Keterangan Gambar : Pengasuh Ponpes Al Anwar Sarang, Rembang KH Maimun Zubair (ketiga dari kiri) menyampaikan mauidlohnya (nasihat) saat Silaturrahim Nasional Alim Ulama Nusantara di Rembang, Jawa Tengah, Kamis (16/3/2017). © Kontributor Beritagar / Abdul Arif

Sekitar 99 ulama NU berkumpul di kediaman Mbah Maimun, Rembang. Ada lima poin penting dirumuskan.

Kamis (16/3/2017) langit Rembang tampak cerah. Pukul 09.45 itu terasa terik. Namun anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU itu tak bergeming. Mereka berjaga dan menyambut para tamu yang datang silih berganti.

Para tamu itu datang untuk menghadiri Silaturrahim Nasional Alim Ulama Nusantara yang diadakan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Tuan rumahnya KH Maimun Zubair, salah satu ulama sepuh yang cukup berpengaruh.

Suara drumband menggema saat Ketua Umum Pengurus Besar NU (PBNU), KH Said Aqil Siroj datang. Menyusul Rais Am PBNU KH Ma'ruf Amin.

Hari itu setidaknya 99 ulama dari penjuru nusantara ikut merapat di Pesisir Rembang. Jumlah yang hadir bahkan lebih banyak. Sebab ada juga tamu yang datang atas undangan tuan rumah.

Di antara ulama yang hadir, yaitu Mustasyar PBNU KH Prof Dr M Tholhah Hasan, KH M Anwar Manshur, Rais Am PBNU KH Ma'ruf Amin (Banten), KH Ahmad Mustofa Bisri (Rembang), Habib Ali Abdurrahman Assegaf (Jakarta), Habib Zein bin Smith (Jakarta) dan kiai-kiai NU lainnya.

Menurut KH Said Aqil Siroj, forum Silaturrahim Nasional Alim Ulama Nusantara merupakan forum khusus yang digelar PBNU. Forum ini menjadi ajang untuk mendengarkan nasihat dari masyayikh NU, dalam hal ini dewan Mustasyar.

PBNU sengaja memilih Sarang, Rembang sebagai tuan rumah. Tujuannya, kata dia, untuk mengambil berkah dari Mbah Maimun. Bagi Said, Mbah Maimun adalah kiai paling sepuh di antara ulama NU saat ini. "Kami harapkan masukan, dawuh, kritikan untuk dijadikan sebagai spirit organisasi," katanya.

Di ruang tamu kediaman Mbah Maimun, para kiai yang terdiri dari Mustasyar dan jajaran PBNU menggelar musyawarah tertutup. Perbincangan berlangsung selama lebih kurang satu jam.

Kepada awak media Said menyampaikan, NU mengkhawatirkan sejumlah isu dan fenomena di tengah masyarakat dewasa ini yang berpotensi merongrong keutuhan NKRI. Pertemuan para kiai NU kali ini adalah upaya untuk menegaskan kembali bahwa NU dan negara tak bisa dipisahkan. Dengan demikian NU akan terus menjaga keutuhan NKRI. "Dulu NU lah yang banyak berjuang demi lahirnya NKRI," kata kiai asal Cirebon itu.

Azan zuhur berkumandang. Mbah Maimun dan para kiai yang hadir pun merapat ke aula Ponpes Al Anwar untuk menunaikan salat zuhur. Di aula itu pula para kiai sepuh menyampaikan mauidlohnya (nasihat) sebagaimana hasil musyawarah tertutup.

Rais Am PBNU KH Ma'ruf Amin saat tiba di Ponpes Al Anwar Sarang, Rembang, Kamis (16/3/2017.
Rais Am PBNU KH Ma'ruf Amin saat tiba di Ponpes Al Anwar Sarang, Rembang, Kamis (16/3/2017.
© Abdul Arif (istimewa) /Kontributor Beritagar

Salat gaib untuk Kiai Hasyim

Silaturrahim Nasional Alim Ulama Nusantara kali ini diwarnai rasa duka. Pada hari itu, warga nahdliyin kehilangan sosok panutan. Ketua Umum PBNU periode 1999-2010 KH Hasyim Muzadi wafat. Sebelum majelis dimulai, para kiai menyempatkan mendirikan salat gaib dan membaca tahlil bersama untuk mendoakan Kiai Hasyim.

KH Abdul Ghofur Maimoen, putra Mbah Maimun, didapuk sebagai moderator. Mengenakan pakaian serba putih, mereka duduk lesehan bersandarkan bantal. Mbah Maimun duduk di tengah diapit KH Mustofa Bisri dan KH Anwar Manshur. Sebagian lainnya berada di luar aula, duduk di atas kursi yang di tata di sepanjang gang kompleks pesantren. Mereka tampak khidmat menyimak pandangan-pandangan dari Mustasyar PBNU.

Sebagai Rais Am PBNU, KH Ma'ruf Amin mengingatkan bahwa NU memiliki dua tanggung jawab. "Taggung jawab keumatan dan kebangsaan," katanya.

Mustasyar PBNU KH Tholhah Hasan berharap NU betul-betul menjadi organisasi yang kuat dan berwibawa. Yaitu organisasi yang mampu memengaruhi bangsa dan umat Islam pada khususnya.

Tholhah mencontohkan porak porandanya negara Syria, Iran, dan Yaman. Kata dia, negara dengan mayoritas muslim itu harus mengalami konflik yang berkepanjang karena bekal cinta kepada agama tidak disertai cinta kepada bangsanya.

"Syukurlah Indonesia ini, ulama kita, penduduk kita cinta agama. Tapi juga cinta bangsa," katanya.

Menyambung pernyataan Tholhah, Mbah Maimun mengemukakan bahwa NU merupakan organisasi yang plural di zaman perubahan yang besar. Yaitu ketika masa kekhilafahan jatuh. "Tak ada organisasi di zaman sesudah khalifah muncul besar, kecuali NU" katanya.

Ia membenarkan, keberadaan NU memang tak bisa dipisahkan dari Indonesia. NU, katanya, akan terus mengawal keutuhan NKRI.

Sejak awal, katanya, NU berperan besar dalam memperjuangkan kemerdekaan. Bahkan untuk memperjuangkan kemerdekaan itu, pendiri NU, KH Hasyim Asyari menyerukan resolusi jihad. "Islam tanpa nasional bukan Islam yang sempurna," katanya.

KH Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus mengamini apa yang disampaikan Mbah Maimun. Kata Gus Mus, perjuangan Hasyim Asyari bahkan ditulis oleh seorang wartawan Arab. Kata wartawan itu, kemerdekaan Indonesia adalah perjuangan NU. Karenanya wajar jika ciri keIndonesiaan melekat pada NU.

Meski komunikasi berlangsung searah, forum silaturrahmi alim ulama Nusantara tetap berlangsung cair. Hal itu karena kepiawaian sesepuh NU yang sesekali menyelipkan guyonan di dalam nasihatnya. Misalnya Gus Mus yang tiba-tiba memecahkan kebekuan dengan guyonan khasnya. Ia menyinggung pengalaman pernah diledek Mbah Mun.

"Saya itu di depan umum dipermalukan oleh beliau. Beliau mengatakan, 'saya enggak seperti Lek Mus. Lek Mus ini nomor satu NU, kalau saya nomor satu Garuda (Pancasila), tak ada garuda tak ada NU'. Tapi saya katakan tak ada NU tak ada NKRI," ujarnya. Tawa hadirin pun pecah.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyalami KH M Anwar Manshur sesaat sebelum forum silaturrahim dimulai di Ponpes Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Kamis (16/3/2017)
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyalami KH M Anwar Manshur sesaat sebelum forum silaturrahim dimulai di Ponpes Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Kamis (16/3/2017)
© Abdul Arif (istimewa) /Kontributor Beritagar

5 poin risalah Sarang

Pertemuan hari terbilang cukup singkat. Hanya sekitar lima jam. Ada lima poin penting yang dihasilkan. Mereka menamakannya Risalah Sarang. Di penghujung acara, risalah itu dibacakan Gus Mus.

Poin pertama menyoroti ideologi dan bentuk negara. Para ulama sepakat bahwa NU senantiasa mengawal Pancasila dan NKRI. Keberadaan NU tidak dapat bisa dipisahkan dari keberadaan NKRI. "NU mengajak seluruh umat Islam dan bangsa Indonesia untuk senantiasa mengedepankan pemeliharaan negara dengan menjaga sikap moderat dan bijaksana dalam menanggapi berbagai masalah," katanya.

Para ulama itu juga menyoroti lemahnya penegakan hukum dan kesenjangan ekonomi. Dua hal ini dinilai sebagai sumber utama kegelisahan masyarakat. NU mendorong pemerintah agar menerapkan kebijakan yang pro kaum lemah.

Selain itu, mereka juga meminta pemerintah mengambil langkah efektif dalam menangani fenomena maraknya berita hoax dan ujaran kebencian di media sosial.

Risalah keempat, mereka mengamanatkan agar para pemimpin negara, pemimpin masyarakat, temasuk pemimpin NU menjaga kepercayaan masyarakat.

Terakhir, mereka mengusulkan agar dibuka forum silaturrahmi seluruh elemen bangsa untuk mencari solusi berbagai permasalahan yang ada. Untuk mewujudkan kegiatan ini, NU diminta untuk mengambil inisiatif.

Wakil Ketua Tanfidziyyah PWNU Gorontalo, Adnan menyambut baik usul digelarnya forum silaturahmi itu. Apalagi, dua tahun lagi akan digelar Pemilu serentak (presiden dan DPR). Ini, kata dia, merupakan langkah strategis sebagaimana kaidah NU: menjaga sesuatu yang baik yang sudah ada dan mengambil sesuatu yang baru lebih baik.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.