M Dahar Pakiah Sinaro, 78 tahun, memainkan lukah gilo di Solok, Sumatra Barat, Rabu (27/2/2019)
M Dahar Pakiah Sinaro, 78 tahun, memainkan lukah gilo di Solok, Sumatra Barat, Rabu (27/2/2019) Febrianti
WARISAN BUDAYA NUSANTARA

Lukah Gilo dan roh yang marah

Kesenian tradisional Lukah Gilo hampir punah di Sumatra Barat. Ada roh marah yang bersemayam dalam bubu.

Eurica, turis dari San Francisco, Amerika Serikat itu ragu-ragu memegang ujung keranjang lukah, alat perangkap ikan dari bambu dengan kedua tangannya.

I'm scared! Ia berseru kepada suaminya Wiegertz yang berdiri menyaksikannya. Wajah Eurica diliputi rasa penasaran bercampur was-was.

Suami istri wisatawan asing itu dipaksa penonton untuk mencoba permainan Lukah Gilo di lapangan depan Kantor Bupati Kabupaten Solok, Sumatra Barat.

Don't worry! Pembawa acara berusaha menenangkan Eurica. Penonton kembali bersorak meminta Eurica dan Wiegertz memainkan Lukah Gilo.

Seperti namanya, Lukah Gilo menggunakan bubu penangkap ikan yang dijampi-jampi sehingga bisa bergerak liar saat dimainkan dua orang.

Lukah –tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia—adalah alat untuk menangkap ikan (seperti bubu) yang dipasang di dalam air yang tidak terlalu dalam.

Lukah sangat dekat dengan kehidupan warga Solok dan suku Minangkabau. Lukah menjadi gilo alias gila karena dapat bergerak liar setelah dimantrai.

Lukah Gilo merupakan kesenian tradisional dari suku Minangkabau yang tinggal di Sumatra Barat. Mirip dengan jailangkung yang dikendalikan oleh seorang pawang.

Lukah Gilo didandani menyerupai manusia. Diberi baju dan kain sarung. Ujung lukah yang lancip ditancapkan labu sehingga mirip kepala. Labu kemudian diberi ijuk menyerupai rambut.

Lukah Gilo konon berwujud perempuan karena memakai baju kurung warna merah muda dengan renda warna emas di dada dan ujung lengan. Memakai sarung hitam.

Eurica diminta menadahkan tangan menopang Lukah Gilo bersama satu pemain lukah lainnya. Penonton kembali bersorak, ingin menyaksikan orang asing merasakan kedahsyatan amukan goyangan Lukah Gilo di tangannya.

Dalam dinginnya udara malam di bawah temaram lampu neon, Lukah Gilo mulai dimainkan. Penonton membentuk lingkaran besar di lapangan depan Kantor Bupati Kabupaten Solok di Arosuka pada 11 Agustus 2018 lalu.

Malam itu sedang berlangsung acara kesenian rakyat untuk menyambut acara pengangkatan Bupati Solok, Gusmal, menjadi Ketua Lembaga Kerapatan Adat Minangkabau, Kabupaten Solok.

Berbagai atraksi kesenian rakyat dari nagari-nagari ditampilkan, seperti Randai, Saluang, menari di atas pecahan kaca, dan Lukah Gilo.

M Dahar Pakiah Sinaro, 78 tahun, (berdiri) memainkan lukah gilo di Solok, Sumatra Barat, Rabu (27/2/2019)
M Dahar Pakiah Sinaro, 78 tahun, (berdiri) memainkan lukah gilo di Solok, Sumatra Barat, Rabu (27/2/2019) | Febrianti

Sang guru lukah atau pawang, M Dahar Pakiah Sinaro, 78 tahun menyanyikan syair yang terdengar sangat magis. Memecah keheningan malam.

Empat pemain Lukah Gilo berdiri mengibas-ngibaskan kain hitam di dekat kepala sang lukah yang bergoyang pelan di tangan yang memainkannya.

Penonton diam dan menunggu kejutan yang akan terjadi pada Lukah Gilo. Suara guru lukah masih terdengar merdu dan lantang.

Ambin mukarambin. Anggai-anggai tumbuah di Pagai. Tampuruang bamato tigo. Anak Isialam gadang lampai. Kok patuik bajanji duto o silawasi o silawasi.

Roh sang Lukah Gilo mulai dipanggil. Digoda dengan nyanyian agar datang. Sang guru meninggikan suara nyanyiannya.

Anak simalin sialuka. Diam di hulu lambag bangko. Apo karajo sari-sari. Rintang marawik-rawik rotan. Rotan ka panjalai luka.

Kok luka banyak ulahnyo. Galinggam tumbuah di bukik. Anak capo tumbuha di labah. Malenggang luka sadikik. Maliek parangai Allah.

Anak kumbang sidanguang-danguang. Nan basarang di buluah minyak. Jaan luka duduak tamanuang. Jan malu dek urang banyak

Lukah Gilo bergoyang pelan di tangan dua orang yang menahannya. Goyangannya kian keras. Ke depan dan belakang. Konon, roh yang bersemayam dalam lukah marah karena dalam mantra itu asal-usulnya yang dari rotan itu disebut-sebut.

Mantra yang dinyanyikan itu dilanjutkan dengan syair lainnya dari pawang yang menggoda roh sang lukah.

Rang titi titian talang. Rang titi duo baduo. Gendiang dek kain basalang. Licin dek minyak rag baminto. Kok geniang iyoalah geniang. Kok tampan iyolah tampan. Cacek sabuah rang katokan. Nan bagolek-golek dilaca.

Kapalimau tanah banda aia. Lolok bakalang cirik ayam. Gilo la si gadi rotan. Gilo la si gadi bamban. Gi. Dekapo si luka gilo. Gilo diagak bayang-bayang lo la sianu neen. Angui dipanggang rajo jin

Gilo sipasin gilo. Golo sitawang-tawang.

"Main lukah itu tidak akan masuk akal. Ini main batin."

M Dahar Pakiah Sinaro

Lukah terlihat semakin liar bergoyang. Syair yang dilantunkan sang guru memang berisi hinaan terhadap lukah.

Syair itu menyatakan lukah tidur dalam kandang ayam bersama tahi ayam. Syair lainnya mengatakan baju sang lukah dari pinjaman, minyak rambutnya minta sama orang.

Roh marah. Lukah bergoyang dengan amat kencang di tangan kedua pemain yang memegangnya. Lukah bergerak liar menarik mereka ke sana ke mari.

Eurica berteriak sambil tertawa keras. Suaminya ikut membantu menahan lukah. Penonton bersorak-sorai melihat pertunjukan itu.

Lukah akhirnya bisa diam setelah kepalanya dipegang sang guru lukah. Mulutnya komat-kamit membaca mantra untuk menenangkan Lukah Gilo.

Lukah Gilo kemudian dimainkan lagi berkali-kali oleh pemain lainnya. Berkali-kali pula Lukah Gilo bergoyang dengan kencang dan liar hingga dua orang memegangnya hampir terlempar ke tanah saat berusaha menahannya. Atraksi yang menimbulkan ledakan tawa penonton.

Atraksi Lukah Gilo itu dimainkan grup seni Lukah Gilo Mambat dari Nagari Taruang-Taruang, Kabupaten Solok.

Guru Lukah Gilo, M Dahar Pakiah Sinaro mengatakan lukah dapat bergoyang keras karena dirasuki jin. Sang guru memanggil keturunan jin masuk ke lukah.

"Itu sebabnya main lukah itu tidak akan masuk akal. Ini main batin," kata Dahar.

Ada mantra rahasia untuk membuat lukah menggila saat sudah datang dan jinnya masuk lukah. Tidak sembarang orang yang bisa memainkan Lukah Gilo. Jin, kata Dahar, harus kenal dengan orang yang memanggil agar tak bertingkah.

Dahar Pakiah Sinaro mulai memainkan lukah sejak kecil. Ayahnya juga pemain lukah.

Semasa kecil, Dahar sering ikut main lukah. Lukah dan randai sering tampil di acara-acara di Nagari Taruang-Taruang.

Permainan ini biasanya ditampilkan untuk membuat suasana gembira seperti saat pesta adat, pesta hari-hari besar nasional seperti perayaan 17 Agustus.

"Dulu juga digunakan untuk memanggil orang-orang, saat ada pengumuman dari kepala nagari, luka dimainkan untuk mengumpulkan orang-orang," kata Dahar Pakiah Sinaro.

Permainan Lukah Gilo kini tidak banyak lagi yang memainkan. Di Kabupaten Solok hanya ada di Nagari Taruang-Taruang di Kecamatan Sungai Lasi. Dahar Pakiah Sinaro adalah satu-satunya orang yang bisa memainkan lukah.

Natarsan, Ketua Kelompok Kesenian Mambat, mengatakan permainan Lukah Gilo hampir punah di kampungnya di Nagari Taruang-Taruang.

Pada 5 tahun lalu, pemerintahan Nagari Taruang-Taruang berinisiatif melestarikannya.

"Saat itu saya sekretaris nagari, bersama wali nagari kami berpikir, kalau paman saya ini sudah meninggal, tidak ada lagi yang bisa main lukah, padahal itu harus dilestarikan," kata Natarsan yang juga keponakan Dahar Pakiah.

Natarsan mulai membentuk kelompok kesenian Mambat di Nagari Taruang-Taruang pada 2013. Mambat kepanjangan dari mambangkik batang tarandam. Secara harfiah berarti membangkit batang yang terendam atau terbenam.

Natarsan belajar Lukah Gilo dari pamannya, Dahar yang kini menjadi satu-satunya orang yang menguasai permainan Lukah Gilo.

Natarsan dan Dahar pergi ke hutan mencari mamban dan rotan untuk membuat lukah yang baru. Lukah lama milik Dahar sudah terlalu tua.

"Kami lalu membuat lukah ini, juga ada tiga lukah lainnya yang ukurannya beragam , paling besar tingginya dua meter," kata Natarsan.

Dahar Pakiah Sinaro lalu mengajari mereka bermain lukah, dari syair hingga bacaan mantra.

"Saat ini sudah beberapa yang bisa memainkan lukah dengan memanggil ruh lukah, termasuk saya juga sudah bisa," kata Natarsan.

Ia mengatakan, syair lagu dalam Lukah Gilo ikut menghasut roh jin yang ada dalamnya menjadi marah sehingga lukah menjadi liar.

"Siapa yang tidak marah dikatakan bajunya pinjaman, minyak rambutnya juga, begitu juga dikatakan sang lukah tidur dalam kandang ayam dan berlumuran tahi ayam," kata Natarsan.

Konon, dahulu sebelum lukah dimainkan, lukah bahkan sengaja diletakkan dalam kandang ayam. Perlakuan seperti itu membuat roh marah dan menjadi liar karena dikatakan berlumuran tahi ayam.

***

Saya mencoba permainan Lukah Gilo. Sulit diterima logika tetapi saat dimainkan lukah memang bisa bergerak sendiri.

Lukah dipegang dan ditahan dengan telapak tangan bersama pemain lukah lainnya. Setelah dinyanyikan dan dibacai mantra oleh sang guru, lukah mulai terasa berat seperti ada orang di dalamnya.

Tiba-tiba saja lukah yang tadinya bergoyang pelan itu makin keras goyangannya sehingga tangan saya harus mencengkeramnya kuat agar tidak terjatuh.

Gerakan Lukah Gilo makin lama semakin liar. Bergerak ke sana ke mari. Tangan saya kesakitan dan hampir tidak kuasa lagi menahannya hingga lukah itu berhenti bergerak sendiri.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR