Tahanan di Rutan Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Berbilang bulan dalam bui mereka harus pandai bersiasat dengan waktu.
Tahanan di Rutan Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Berbilang bulan dalam bui mereka harus pandai bersiasat dengan waktu. Bismo Agung / Beritagar.id
BUI WARISAN KOMPENI

Melawan ketakutan di penjara tua

Penjara kuno meninggalkan jejak mistis dan memicu ketakutan. Kadang ketakutan muncul pula dengan wajah lain: kebosanan.

Indonesia punya 15 bangunan penjara kuno berstatus cagar budaya. Artinya, di atas kertas, serangkaian beleid telah menjaga bangunan-bangunan bersejarah itu dari kerusakan.

Dari 15 bangunan itu, 9 di antaranya masih berfungsi sebagai bui, yakni: 8 lembaga pemasyarakatan, 1 rumah tahanan, dan 1 rumah tahanan militer.

Adapun 6 bangunan lain sudah beralih fungsi. Kebanyakan jadi tujuan wisata sejarah.

Namun ada pula yang bernasib miris. Misal, Penjara Kalisosok di Surabaya, Jawa Timur, yang tak terurus hingga bilik-biliknya bersalin fungsi jadi kamar indekos.

Kami mendatangi empat dari sembilan penjara berstatus cagar budaya di Indonesia: Lapas Kelas II Wanita Semarang, Rutan Kelas I Tanjungpinang, Lapas Kelas II B Anak Wanita Tangerang, dan Lapas Kelas I Sukamiskin Bandung.

Di penjara-penjara itu melekat sejarah bangsa. Separuhnya adalah histori kelam dari zaman kolonial.

Cerita kelam yang sedikit banyak diwakilkan lirik tembang Hidup di Bui, milik D'lloyd:

Apalagi penjara zaman perang
Masuk gemuk pulang tinggal tulang
Karena kerja secara paksa
Tua-muda turun ke sawah

Kekejaman penjara kolonial kian kentara bila tengok kesaksian Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Soekarno. Bung Besar memang pernah merasakan dingin bui di Sukamiskin, yang konon bikin otaknya "seolah-olah dapat penyakit kekurangan darah."

Kesaksian Soekarno bisa ditemukan lewat tulisan "Keadaan Di Pendjara Sukamiskin, Bandung" (17 Mei 1931), termuat dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi.

"Sukamiskin ialah tak lebih dari suatu rumah kurungan dan saya tak lebih dari orang hukuman, seorang manusia yang mesti menyembah larangan dan suruhan, manusia yang mesti melepas kemanusiaannya," tulisnya.

Sejarah kelam terjadi pula di Rumah Jil Tanjung Pinang atau Rutan Kelas I Tanjung Pinang.

Konon, pada awal abad 19, Serikat Dagang Hindia Belanda (VOC) memperlakukan para tahanan dengan buruk di sana.

Kaki dan tangan pesakitan disandera bola besi. Bila membangkang siap-siap masuk strap cell, sel khusus nan gelap dan kecil. Cerita mulut ke mulut juga bawa kabar perihal hukum gantung, dan pemenggalan di penjara itu.

Kengerian siksaan tinggal sejarah. Bui konsep kiwari lebih manusiawi. Lema penjara berganti lembaga pemasyarakatan. Pun demikian dengan narapidana yang kini disebut warga binaan.

Konsep pemasyarakatan tak lagi menempatkan bui sebagai sarana hukuman atau menciptakan efek jera. Kini bui punya peran pembinaan agar bisa mengembalikan orang-orang hukuman ke masyarakat.

Meski demikian, berbilang bulan hingga tahun menghuni penjara, kengerian dan ketakutan bisa muncul dalam wujud lain: kebosanan.

Dalam kaca mata kesehatan mental, kebosanan jadi bagian dari Hypostress.

Situasi stres itu berpangkal pada stimulan yang terlalu sedikit. Warga binaan jadi rentan lantaran keterbatasan ruang dan minimnya aktivitas dalam rentang waktu yang panjang.

Kami merekam cerita-cerita warga binaan dan petugas bui perihal cara mengatasi kebosanan dan ketakutan di penjara. Sila lihat video berikut.

Melawan ketakutan di penjara tua /Beritagar ID
Artikel Terkait