Sisa vegetasi pantai di bilangan Pantai Talise, Kota Palu, tak kuasa menahan amuk tsunami pada 28 September 2018
Sisa vegetasi pantai di bilangan Pantai Talise, Kota Palu, tak kuasa menahan amuk tsunami pada 28 September 2018 Beritagar.id / Wisnu Agung Prasetyo
MITIGASI BENCANA

Mangrove yang meredam tsunami di Donggala

Mangrove menyelamatkan sebuah kampung dari amuk tsunami di Teluk Palu. Walau terbukti kokoh, pemerintah belum melirik mangrove sebagai langkah mitigasi di Palu dan Donggala.

Minarti bergegas keluar rumah saat gempa bermagnitudo 7,5 menghantam kampungnya. Tiga anak, suami, dan orang tuanya juga lekas-lekas cari area lapang.

Belum lagi jantung berdetak normal, teriakan warga memicu ketegangan baru. "Ada tsunami… Ada tsunami... Ada tsunami..."

Panik menyergap. Keluarga Minarti berlari menjauhi pantai. Mereka menuju sebuah lapangan sekolah dasar di dekat bukit, berjarak beberapa kilometer dari rumah mereka.

Bersama puluhan warga lain, Minarti bertahan semalaman di bawah kolong langit.

Keesokan harinya, perempuan 34 tahun itu turun bukit demi tengok rumah dan ambil beberapa lembar pakaian.

Begitu tiba di rumah, Minarti lega. Rumahnya masih utuh dan kokoh. Dia takjub sebab tiada jejak air di rumahnya. Padahal rumah model panggung khas Suku Bugis itu hanya terpaut 100 meter dari pantai.

"Hanya isi rumah, seperti lemari dan televisi yang jatuh karena gempa," katanya, Sabtu (26/1/2019).

Minarti menyebut hutan banggo di belakang rumahnya jadi benteng dari tsunami. Hutan itu melindungi rumah dan nyawa di Kelurahan Kabonga Besar, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Banggo merupakan sebutan sehari-hari untuk mangrove bagi Orang Kabonga Besar. Di area poros Palu-Donggala itu ada kawasan hutan mangrove Gonenggati. Lebih kurang 20 tahun terakhir warga setempat merawatnya.

Kabonga Besar terhindar dari petaka saat tsunami menerjang Teluk Palu--pesisir Kota Palu dan Kabupaten Donggala--pada Jumat, 28 September 2018. Data korban terbilang kecil: 10 rumah rusak dan seorang bocah meninggal dunia.

Kondisi berbeda terjadi di pesisir Kota Palu yang tak punya hutan mangrove atau vegetasi pantai lain. Di sana, sejauh mata memandang hanya tampak puing bangunan. Korban hilang dan meninggal karena tsunami mencapai 1.204 jiwa.

Belum usai, setelah bencana, terjadi penurunan permukaan tanah (downlift) di pesisir Palu dan Donggala.

Downlift picu banjir rob di beberapa kampung lantaran gelombang pasang. Area dengan hutan mangrove terhindar dampak lanjutan itu.

"Menanam mangrove sekarang, bisa dinikmati penerus kita 50 tahun nanti."

Yuryanto, Ketua KTH Gonenggati

Hutan mangrove Gonenggati merupakan yang terluas dan terapat di Teluk Palu.

Total luas areanya sekitar 10 hektare. Batang-batang pohonnya tumbuh rapat setinggi lebih dari lima meter, dengan akar-akar yang menghujam kuat.

Enam spesies mangrove tumbuh alami di sana: Rhizophora Apiculata, Avicennia Lanata, Nypa Fruticana, Rhizophora Mucronata, Rhizophora Stylosa, dan Sonneratia Alba.

Kawasan itu terjaga berkat Kelompok Tani Hutan (KTH) Gonenggati Jaya.

Ketua KTH Gonenggati Jaya, Yuryanto, mengatakan kelompoknya terbentuk dua tahun lalu setelah melihat hutan mangrove terancam. Kala itu banyak orang menebang mangrove untuk berburu cacing. Kayunya juga dipakai jadi bahan bangunan.

Guna memulihkan ekosistem, mereka bikin pembibitan mangrove dengan memanfaatkan buah yang telah matang. Bibit ditanam di lahan-lahan rusak atau gundul. Hingga kini ribuan bibit telah ditanam.

Tak ingin penebangan berulang, KTH Gonenggati menginisiasi wisata edukasi. Model itu sukses menarik minat pengunjung, terutama generasi muda.

"Harapannya, selain wisata, mereka belajar soal pentingnya hutan mangrove bagi kehidupan," kata Yuryanto.

Tanpa hutan mangrove, Yuryanto tak mampu membayangkan dampak bencana 28 September 2018. Tsunami bakal menerjang daratan, merusak bangunan, dan mengambil nyawa.

Ia pun meminta pemerintah Sulawesi Tengah melakukan konservasi mangrove di pesisir Teluk Palu.

Tempat wisata wutan mangrove Gonenggati, Kabonga Besar, Donggala , Sulawesi Tengah. Area wisata ini juga menjadi tameng dari tsunami yang menghantam pesisir Teluk Palu.
Tempat wisata wutan mangrove Gonenggati, Kabonga Besar, Donggala , Sulawesi Tengah. Area wisata ini juga menjadi tameng dari tsunami yang menghantam pesisir Teluk Palu. | Ika Ningtyas /Beritagar.id

Mangrove untuk mitigasi

Sekitar 20 kilometer dari Kabonga Besar, Alaudin melakoni rutinitas paginya.

Pria 62 tahun itu membersihkan sampah plastik, memungut bibit-bibit mangrove yang jatuh, dan menanamnya lagi dalam polibag.

Sudah sepekan Alaudin merawat puluhan calon bibit mangrove yang bakal ditanam di pesisir Kelurahan Lere, Kota Palu, sekitar satu kilometer dari rumahnya.

Kelurahan Lere merupakan salah satu area terparah saat tsunami menerjang pesisir Teluk Palu. Adapun pembibitan mangrove itu merupakan bagian dari program satu miliar mangrove yang diinisiasi Survivor Indonesia.

Sejak medio Januari 2019, mereka menyiapkan bibit mangrove di Kampung Lere. Pembibitan makan waktu dua bulan, sebelum ditanam di pesisir Teluk Palu.

Kordinator Survivor Indonesia, Suparman, menyebut buah-buah mangrove didatangkan dari Kabupaten Parigi Moutong--berjarak 280 kilometer dari Kota Palu.

Ada tiga jenis utama mangrove yang ia tanam: Rhizopora mucronata, Rhizopora apiculata, dan Rhizopora stylosa. Ketiganya dianggap cocok hidup di Teluk Palu, sebagaimana yang banyak tumbuh di Kabupaten Donggala.

"Pada tahap pertama, tahun ini, Survivor Indonesia membibitkan 10 ribu mangrove," ujar Suparman.

Konservasi mangrove, kata dia, merupakan upaya swadaya mengembalikan vegetasi alami pesisir Teluk Palu. Vegetasi pantai, seperti di Kabonga Besar, diyakini efektif mengurangi risiko tsunami (langkah mitigasi).

Sejak era 1990-an, kata Suparman, pesisir Teluk Palu berubah jadi kawasan hunian, kafe, hotel, dan warung makanan. Sebagian lahan pesisir direklamasi. Mangrove ikut ditebang.

"Sekarang tidak ada lagi hutan mangrove di Palu," kata Dosen Ekonomi Universitas Tadulako ini.

Pernyataan itu dibenarkan Mohammad Herianto, Ketua Komunitas Historia Sulawesi Tengah.

Herianto menyebut jejak hutan mangrove di Kota Palu bisa dilihat lewat foto lawas pada masa kolonial Belanda.

Misal, foto Marine Luchtvaart Dienst Indië yang termuat di laman Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).

Bentuknya berupa foto udara Kota Palu, Sulawesi Tengah bertarikh 25 Desember 1946. Foto itu memperlihatkan hutan mangrove di sekitar wilayah Kale (sekarang Kelurahan Layana Indah, Kecamatan Mantikulore) sampai perbatasan Kelurahan Mamboro.

Kini kawasan pesisir di kedua kecamatan itu berubah jadi hunian. "Penebangan hutan mangrove besar-besar diperkirakan sejak 1980an," kata Herianto.

Pembibitan mangrove di area bekas terjangan tsnumai di pantai Kampung Lere, Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (19/1/2019).
Pembibitan mangrove di area bekas terjangan tsnumai di pantai Kampung Lere, Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (19/1/2019). | Basri Marzuki /Antara Foto

Fungsi mangrove untuk mitigasi tsunami sudah banyak diteliti.

Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), dalam Tsunami mitigation by mangroves and coastal forests, memberi contoh keberhasilan di Tamil Nadu, India. Sekitar 700 orang yang tinggal di sebuah dusun selamat dari tsunami karena kampung itu terletak antara 100 hingga 1 kilometer dari hutan bakau.

Riset Environmental Justice Foundation (EJF, 2006) menyebut hutan mangrove mampu mengurangi ketinggian dan kecepatan tsunami, lalu mendistribusikannya di antara kanal dan sungai, sehingga mengurangi tingkat genangan.

Hutan mangrove di Indonesia, tulis EJF, berkontribusi terhadap 30 persen secara global dengan luas 3 juta hektar. Sayangnya, sejak 1980, hutan mangrove Indonesia menyusut lebih dari 1,1 juta hektar.

Mangrove hanya salah satu jenis hutan pantai yang banyak tumbuh di Indonesia, selain pohon ketapang dan cemara laut.

Peneliti Pusat Riset Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Semeidi Husrin, mengatakan vegetasi hutan pantai bisa melindungi dari tsunami.

Dia kasih contoh hutan pantai yang jadi pilihan mitigasi tsunami di sepanjang garis pantai Sendai, Jepang.

Akan tetapi, kata Semeidi, hutan pantai hanya efektif untuk tsunami lokal seperti yang terjadi di Teluk Palu dan Selat Sunda pada 2018--ketinggian sekitar lima meter.

Sedangkan tsunami ekstrem seperti di Aceh (2004) dan Jepang (2011) menunjukkan kerusakan parah pada vegetasi pantai.

"Jadi vegetasi pantai bisa berperan untuk menyelamatkan pada potensi tsunami yang tidak ekstrem," kata dia, saat dihubungi Senin malam (28/1/2019).

Pandangan Semedi laik didengar mengingat minat risetnya pada sumber daya pesisir dan hutan pantai. Antara lain, lewat disertasinya Attenuation of Solitary Waves and Wave Trains by Coastal Forests (2013) di Technische Universität Braunschweig, Jerman.

Semedi bilang pemulihan pesisir dengan vegetasi pantai bisa jadi pilihan di Teluk Palu bila berkaca pada tsunami lokal pada 2018.

Sebenarnya, pasca-tsunami Aceh 2004, hutan pantai telah diimplementasikan untuk mitigasi tsunami, utamanya di Jawa dan Sumatera. Misalnya di Kabupaten Pangandaran di Provinsi Jawa Barat yang rusak parah akibat tsunami setinggi 15,7 meter pada 2006.

Tantangan pemulihan vegetasi pantai, kata Semedi, adalah rendahnya kesadaran masyarakat. Ia menyebut contoh kasus pembukaan tambak udang dan hunian di pesisir secara besar-besaran sejak tahun 1980an, yang jadi faktor terbesar menyusutnya hutan bakau.

Kondisi yang sama terjadi di Pangandaran setelah program penanaman hutan pantai. Riset Semeidi dan kawan-kawan menyebut pada 2013 atau enam tahun setelah proyek penanaman kembali, total luas hutan pantai berkurang 4 persen (120,51 ha).

"Beberapa kawasan hutan pantai telah ditempati pedagang dan tempat parkir untuk perahu. Kondisi ini terjadi karena meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Pangandaran dalam lima tahun terakhir," tulis Semeidi dkk dalam makalah yang terbit lewat jurnal Procedia Earth and Planetary Science (Volume 12, 2015).

Sejauh ini, pemerintah belum memilih mangrove sebagai langkah mitigasi di pesisir Teluk Palu.

Sebaliknya, pemerintah berencana bangun tanggul sepanjang 7,5 kilometer di Teluk Palu dengan dukungan (pinjaman luar negeri) dari Badan Kerjasama Internasional Jepang (Japan International Cooperation Agency, JICA).

Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Provinsi Sulawesi Tengah, Syaifullah Djafar, mengatakan tanggul berguna mengatasi gelombang pasang (banjir rob) di kampung yang permukaan tanahnya turun.

"Di beberapa wilayah, ketinggian air laut di muka pantai naik, terutama di kawasan Teluk Palu dan jalur trans Pantai Barat Donggala," kata Syaifullah dalam diskusi di AJI Palu, Selasa (8/1/2019).

Catatan : Artikel ini telah diperbarui, dengan menyertakan ralat seputar sumber pendanaan pembangunan tanggul penangkal tsunami. Sebelumnya tertulis pendanaan berasal dari Asian Developent Bank (ADB), seharusnya dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Adapun ADB akan memberikan dana pinjaman untuk perbaikan sumber air bersih hingga infrastruktur pelabuhan dan bandara.
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR