhnya sedikit dipermak. Perutnya ditambahi bahan sintetis agar terlihat buncit. Lalu ia harus menggunakan gigi tonggos palsu.

"Pakde Indro bilang film ini bukan dibuat untuk menggantikan personel asli, tapi untuk melestarikan film-film Warkop DKI agar bisa dinikmati oleh generasi di bawah kami," urai Abi saat pemutaran perdana Jangkrik Boss! Part.1 di CGV Blitz, Grand Indonesia, Jakarta Pusat (2/9).

Meski Vino, Abi, dan Tora hanya memerankan, bukan menggantikan Warkop, saat syuting Indro tetap merasa kembali ke masa lalu. Kepada majalah Hai (edisi ke-36 tahun 2016, halaman 54), Indro mengaku kerap merasa deja vu.

Salah satunya posisi Indro yang dulu sering menjadi pelempar umpan untuk lawakan. Tanpa sengaja, Tora juga melakukan hal itu. "Itu saya banget, yang dilakukan Tora itu melempar bahan candaan ke Abi dan Vino. Kalo di panggung, saya memang berfungsi sebagai set-up (melempar umpan, red.) bukan punch line (kalimat "tonjokan" pada akhir lawakan), Dan ini enggak diatur lho ya," ungkap pria yang gemar mengendarai motor gede itu.

Novel grafis Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part.1
Novel grafis Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part.1 | Andi Baso Djaya /Beritagar.id

Indro tak salah jika merasa kembali ke masa lalu. Nostalgia adalah salah satu kunci kesuksesan Jangkrik Boss! Part.1. Lelucon nakal yang agak dewasa, lawakan slapstick, sindiran halus menyangkut kasus dan kejadian terkini, hingga wanita-wanita seksi yang menghiasi film adalah pelecut rasa nostalgia bagi para penggemar Warkop.

Penggemar setia kelompok komedi yang main film sejak 1979 ini tak bisa dianggap remeh. Dulu film-filmnya laris manis. Mereka bahkan rutin membintangi dua film tiap tahun untuk ditayangkan saat libur Lebaran serta libur Natal dan Tahun Baru. Usia dan status sosial tak menjadi alasan untuk tidak menyukai mereka.

Tanda-tanda keberhasilan sudah terendus beberapa hari sebelum penayangan. Jaringan bioskop Cinema 21 membuka penjualan tiket di muka untuk Jangkrik Boss! Part.1 dengan bonus berupa album soundtrack.

Sepanjang sejarah, baru kali ini jaringan bioskop terbesar di Indonesia itu mengadakan prapemesanan tiket untuk film nasional yang akan mereka tayangkan dan 50 ribu lembar tiket yang tersedia langsung ludes.

Tak pelak pada hari pertama penayangannya (Kamis, 8/9/2016), Jangkrik Boss! Part.1 sudah langsung memecahkan rekor. Jumlah penontonnya mencapai 270 ribu orang, rekor untuk film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak pada hari perdana penayangan. Pemegang rekor sebelumnya adalah film Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016) yang menarik 200 ribu orang.

Kabar mengenai tokoh-tokoh ternama yang ikut menonton, seperti Walikota Bandung Ridwan Kamil, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, hingga Presiden Joko Widodo tampaknya ikut berpengaruh.

Angka 1,2 juta penonton dicapai pada hari ketiga, menjadikannya sebagai film Indonesia tercepat menyentuh satu juta penonton.

Pada hari kesembilan, Jangkrik Boss! Part.1 telah ditonton lebih dari 3,7 juta orang dan mengambil alih posisi teratas film Indonesia terlaris 2016 dari tangan Ada Apa Dengan Cinta 2 (3,66 juta penonton).

Puncaknya terjadi pada Selasa (20/9), Jangkrik Boss! Part.1 sah menjadi film Indonesia terlaris sepanjang masa. Catatan 4,68 juta penonton sudah cukup untuk menumbangkan rekor lama yang selama delapan tahun dipegang Laskar Pelangi (2008) dengan 4,63 juta penonton.

Saat berita ini dibuat (30/9), film itu sudah menyentuh angka enam juta penonton. Kemungkinan besar jumlah tersebut bakal terus bertambah mengingat filmnya masih terus tayang. Sebuah rekor fenomenal yang entah kapan bisa dipecahkan.

Sutradara Anggy Umbara mengakui, nama besar Warkop DKI orisinal adalah faktor utama laris-manisnya Warkop DKI Reborn.

"Faktor terbesar ya, karena nama Warkop DKI-nya. Sisanya ditunjang oleh cerita (comedy value), pemilihan pemain (marketing value), eksekusi film (penyutradaraan), dan promosi (strategi pemasaran)," kata pria yang dikenal sebagai sutradara Comic 8 (2014) ini kepada Hai-Online (14/9/2016).

Walau telah mengantongi izin penggunaan nama besar Warkop DKI dalam film, Falcon Pictures tidak mau terlena. Penggarapan elemen promosi secara menyeluruh alias 360 derajat tetap dilakukan. Dan itu mulai berlangsung sejak setahun silam. Semakin menggila ketika mendekati jadwal pemutaran.

"Kami memberlakukan Warkop DKI laiknya jenama besar yang harus didukung oleh promosi dan pemasaran yang besar juga," tegas Frederica yang dipercaya memproduseri film tersebut kepada Beritagar.id (2/9).

Hasilnya terlihat di lapangan. Materi promosi ada di mana-mana. Mulai dari perilisan novel grafis, pemasangan poster Jangkrik Boss! Part. 1 berukuran raksasa di Gedung Veteran, Jakarta Selatan, hingga bekerja sama dengan salah salah satu jaringan toko kelontong untuk menghadirkan gelas-gelas bergambar materi promo film.

Belum lagi promosi lewat media cetak, televisi, dan radio, serta pemanfaatan kanal di media sosial. Strategi konvensional seperti acara nonton bareng di berbagai kota juga tetap dilakukan.

Film tanpa promosi mumpuni membuat orang kehilangan kesempatan untuk menyaksikannya di bioskop karena tidak mengetahui bahwa film tersebut ada.

Falcon Pictures, yang berdiri pada 2010, berencana menjadikan Warkop Reborn terus berlanjut dan dirilis tiap tahun. Tetapi mereka harus menunggu lampu hijau dari Lembaga Warkop DKI.

Menurut Hanna, pemberian izin menggunakan nama Warkop DKI kepada Falcon hanya berlaku untuk satu film saja.

Aksi Dono, Kasino, Indro dalam film CHIPS (1982)
Aksi Dono, Kasino, Indro dalam film CHIPS (1982) | /Lembaga Warkop DKI

Sepanjang 43 tahun eksistensinya, kelompok Warkop DKI yang personel awalnya berlima dan masih memakai nama Warkop Prambors berhasil menciptakan sebuah waralaba film. Total 34 film mereka garap. Hampir semuanya tercatat sebagai film terlaris di Jakarta dengan perolehan ratusan ribu penonton.

Kesuksesan Warkop DKI tidak lain karena kepekaan mereka menghadirkan film hiburan yang dekat dengan masyarakat penontonnya. Hal tersebut diungkapkan kritikus film Hikmat Darmawan yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Film periode 2015-2018 di Dewan Kesenian Jakarta.

"Mereka maunya bikin film yang mudah dimengerti dan laris. Dan memang laris. Rahasia kelarisannya mungkin karena kemampuan mereka mencatat dan mengomentari gejala sosial di sekeliling mereka," tulis Hikmat menjawab pertanyaan Beritagar.id melalui surat elektronik (30/9).

Aktris Nurul Arifin yang terlibat dalam dua film Warkop DKI berjudul Mana Bisa Tahan (1990) dan Sudah Pasti Tahan (1991) mengamini hal tersebut.

"Warkop mengolah isu sosial, menciptakan lawakan baru. Bahkan dalam film-filmnya, sebenarnya ada semacam satire juga. Entah lewat cerita tentang anak-anak kos dalam problem sehari-hari atau tentang karakter sok tahu, atau orang yang kaget ketika melihat cewek-cewek cantik," kata Nurul yang kini berumur 50 tahun dalam buku Warkop: Main-Main Jadi Bukan Main (KPG, Aquarius, dan Warkop DKI, 2010).

"Memang ada humor slapstick, tetapi dimaksudkan agar mudah dikunyah segala usia dan golongan masyarakat."

Lain lagi pendapat Hanung Bramantyo. Dalam wawancara dengan Tabloid Bintang Indonesia (edisi minggu ketiga September 2016, halaman 42), sineas penggarap Ayat-Ayat Cinta (2008) itu menyatakan, keberhasilan Jangkrik Boss! Part.1 berkat kejelian produser dalam memilih tema, kecerdasan menyusun strategi promosi, dan penentuan tanggal tayang.

Hal terpenting, film ini mampu memenuhi kebutuhan penonton film yang paling hakiki: hiburan. "Patut diingat bahwa mayoritas penonton datang ke bioskop untuk mencari hiburan. Itu faktanya," ucap Hanung.

Berikut hasil wawancara Beritagar.id dengan Hikmat yang dilakukan via surat elektronik:

1. Deskripsi apa yang pertama terlintas saat menyebut nama Warkop DKI?

Mahasiswa kos-kosan yang sering bokek

2. Di mana posisi Warkop DKI dalam dunia lawak dan industri film Indonesia?

Dunia lawak Indonesia itu luas, termasuk yang modern sejak era Stamboel. Warkop pada akhir 1970-an membawa angin segar pada dunia lawak Indonesia lewat aksi panggung dan kaset-kaset lawak. Mereka memasukkan unsur kritik sosial yang cukup kental dan pendekatan monolog lelucon yang mirip stand-up comedy pun sudah mereka terapkan.

Gaya mereka yang kental ciri kemahasiswaan, yang kritis dan cuek terasa baru dibanding grup-grup lawak seperti Kwartet Group, D'Bodors, atau Jayakarta Group yang lebih menyerap unsur teatrikal dalam aksi melawak mereka.

Sumbangan lain dari Warkop adalah popularisasi musik humor, dengan motornya, Kasino, yang bisa memelesetkan lagu grup band terkenal luar seperti The Beatles jadi lagu dangdut dan syair yang bisa dibengkokkan, maupun lagu-lagu humor original mereka.

Pada akhir 1970-an hingga 1980-an, musik humor mereka mewarnai musik pop Indonesia bersama Iwan Fals, PSP (Pancaran Sinar Patromak --teman-teman kuliah Dono dan Kasino di Universitas Indonesia), dan PMR (Pengantar Minum Racun).

Dari kaset dan panggung, Warkop bermigrasi ke dunia film Indonesia, dan berjasa menciptakan semacam franchise film laris sampai 1990-an.

3. Kritik terhadap film-film Warkop DKI?

Sederhananya, Warkop tak pernah punya ilusi bikin film "bagus". Mereka maunya bikin film hiburan, komedi yang mudah dimengerti, dan laris. Dan memang laris. Rahasia kelarisannya mungkin karena kemampuan mereka mencatat dan mengomentari gejala sosial di sekeliling mereka, seperti persoalan gengsi pada masyarakat kota (jadi film Gengsi Dong), atau tumbuhnya gejala konsumsi dengan kredit (jadi film Setan Kredit).

Ada dua periode kekaryaan mereka, menurut saya: Periode pertama adalah "komedi bercerita" dengan pesan yang cukup jelas atau mengandung komentar/kritik sosial yang walau ala kadarnya tapi cukup dekat dengan masyarakat, yang kira-kira hingga akhir 1980-an. Saya kira, wakil terakhir film ini adalah Jodoh Boleh Diatur (sutradara Ami Priyono, 1988).

Periode kedua "komedi nyaris non-cerita" dengan pesan sosial nyaris tak ada, plot hanya sekumpulan sketsa-sketsa, dan semakin banyak eksploitasi tubuh perempuan dan lelucon seks.

4. Apa yang kemudian membuat film-film Warkop begitu digemari?

Kedekatannya dengan masyarakat penontonnya.

5. Benarkah anggapan sebagian orang yang mengatakan film-film Warkop kurang berbobot karena hanya menyodorkan adegan slapstick dan kehadiran Warkop Angels?

Sekali lagi, Warkop sendiri enggak pernah punya ilusi bahwa film mereka adalah film "bagus" atau "berbobot".

6. Apa film terbaik Warkop menurut Anda?

Dalam konteks film hiburan, komedi yang khas Indonesia, saya punya pilihan film Warkop terbaik: Gengsi Dong (1980), Dongkrak Antik (1982), Pintar-Pintar Bodoh (1980).

7. Adakah unsur penting yang terkandung dalam film Warkop yang bisa menjadi pelajaran bagi sineas kita saat ini?

Saya rasa unsur kedekatan dengan masyarakat penontonnya itu lah yang sangat menarik dari film-film Warkop.

8. Tanggapan tentang adanya proyek Warkop DKI Reborn?

Proyek yang cerdas dari segi industri film. Saya tak mengharapkan segi estetika, tapi saya cukup tergelitik waktu pertama dengar ini dan kemudian melihat cuplikan filmnya, dari segi pemasarannya.

9. Komentar soal film Warkop DKI Reborn?

Saya suka, seperti saya suka dulu pada film Warkop. Menurut saya, film Warkop Reborn justru setia banget pada film-film Warkop dulu. Bukan cuma perekaan ulang adegan-adegan CHIPS dan celetukan-celetukan yang mengambil dialog atau celetukan Dono, Kasino, dan Indro di film-film Warkop lama, tapi juga pada semangatnya: film hiburan yang mencoba dekat dengan masyarakat penontonnya.

Akting paling top tentu saja Abimana sebagai Dono. Papan atas lah. Tapi juga saya anggap cukup oke, Vino sebagai Kasino. Tora tampaknya belum bisa keluar dari Tora, tapi tak mengganggu lah.

Malah kemunculan Indro "asli" yang terlalu sering yang malah jadi mengganggu. Tarzan dan Agus Kuncoro juga oke, adegan-adegan yang ada mereka itu berhasil lah sebagai komedi Indonesia.

10. Warkop DKI Reborn menjadi film Indonesia terlaris sepanjang masa, bagaimana memaknai fakta tersebut?

Ya, senang dong. Berarti penonton film Indonesia itu sebenarnya ada. Dan ini bisa jadi bagus jika kita hanya memikirkan segi industrinya. Sudah saatnya membayangkan industri film Indonesia sebagai sesuatu yang besar, minimal berpotensi besar. Yang saya senang, produsernya mau berpikir besar. Ia pasang 600 layar, dan sebelumnya secara agresif mempromosikan film Warkop Reborn ini.

Investasinya untuk biaya pemasaran film ini mungkin sama besarnya dengan biaya pembuatan/produksi filmnya. Dan, ya, itu tadi: Bayangkan, 600 layar! Itulah cara yang benar untuk meraih pasar yang besar bagi film Indonesia.

Ini negara besar, penduduknya 250 jutaan, penonton bioskop yang potensial mungkin 80 jutaan orang. 4 juta, atau 5 juta, atau 6-7 juta penonton, walau telah memecahkan rekor, tapi belum seberapa dibanding proporsi penduduk Indonesia yang banyak ini.

Tentu saja untuk mencapai itu masih perlu ada perbaikan infrastruktur perfilman kita, khususnya penambahan jumlah bioskop sesuai proporsi penduduk Indonesia.

Pertumbuhan film Indonesia tak bisa hanya diserahkan pada para pembuat film saja, tapi juga pada para pengusaha dan negara juga, bagaimana agar terjadi pemerataan bioskop di seluruh Indonesia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR