Antrean penonton yang ingin menyaksikan film Avengers Endgame di XXI Palu Grand Mall (23/4/2019)
Antrean penonton yang ingin menyaksikan film Avengers Endgame di XXI Palu Grand Mall (23/4/2019) Andi Baso Djaya/Beritagar.id
INDUSTRI HIBURAN

Membandingkan harga tiket bioskop dengan upah kerja

Harga tiket menonton film di bioskop Indonesia berbanding lurus dengan kualitas yang ditawarkan.

Ada pemandangan tak biasa terlihat di Palu Grand Mall (PGM), Selasa (23/4/2019). Pemandangan yang absen sejak ibukota Sulawesi Tengah itu dihantam gempa bumi, diikuti tsunami dan likuefaksi, pada 28 September 2018.

Karena letaknya tak sampai 100 meter dari pinggir pantai teluk Palu, PGM --terutama lantai dasar-- hancur akibat terjangan tsunami. Sementara lantai dua, tiga, dan empat jadi sasaran perusakan serta penjarahan oleh warga.

Saat mengelilingi mal tersebut, tampak sejumlah perbaikan masih terus berlangsung di lantai dasar. Aktivitas di pusat perbelanjaan yang beroperasi sejak 2014 itu juga belum berjalan normal. Sebagian besar penyewa belum buka kembali.

Kontras dengan lantai empat, lokasi bioskop XXI berada. Sekitar pukul 17.00 WITA saat saya berada di sana, tampak ratusan orang sudah berjejal memenuhi lobi. Menurut petugas, keramaian sudah terjadi sejak siang.

Sebaran usia yang datang beragam. Mulai dari paruh baya, remaja, hingga anak-anak. Sementara antrean sudah mengular di depan masing-masing pintu studio.

Khusus untuk XXI di PGM tersedia total enam studio termasuk kelas premiere. Semua terisi penuh bahkan deretan dua kursi terdepan yang sangat dekat dengan layar.

Mereka adalah orang-orang yang sudah tak sabar menyaksikan film Avengers: Endgame. Maksud lainnya, merayakan hari pertama XXI buka kembali di Palu setelah lindu.

Harga selembar tiket yang berbanderol Rp40 ribu untuk studio nonpremiere bukan halangan.

Antusiasme serupa juga terjadi di bioskop kota-kota lain. Tiga jaringan bioskop pemilik jumlah layar terbanyak di Indonesia, seperti Cinema XXI, CGV Cinemas, dan Cinemaxx padat diserbu penonton.

Saking banyaknya peminat, beberapa bioskop bahkan beroperasi selama 24 jam saat hari penayangan film produksi Marvel Studios itu.

Angka penonton film di bioskop dalam beberapa tahun terakhir memang cendrung mengalami peningkatan. Fenomena yang membuat bisnis penyedia jasa pertunjukan film semakin bergairah.

Ambil contoh CGV Cinemas. Merujuk buku laporan tahunan mereka periode 2018, pendapatan bersih perusahaan mencapai Rp1.184,32 miliar. Naik dari kurun 2017 yang tercatat Rp849,24 miliar.

Sementara pergerakan laba tahun berjalan perusahaan juga ikut meningkat, yaitu Rp35,22 miliar (2018), Rp12,44 miliar (2017), dan Rp15,49 miliar (2016).

Kurun 2018, CGV melakukan penambahan 15 bioskop dengan berbagai fasilitas baru, seperti arena olah raga, Warung Kopi, CGV Kitchen, dan CGV Sport Bar.

Penambahan bioskop baru dengan berbagai fasilitas tadi mendatangkan hampir 20 juta penonton sepanjang 2018. Bertambah dari tahun sebelumnya yang sebesar 15 juta penonton.

Apakah salah satu faktornya karena harga tiket bioskop di Indonesia ramah bagi kantong? Bila dibandingkan dengan negara-negara lain setelah nilai kurs mata uang disesuaikan, jawabannya adalah iya.

Berdasarkan hasil riset Deutsche Bank yang dirilis Business Insider (25/5/2018), dari daftar 50 kota di dunia, Indonesia menjadi negara dengan rerata harga tiket bioskop termurah.

Tiket menonton film di bioskop Tanah Air yang hanya $3,60 AS alias setara Rp51.127 (menggunakan kurs sekarang) tidak ada apa-apanya dibandingkan harga tiket di Zurich, Swiss, yang berbanderol Rp266.997.

Bahkan tiket bioskop di negeri jiran Malaysia sedikit lebih mahal karena rata-rata seharga Rp53.967.

Pernyataan tadi bisa lain cerita jika menggunakan parameter berupa perbandingan harga barang dan jasa suatu negara terhadap waktu kerja yang diperlukan untuk membeli barang/jasa tersebut.

Untuk mendapatkan jawabannya, Lokadata Beritagar.id menyandingkan harga tiket menonton film di bioskop yang berlaku di 43 negara. Untuk tulisan ini kami merujuk basis data global dari Numbeo per April 2019.

Setelah itu mencari tahu data rerata upah minimum yang didapat tiap orang per jam (menggunakan Power Parity Purchase (PPP) constant 2011 international $ dari Organisation for Economic Cooperation and Development).

Berdasarkan skema pengukuran tadi, kami membagi rata-rata harga tiket bioskop setiap negara dalam enam kategori warna sesuai durasi waktu bekerja.

Semakin berwarna merah muda, maka semakin sedikit waktu yang diperlukan untuk membeli satu tiket bioskop.

Kebalikan dengan peta negara yang berwarna hijau tegas. Lebih jelasnya silakan klik peta negara-negara dari data di atas.

Hasilnya cukup mengejutkan. Bukan Swiss, seperti dalam riset Deutsche Bank, yang menjadi negara dengan harga tiket bioskop paling mahal, melainkan Peru. Warga di sana harus bekerja selama 32 menit 6 detik untuk menebus satu tiket.

Dengan upah minimum per jam sebesar $59.2 AS dan tiket bioskop seharga $17.7 AS, orang-orang Swiss butuh waktu kerja 17 menit 53 detik untuk dapat membeli satu tiket nonton film di bioskop.

Mayoritas pekerja di negara-negara di Eropa membutuhkan belasan menit bekerja untuk membeli satu tiket bioskop di negara masing-masing.

Semisal di Inggris. Orang harus bekerja minimal 14 menit 47 detik terlebih dulu untuk menikmati satu tayangan film di bioskop.

Sebaliknya, aktivitas menonton film di bioskop terasa enteng bagi warga negara Turki. Mereka bisa mengantongi satu tiket dengan hanya bekerja 5 menit 17 detik.

Catatan lain terjadi di Jepang. Meskipun rata-rata upah pekerja tiap jam termasuk tinggi ($41,81 AS), tiket bioskop di sana terbilang mahal dibanding negara lainnya, yakni $16,13 AS. Jadi, butuh bekerja minimal 23 menit 9 detik untuk mendapatkan satu lembar tiket.

Bagaimana dengan Indonesia? Jika produktivitas tenaga kerja di negeri ini mendapat upah minimum Rp39.355 per jam, maka rata-rata orang harus bekerja 19 menit 21 detik untuk mendapatkan satu tiket bioskop seharga Rp50 ribu.

Daftar perbandingan UMK pekerja dengan harga tiket bioskop di 25 kota/kabupaten Indonesia. Banda Aceh tidak termasuk sebab belum ada lagi bioskop yang buka di kota itu.
Daftar perbandingan UMK pekerja dengan harga tiket bioskop di 25 kota/kabupaten Indonesia. Banda Aceh tidak termasuk sebab belum ada lagi bioskop yang buka di kota itu. | Lokadata Beritagar.id

Menurut data Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), jumlah bioskop di Indonesia hingga tutup tahun 2018 mencapai 334 lokasi dengan 1759 layar. Jumlah layar tersebut sekarang diyakini telah mencapai 1800.

Penyebarannya di berbagai kota dan kabupaten seluruh Indonesia, meski Pulau Jawa masih mendominasi.

Untuk mengetahui seberapa terjangkau harga tiket bioskop di Indonesia bagi para warga pekerja, digunakan parameter data gaji di Indonesia berdasarkan daftar Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) per 2019 dalam jangka sebulan.

Gaji bulanan tadi dibagi 160 jam (asumsi International Labour Organization adalah 40 jam kerja dalam sepekan) untuk menghasilkan upah seorang pekerja dalam satu jam.

Cara tersebut untuk mengetahui berapa lama seseorang harus bekerja (dalam satuan jam) agar dapat membeli satu tiket film di bioskop.

Sekadar pengingat, di Indonesia tak ada perbedaan harga tiket antara film produksi dalam negeri dengan mancanegara alias impor.

Perbedaan harga tiket bioskop --bahkan untuk satu kota yang sama-- tergantung lokasi dan kemewahan yang ditawarkan.

Ini seperti yang dilontarkan Andira Pramanta, Head of Brand Marketing CGV Cinemas, saat dihubungi Beritagar.id melalui sambungan telepon (2/5).

“Setiap akan membuka tempat baru, kami terlebih dahulu melakukan survei. Biasanya kalau di kota tersebut sudah ada ekshibitor lain, benchmark harga tiket mengacu dari situ. Kami juga melihat daya beli warga sekitar," tutur Andira.

Berdasarkan hitungan UMK dalam sebulan dibagi jam kerja, Ubud menjadi kota termahal di Indonesia untuk mendapatkan satu tiket bioskop.

Warga di Ubud, Kabupaten Gianyar, butuh waktu bekerja hingga 4 jam 20 menit untuk mendapatkan satu tiket seharga Rp75 ribu.

Harga ini tak ramah kantong bagi warga lokal mengingat Ubud adalah kota turis yang menyebabkan harga juga ikut melangit.

Di antara 25 kota/kabupaten di Indonesia (karena Banda Aceh belum ada lagi bioskop yang buka), Batam bisa menjadi pilihan menarik bagi penikmat film, cukup bekerja 1 jam 20 menit sudah bisa mendapatkan tiket yang rata-rata seharga Rp37.500.

Selain Batam, Bekasi, dan Jakarta menjadi opsi lainnya sebab hanya butuh waktu masing-masing 1 jam 39 menit dan 1 jam 46 menit untuk menebus tiket yang dijual Rp50 ribu.

Dengan sejumlah pemaparan data tadi, harga tiket bioskop di Indonesia bisa disimpulkan tidak terlalu murah, tapi juga tidak mahal-mahal amat.

Dari kacamata Sigit Prabowo, pengelola akun @bicaraboxoffice, harga tiket bioskop di Indonesia memang termasuk murah.

“Melihatnya jangan cuma nominal, tapi dari perspektif lainnya. Kualitas yang ditawarkan bioskop-bioskop kita dalam hal fitur dan teknologi jauh lebih baik dibandingkan yang ada di negara lain,” kata Sigit.

Satu yang ditambahkan Sigit perihal jadwal tayang film-film impor di Indonesia tidak ada yang masuk kategori second run alias sisa hasil penayangan di negara lain.

Ambil contoh film Avengers: Endgame. Indonesia kebagian jatah tayang beberapa hari lebih cepat dibandingkan Amerika Serikat.

Ernest Prakasa segendang sepenarian. Sutradara Cek Toko Sebelah itu memberi contoh pengalamannya menonton di jaringan bioskop Pathe saat berlibur ke Amsterdam, Belanda, pekan lalu.

Ketika itu Ernest menyempatkan nonton Avengers: Endgame pada jam penayangan pukul 11.00 waktu setempat.

Berhubung hitungannya masih pagi, maka harga tiket sebesar EUR9 atau sekitar Rp143 ribu masih tergolong murah.

Mendekati malam harga tiket akan semakin mahal dan bisa mencapai EUR12 (Rp191 ribu). Ini hal lazim berlaku di bioskop-bioskop luar negeri.

“Jauh lebih enak menonton film di bioskop kita. Pertama karena kursinya lebih keras, enggak empuk seperti di bioskop kita. Kedua soal tata suara. Volume suaranya kecil dan kayak enggak surround. Gue cuma mendengar suara dari depan doang,” terang Ernest.

Harus dipahami pula, ekshibitor menentukan harga tiket bioskop melalui perhitungan matang.

Beberapa yang menjadi patokan, antara lain menyesuaikan anggaran pembangunan bioskop dengan segala fasilitas yang ditawarkannya, biaya operasional (termasuk sewa tempat, gaji karyawan, listrik), juga bagi hasil antara para sineas dan pajak hiburan yang berbeda-beda tiap daerah.

Ada barang ada rupa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR