Ariska Dala (17), gadis bermata biru di Desa Kaimbulawa, Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara.
Ariska Dala (17), gadis bermata biru di Desa Kaimbulawa, Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. La Ode Pandi Sartiman / Beritagar.id

Mata Biru di Buton, dulu stigma kini istimewa

Mereka jadi korban politik adu domba dari penjajah. Kini, keturunan bermata biru mulai dapat tempat istimewa sekaligus meluruhkan stigma.

"Sejak lahir sudah begini mi mataku," ujar Ariska Dala, membuka percakapan lepas perkenalan.

Beritagar.id bercakap dengan Ariska di rumah panggung milik keluarganya, Sabtu (11/11/2017). Rumah itu terletak di Pulau Siompu, atau persisnya masuk wilayah Desa Kaimbulawa, Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara.

Dara berusia 17 itu memang punya mata yang bisa bikin orang terpana. Bola matanya biru bak warna laut yang mengelilingi pulau tempatnya berdiam. Warna biru itu kian mencolok dengan sorot mata nan tajam.

Ariska adalah salah seorang pewaris darah Portugis di Pulau Siompu. Meski kebagian mata biru, kulit Ariska tetap sawo matang seperti lazimnya warga Siompu.

Ayah Ariska, La Dala (52) juga bermata biru. Bahkan, wajah dan fisik La Dala tunjukkan ciri khas Eropa. Hidungnya mancung. Kulitnya lebih terang dibanding warga Siompu lain. Rambutnya pun pernah pirang sebelum pudar dimakan uban.

Kepada Beritagar.id, La Dala menjelaskan silsilah keluarganya. Ia bilang, kemunculan generasi bermata biru di Siompu bermula dari persahabatan Raja Siompu II, La Laja atau La Sampula, dengan para pelaut Portugis.

Saking eratnya persahabatan, Raja Siompu II menikahkan putrinya Wa Ode Kambaraguna dengan seorang Portugis--konon bernama Pitter. Pernikahan putri Siompu dan pria Portugis itu melahirkan beberapa anak, termasuk La Ode Raindabula, yang berpostur tinggi, berkulit putih, dan bermata biru.

La Ode Raindabula merupakan generasi pertama mata biru di Siompu. Selanjutnya, La Ode Raindabula mempersunting perempuan bangsawan dan memiliki lima anak, antara lain La Ode Pasere yang merupakan kakek buyut La Dala dari pihak ibu.

Menurut La Dala, La Ode Raindabula sudah meramalkan perihal keturunannya yang bakal mewarisi ciri fisik ala Eropa.

"Beliau meramal, pada keturunan kelima dan keenam akan muncul lagi ciri khas orang Eropa," kata La Dala, yang kini berstatus Kepala Sekolah Dasar 2 Kaimbulawa, Siompu itu.

Nah, La Dala merupakan keturunan kelima. Anaknya, Ariska adalah keturunan keenam. Uniknya, dari enam anak La Dala hanya Ariska yang punya mata biru.

Selain di Siompu, ucap La Dala, familinya juga menyebar di wilayah lain. "Saudara saya banyak yang menetap di Ambon," kata dia.

Meski unik, mata biru yang mereka miliki juga mengundang kemalangan. Semasa muda, kata La Dala, dirinya pernah mengalami perundungan akibat ciri fisik tak lazim itu.

"Waktu belajar di SPG (Sekolah Pendidikan Guru), saya sering dihina. Katanya, 'Belanda hitam'. Katanya, pengkhianat," keluh La Dala.

Perkara serupa pernah pula dialami Ariska. Saat belajar di SMP Negeri 4 Baubau, Ariska sering dipanggil "mata setan". Salah seorang gurunya sempat meragukan keaslian bola mata Ariska, hingga mendesaknya agar tak memakai "lensa kontak".

Lantaran kerap diejek, Ariska--kini bersekolah di SMA Negeri 1 Siompu--pernah tak masuk sekolah selama sepekan.

***

Mata Ariska Dala, biru laksana laut Siompu. Ia adalah generasi keenam keturunan Portugis di Pulau Siompu, Buton Selatan, Sulawesi Tenggara.
Mata Ariska Dala, biru laksana laut Siompu. Ia adalah generasi keenam keturunan Portugis di Pulau Siompu, Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. | La Ode Pandi Sartiman /Beritagar.id

Pulau Siompu bisa dijangkau lewat perjalanan laut dari Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara, dengan tujuan ke Kota Baubau, Pulau Buton. Perjalanan itu butuh waktu enam jam dengan menumpang feri.

Dari Baubau, perjalanan berlanjut dengan penyeberangan menuju Pulau Siompu--durasinya sekitar 30 menit bila menumpang perahu cepat (speedboat).

Selain di Siompu, Beritagar.id juga bertemu orang bermata biru di Desa Boneatiro, Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton.

Wilayah termaksud bisa dijangkau dengan perjalanan darat sejauh lebih kurang 50 kilometer dari Kota Baubau--1,5 jam perjalanan.

Di Desa Boneatiro, Beritagar.id bertemu Fardhan Ramadhan (5). Para tetangganya kerap menyapa bocah itu sebagai Si Mata Biru.

Ibu Fardhan, Diana (34) menyebut garis keluarga almarhum suaminya, Faisal Ambo Dale (wafat tiga bulan silam) mewariskan mata biru kepada Fardhan. Menurut Diana, almarhum suaminya merupakan keturunan Portugis yang lahir di Morowali, Sulawesi Tengah.

Kakek Fardhan, kata Diana, punya ciri bule: kulit putih, rambut pirang, mata biru, dan postur menjulang tinggi. "Kakek Fardhan keturunan Portugis, tapi anak-anaknya tidak ikut ciri-cirinya. Hanya, Fardhan yang ikut kakeknya. Tiga kakak Fardhan juga tidak bermata biru," ujarnya.

Dalam situasi gelap, ucap Diana, Fardhan punya penglihatan yang lebih baik dibanding kebanyakan orang. Pupil mata Fardhan terlihat merah dalam gelap, seolah memancarkan cahaya.

Saat Fardhan masih bayi, Diana sempat membawanya ke rumah sakit lantaran khawatir dengan "keanehan" warna mata itu. Hampir sebulan anak bungsunya itu dirawat, hingga pihak rumah sakit mengaku tak menemukan penyakit apa pun.

***

Fardhan Ramadhan (5) atau yang lebih sering dipanggil "Si Mata Biru" oleh warga Desa Boneatiro, Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara.
Fardhan Ramadhan (5) atau yang lebih sering dipanggil "Si Mata Biru" oleh warga Desa Boneatiro, Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. | La Ode Pandi Sartiman /Beritagar.id

Perburuan rempah mengantarkan pelaut Portugis masuk Nusantara pada abad 16. Tujuan utama mereka adalah Kepulauan Maluku, yang merupakan rumah bagi tanaman rempah primadona: cengkeh dan pala.

Menurut peneliti budaya Sulawesi Tenggara, La Ode Yusri, para pelaut Portugis mula-mula melintasi jalur Utara, lewat Pulau Mindanao--sekarang wilayah Filipina. Namun, lantaran banyak aksi perompak, Portugis mengalihkan rute pelayaran ke Selatan.

"Lewat jalur Selatan, mereka menemukan Pulau Buton," kata Yusri, ketika mengobrol dengan Beritagar.id, di satu warung kopi, Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (9/11/2017).

Pulau Buton akhirnya jadi persinggahan bagi pelaut Portugis yang menuju ke Maluku. Selama berlabuh, mereka mengisi perbekalan serta menjalin hubungan dagang dengan Kesultanan Buton.

Cerita itu termuat dalam naskah kuno Buton, Kanturuna Mohelana (Pelitanya Orang Berlayar). Namun, naskah lawas tersebut tak mencantumkan tarikh kedatangan orang Portugis di Buton.

Yusri menaksir, interaksi Buton-Portugis terjadi antara 1500-an sampai 1600-an, sebelum Belanda masuk.

"Kanturuna Mohelana menceritakan interaksi dengan Portugis berlangsung sampai datangnya orang Eropa lain (Belanda)," ujar Yusri, yang selama beberapa tahun terakhir menaruh perhatian pada komunitas mata biru di Buton.

Bila taksirannya tepat, kata Yusri, maka para pelaut Portugis berinteraksi dengan tiga Sultan Buton: Murhum atau Sultan Kaimuddin Khalifatul Khamis (1491-1537), La Tumparasi atau Sultan Kaimuddin (1545-1552), dan La Sangaji (1566-1570).

Seiring waktu, perkawanan bertambah erat lewat perkawinan. Beberapa perempuan keturunan bangsawan Buton dipersunting pria Portugis. Mata biru merupakan ciri anak-anak hasil perkawinan silang Buton-Portugis itu.

Yusri menyebut contoh perkawinan antara Felengkonele, seorang pemimpin armada Portugis, dengan salah seorang putri bangsawan Buton. Ia juga menuturkan ulang cerita lisan pernikahan pelaut Portugis dengan putri Raja Siompu II--menyisakan keturunan di Pulau Siompu (keluarga La Dala).

Kedekatan pelaut Portugis dengan Kesultanan Buton terlihat pula dalam beberapa hal.

Misal, salah satu kompi pasukan kesultanan Buton punya kostum yang dilengkapi topi gaya Portugis. Topi itu berbentuk cekung menjulang ke atas, serupa kepunyaan para bajak laut dalam film Pirates of the Caribbean. Orang buton menyebutnya popongku.

Generasi kelima mata biru dari Siompu, La Dala (52), berpose untuk Beritagar.id di rumahnya, Desa Kaimbulawa, Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara.
Generasi kelima mata biru dari Siompu, La Dala (52), berpose untuk Beritagar.id di rumahnya, Desa Kaimbulawa, Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. | La Ode Pandi Sartiman /Beritagar.id

Relasi pelaut Portugis dengan Kerajaan Buton mulai mengalami goncangan pada masa kepemimpinan La Sangaji.

Goncangan berawal dari kesepakatan membangun benteng Kesultanan Buton--diarsiteki orang Portugis dan dikerjakan warga lokal. Itu merupakan benteng nan megah pada masanya, dengan luas 23.375 hektare, 12 pintu gerbang, dan 16 emplasemen meriam. Sisa-sisa kemegahannya masih bisa dilihat di Buton.

Pembangunan benteng menuai pro-kontra di lingkungan Kesultanan Buton. Kritik muncul karena sebagian besar sumber daya milik Kesultanan Buton dipakai membangun benteng. Padahal, saat itu, Buton dilanda kekeringan panjang.

"Karena dianggap gagal, terjadi beberapa percobaan kudeta terhadap La Sangaji. Dia akhirnya mau lepas jabatan dengan syarat boleh menyelesaikan pembangunan benteng," ujar Yusri.

Kala itu, Belanda juga mulai memasuki wilayah Buton. Selepas suksesi kepemimpinan dari La Sangaji kepada La Elangi, Belanda menanam pengaruh dan menerapkan siasat andalan: politik adu domba (devide et impera).

"Belanda melancarkan propaganda dan fitnah terhadap keturunan Portugis, yang mereka sebut pengkhianat," ujar Yusri. "Itu sesuai kepentingan Belanda yang menganggap Portugis sebagai saingan dalam berebut pengaruh di Kesultanan Buton."

Propaganda itu bikin anak-anak hasil perkawinan Buton-Portugis menyingkir ke beberapa wilayah, macam Liya (Kabupaten Wakatobi), Ambon, hingga Malaysia.

***

Stigma yang ditanam Belanda terus berbekas hingga beberapa tahun silam. Yusri mengaku, pada awal-awal melakukan penelitian, dirinya sempat kesulitan berinteraksi dengan orang-orang bermata biru.

"Pada dasarnya, mereka tertutup dengan orang baru. Bahkan ada anjuran dari leluhur untuk menghindari jalan ramai. Kalau ke pasar, mereka lewat hutan. Termasuk membangun rumah di kebun, dan jauh dari pergaulan," katanya.

Belakangan, stigma itu luruh. Sisa komunitas bermata biru di Buton perlahan membuka diri, lebih-lebih setelah cerita dan foto mereka mulai tersebar di media dan media sosial.

La Dala juga bercerita perihal luruhnya stigma terhadap orang-orang bermata biru. Kini, kata La Dala, dirinya kerap diundang dalam acara di lingkungan Kesultanan Buton.

"Ternyata, setelah saya cerita-cerita, kami ini keturunan raja," kata La Dala, setengah berkelakar. "Sekarang kami istimewa. Bupati Buton Selatan pernah bercanda ke saya dalam sebuah pertemuan, 'Ini kepala sekolah (La Dala) harus dijaga karena matanya'."

Anak La Dala, Ariska juga merasakan hal yang sama. Tak ada lagi ejekan "mata setan" yang menerpanya. Ia pun lebih percaya diri dengan mata birunya. "Banyak teman-teman yang ingin punya mata seperti saya," ujarnya.

Baca juga artikel tentang turunan Portugis di Aceh, "Telusur jejak turunan Portugis di Aceh".
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR