Iwan Abudjulu dan  Febrilian Ayu, memegang foto Alfayer, Jumat (9/3/2018). Alfayer (14) meninggal dunia setelah jadi bulan-bulanan sejumlah orang dewasa lantaran dituduh melakukan pencurian.
Iwan Abudjulu dan Febrilian Ayu, memegang foto Alfayer, Jumat (9/3/2018). Alfayer (14) meninggal dunia setelah jadi bulan-bulanan sejumlah orang dewasa lantaran dituduh melakukan pencurian. Beritagar.id / Nur Soima Ulfa
LAPORAN KHAS

Maut remaja dalam amuk massa di Palu

Fayer (14) meninggal di ujung amuk belasan orang dewasa setelah dituduh melakukan pencurian. Keberingasan itu juga bikin rekan Fayer, GR (14) mesti diopname sembilan hari.

Dua remaja lelaki terkapar dengan dada telanjang di atas tanah. Keduanya tak berdaya dengan tanda-tanda penganiayaan: bengkak plus lebam di wajah dan tubuh.

Remaja pertama, Moh. Alfayer (Fayer, 14), tak sadarkan diri dengan bunyi napas seperti dengkuran. Rekannya, GR (14) masih sadar dan bisa menjawab pertanyaan meski kesakitan.

Beberapa orang dewasa mengerumuni keduanya sambil menginterogasi penuh bentakan. Seorang pria bertanya pada GR tentang laptop dan televisi. GR menyebut barang termaksud ada di rumah Fayer.

Pria itu berpindah ke Fayer, lalu memukul kepala si bocah dengan sepatu sebanyak dua kali. Ia terlihat kesal dan menyebut Fayer pura-pura kesakitan. Seorang pria lain berteriak--dalam bahasa lokal--menyebut Fayer pantas mati karena melakukan pencurian.

Aksi itu berujung maut: Fayer tewas. Sedangkan GR mesti dirawat intensif di RS Bhayangkara Polda Sulteng--sembilan hari opname. Dua remaja level Sekolah Menengah Pertama itu jadi korban penganiayaan setelah dituduh mencuri di satu rumah warga.

Potongan kejadian tersebut terekam lewat video berdurasi 1 menit 29 detik yang menyebar di media sosial--terutama Palu dan sekitarnya. Peristiwa itu terjadi di Jalan Nambo 1, Kelurahan Petobo, Palu Selatan, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (21/2/2018).

Video menjalar lewat aplikasi pesan, macam WhatsApp dan Line. Di Facebook, warganet ikut berdebat. Sebagian mendukung penganiayaan dan tudingan pencurian. Sebagian lain mengecam aksi main hakim sendiri itu.

Apapun argumentasi warganet, faktanya, nyawa seorang anak lepas.

"Napasnya tinggal satu-satu dan seperti menggerok (baca: mendengkur).”

Kakak Fayer, Febrilian Ayu, tentang kondisi adiknya pasca-penganiayaan.

Rabu, 21 Februari 2018, mestinya jadi momen spesial Febrilian Ayu. Putri sulung pasangan Iwan Abudjulu dan Miratus Sa'adah itu genap berusia 20.

Pagi hari, sang ibu membangunkan Ayu dengan dua kado di tangan. Satu kado untuk Ayu. Bingkisan lain diberikan pada adiknya, Fayer. "Saya dapat baju tidur dan handuk. Fayer dapat handuk," kenang Ayu.

Lalu, Fayer buru-buru ke sekolah. Ayu juga segera masuk kerja, memenuhi kewajiban sebagai staf kontrak di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sulteng.

Siang hari, sekitar pukul 13.00, Ayu sempat bertemu Fayer di rumah mereka. Fayer sudah balik sekolah, sedangkan Ayu pakai waktu istirahat kantor guna kembali ke rumah. Pun, keduanya sempat bakugara (baca: bercanda).

"Mana kadoku?" Ayu, menggoda adiknya.
"Ih, tidak ada uangku," ujar Fayer.
"Boh, kalau ceweknya dikasih kado Valentine!"
"Beh, tidak ada cewekku. Jadi mana traktiranku?"
"Belum gajian. Nanti kalau ada uang, saya traktir."

Ayu memang ingin mentraktir Fayer. Namun, malam itu, ia telanjur punya agenda kencan. Tiada pula yang menyangka malam itu berujung celaka.

Jam menunjukkan pukul 21.30, mata Ayu berpendar terkena nyala lilin ulang tahun yang menghiasi kue pemberian sang pacar. Sejoli itu duduk di warung nasi kuning, bilangan Kelurahan Nunu, Palu Barat. Lilin siap ditiup tetapi Ayu pilih makan dulu.

Mereka tengah bersiap santap malam, ketika ponsel Ayu berdering. Panggilan masuk dari ayahnya, yang mulai bicara dengan suara panik, "Cari adikmu! Di rumah sakit."

Info lanjutan pun terbatas: "Ke RS Bhayangkara, Palu Timur," dan "Fayer dipukul, dituduh mencuri".

Makanan belum lagi disentuh. Lilin tak pernah dinyalakan ulang. Ayu bergegas ke RS Bhayangkara.

Di Unit Gawat Darurat, Ayu menemukan Fayer tak sadar dengan wajah dan tubuh penuh lebam. Ayu mulai menangis tak terkendali, kadang berteriak histeris, sempat pula jatuh sempoyongan.

Demi melihat adiknya, Ayu sadar Fayer tidak sekadar dipukul atau terlibat kasus kelahi remaja. "Napasnya tinggal satu-satu dan seperti menggerok (baca: mendengkur). Hampir tidak ada harapan," kata Ayu, menceritakan kondisi adiknya di RS Bhayangkara.

Maut tak bisa ditolak. Pukul 06.05, Kamis (22/2/2018), Fayer meregang nyawa. Ayu tak sempat memenuhi janjinya mentraktir sang adik.

Ayu terlihat tegar, meski matanya bengkak karena tangis, ketika menuturkan cerita di muka. Percakapan kami berlangsung di rumah duka, bilangan Jalan Tanggul Selatan, Kelurahan Birobuli Selatan, Palu Selatan, Sabtu (24/2/2018).

***

Titik lokasi peristiwa penganiayaan yang berujung tewasnya Fayer, Jumat (9/3/2018).
Titik lokasi peristiwa penganiayaan yang berujung tewasnya Fayer, Jumat (9/3/2018). | Nur Soima Ulfa /Beritagar.id

Ridho (32) tak punya pertanda apapun tentang peristiwa besar yang bakal dihadapinya pada malam itu. Peristiwa yang bakal jadi momen penting dalam kariernya sebagai Bhayangkara Pembinaan dan Keamanan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkantibmas Petobo) atau polisi kelurahan.

Rabu (21/2/2018) malam, sekitar pukul 20.00, Ridho terima telepon dari rekannya sesama Bhabinkantibmas. Rekannya mengabarkan, ada pencuri kena amuk massa di Jalan Nambo 1 dan Ridho diminta mengamankan.

"Kebetulan saya di rumah. Paling dekat dengan TKP--sekitar tiga kilometer," ujar Ridho, saat kami bertemu di rumah duka, Rabu sore (28/2/2018).

Begitu tiba di TKP, Ridho menemukan Fayer dan GR terkapar tak berdaya.

Lokasinya di simpang Jalan Nambo 1 dan jalan masuk Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 2 Petobo. Jalan itu masih berupa tanah gersang tanpa aspal. Di tepinya, ada semak kering, pohon jarak merah, dan pohon kaktus. Kalau malam suasanya gelap gulita tanpa fasilitas penerangan.

Warga di TKP, kata Ridho, langsung menyerahkan dua remaja itu kepadanya. Ia pun menghubungi patroli Polsek Palu Selatan untuk evakuasi.

"Patroli datang sekitar 10 menit setelah saya, karena ada kasus di (Pasar) Masomba" kata Ridho. Jarak Pasar Masomba ke TKP sekitar sembilan kilometer.

Aparat mengevakuasi Fayer dan GR. Fayer, yang tidak sadarkan diri, diangkat ke atas kursi di belakang mobil. Pukul 20.10, keduanya dilarikan ke RS Bhayangkara.

Sedangkan Ridho menuju Kantor Kelurahan Petobo, yang sudah penuh dengan warga nan penasaran dengan kabar pencuri dipukul massa.

***

Kolase foto almarhum Moh. Alfayer. Ia dikenal sebagai pribadi mandiri, yang saban hari kerja paruh waktu sebagai pencuci motor demi punya uang jajan.
Kolase foto almarhum Moh. Alfayer. Ia dikenal sebagai pribadi mandiri, yang saban hari kerja paruh waktu sebagai pencuci motor demi punya uang jajan. | Alfayer /via Facebook

Kira-kira pukul 21.30, Iwan Abudjulu, ayah Fayer, tiba di Kantor Kelurahan Petobo. Pria yang berprofesi sebagai pemborong bangunan itu mengaku sudah resah sebelum dengar kabar nahas tentang Fayer.

"Sekitar 5 menit lagi jam 9, saya tanya ke maitua (istri) 'mana Fayer, belum pulang'. Pas saya mau cari, datang teman-temannya ke rumah," ujar pria 43 tahun itu.

Dari teman-teman Fayer, Iwan melihat video penganiayaan terhadap anaknya. Rekaman itu memang lekas tersebar setelah diunggah ke Info Kota Palu (IKP), grup Facebook yang punya lebih dari 430 ribu anggota--sekitar pukul 20.30.

Iwan tak sampai hati menonton video hingga usai. Pun, wajah Fayer langsung dikenalinya pada detik-detik awal.

Tanpa banyak pikir, ia memacu sepeda motor ke Kantor Kelurahan Petobo demi mencari informasi. Istrinya, Miratus Sa'adah (40) tinggal di rumah karena menjaga bayi mereka (4 bulan).

Di Kantor Kelurahan Petobo, Iwan mendapat kabar Fayer dibawa ke RS Bhayangkara. Ia langsung menelepon Ayu, yang dimintanya segera menuju rumah sakit.

"Dari sana (Kantor Kelurahan Petobo) saya sendiri ke rumah sakit. Pelan-pelan (di jalan), saya istigfar terus," ujarnya.

Mata iwan masih sembab saat kami bacerita di rumah duka, Sabtu (24/2/2018). Boleh jadi, ia telah menguras air mata atau kelelahan lepas mengurusi kematian Fayer.

Iwan tak percaya bila putra kesayangannya dituduh mencuri. Ia kenal benar pribadi Fayer yang disebutnya "rajin salat di masjid" serta "pernah juara lomba azan".

Semasa di Sekolah Dasar, Fayer kerap menulis cita-citanya menjadi polisi di bukunya. Sebagai siswa, Fayer menonjol dalam matematika dan suka bermain sepak bola. Sehari-hari, Fayer mandiri dengan jadi tukang cuci motor paruh waktu demi mencari uang jajan.

Keluarga Iwan juga punya "jam malam" untuk Fayer. Remaja itu harus pulang sebelum pukul 21.00. Lewat dari itu, Iwan akan mencarinya.

Perihal pergaulan anaknya, Iwan mengaku tak mengetahui satu per satu teman Fayer. Ia pun mengaku tak kenal GR, yang turut jadi korban bersama Fayer.

Iwan terakhir kali melihat Fayer beberapa saat sebelum salat magrib di masjid sekitar rumahnya. Lepas salat, Fayer dijemput seorang temannya.

"Waktu itu anak saya dijemput temannya satu orang (bukan GR). Entahlah apakah terus baku bawa dengan teman yang lain (GR)," ujarnya.

Itulah terakhir kali Fayer pergi dari rumah. Kini, anak tengah di keluarga itu sudah tiada.

Sejauh ini, kepolisian memproses dua kasus. Pertama, kasus dugaan pencurian yang dituduhkan kepada almarhum Fayer dan GR-- ditangani Polsek Palu Selatan. Kedua, kasus penganiayaan yang menewaskan Fayer.

Polres Palu, yang menangani kasus penganiayaan, sudah menetapkan empat tersangka.

Iwan pun meminta keseriusan polisi dalam pengungkapan kasus ini. Ia mengaku ingin bawa keadilan bagi mendiang anaknya sekaligus mencegah kasus serupa terulang.

"Saya tidak bela kalau (Fayer) salah. Kalaupun dia (terbukti mencuri), ada jalan hukum," kata Iwan. "Jangan (karena) persoalan sepele, orang membunuh lagi di tempat lain. Jangan begitu. Kita negara hukum."

Baca juga laporan kedua dalam topik ini: "Menyelisik kematian remaja akibat amuk massa di Palu".
BACA JUGA