Dua orang lelaki bertarung dengan senjata dan tameng dari pandan dalam tradisi makare-kare, kesenian tradisional di Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali , Selasa (25/6/2019).
Dua orang lelaki bertarung dengan senjata dan tameng dari pandan dalam tradisi makare-kare, kesenian tradisional di Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali , Selasa (25/6/2019). Anton Muhajir
KESENIAN TRADISIONAL

Mekare-kare, adu keberanian demi Dewa Perang

Mekare-kare tidak sekadar pertarungan apalagi pertunjukan. Ini adalah ritual persembahan bagi Dewa Indra.

Halaman di depan Bale Petemu Tengah. Rumah panggung di bagian tengah Desa Tenganan itu berubah menjadi palagan. Panggung seluas kira-kira 16 meter persegi berdiri di sisi timur balai pertemuan warga itu. Tingginya kurang dari dada orang dewasa.

Selama dua hari, panggung itu menjadi gelanggang unjuk ketangkasan warga laki-laki desa Baliaga atau desa Bali pra Majapahit itu. Puncaknya terjadi pada Selasa (25/6/2019) lalu.

Pada hari puncak itu, ribuan warga hadir di desa yang masuk Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali bagian timur. Tidak hanya menonton, sebagian dari mereka ikut berperang dalam ritual tahunan mekare-kare atau perang pandan.

Sekitar pukul 14.00 WITA, satu per satu lelaki di desa dikelilingi bukit itu naik ke Bale Petemu Tengah. Setelah melakukan ritual minum tuak dan bersiap-siap. Sepasang demi sepasang maju ke palagan. Sebagian lain menunggu giliran. Duduk mengelilingi mereka yang sedang bertarung.

Suasana mulai riuh. Penonton menyesaki sekeliling panggung. Berdesak-desakan. Turis dan warga lokal berebut berada paling depan.

Gamelan selonding khas Tenganan yang hanya boleh dimainkan warga telah disucikan. Irama gamelan selonding yang ditabuh mulai mengalun. Temponya bermula dari pelan dan rendah lalu berganti dengan lebih cepat seiring aba-aba dari pemandu di panggung. Penonton bersorak.

Dua laki-laki di panggung sudah bersiap. Berhadapan. Masing-masing memegang daun pandan di tanganan kanan dan tameng dari rotan (tamiang) di tangan kiri. Keduanya tidak berbaju, ini sesuatu yang khas Desa Tenganan saat upacara. Hanya mengenakan sarung (kamen) dan ikat kepala (udeng) khas Bali.

Begitu penengah, layaknya wasit, memberi aba-aba untuk memulai, keduanya langsung saling memukul dengan pandan berduri tajam itu. Maju mundur. Berkejaran. Satu orang memukul. Satu lagi menangkis.

Sesekali mereka seperti berpelukan. Padahal, tangan mereka di belakang punggung lawan dengan pandan berduri. Lalu, pandan itu ditekan dan ditarik meninggalkan garis merah di kulit. Luka dan berdarah.

Ritual perang bersenjata pandan

Mekare-kare adalah ritual tahunan di Desa Tenganan Pegringsingan, berjarak sekitar 85 kilometer sebelah timur Denpasar. Selama dua hari para laki-laki di desa ini akan bertarung bersenjatakan pandan. Karena itu ritual ini disebut pula perang pandan.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini perang pandan itu dilakukan di atas panggung. Tahun-tahun sebelumnya hanya di tanah lapang biasa. Ini sejalan dengan kian banyaknya warga dan turis yang ingin menonton perang pandan.

Dalam tradisi mekare-kare alat saat perang digunakan pandan berduri yang diikat sebagai gada. Petarung juga dilengkapi perisai dari rotan yang berfungsi sebagai tameng menangkis serangan lawan.

Petarung berhadap-hadapan satu lawan satu. Jalannya pertarungan diatur oleh wasit atau disebut penengah. Setelah penengah memberi aba-aba, kedua petarung saling serang, saling rangkul sambil memukulkan pandan berduri dan menggeretkan ke punggung lawan.

Mekare-kare tidak sekadar pertarungan apalagi pertunjukan. Ini adalah ritual persembahan bagi dewa tertinggi di desa ini, Dewa Indra. Dalam mitologi Hindu Bali, Dewa Indra adalah dewa perang. Orang Bali pada umumnya menyembah tiga dewa lain yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa.

"Dewa Indra itu dewaning payudan (Dewa Perang). Karena itu kami melaksanakan persembahan dengan perang," kata Wayan Arsana, salah satu tetua adat di Desa Tenganan.

Kepercayaan bahwa Dewa Indra adalah penguasa tertinggi tak bisa lepas dari sejarah Tenganan. Menurut Arsana, leluhur mereka dulunya adalah prajurit dari Gianyar yang ditugaskan untuk mencari kuda yang hilang. Kuda itu ditemukan di mana Desa Tenganan Pegringsingan sekarang berada.

Arsana mengatakan ada bukti-bukti batu megalit sebagai simbol-simbol bagian tubuh kuda di Desa Tenganan. "Itu mitos yang kami dapatkan secara turun temurun dari leluhur. Bukan sejarah, karena tidak tertulis," katanya.

Percaya bahwa Dewa Indra adalah dewa tertinggi, warga adat Desa Tenganan pun melakukan ritual dalam bentuk perang. Tidak hanya mekare-kare. Ada pula mesambat-sambatan biu, perang saling melempar pisang, yang juga diadakan setahun sekali.

Megibung atau makan bersama setelah perang pandang di Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali , Selasa (25/6/2019).
Megibung atau makan bersama setelah perang pandang di Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali , Selasa (25/6/2019). | Anton Muhajir

Tanpa dendam meski berdarah

Meskipun demikian, mekare-kare tetap menjadi ritual paling semarak di Tenganan. Bagi remaja di Tenganan, ritual ini sekaligus sebagai waktu untuk menunjukkan keberanian dan ketangkasan.

Apalagi selama ritual ini para gadis desa akan turut menyaksikannya di tempat khusus. Gadis-gadis yang disebut teruni daha duduk di atas Bale Petemu Tengah untuk memberikan semangat. Sesekali mereka bersorak ketika menyaksikan pertandingan, terutama ketika ada peserta yang bergumul dan terjatuh.

I Komang Hendra Priawan termasuk di antaranya. Murid kelas II SMP tersebut ikut menunjukkan keberaniannya berlaga. Bersama teman-temannya dia ikut menjajal panggung meski tak lebih dari lima menit bertarung. Luka bekas duri pandan terlihat di punggung dan pelipisnya.

"Lumayan sakitnya, tapi tergantung orangnya, sih," ujarnya singkat.

Tak hanya warga Tenganan. Warga desa-desa sekitarnya pun ikut dalam ritual ini. Salah satunya Putu Merdana, warga Banjar Tana Aron, Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebandem. Desa tetangga ini berjarak sekitar 5 kilometer di utara Tenganan.

Siang itu Merdana dan belasan temannya dari Tana Aron ikut bertarung di palagan, seperti tahun-tahun sebelumnya. Merdana sudah enam kali ikut perang pandan. Sebagai warga desa tetangga, Merdana mengaku datang untuk memenuhi undangan.

"Sebagai silaturahmi karena leluhur kami sama," ujarnya.

Seperti peserta perang pandan lainnya, Merdana juga berdarah-darah, terutama di bagian punggung. Setelah berperang, dia bersama teman-temannya satu desa pun saling mencabut duri pandan tersisa di tubuh mereka.

Mereka harus menahan sakit itu sampai ritual selesai, sekitar pukul 16.30 Wita.

Perang ini ditutup dengan megibung, makan bersama khas Karangasem. Saat megibung, semua peserta akan duduk di tanah mengelilingi makanan. Pada saat itulah para pengobat mengoleskan obat khusus terbuat dari parutan kunyit dan cuka.

Mereka yang diobati meringis menahan perihnya. Namun, hanya sesekali meringis, mereka pun melanjutkan kembali makan bersama. "Setelah perang, semua akan kembali bersama. Tidak ada dendam. Ini bukan soal kalah menang, tetapi ngayah untuk Dewa Indra," kata Komang Oka, salah satu warga dan tetua di Tenganan.

Desa tua

Tenganan sendiri termasuk salah satu desa Baliaga, desa-desa tua yang sudah ada sebelum migrasi orang-orang Majapahit pada abad ke-15. Desa-desa yang disebut sebagai Bali asli ini umumnya berada di kawasan pegunungan, seperti Trunyan (Bangli), Sembiran (Buleleng), dan Tenganan Pegringsingan.

Tradisi mereka pun berbeda dengan Bali pada umumnya. Dari sisi struktur sosial, misalnya, semua warga dianggap setara. Tak ada catur warna atau kasta, struktur status sosial berdasarkan pekerjaan atau keturunan, seperti Bali umumnya.

Desa-desa ini pun sebenarnya tidak memiliki tradisi Hindu Bali lain, seperti Galungan, Kuningan, dan Nyepi. "Kami sangat berbeda. Dari sisi pakaian, misalnya, laki-laki tidak boleh pakai baju saat upacara. Kami juga tidak memasang penjor saat Galungan dan Kuningan," kata Arsana.

Tenganan juga memiliki sejumlah aturan adat terkait kepemilikan tanah. Warga adat tidak boleh menjual tanahnya kepada warga luar desa. Bahkan, mereka yang sudah menikah dengan warga dari desa lain pun harus pindah rumah ke arah belakang. Tidak lagi di bagian inti desa.

Dari sisi arsitektur desa, Tenganan juga unik karena bentuknya linier, memanjang dari selatan ke utara. Rumah-rumah tradisional warga dibangun mengikuti jalur jalan ini berhadap-hadapan. Semua rumah itu bentuknya seragam.

Karena keunikannya, Tenganan pun menjadi salah satu desa yang banyak dikunjungi turis. Mekare-kare hanya salah satu daya tarik yang membuat desa tradisional ini terkenal.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR