Foto ilustrasi menunjukkan warga berkumpul di reruntuhan rumah yang diterjang tsunami di desa Sambolo, Pandeglang, Banten, Senin (24/12/2018).
Foto ilustrasi menunjukkan warga berkumpul di reruntuhan rumah yang diterjang tsunami di desa Sambolo, Pandeglang, Banten, Senin (24/12/2018). Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo
TSUNAMI SELAT SUNDA

Lolos dari tsunami maut di Tanjung Lesung

Beberapa staf hotel menunda kepulangan. Sekumpulan pemuda berniat nonton konser Seventeen. Tak disangka tsunami datang membawa maut di Tanjung Lesung.

I. Malam

Sabtu malam, 22 Desember 2018, Parmanto (37) belum beranjak dari tempat kerjanya: Tanjung Lesung Beach Hotel, atau kadang disebut Tanjung Lesung Resort, di Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Lazimnya, staf pemasaran peranginan bintang empat tersebut pulang kerja sebelum langit gelap.

Anto, begitu sapaannya, ingin menikmati malam sebelum libur Natal sekaligus menghabiskan waktu bersama beberapa rekan kerjanya.

Mereka pilih menonton penampilan fire show dari Mas Jai', kompanyon sesama staf hotel. Lagi pula, malam itu, ada penampilan band Seventeen.

Dua pementasan itu merupakan mata acara family gathering Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Barat, yang berlangsung di hotel.

Panggung pertunjukannya memunggungi Selat Sunda, sekitar lima meter dari bibir pantai.

Jelang pukul 21.00, band Seventeen tampil sebagai bintang utama. Tetamu yang terbagi dalam meja-meja bundar ikut bernyanyi, bersorak, dan bersenda gurau.

Saat Seventeen tampil, Anto bergabung dengan empat rekannya di sisi timur (kanan) panggung.

Mereka sibuk memotret Gunung Anak Krakatau. Dari jarak sekitar 50 kilometer, kawah Anak Krakatau sedang memuntahkan pijar merah, melepas kepulan asap, dan sesekali kirim gemuruh.

Itu fenomena biasa bagi warga pesisir Pandeglang. Anak Krakatau sudah aktif sejak Juni 2018.

Pada Oktober 2018, misal, ia lempar 576 letusan. Kala itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta warga tak khawatir.

"Sudah biasa. Saya juga mau motret tapi hape lagi lowbet," ujar Anto.

Di tengah aktivitas memotret, Mas Jai', yang baru menuntaskan atraksi, pamit pulang ke rumahnya, Desa Cikadu, Panimbang--sekitar tujuh kilometer dari hotel.

"Saya pamit. Belum salat Isya," ujar Mas Jai'.

***

Sekitar pukul 20.30, Ahmad Mubarok (22) menyandarkan motor di area parkir Tanjung Lesung Resort.

Mumu, begitu dia biasa disapa, datang bersama empat temannya guna lihat aksi Seventeen. Salah seorang rekannya, Aril (17), merupakan penggemar band asal Yogya itu.

Dari rumahnya, Desa Babakan Bungur, Panimbang, Mumu menempuh perjalanan kira-kira setengah jam menuju hotel. Dia memang sering menongkrong di sana. Lebih-lebih bila ada hajatan akbar.

"Kalau punya temen (yang kerja) di sana, bisa masuk hotel," ujar Mumu.

Di area parkir, rombongan Mumu berpapasan dengan Imam Wahyudi (23), satpam hotel yang berpatroli. Mereka sudah saling mengenal dan bertukar sapa singkat.

"Mau ke mana?" tanya Imam
"Mau ke vila," balas Mumu.

Mumu dan kawan-kawan lantas menuju vila di sebelah barat (kiri) panggung. Posisi vila dan panggung terpaut lebih kurang 15 meter.

Sembari mengisap kretek dan memainkan gawai, mereka duduk di rerumputan, persis di depan vila.

Dari sana Mumu dan dua kawannya menyaksikan penampilan Seventeen. Sedangkan Aril dan seorang teman lain menuju panggung demi melihat konser lebih dekat.

Anggota Basarnas mencari korban setelah tsunami menghantam Tanjung Lesung, Banten, Indonesia, Senin (24/12/2018) EPA-EFE / ADI WEDA
Anggota Basarnas mencari korban setelah tsunami menghantam Tanjung Lesung, Banten, Indonesia, Senin (24/12/2018) EPA-EFE / ADI WEDA | Adi Weda /EPA-EFE

II. Tsunami

Kira-kira pukul 21.45, Imam selesai patroli dan kembali ke pos satpam.

Dia sedang mengobrol dengan sesama petugas keamanan ketika lampu mendadak kerlap-kerlip. Tegangan listrik tak stabil.

Di area sekitar panggung, tempat Anto dan Mumu berada, tiada tanda tegangan listrik turun. Panggung dan area sekitarnya memang dapat suplai listrik dari genset.

Beberapa saksi mata menyebut listrik di sekitar Tanjung Lesung sempat padam beberapa saat sebelum petaka terjadi.

Merujuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pada pukul 20.56, terjadi erupsi Anak Krakatau yang memicu longsor seluas 64 hektare. Longsoran menghajar laut dan memicu tsunami.

Di Tanjung Lesung imbasnya berupa gelombang air setinggi lebih kurang lima meter.

Akan tetapi aktivitas vulkanik itu tak diikuti peringatan dini tsunami. Sistem itu hanya bisa mendeteksi potensi tsunami dari aktivitas tektonik.

Pada momen-momen genting itulah Imam dengar suara ombak dan merasakan getaran. Sadar bahaya mengintai, Imam berlari meninggalkan pos. Dia selamat.

Tsunami datang bawa maut persis ketika Andi Seventeen melakukan solo drum di atas panggung.

Air laut memotong dari barat ke timur hotel. Vila di sisi barat jadi bagian yang paling awal tersapu. Area sekitar panggung jadi mangsa berikutnya.

Di tengah petaka, Mumu dan Anto mendengar teriakan untuk berlari. Riuh panik tiba-tiba menghilang ditelan gemuruh.

Mumu dan Anto sempat lari beberapa langkah. Namun gelombang berkecepatan sekitar 600 kilometer per jam keburu memangsa. Mereka tergulung arus deras. Dua gelombang menghantam mereka.

Anto terhempas. Tubuhnya menghantam dinding pembatas kolam renang di hadapan panggung.

Sedangkan Mumu sempat terseret arus balik tsunami. Dia beruntung tertahan pada batang pohon ketapang di depan vila.

***

Anto tersadar dalam gulita. Napasnya berkejaran menderu-deru. Telinganya berdengung dan agak tersumbat air. Sayup-sayup terdengar erangan kesakitan. Teriakan minta tolong bersahutan.

Pelan-pelan, dia menyadari situasi. Setelan kerjanya tak lagi utuh. Bajunya tercabik-cabik. Pantofel tak lagi menempel di kakinya. Gawainya lenyap.

Dia bangkit dan berlari kecil di antara genangan. Sambil terhuyung-huyung, dia menuju gerbang hotel. "Saya memaksa diri, takut ombak susulan," ujarnya.

Di gerbang, Anto tak sengaja bertemu seorang staf hotel yang kebetulan sedang libur. Rekannya itu datang ke lokasi guna mengecek situasi setelah tsunami.

Anto lantas dievakuasi rekannya dengan motor menuju ke rumah Mas Jai'. Dia enggan ke klinik atau rumah sakit yang diyakininya penuh. "Saya merasa tuan rumah, jadi mendahulukan tamu," katanya.

***

Mumu terjaga. Ketakutan membekapnya. Darah mengucur dari ubun-ubun. Baju dan celana jin sobek serta penuh darah.

Lolongan kesakitan dan laung berharap pertolongan menggema. Samar-samar terlihat puing bangunan dan kursi berceceran.

Dia bangkit. Berjalan sempoyongan mencari empat rekannya. Namun tak satu jua ditemukan.

Tak lama kemudian, cahaya kendaraan bikin silau area hotel. Warga bawa motor dan mobil guna melakukan evakuasi.

Makin banyak teriakan terdengar. Kali ini bercampur antara permintaan tolong dan seruan memandu evakuasi.

Seseorang dari mobil bak terbuka memanggil Mumu. Dia tergopoh-gopoh mengikuti panggilan itu.

Di atas mobil sudah ada enam korban lain. Mereka dibawa ke Klinik Alinda, salah satu klinik di Kecamatan Panimbang yang masih buka.

Lama perjalanan menuju klinik lebih kurang satu jam. Selama perjalanan, Mumu lihat beberapa korban menangis dan meringis kesakitan. "Saya cuma bisa istigfar. Ingat dosa," ucapnya.

Kawasan pinggir pantai yang mengalami kerusakan akibat bencana Tsunami di Pantai Tanjung Lesung, Banten, Jawa Barat, Minggu (23/12/2018).
Kawasan pinggir pantai yang mengalami kerusakan akibat bencana Tsunami di Pantai Tanjung Lesung, Banten, Jawa Barat, Minggu (23/12/2018). | Akbar Nugroho Gumay /Antara Foto

III. Darurat

Mas Jai' baru menunaikan salat Isya ketika dengar kabar tsunami menghantam tempat kerjanya. Warga sekitar rumahnya panik. Mereka mengungsi ke tempat lebih tinggi.

Mas Jai' mengurungkan niat mengungsi lantaran rumahnya jadi tempat evakuasi bagi beberapa sejawatnya, termasuk Anto.

Dia kontak rekannya yang berprofesi sebagai perawat. Meminta petunjuk pertolongan pertama.

Kebetulan, di rumahnya ada stok obat-obatan--termasuk antibiotik dan disinfektan. "Saya bersihkan luka dulu baru kasih Betadine (disinfektan) dan antibiotik," ujarnya.

Anto terluka di bagian kening. Kaki serta beberapa bagian tubuhnya bengkak dan memar.

Selepas lukanya dibersihkan, Anto ingin mengabarkan istrinya, Tri Haryanti (35) yang bermukim di daerah Tigaraksa, Tangerang. Apa daya ponselnya telah raib. Plus pikiran kalut membuatnya sulit mengingat nomor Sang Istri.

Dia lantas meminta Mas Jai' kirim pesan lewat Facebook dan Instagram. Pesan memuat kabar tentang kondisinya. Dia juga minta istrinya untuk menelepon ke nomor milik Mas Jai'.

Sepanjang malam tiada balasan. Anto kian kalut sebab beberapa rekan kerjanya belum ada kabar.

Istrinya baru menelepon keesokan harinya. Tangis sejoli itu pecah begitu saling bersapa. "Saat itu maunya cepat pulang," kata bapak satu anak itu.

***

Sekitar pukul 23.00, Klinik Alinda tiba-tiba jadi sibuk. Satu mobil bak terbuka membawa tujuh pasien luka-luka. Mumu turut di dalamnya.

Hanya ada tiga perawat yang berjaga. Mereka juga baru tahu kabar tsunami beriring kedatangan mobil bak terbuka itu.

Ketiganya lekas berbagi tugas. Seorang mengikuti ambulans yang menjemput korban. Dua orang lainnya menyiapkan unit gawat darurat (UGD).

Mumu dan enam pasien lain masuk UGD. Perawat coba melesakkan infus ke dalam pembuluh darahnya, tetapi venanya telanjur mengerut.

"Saat itu pasien (Mumu) sadar dan masih kuat," kenang Dide Epa Trigustiana (26), salah seorang perawat yang bertugas.

Delapan jahitan membungkus robek di ubun-ubun Mumu. Baju dan celana jinnya yang berlumuran darah dibuka. Banyak luka kecil di sekujur tubuhnya.

Dide mengaku sulit berfokus pada satu pasien. Tiap orang butuh pertolongan. Korban juga terus berdatangan. Total 60-an pasien dirawat di Klinik Alinda. Lobi klinik pun disulap jadi ruang perawatan. Pasien diletakkan di atas brankar hingga kursi tunggu.

Tengah malam, kakak Mumu, Engkos Kosasih (24) menemukan adiknya setelah dapat informasi dari seorang tetangga.

Sebelumnya, sekitar dua jam, Engkos keliling naik motor menuju tempat-tempat evakuasi darurat, dari Puskesmas hingga Kantor Desa. Dia mencari kabar Mumu.

"Kepada bapak dan emak, saya bilang sudah ketemu Mumu di Puskesmas Cieugelis. Biar mereka enggak panik," ucap Engkos.

Dini hari, 23 Desember 2018, orang tua Mumu, Saipuddin (56) dan Atiyah (41), tiba di klinik Alinda. Mereka menangis melihat keadaan anak ketiga dari empat bersaudara itu.

Besoknya, Mumu dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Berkah Pandeglang.

Tsunami Selat Sunda memakan korban di pesisir barat Banten dan pantai timur Lampung. Merujuk data Basarnas, total jumlah korban mencapai 433 meninggal, 1041 luka-luka, dan 9 hilang.

Adapun perhitungan korban di Tanjung Lesung yakni 55 meninggal, 11 luka-luka, dan 2 hilang.

Seorang pria berjalan di antara puing-puing setelah tsunami menghantam Tanjung Lesung, Banten, Indonesia, Selasa (25/12/2018).
Seorang pria berjalan di antara puing-puing setelah tsunami menghantam Tanjung Lesung, Banten, Indonesia, Selasa (25/12/2018). | Adi Weda /EPA-EFE

IV. Kenang

"Mas, mau istirahat dulu," ujar Mumu, saat kami mengobrol di UGD RSUD Berkah Pandeglang.

Saya mematikan perekam suara. Dia suka bercerita tetapi butuh banyak istirahat. Kami sepakat tak buru-buru mengobrol. Total empat kali saya bertemu dengannya.

Hari itu, 24 Desember 2018, merupakan pertemuan pertama kami.

Mumu terbaring lemas di sudut UGD. Badannya memar. Kepalanya terbalut perban. Hidungnya luka dan bengkak. Dia juga mengeluh soal nyeri di kepala dan perut.

Belum lama Mumu rehat, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menyambangi brankar-nya. Kerumunan pewarta yang sedari tadi meriung di UGD mengekor Menteri Nila.

Mumu menyambut Menteri Nila dengan mata sayu. Pembesar itu membalas tatapan Mumu dengan pesan, "Jangan pulang dulu sampai sembuh."

Malam harinya, saya menyambangi Anto di rumah Mas Jai'.

Anto tampak lebih stabil. Dia bercerita sambil mengisap kretek. Saya duduk di sampingnya, terpisah sebuah meja yang di atasnya ada Amoxicillin dan Asam Mefenamat.

"Trauma sih, tapi Tanjung Lesung sudah jadi bagian hidup saya," kata Anto.

Hari itu, separuh hatinya lega, setelah dengar kabar perusahaan tempatnya bekerja akan menanggung biaya pengobatan.

Bagian lain di hatinya menyisakan kesedihan. Seorang sejawatnya, Agus Prasetyo (38), meninggal tergulung tsunami.

Kesedihan serupa dirasakan Mumu. Dia harus merelakan Aril, kawannya yang menggemari Seventeen. Aril menyaksikan konser di depan panggung dan berpulang bersama tiga idolanya: Herman Sikumbang, Awal Purbani, dan Windu Andi Darmawan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR