Warga mengikuti tradisi Mebuug-Buugan atau mandi lumpur di Desa Kedonganan, Badung, Bali, Jumat (8/3/2019).
Warga mengikuti tradisi Mebuug-Buugan atau mandi lumpur di Desa Kedonganan, Badung, Bali, Jumat (8/3/2019). ANTARA FOTO / Fikri Yusuf
WARISAN BUDAYA NUSANTARA

Mebuug-buugan: Mandi lumpur demi kesucian

Ritual ini sempat terlupakan karena letusan Gunung Agung dan Tragedi 1965. Kini, Mebuug-buugan tak hanya jadi momen penyucian, tetapi juga medium mengenal lingkungan.

"Mentul menceng, mentul menceng.
Glendang glendong, glendang glendong..."

Lirik berbahasa Bali itu memuat metafora atas tubuh sepasang manusia, lingga (lelaki) dan yoni (perempuan). Di Tanah Bali, lingga yoni merupakan perlambang kesuburan. Simbol kehidupan.

Jumat sore, 8 Maret 2019, syair itu berkumandang dalam arak-arakan warga yang bergerak memasuki kawasan hutan bakau di sisi timur Desa Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali.

Ratusan warga jadi peserta pawai. Banyak di antaranya anak-anak. Tak sedikit jua muda mudi. Ada pula orang tua.

Para lelaki bertelanjang dada dengan bawahan kamen (sarung) di barisan depan. Perempuan-perempuan menyusul di belakang.

Tawa dan senyum mengiringi perjalanan menyusuri jalur air (setinggi mata kaki) di tengah hutan bakau yang bersemuka Teluk Benoa.

Hutan bakau itu punya satu area penuh lumpur kecokelatan, atau dalam bahasa lokal disebut buug--jenis lumpur nan bersih yang tak bikin tubuh gatal. Area itulah yang jadi perhentian pertama arak-arakan.

Begitu tiba di tujuan, demi melihat hamparan lumpur, warga langsung menceburkan diri. Mereka juga melumuri tubuh dengan lumpur, menggosokannya ke punggung, perut, dada, leher, muka, bahkan rambut. Mandi lumpur.

Belum cukup. Perang lumpur seketika terjadi. Orang-orang saling lempar lumpur sekepalan tangan. Ada pula yang saling dorong, bahkan adu gulat dalam lumpur.

Namun semua perseteruan dan kontak fisik berlangsung penuh keriangan lagi penuh senyum. Tiada permusuhan.

Itulah ritual Mebuug-buugan atau mandi lumpur. Ritus tersebut digelar sehari setelah nyepi atau kerap disebut sebagai hari Ngembak Geni.

Ia bak momen penuntasan puasa Nyepi. Keriuhannya semacam pertanda untuk melakukan pelbagai aktivitas seperti sedia kala.

Seorang warga yang mengikuti tradisi Mebuug-Buugan atau mandi lumpur menari bersama penari di Pantai Kedonganan, Badung, Bali, Jumat (8/3/2019).
Seorang warga yang mengikuti tradisi Mebuug-Buugan atau mandi lumpur menari bersama penari di Pantai Kedonganan, Badung, Bali, Jumat (8/3/2019). | Fikri Yusuf /Antara Foto

Mebuug-buugan merupakan ritual kuno Desa Kedonganan yang sempat terpendam selama puluhan tahun.

Dua bencana telah menjauhkannya dari laku dan imaji warga. Petaka pertama bersumber pada letusan gunung agung pada 1963. Bencana kedua berupa petaka kemanusiaan, Tragedi 1965 (G30S), yang makan ribuan nyawa Orang Bali.

Tragedi 1965 menyisakan jejak komunal dalam kehidupan sosial. Misal, soal pelarangan berkumpul dalam jumlah banyak bagi warga. Situasi macam itu menjauhkan tradisi Mebuug-buugan dari warga Kedonganan.

Situasi berubah setelah terbitnya hasil riset dari I Wayan Sudarsana, seorang warga Kedonganan yang juga alumni S2 Seni Tari Institut Seni Indonesia (ISI). Riset Sudarsana menemukan kembali jejak Mebuug-buugan sebagai ekspresi budaya Kedonganan.

Sudarsana pula yang menyimpulkan bahwa tradisi itu tersentral di hutan bakau.

Kawasan itu memang jadi satu sentra ritual nan sakral bagi warga Kedonganan. Konon warga dilarang melakukan perbuatan tercela atau berkata kasar di kawasan termaksud.

Kepala Desa (Bendesa) Adat Kedonganan, I Wayan Mertha, menyebut bahwa tradisi Mebuug-buugan terlahir kembali sejak 2015.

"Warga merasa ada yang kurang seusai Nyepi. Jadi digelarlah Mebuug-buugan," katanya.

"Tradisi Mebuug-buugan  sempat berhenti karena peristiwa 1965. Saat itu banyak persoalan politik yang berpengaruh pada ritual ini."

Bendesa Kedonganan, I Wayan Mertha

Mertha menjelaskan makna di balik Mebuug-buugan. Pertama, ritual ini merupakan ungkapan syukur dan terima kasih pada Ibu Pertiwi atas semua anugerah, seperti kesuburan tanah.

"Kami bersujud pada Ibu Pertiwi dan melumuri tubuh dengan lumpur sebagai ucapan terima kasih," katanya.

Kedua, Mebuug-buugan jadi medium pembersihan secara skala (lahir) dan niskala (batin).

"Selama setahun, pasti ada hal-hal kurang baik, baik kita sadari atau pun tidak. Jadi hal-hal yang kurang baik kami bersihkan selama ritual Mebuug-buugaan," ujar Mertha.

Ketut Sukarta, salah seorang warga, punya pendapat sama. Baginya, Mebuug-buugan jadi tempat mengekspesikan kegembiraan, sarana silaturahmi, dan pembersihan diri. "Ini untuk membersihkan diri setelah Nyepi," kata Sukarta.

Demi bersih-bersih warga melumuri tubuh mereka dengan lumpur. Lumpur dianggap sebagai perlambang hal-hal buruk dan kotor yang terjadi sepanjang setahun.

Setelah bermandi lumpur, mereka bersiap melakukan ritus pembersihan. Arak-arakan kembali terjadi. Kali ini menuju area pantai sebelah barat Desa Kedonganan.

Di pantai berpasir putih itu, warga Kedonganan berkumpul berdasarkan nama banjar (serupa rukun warga) masing-masing. Lalu mereka melakukan aktivitas penuh keriangan. Menggelar beberapa permainan tradisional, macam megala-gala (serupa gobak sodor), hingga berjoget tradisi alias ngibing.

Lepas bermain dan berjoget, warga berlomba-lomba masuk ke dalam air dan membersihkan lumpur yang hampir mengering di seluruh tubuh.

Akhir dari ritual Mebuug-buugan adalah ketika warga bersembahyang di Pura Segara, Kedonganan. Dalam ibadah itu, pemangku akan memercikkan air suci (tirta).

"Pembersihan di laut bertujuan untuk membersihkan secara fisik sedangkan upacara di Pura Segara dengan memercikkan tirta untuk menyucikan secara spiritual," kata Mertha.

Seorang warga Desa Kedonganan yang mengikuti ritus Mebuug-buugan berpose di depan kamera, Jumat (8/3/2019).
Seorang warga Desa Kedonganan yang mengikuti ritus Mebuug-buugan berpose di depan kamera, Jumat (8/3/2019). | Anton Muhajir /Beritagar.id

Nyepi dan kesadaran lingkungan

Dosen Filsafat Universitas Indonesia, Saras Dewi, memandang Mebuug-buugan sebagai ritual yang bisa mendekatkan diri kepada alam, seperti juga ritual Bali pada umumnya.

Lebih-lebih, ritual itu berlangsung dalam rangkaian Nyepi, puasa 24 jam di Bali: tidak menyalakan lampu (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bersenang-senang (amati lelanguan), dan tidak bepergian (amati lelungan).

Sebagaimana sering didengar, puasa Nyepi bawa dampak positif bagi lingkungan. Satu contoh: Nyepi mampu mereduksi ribuan ton gas karbon dioksida yang lazim diproduksi kendaraan bermotor.

Saras pun punya pandangan senada. "Nyepi jadi oase di antara begitu banyak problem dan karut marut lingkungan," kata dia.

Pemilik nama asli Luh Gede Saraswati Putri itu menyebut pariwisata massal di Bali sebagai salah satu pangkal karut marut lingkungan, yang berimbas di tiga area utama: pedesaan, perkotaan, dan pesisir.

Karut marut itu bisa dilihat lewat pergeseran fungsi area hijau, sistem pertanian subak yang tergerus, produksi sampah plastik yang merusak laut, hingga perkara besar macam megaproyek reklamasi Teluk Benoa.

Meski demikian, Saras masih menyimpan optimisme. Ia melihat Nyepi dan rangkaian ritual di selingkarannya mulai membangkitkan kesadaran publik atas lingkungan.

"Saya melihat keinginan untuk memperbaiki lingkungan itu puncaknya ada di Nyepi," katanya.

Contoh atas keinginan itu terlihat dalam upaya revitalisasi ritual-ritual tua, seperti Mebuug-buugan di Kedonganan dan Sang Hyang Dedari di Karangasem.

Sang Hyang Dedari merupakan tarian sakral yang digelar sejalan dengan kalender agraris petani di Desa Duda Utara, Karangasem.

Adapun Mebuug-buugan merekatkan warga pesisir dengan lingkungan, misal area hutan bakau sebagai pusat ritual. Selama ini, varietas itu lebih beken sebagai penahan abrasi atau tsunami, tetapi bakau juga berfungsi menyerap emisi karbon dioksida.

"Revitalisasi tradisi tua itu menunjukkan adanya upaya sporadis dari warga. Itu menunjukkan mereka mau melakukan sesuatu bagi lingkungan," ujar Saras.

Selain ritual kuno, kata Saras, upaya perbaikan lingkungan juga tampak lewat kesadaran sebagian anak-anak muda Bali yang tidak lagi menggunakan gabus ketika membuat ogoh-ogoh.

"Ada upaya pembenahan. Ada harapan di masa depan," ucapnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR