Musisi dan pencipta lagu Darah Juang, John Tobing berpose dengan gitarnya seusai sesi wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya di Sleman, Yogyakarta, Rabu (16/05/2018).
Musisi dan pencipta lagu Darah Juang, John Tobing berpose dengan gitarnya seusai sesi wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya di Sleman, Yogyakarta, Rabu (16/05/2018). Reza Fitriyanto / Beritagar.id
20 TAHUN REFORMASI

Mantra Darah Juang Johnsony dan jejak kejatuhan Soeharto

Lagu Darah Juang menjadi simbol perlawanan kepada penguasa. Lagu ciptaan John Tobing itu turut bergema saat mahasiswa menumbangkan Soeharto.

Johnsony masih ingat satu siang 27 tahun silam, ia bersama rekan-rekannya sesama aktivis Keluarga Mahasiswa UGM (KM UGM) tengah berkumpul di bilangan Gejayan, Yogyakarta. Setelah ngobrol dan berdiskusi, ia memainkan gitar. Tiba-tiba satu melodi tercipta tapi liriknya tak ada. “Kebiasaan saya bisa bikin musik tapi tak mahir bikin syair,” kata Johnsony (53) saat ditemui Beritagar.id, Rabu (16/5/2018) di kediamannya, Yogyakarta.

Lalu ia meminta Dadang Juliantara, rekannya sesama aktivis di KM-UGM, untuk menulis lirik. Setelah jadi, John kembali mengutak-atik sesuai irama musik dan memainkannya di depan teman-temannya. Budiman Sudjatmiko, mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM --kini menjadi politikus PDI Perjuangan-- yang saat itu hadir menilai liriknya kebanyakan kata “Tuhan”. Ia menyarankan John mengganti dengan kata “Bunda”.

Dan, jadilah lirik yang kini kita kenal, “…Bunda relakan darah juang kami, padamu kami berbakti.

Walau belum ada judulnya, John sering membawakan lagu ini di depan aktivis mahasiswa saat itu. Suatu kali ketika John memainkannya di tengah pertemuan Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY), seorang aktivis mahasiswa nyeletuk memberi judul Darah Juang. Celetukan itulah yang kemudian disematkan untuk judul lagu itu. “Saya juga tak tahu siapa yang kasih judul itu,” kata John.

Lagu Darah Juang itu kemudian menjadi semacam lagu wajib setiap kali mahasiswa melakukan aksi. Lagu itu menjadi mantra yang merekatkan gerakan mahasiswa 1998. Syairnya mengilhami perjuangan melawan penindasan hingga paska reformasi. “Dari yang (gerakan) kiri sampai yang kanan, kalau aksi nyanyinya ‘Darah Juang’,” kata alumni Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta ini.

Ketika gerakan mahasiswa berhasil menjatuhkan penguasa Orde Baru pada 21 Mei 1998, Darah Juang menggema dinyanyikan para demonstran yang menduduki gedung DPR/MPR di Jakarta.

Sayangnya, John tak tahu lagunya dinyanyikan di sana. Ia justru baru mengetahui saat dalam perjalanan dari Pekanbaru ke Yogyakarta, John mampir ke Jakarta. Di ibu kota, ia bersua dengan karib lama. “Tahun 2010 itu ada kawan yang kasih tahu, John itu lagumu ikut menjatuhkan Soeharto,” kata John menceritakan ucapan kawannya saat itu.

Lagu itu memang melegenda. Buktinya, sampai saat ini John masih kerap mendapat undangan. Seperti pekan ini, ia diminta membawakan lagu Darah Juang dalam peringatan 20 tahun reformasi di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM Yogyakarta, Jumat 18 Mei 2018.

Dari preman sekolah ke aktivis mahasiswa

“Andai saja tak jadi aktivis, mungkin aku sudah jadi preman,” kata John tentang jalan hidupnya.

Lahir di Binjai, Sumatera Utara pada 1 Desember 1965 dengan nama Johnsony Marhasak Lumbantobing, John bandel sejak kecil. Saat kelas 5 SD, keluarganya pindah ke Lampung. Bapaknya seorang hakim yang sering berpindah kota untuk bertugas.

Di Lampung, John bersekolah hingga tamat SMP. Pada 1982, ia pergi ke Yogyakarta untuk untuk bersekolah di SMA Santo Thomas. Di perantauan, kenakalannya kian menjadi-jadi. Berkelahi dan mabuk jadi kebiasaan sehari-hari.

Suatu hari ia pernah hanya berdua dengan teman satu sekolahnya, ngeluruk sekolah tetangga. 150 siswa keluar menghadapinya. Bukannya kabur, John dan temannya malah menantang duel mereka. Beruntung, John berhadapan dengan seorang dedengkot siswa sekolah tetangga. Sementara temannya dikeroyok puluhan siswa.

Gara-gara keributan ini, sepasukan tentara datang ke sekolah. John ditangkap dan digelandang ke markas Korem. “Saya bilang (sama tentaranya) kalau saya ditangkap, tangkap juga 150 orang itu,” katanya.

Musisi dan pencipta lagu Darah Juang, John Tobing berpose dengan gitarnya seusai sesi wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya di Sleman, Yogyakarta, Rabu (16/05/2018).
Musisi dan pencipta lagu Darah Juang, John Tobing berpose dengan gitarnya seusai sesi wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya di Sleman, Yogyakarta, Rabu (16/05/2018). | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Protesnya diabaikan, John malah kena tempeleng tentara. Pengalaman itu membuat John tak suka tentara. “Apa urusannya tentara ngurus orang sipil,” katanya.

Meski doyan tawuran, John suka berorganisasi. Sampai-sampai tentara yang menangkapnya tak percaya ketika kepala sekolah yang datang untuk membebaskan menyebut John adalah Ketua OSIS SMA Santo Thomas. Apalagi, penampilan John sama sekali tak seperti anak sekolahan. Rambut gondrong, celana bolong.

Selain tawuran, John terkenal sering bolos. Dalam sebulan, bisa jadi ia hanya masuk kelas sehari. Tak heran ia luput mengikuti ujian akhir SMA. “Saya tidak tahu ujiannya pagi karena sekolah saya masuk sore,” katanya.

Terang saja ia tak lulus. Untuk mengejar sekolah, John pindah ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di sekolah baru, John jadi anak baik-baik. Tapi itu hanya bertahan pada semester pertama. Semester kedua, kenakalannya kambuh.

Di ujung tahun, dari 47 siswa, dua orang yang tak lulus. John lulus meski namanya berada di urutan ke-45.

Ia mengatakan tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi mahasiswa. Sejak kecil, cita-citanya hanya satu, menjadi pemusik dan menulis lagu. “(Makanya) lulus SMA saya tak ada rencana kuliah,” katanya.

Tapi bapaknya berkeras John harus kuliah. Ia membujuk dengan berbagai cara agar anak ketiganya itu mau melanjutkan sekolah.

John lalu mendaftar seleksi penerimaan mahasiswa baru. Ia memilih tiga jurusan; filsafat, astronomi, dan kedokteran gigi.

Ia mengatakan memilih filsafat karena terinspirasi satu buku karangan Romo Mangunwidjaya yang dibacanya semasa SMA. Adapun astronomi, itu karena ia selalu terkesima melihat gugusan bintang di langit. Hanya kedokteran gigi yang tak ia tahu alasan kenapa memilihnya, bahkan hingga kini.

Tak disangka, John lolos seleksi. Ia diterima di Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta. Mungkin saja, karena jurusan ini jarang peminatnya.

Tapi di bangku kuliah inilah kenakalan masa SMA berangsur sirna. Mabuk masih, tapi John mulai tekun membaca. Ia mengatakan hanya ada dua kemungkinan bagi mahasiswa filsafat jika tak rajin kuliah di tahun kedua pertama. Pindah jurusan atau menjadi gila.

Begitulah filsafat, katanya. Ilmu pengetahuan ini memberikan wawasan untuk memahami persoalan hingga ke akarnya. Cara pandangnya pada dunia pun berubah setelah ia terpapar pengetahuan ini. Membaca, diskusi, dan menulis kini menjadi kesehariannya. “Dari situ kita bisa jadi aktivis yang benar,” katanya.

Bersama rekan seangkatan --Webby Warouw, Rudy Gunawan, Andi Munajat, Sugeng Bagahjo, Untoro Hariadi, Aji Kusumo, Darmono, Pramono-- John terlibat dalam diskusi-diskusi kritis di kampus filsafat. Akvitas itu memberinya kesadaran baru bahwa penyebab kesengsaran rakyat adalah penguasa yang hanya mementingkan diri sendiri.

Saat itu, ia melanjutkan, kekuasaan Soeharto menjadi tak terbatas. Dengan militer sebagai alat, Soeharto mengendalikan tiap sendi kehidupan masyarakat. Harga bahan bakar minyak tak naik tanpa persetujuannya, seseorang tak bisa menjadi gubernur tanpa restunya. Sampai-sampai, Menteri Penerangan Harmoko selalu mengawali tiap ucapannya dengan “sesuai petunjuk bapak presiden”. Ini seolah-olah ucapan Soeharto selalu benar adanya.

Musisi dan pencipta lagu Darah Juang, John Tobing berpose dengan gitarnya seusai sesi wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya di Sleman, Yogyakarta, Rabu (16/05/2018).
Musisi dan pencipta lagu Darah Juang, John Tobing berpose dengan gitarnya seusai sesi wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya di Sleman, Yogyakarta, Rabu (16/05/2018). | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Muak dengan kelaliman penguasa, sembilan orang itu menggalang demonstrasi di kampus pada 1988. Isunya, menolak Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). Koordinator lapangannya Untoro. Meski Untoro korlap, John mengenang, sembilan orang ini bersepakat jika ada ada penangkapan, maka yang lain juga harus ditangkap. Dipenjara satu ya dipenjara semua.

“(Sebenarnya) kami tak ada urusan (setuju atau tidak) dengan SDSB, yang kami tahu pokoknya busuknya Soeharto,” katanya.

Akhir dekade 1980an, ia mengatakan, benih-benih pemikiran kritis sebenarnya sudah tersemai di kampus-kampus. Wacana perlawanan terwadahi dalam kelompok-kelompok studi dan pers mahasiswa. Toh wacana itu belum termanifestasi dalam bentuk aksi turun ke jalan. Sehingga demonstrasi anti SDSB yang digagas John dan kawan-kawannya segera menjadi muara yang menyatukan kemarahan mahasiswa terhadap rezim yang diktator.

Aksi itu sekaligus memperluas jaringan gerakan. Konsolidasi gerakan mahasiswa berlangsung hingga menembus batas kampus. Tiap hari, tempat tongkrongan mereka disambangi mahasiswa dari kampus-kampus lain di Yogyakarta. Dari Universitas Islam Indonesia, Institut Agama Islam Negeri (kini UIN) Sunan Kalijaga, hingga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Aktivis-aktivis dari kampus filsafat UGM ini juga rajin menyebar virus perlawanan. Mereka rajin mendatangi forum-forum diskusi. Datang barengan, duduk terpisah. Apapun isu dan tema diskusi, mereka selalu mengampanyekan bahwa Soehartolah penyebab utama keterpurukan bangsa ini.

Paska penangkapan tiga aktivis; Bambang Isti Nugroho, Bambang Subono, dan Bonar Tigor Naipospos, karena menyebarkan buku Pramoedya Ananta Toer, John dan gengnya menggalang demonstrasi pada 1989. Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta bergabung dalam “Aksi Kusumanegara” ini.

Bentrokan antara aparat dan mahasiswa tak terhindarkan. Sejumlah mahasiswa terluka dan ditangkap, yang dengan segera memicu aksi susulan. Di aksi kedua itu, dengan isu menuntut pembebasan rekan mereka, John jadi korlapnya.

Menurut dia, aksi kedua itu mengubah keadaan. Aparat yang semula represif mulai melunak. Mereka membebaskan mahasiswa yang ditangkap, membesuk mahasiswa yang terluka di rumah sakit dan menjanjikan bantuan pengobatan. “Mereka datang ke rumah sakit bawa buah-buahan, tapi kami tolak dan kami buang padahal saat itu kami lapar,” katanya.

Tahun 1989 Keluarga Mahasiswa UGM terbentuk dan John terpilih sebagai ketuanya. Dua tahun kemudian, ketika mahasiswa se-Yogyakarta mendirikan FKMY pada 1991, John diangkat sebagai wakil ketua. Melalui FKMY, gerakan mahasiswa menentang Orde Baru semakin terkonsolidasi.

Sayangnya, forum ini tak bertahan lama. Anggotanya mulai terpecah-pecah. Sebagian mendirikan Solidaritas Mahasiswa Yogyakarta, yang lain membangun Dewan Mahasiswa dan Pemuda Yogyakarta. Belakangan, FMY bertransformasi menjadi Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). Organisasi ini membangun jaringan hingga kota-kota lain di Indonesia dan mendirikan Persatuan Rakyat Demokratik (kemudian berubah jadi Partai Rakyat Demokratik).

John mulai tak nyaman dengan konflik ini. Menurut dia, FKMY masih terlalu belia untuk terpecah. “Semestinya ini jadi ajang konsolidasi gerakan mahasiswa menjadi lebih luas lagi,” katanya.

Akibat perpecahan itu, John menarik diri dari gerakan mahasiswa. Ia memilih menulis skripsi untuk menamatkan kuliahnya.

Musisi dan pencipta lagu Darah Juang, John Tobing berpose dengan gitarnya seusai sesi wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya di Sleman, Yogyakarta, Rabu (16/05/2018).
Musisi dan pencipta lagu Darah Juang, John Tobing berpose dengan gitarnya seusai sesi wawancara dengan Beritagar.id di kediamannya di Sleman, Yogyakarta, Rabu (16/05/2018). | Reza Fitriyanto /Beritagar.id

Ketika gerakan mahasiswa dibajak di tengah jalan

Ia mengatakan penyebab utama perpecahan FKMY adalah “otak-otak Jakarta”. Mereka ingin menguasai gerakan mahasiswa Yogyakarta dan mengendalikannya. Sejak keluar dari FKMY, ia pun tak lagi terlibat aktif dalam gerakan.

Setelah menamatkan kuliah pada 1995, ia pulang ke Pekanbaru. Dua tahun kemudian, ia menikah pada tahun 1997. “Saya tarik diri (dari gerakan) untuk mencetak uang sendiri,” katanya.

Gara-gara uang, ia mengatakan, bangsa ini tercerai berai. Pada masa lalu, Portugis dan Belanda datang menjajah untuk mengeruk sumber daya alam. Kapitalisme melahirkan kolonialisme. Ketika Indonesia merdeka, kolonialisme baru (neokolonialisme) lahir dan kembali menggarong kekayaan bangsa ini. “Tapi sampai sekarang kita masih tak menyadari itu,” katanya.

Lihatlah, ia melanjutkan, bagaimana elit politik negeri ini berebut kuasa. Mereka terjebak dalam politik busuk untuk meraup kekayaan.

Di Pekanbaru, John berusaha membangun bisnis dengan menjadi kontraktor. Tapi usaha ini tak berlangsung lama. Sekali dua kali, ia mendapat tender. Tapi setelah itu sepi. Budaya uang pelicin untuk mendapat proyek menjadi salah satu alasan bisnisnya tak mendapat order. “Gara-gara tak punya uang tak pernah ikut tender,” katanya.

Paska reformasi, ia pernah menjajal aktif berpolitik. Seorang kawan datang menawarinya membangun struktur Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Riau. John menyanggupi dengan syarat pengurus pusat mengganti nama pengurus PDI Perjuangan Riau yang tak bervisi.

Si kawan itu menyanggupi. John pun diangkat menjadi Wakil Ketua PDI Perjuangan untuk Provinsi Riau. Tapi syarat agar nama-nama calon pengurus baru yang ia sodorkan tak kunjung disetujui. Ia pun memilih hengkang dari PDI Perjuangan. “Ternyata sama saja, mereka yang berengsek tetap mendominasi kepengurusan,” katanya.

20 tahun reformasi berlalu, negeri ini tak banyak berubah. Soeharto memang tumbang, tapi kroninya tetap berkuasa. Gerakan mahasiswa dibajak di tengah jalan.

Reformasi, kata John, hanya istilah segelintir orang dan elit politik. Mahasiswa tak pernah mendesain gerakannya seperti itu. “Mahasiswa tak membikin reformasi, dia menyusun revolusi,” katanya.

Pantas saja, elit politik baru bermunculan paska reformasi. Watak mereka tak berbeda dengan Soeharto. Malah kini mereka berkolaborasi dengan sisa-sisa kroni Orde Baru. Ironisnya lagi, John melanjutkan, ia mendapati kawan sesama aktivis yang dulu berjuang di jalanan kini bergabung di dalamnya.

John kini tinggal ke Yogyakarta. Ia pindah dari Pekanbaru sejak tahun 2010. Di kota ini, tempat ia pernah membangun gerakan mahasiswa, ia pernah mencoba berkarir di dunia musik. Sayangnya, 600an lagu yang pernah dibuatnya tak terdokumentasi. Catatan lirik dan rekaman melodinya tercerai berai. Lagi pula, industri musik rupanya tak pernah berpihak padanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR